
Deg!
"Tidak" Jawab Lionel spontan. Tegas. Setengah berteriak. Tapi tak berani beradu pandang dengan Ricki.
Setelah bisa menetralkan perasaan yang membuat Lionel seakan dia ketahuan mencuri. Menetralkan detak jantung nya yang berdetak kencang, takut ketahuan. Bahwa ini benar adalah kisah nya. Lionel memandang Ricki tak percaya. Bagaimana bisa dia tahu bahwa ini cerita tentang nya. Lionel berpikir.
Berbeda dengan Ricki. Laki-laki yang berprofesi sebagai dokter ini, tersenyum lebar. Menyipitkan matanya. Memandang Lionel lekat. Penuh kecurigaan. Membuat siapapun yang melihatnya pasti merinding. Mata dan senyum nya yang usil penuh menyelidik lawan nya.
"Cih! kau tak akan bisa membohongi ku" Batin Ricki tidak mengalihkan pandangan nya.
"Apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu? " Seru Lionel jengah.
"Tidak ada apa-apa! Tidak ada apa-apa! " Ucap Ricki dengan nada mengejek nya. Membuat Lionel semakin kesal.
"Aku hanya ingin menatap mu saja! Kalau dipikir-pikir. Aku sudah lama sekali tidak melihat mu sedekat ini" Seru Ricki mendekat kan wajah nya. Tanpa melunturkan senyum usil nya.
"Ih. Jauh-jauh sana" Seru Lionel mendorong jauh wajah Ricki.
"Ah. Yaa. Cerita yang kau baca, seperti nya sangat menarik. Aku jadi ingin membaca nya juga" Ujar Ricki beranjak dari duduk nya. Berniat ingin segera pergi.
"Jika kamu sudah ingat apa judul novel itu. Bisakah kamu memberitahukan nya pada ku" Pinta Ricki.
Lionel menatap curiga Ricki. Ada rasa gelisah tiba-tiba menghampiri nya. Menatap Ricki yang sudah berjalan menuju pintu. Memegang gagang pintu kamar.
"I. Iya nanti
"Ah... seperti nya lebih bagus jika aku bertanya langsung pada pembantu mu itu! Kalau begitu aku pergi dulu! " Seru Ricki langsung pergi keluar kamar. Tanpa mendengar lanjutan ucapan Lionel.
"RICKIIII" Teriak Lionel frustasi.
Di luar kamar Ricki tertawa terbahak-bahak. Tidak menyangka bahwa Lionel akan menyukai pembantu nya. Bahkan cemburu buta.
Tak lama dia tertawa. Ricki bersandar di pintu. Masih mendengar ocehan Lionel yang sangat kesal pada nya. Mungkin sudah di tahap marah.
Sebelum Lionel mengejar nya, dan tentu saja akan menghajar dirinya. Ricki meninggalkan kamar, ingin mencari seseorang yang akan di interogasi nya. Seseorang yang menjadi sumber dari rasa cemburu yang menghampiri pasien nya. Lionel.
Di sepanjang perjalanan mencari keberadaan Arumi, banyak hal yang menjadi pikiran Ricki.
"Walaupun aku tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan hati Lio, tapi. Ah seperti nya perjalanan kisah cinta Lio sangat memusingkan"
__ADS_1
"Jika dia memiliki rasa cemburu pada pembantu nya. Berarti Lio telah bermain hati dengan wanita lain di belakang Gami? " Batin Ricki tidak percaya dengan apa yang di terka nya.
" Tapi. Dari dulu aku tidak yakin dengan perasaan Lio pada Gami! Atau pun sebaliknya"
" Hemm. Apa Gami sudah melupakan mantan calon mempelai pria nya? Dan telah membuka hati pada Lio? "
"Tapi aku juga tidak yakin jika Lio memang benar menyukai Gami. Dari hati nya"
"Karena. Bisa jadi Lio hanya membiasakan diri nya untuk menyukai seseorang yang telah menyelamatkan nya dari kejaran anjing waktu dia masih kecil. Mengingat cerita Lio yang menjadi pemicu dia menyukai Gami"
"Aargrh. Kenapa rumit sekali sih" Gumam-gumam Ricki kesal.
"Ah. Tidak. Aku tidak boleh ikut campur dulu! Biarkan Lio meyakinkan perasaan terlebih dahulu! Jika dia sudah pasti dengan perasaan nya aku akan menolong nya jika dia butuh bantuan dalam mendapatkan cinta nya kali ini"
"Tapi. Kasihan gadis yang menjadi incaran Lionel. Dia pasti merasa tertekan. Cih! Ada untungnya aku jomblo" Batin Ricki menyudahi peperangan pendapat yang terjadi di hati dan pikiran nya.
