
Mengingat bahwa dia memiliki janji akan mengunjungi Gamila. Lionel menjadi lesu, apakah keputusan ini adalah tindakan yang benar. Keputusan yang tidak akan menjadi penyesalan di akhir.
"Ah. Hal ini nanti saja ku pikirkan" Batin Lionel tidak ingin memperkeruh suasana yang entah kapan akan terjadi lagi. Saat dimana dia bisa mengobrol santai dengan Arumi.
"Hahaha terserah kamu sajalah, yang penting paman merasa, paman lah yang paling tampan daripada kamu dan pemain sepakbola itu" Seru Lionel tertawa sumbang tidak mau kalah.
"Cup cup cup cup kak, sudah tertawanya nanti paman ini ngambek" ucap Albi menahan tawa nya.
"Hahaha baiklah baiklah. Kakak tidak tertawa lagi" ucap Arumi berusaha menghentikan sisa-sisa tawanya.
"Ah... hemm ngomong-ngomong tuan kenapa di sini? " Tanya Arumi yang sudah bisa mengendalikan diri nya.
"Ah. Aku, aku kesini karena, karena lapar. Ya lapar. Memang nya kamu kira aku kemari karena mengikuti kamu? Kamu jangan ke ge-e-ran " Ucap Lionel gelagapan.
"Eh. Siapa yang bilang kalau dia ngikutin aku kesini? Cih. Dia kurang kerjaan kayak nya. Pasti dia benar-benar mengikuti aku kesini karena dia lapar" Batin Arumi kesal pada kenyataan yang dipikirkan nya.
"Ooh baiklah, hemm sepertinya pesanan anda belum datang. Kalau begitu kami permisi dulu karena makan siang kami sudah habis" Ucap Arumi lalu beranjak dari duduk nya.
"Albi, ayo masih ada tempat yang belum kita kunjungi" Ajak Arumi pada Albi yang ternyata makan siang nya juga sudah habis.
"Eh kapan mereka makan nya? Aku tidak melihat mereka memakannya" Batin Lionel melihat bekas makan Albi dan Arumi yang sudah kandas di lahap.
"Ayo kak, bye bye paman" Seru Albi melambaikan tangan nya. Dia sudah berjalan terlebih dahulu dengan riangnya menuju kasir.
"Eh… Tunggu" Seru Lionel menahan tangan Arumi.
Lionel tidak rela jika di tinggalkan begitu saja.
__ADS_1
"Baiklah. Jujur aku kemari karena mengikuti kamu. Kamu pasti tahu kenapa aku melakukan ini? " Ujar Lionel berterus-terang.
"Iya…
"Kamu juga jangan ke ge-e-ran, aku mengikuti kamu bukan karena aku suka kamu, karena aku penasaran. Aku mengikuti kamu benar karena aku lapar. Ayo pulang ajak adik kamu sekalian. Kamu jangan sampai kecapean nanti tidak ada yang memasak untuk ku jika kamu sakit" Potong Lionel menghentikan kata-kata Arumi. Dia berjalan duluan meninggalkan Arumi yang terperangah mendengar ucapannya. Menyusul Albi yang sudah melambaikan tangannya meminta Arumi agar segera membayar pesanan mereka.
Lionel belum ingin Arumi mengetahui perasaannya saat ini. Karena saat ini Lionel masih menyandang gelar suami Gamila.
"Ah. Aku harus hati-hati mulai saat ini. Aku tidak ingin Arumi menganggap aku pria brengsek yang menyukainya yang notabene pembantu ku, terlebih dari itu aku juga sudah memiliki seorang istri. Ya tapi memang aku akui jika aku ini benar-benar pria dan seorang suami yang brengsek. Yah… ini juga untuk kebaikan nya, aku tidak ingin jika kedua orang tua ku dan orang tua Gami menganggap Arumi sebagai pelakor nantinya" Batin Lionel yang sudah membayar pesanan Arumi.
"Albi biar paman yang bayar" ucap Lionel mengeluarkan card dari dompet nya.
"Kamu mau main kerumah paman tidak? Kamu tahu tidak, kak Arumi itu tinggal bersama paman loh" Ucap Lionel dengan bangganya, dia mensejajarkan diri nya dengan Albi.
"Wah benarkah paman? Ayo kita main kerumah paman saja" Ajak Albi riang, dia menghamburkan dirinya kedalam pelukan Lionel. Meminta Lionel agar menggendong nya.
