
Lais sangat penasaran dengan Arumi. Apapun tentang Arumi sepanjang masa konferensi pers, Lais tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia terlalu fokus dengan wajah Arumi. Tentu saja itu membuat Arumi risih. Hal itu juga tak luput dari pandangan para wartawan, termasuk sepasang mata yang memperhatikan Arumi dari jauh.
Awal nya konferensi pers hanya menanyakan tentang kehidupan sekolah Arumi, dan bagaimana cara belajar Arumi sehingga ia bisa menjadi secerdas ini. Hingga ada satu wartawan yang dengan berani nya bertanya, hingga membuat para wartawan heboh.
"Tuan Lais bolehkah saya bertanya satu hal pada anda?" Tanya wartawan tersebut. Membuyar lamunan nya pada wajah Arumi.
"Ah... ya... hemm... apa itu pertanyaan anda?" Ujar Lais yang ternyata tersentak dari lamunannya.
"Apa kah anda dan nona Arumi saling mengenal satu sama lain?" Tanya wartawan itu. Sedangkan wartawan yang lain memasang telinga mereka agar tidak salah mendengar perkataan yang akan di lontarkan Lais.
Arumi ingin menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan "Tidak! kami tidak mengenal satu sama lain" Tapi itu tidak terjadi karena Arumi kalah cepat dengan Lais yang sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan itu.
"Ya kami saling mengenal, kami sudah kenal sejak satu bulan yang lalu di taman hiburan, di New York" Jawab Lais santai.
Sedangkan Arumi mendengus kesal.
"Apakah anda yang merekomendasikan nona Arumi agar mengikuti lomba ini?" Tanya wartawan lain.
Sebenarnya pertanyaan yang ingin di ajukan nya adalah "Apakah anda menjadi orang dalam, agar nona Arumi memenangkan lomba ini?" Tapi tidak mungkin wartawan itu menanyakan nya, karena Lais cukup di takuti di negara nya. Dan dia juga masih sayang dengan nyawa nya, wartawan itu tidak ingin menyinggung Arumi dengan pertanyaan nya.karena dilihat dari mana pun, seperti nya Lais memiliki hubungan khusus dengan Arumi, dilihat dari pandangan nya. Itulah yang di pikirkan wartawan itu.
"Tidak! saya bahkan tidak mengetahui bahwa nona Arumi masih anak SMA dan akan mengikuti lomba ini. Apalagi kami hanya dua kali bertemu" Seru Lais dengan lantang dan menatap tajam ke arah wartawan yang bertanya. Lais tahu dengan jelas, apa sebenarnya yang ingin ditanyakan oleh wartawan itu. Lalu dia pergi meninggalkan ruangan konferensi pers di adakan.
"Baiklah semua nya, sampai di sini saja konferensi pers nya. Terimakasih" Ujar Sekretaris nya Lais. Karena dia tahu pertanyaan wartawan tadi mengganggu tuan nya, terlebih Arumi. Ia pun pergi meninggalkan ruang konferensi pers dan mengajak Arumi untuk ikut bersama nya.
Semua orang bubar setelah kepergian Arumi dan sekretaris nya Lais.
Ada dua orang yang mengikuti Arumi dari belakang, tidak! lebih tepatnya ada satu orang yang mengikuti Arumi. Dan satu nya lagi sedang mengikuti tuan nya
Arumi mengikuti sekretaris nya Lais, menuju cafe yang berada di dekat, tempat stasiun TV yang menyiarkan lomba tadi.
Terlihat Lais sudah duduk di sana, dan ada coffee latte yang menemani nya.
Arumi dan sekretaris nya Lais duduk berhadapan dengan Lais. Tapi baru beberapa saat sekretaris itu duduk, ia berdiri lagi dan duduk di tempat yang agak jauh dari mereka, tapi masih bisa melihat satu sama lain.
Selang beberapa saat seorang pelayan menghampiri Arumi dan Lais. Lais sudah memesan makanan nya dan untuk Arumi sekaligus.
"Maaf tuan, saya tidak bisa makan siang bersama dengan anda" Ucap Arumi setelah pelayan itu pergi.
"Kenapa?" Tanya Lais, ia bingung kenapa gadis yang satu ini tidak terpesona dengan ketampanan nya. Secara dia selalu digilai setiap para wanita yang melihat nya.
"Karena dia harus bekerja, pulang! saya sudah lapar!" Perintah seseorang yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Lais dan Arumi.
__ADS_1
"Maaf kan saya tuan Lais. Inilah alasan saya tidak bisa untuk makan siang bersama dengan anda" Ucap Arumi lalu berdiri.