Tempat pertama yang dikunjungi Ricki adalah dapur. Pilihan pertama yang tepat. Pikir Ricki.
Di dapur.
Arumi sudah seperti koki profesional. Semua perintah nya serasa mutlak. Tiada bantahan yang keluar dari mulut para pekerja yang membantu nya. Termasuk Tika.
Tiidak hanya Arumi. Semua pekerja yang ada di dapur dan Tika menolehkan kepalanya melihat Ricki.
Ricki memanggil Arumi dengan isyarat tangan nya, agar Arumi mengikuti nya sejenak. Agar Arumi menghampiri Ricki.
Arumi yang paham dengan isyarat yang di berikan Ricki, menganggukkan kepalanya. Mengartikan bahwa ia akan segera kesana. Tidak langsung menghampiri Ricki, Arumi memberikan perintah singkat pada Tika, memberitahu kan hal yang harus di lakukan selanjutnya.
"Apa anda membutuhkan sesuatu dokter? " Tanya Arumi ketika ia baru sampai di hadapan Ricki.
"Ah. Tidak ada. Saya hanya ingin pamit saja. Tolong kamu rawat Lio baik-baik ya " Pinta Ricki menepuk pelan pundak Arumi.
"Ehh...
Arumi kaget dengan dengan tangan Ricki yang tiba-tiba memukul pelan pundak nya. Menatap tangan Ricki.
"Ehh. Iya dok" Ucap Arumi dengan senyum canggung nya.
"Hemm. Baiklah saya pergi du...
__ADS_1
" RICKI" Teriak Lionel, berlari kecil membawa infus nya. Menghentikan pembicaraan mereka.
Greep!
Lionel langsung menarik tangan Ricki yang menyentuh pundak Arumi. Menarik Ricki agar menjauh dari Arumi. Meninggalkan Arumi dalam kebingungannya.
Lionel menarik paksa Ricki hingga di depan pintu utama. Mendorong nya keluar dari pintu. Menatap tajam sumber kemarahan nya. Ricki.
Sedangkan Ricki. Sepanjang tarikan paksa di tangan nya. Dia hanya tersenyum. Menatap punggung Lionel. Menolehkan kepalanya melihat Arumi. Melambaikan tangan nya.
"Apa yang kau katakan padanya? Kenapa kamu menyentuh nya dengan tangan mu itu? Kamu tidak mengatakan yang aneh-aneh kan? " Tanya Lionel beruntun. Mencerca Ricki dengan pertanyaan nya.
Senyum secerah mentari di pagi hari tak luntur dari wajah Ricki. Walaupun ia saat ini sedang menghadapi singa yang hendak menerkam mangsanya.
"Bye Lio! Besok aku kesini lagi yaaa! Mau lepas infus nya" Seru Ricki berlari menuju mobil nya. Tidak menjawab pertanyaan beruntun Lionel. Lebih tepatnya ingin kabur dari kemarahan yang akan di hadapannya.
"Ricki. Kembali" Teriak Lionel kesal.
Ricki tentu saja mengabaikan teriakan Lionel. Dia sudah menyelamatkan diri nya, kabur mengendarai mobil. Membelah jalanan menuju rumah sakit.
"Aargrh! Dasar! lihat saja besok! Akan ku balas kau" Geram Lionel. Ia masuk lagi kedalam rumah.
Ingin sekali menghampiri Arumi. Menanyakan perihal apa yang telah di katakan Ricki. Tapi itu tidak terjadi, karena jika Ricki sudah memberitahukan hal "Ini" mau taruh di mana wajah nya. Arumi pasti akan memandang nya rendah karena seorang pria yang sudah beristri menyukai seorang pembantu di rumah nya. Harga diri nya akan terluka. Mengingat Arumi saat ini masih dalam keadaan marah pada nya, dan. Jika Lionel yang terlebih dahulu menghampiri Arumi. Itu akan benar-benar sangat memalukan. Pikir Lionel.
"Tapi. Jika dia belum sempat mengatakan nya bagaimana ya? " Batin Lionel yang sudah membaringkan lagi tubuhnya di kasur.
"Tidak. Bocah sialan itu pasti sudah membeberkan nya" Batin nya frustasi.
"Jadi. Apakah aku benar-benar menyukai gadis itu? Dan baru saja aku cemburu melihat foto nya bersama laki-laki lain" Gumam-gumam Lionel menyadari suatu hal.
"Ah. Sudahlah" Menyudahi pemikiran yang tak akan pernah habisnya.
"Dasar bocah sialan. Tangan nya seenaknya saja menyentuh gadis ku" Gumam Lionel tanpa sadar.
Tanpa Lionel sadari ia memulai lagi pemikiran yang tak akan pernah berakhir jika terus dipikirkan.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1