"Wah... Dia serius dengan ucapan nya barusan? Belakangan ini dia sudah sangat sering mengganggu tidur ku hanya dengan alasan dia lapar. Dia bahkan sengaja ke sekolah agar aku bisa memasak untuk nya. Dan kemarin dia hampir membuat ku home schooling karena alasan perutnya dan lidahnya yang hanya menginginkan masakan ku. Ah ini benar-benar gila, dan karena itu dia menuduhku memasuki obat yang bisa membuat dia candu pada masakan ku. Dan sekarang dia menggangu liburan ku dengan Albi hanya alasan perut sialan nya itu" Kesal Arumi tidak percaya. Menatap tajam kepergian Albi dan Lionel yang sudah akrab.
"Tuan serius ngikutin saya karena lapar? Kan tadi tuan sendiri yang bilang tidak akan menggangu liburan saya" Kesal Arumi menghampiri Lionel yang sudah menggendong Albi, membawanya menuju parkiran mobil.
"Kamu juga Albi. Kamu kan belum mengenal paman ini, kamu baru saja bertemu dengan nya tadi. Tapi kenapa kamu mau saja di gendong dia" Seru Arumi marah. Dua hal yang membuat nya marah pertama karena Lionel mengingkari janjinya yang tidak akan menggangu hari libur Arumi dan yang kedua dia marah karena Albi mau saja di gendong oleh orang asing yang baru saja mereka temui, walaupun orang asing itu adalah majikannya sendiri. Arumi benar-benar tidak bisa mengontrol emosi nya. Ah datang bulan memang bisa membuat wanita seperti singa.
Arumi sangat jarang sekali marah seperti ini. Mungkin terbilang tidak pernah, karena Arumi selalu menasehati Albi dengan tenang, dan lemah lembut. Hal ini membuat Albi terdiam Menunduk kan kepala nya. Takut jika Arumi akan lebih dari ini.
"Maaf" lirih Albi turun dari gendongan Lionel.
"Maaf paman, Albi tidak bisa main ke rumah paman. Kita kan belum lama kenalnya" Ucap Albi tertunduk, Albi berjalan menuju Arumi. Menggenggam tangan kakaknya itu.
__ADS_1
"Maaf kak, Albi janji gak akan seperti itu lagi" ucap Albi memeluk kaki Arumi.
"Kakak jangan marah lagi ya" Pinta Albi penuh harap.
Lionel terdiam. Ini yang kedua kali nya Arumi marah padanya. Lionel tidak menyangka bahwa Arumi akan marah seperti ini. Padahal niat Lionel mengikuti Arumi dan Albi hanya ingin mengenal keluarga kecil Arumi lebih dalam. Lionel sudah mencari tahu segala tentang Arumi. Arumi yang hanya memiliki Albi sebagai satu-satunya keluarga kandung. Dan paman yang tidak bisa menjaga Arumi karena istrinya yang tidak menyukai keberadaan Arumi.
Arumi memejamkan matanya, meredam emosi yang sudah naik ke ubun-ubun kepala.
"Ah… sayang. Kakak tidak marah, hah… sudah-sudah kakak juga salah karena telah membiarkan kamu akrab dengan orang asing" Ucap Arumi mensejajarkan diri nya dengan Albi. Memeluk Albi yang seperti nya sedih karena sudah di marahi.
"Eh. Apa aku benar-benar hanya dianggap orang asing baginya" Batin Lionel tidak terima dengan perkataan Arumi.
"Apa kakak benar tidak marah. Albi kan sudah sembarangan main sama paman asing" Ucap Albi lirih tapi masih bisa didengar.
"Tentu saja kakak marah" seru Arumi membawa Albi dalam gendongan nya.
"Aww… kakak" Seru Albi merasakan perih di hidungnya karena di cubit Arumi.
"Jadi mulai sekarang kamu harus janji yaa… kamu gak boleh gitu lagi" Seru Arumi riang, dia mengaitkan jari kelingking nya pada jar Albi.
"Okey" Riang Albi membalas kaitan jari Arumi.
Ah saat ini Lionel menjadi tak terlihat karena cahaya kasih sayang yang terpancar dari Arumi dan Albi.
Lionel tersenyum samar, melihat kasih sayang keduanya. Kasih sayang mereka tak terkalahkan oleh amarah yang menguasai Arumi.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