"Sekali lagi maaf kan saya tuan, saya permisi dulu, saya harus memasak makan siang untuk majikan saya" Ucap Arumi tegas.
Setelah Arumi mengatakan itu, Lionel pergi dan di ikuti oleh Arumi dan juga sekretaris Rai. Sebenarnya Arumi juga kurang suka dengan Lais. Padahal mereka tidak mengenal satu sama lain, dan pertemuan mereka pun bisa di hitung dengan jari.
Arumi pergi meninggalkan Lais, tanpa mendengar jawaban dari pria tampan yang sedang menatap intens punggung Arumi.
"Seperti nya , aku baru saja di tolak!" Ujar Lais lesu.
"Huh! sudah lah, masih banyak wanita yang lain, lagi pula... dia gadis yang cerdas. Tidak akan mudah untuk menjebak nya" keluh Lais yang langsung saja menyuapi makanan yang di pesan nya tadi ke dalam mulutnya.
***
Dua pria dewasa dan seorang gadis telah sampai di tempat tujuan nya.
Tapi mereka tidak pergi ke hotel lagi, karena Lionel ingin di apartemen nya saja.
Agar dia tidak telat makan dan kelaparan lagi karena koki nya di bawa pergi oleh orang lain.
itulah alasan Lionel.
"Ganti baju kamu, setelah itu buat kan aku makan siang!" Titah sang bos.
"Apalagi?" Tanya Lionel.
"Saya harus ke kamar yang mana tuan? dan lagipula pakaian saya masih tertinggal di hotel" Ujar Arumi.
Lionel tidak menjawab,ia memilih untuk duduk di ruang tengah.
Arumi yang melihat majikan nya itu benar-benar kesal.
"Mari nona , saya antar kan ke kamar anda" Ajak sekretaris Rai. Arumi hanya bisa pasrah melihat majikan nya, dan mengikuti sekretaris Rai.
Arumi memasuki kamar yang di beritahu kan sekretaris Rai. Ternyata di kamar itu sudah ada koper Arumi yang berisi pakaian Arumi semua, dan tidak ada yang kurang satu pun.
Arumi hanya mengganti pakaian yang biasa digunakan nya. Lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Arumi terlalu fokus memasak, hingga tidak menyadari bahwa ada seorang yang memperhatikan nya dari belakang sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ada apa dengan ku? kenapa jantungku berdegup sangat kencang ketika melihat nya? Tidak itu tidak mungkin! seperti nya ada yang salah dengan jantung ku!" Batin Lionel.
__ADS_1
"Astaga kenapa ia terlihat imut dan seksi dengan pakaian yang serba longgar itu" Batin Lionel yang tidak sadar dengan pikiran nya.
"Tuan saya sudah selesai memasak. Saat nya anda untuk makan siang" Seru Arumi membuyarkan lamunan Lionel yang liar.
"Eh... Ah ya... mari kita makan" Ajak Lionel gelagapan, ia malu karena ketahuan memperhatikan Arumi terus.
Lionel sudah duduk di kursi meja makan.
tidak dengan Arumi, dia ingin pergi dan membawa piring makan siang nya ke dalam kamar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Lionel.
"Saya ingin makan di dalam kamar saja tuan" Jawab Arumi jujur.
"Tidak! Kamu harus menemani ku makan siang, karena sekretaris Rai sedang keluar ada urusan, dan saya tidak ada yang menemani"
Ujar Lionel tegas, meskipun ada sedikit rasa gugup ketika ia mengatakan nya. Dan dia tidak tahu kenapa ia merasa gugup.
Arumi hanya bisa menghembuskan nafas kasar, tapi ia tetap duduk juga.
"Sungguh kekanakan sekali, makan pun harus di temani" Batin Arumi.
"Tuan... memangnya kemana sekretaris Rai?" Tanya Arumi memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka.
"Bukan urusan kamu, itu urusan nya".Jawab Lionel santai.
"Huh! Dasar majikan Menyebalkan" kesal Arumi.
***
"Maaf membuat nona menunggu" Ucap Sekretaris Rai.
"Ya" Jawab wanita yang di temui sekretaris Rai.
Dan mempersilahkan sekretaris Rai untuk duduk.
"Kenapa nona Gamila meminta untuk bertemu? dan tidak ingin tuan Lionel tahu tentang hal ini?" Tanya Sekretaris Rai.
"Saya akan langsung ke intinya saja" Ucap wanita itu yang ternyata adalah istri Lionel.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