Hanya Dia

Hanya Dia
Ada apa dengan nya ?


__ADS_3

Arumi berlari menuju kamar nya. Merebahkan tubuh nya dan menatap lekat langit-langit kamar.


"Hah. Yang benar saja. Ada apa dengan nya" Keluh Arumi.


"Kalau dia melihat istrinya yang bersama pria lain bukan kah itu baru wajar jika ia marah" Kesal Arumi.


"Sedangkan aku. Aku yang hanya sebatas pembantu di rumah ini, kenapa dia marah? Seperti sedang memergoki istrinya sedang selingkuh saja? " Gumam-gumam Arumi kesal.


"Sungguh kekanakan sekali"


"Hah. Baiklah aku tidak perlu ambil pusing. Anggap saja ini tidak pernah terjadi. Dan anggap saja tuan sedang meluapkan emosi nya, efek merindukan sang istri. Dan akulah sasaran empuk untuk meluapkan emosi nya itu" Seru Arumi.


"Haaaah. Tapi tetap saja. Kok kesal ya"


"Hah. aku ingin istirahat sejenak. Tapi pekerjaan ku masih banyak" Ujar Arumi duduk mencari sesuatu.


"Eh. Ponsel ku di mana? Aah. Seperti nya masih sama dia" Gumam Arumi lesu.


"Huwaahahah. Aku tidak ingin bertemu dengan nya saat ini. Jika aku melihat nya sekarang. Uh. Ingin rasanya ku cakar wajah nya itu" Teriak Arumi menirukan gerakan mencakar.


"Huh. Tapi aku membutuhkan ponsel ku"


"Hah. Tidak ada pilihan lain" Gumam Arumi.


Entah sudah berapa kali Arumi menghela nafas nya pagi ini, dan itu semua dikarenakan Lionel.


Arumi beranjak dari kasur nya. Dia akan menghilangkan rasa kesal nya sejenak, ya hanya sejenak saja. Setelah dia mendapatkan ponsel nya kembali, Arumi akan kembali ke mode kesal nya. Karena telah menjadi sasaran empuk amarah Lionel.


Bahkan Arumi bertekad mogok memasak untuk Lionel.


Tapi sebelum gadis itu kembali ke kamar yang di tempati Lionel, dia ke dapur ingin mengajak Tika menemani nya. Agar tidak canggung jika bertatap muka dengan Lionel.


Tok


Tok


Tok


Sebelum masuk ke dalam kamar, Arumi mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tidak ada Jawaban dari dalam. Arumi meminta Tika untuk mengatakan bahwa Tika lah yang datang. Datang karena Ingin menyampaikan suatu hal.


Tika hanya mengikuti instruksi Arumi, walau dirinya bingung dan ingin meminta penjelasan kepada Arumi, kenapa dia harus melakukan hal itu.


Tapi di urungkan nya. Karena dia merasa kan ada hawa yang tidak bersahabat dari Arumi.


"Tuan. Ini saya cantik, apa saya boleh masuk? " Tanya Tika mengulang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Pptt. Rasanya aku ingin tertawa. Kenapa kakak ini ingin sekali di katakan cantik? Yaa memang sih nama nya itu cantik. Tapi kan... Jika ada orang yang mengerti bahasa Indonesia, pasti orang itu akan memandang aneh kak Tika. Ya termasuk aku. Walaupun aku tinggal di New York, aku tidak akan melupakan bahasa tanah kelahiran mama" Batin Arumi menahan tawa nya.


"Masuk lah" Akhirnya Lionel memperbolehkan mereka masuk, walau tidak mengetahui bahwa Tika bersama Arumi saat ini.


Tika dan Arumi masuk. Lionel tidak mempedulikan kedua nya, dia bersikap biasa saja karena dia mengira hanya Tika saja lah yang masuk.


Dan dengan santai nya dia mengotak-atik ponsel Arumi.


Arumi yang melihat ponsel nya diotak-atik pun tanpa ba bi Bu langsung merebut ponsel nya. Sebenarnya Arumi tidak percaya akan tindakan yang dilakukan barusan. Bukan hanya dirinya, Tika juga kaget dengan tindakan yang dilakukan Arumi.


"Hei. Apa yang kau la... " Ucap Lionel marah. Karena berani nya seseorang merebut sesuatu yang sedang di ia pegang. Sangat kurang ajar sekali. Pikir Lionel.


Ingin sekali Lionel memaki orang yang merebut ponsel itu. Tapi tidak jadi di lakukan nya setelah melihat siapa yang merebut paksa ponsel itu.


"Maaf tuan ini ponsel saya" Ucap Arumi datar, berusaha menahan gejolak emosi nya, menahan sejenak kekesalan nya.


"Saya ingin memberitahu kan bahwa tuan dan nyonya besar akan menginap di sini, kemungkinan siang nanti mereka sampai. Dan dokter Ricki sebentar lagi juga akan sampai, dokter akan memeriksa keadaan tuan lagi" Jelas Arumi panjang lebar.


"Oh. Satu lagi. Kakak ini yang akan melayani tuan. Memasakkan makanan tuan mulai hari ini mungkin... sampai seterusnya" Ujar Arumi dengan wajah datar nya. Membuat Lionel dan Tika terkejut.


"Jadi kakak di sini saja tolong suapi tuan. Dan rawat tuan hingga sembuh. Karena pekerjaan saya masih banyak, saya permisi dulu" Pamit Arumi langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua orang yang masih belum sadar atas apa yang terjadi.


"Eh. Arumi tunggu" Seru Tika menatap kepergian Arumi setelah Arumi menutup pintu.


Telat!


Arumi sudah tidak terlihat lagi.


"Apa dia marah? Seharusnya aku yang marah karena dia bersenang senang dengan pria lain! Tidakkah dia tahu jika aku... Aku. Aku apa ya? Aah. Entahlah" Batin Lionel.


"Hemm. Tuan apa saya harus menyuapi tuan? " Tanya Tika hati-hati.


Mendengar penuturan Tika, ada rasa ketidaksukaan di rasakan nya. Lionel ingin Arumi lah yang menyuapi dirinya.


"Tidak perlu. Saya bisa sendiri" Ucap Lionel tegas.


Lionel menjangkau mangkuk bubur yang ada di atas nampan. Di atas lemari kecil di samping ranjang.


Menyuapi dirinya sendiri dengan tangan kiri. Walau kesusahan dia tetap melakukan nya.


Tika yang tidak tahu harus melakukan apa hanya berdiri, diam di samping sofa. Tidak berani duduk ataupun bersuara.


"Apa kamu tidak ada pekerjaan? " Tanya Lionel pada Tika, dia sudah selesai dengan bubur nya. Lionel Meletakkan kembali mangkuk di atas nampan. Lalu meraih gelas, meminum air nya.


Melihat Tika yang masih diam tidak menjawab pertanyaan nya, Lionel bertanya lagi untuk yang kedua kali nya.


"Apa kamu tidak ada mulut untuk bicara hah? " Tanya Lionel kesal.

__ADS_1


"Saya tanya, apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain? " Tanya Lionel lagi.


"Saya. Saya diminta untuk merawat tuan" Ucap Tika hati-hati.


"Merawat saya? Apa kamu kira saya anak kecil yang harus kamu rawat? " Tanya Lionel tidak senang.


"Tapi. Kata Arumi" Bantah Tika.


"Oh. Kata Arumi? Kamu itu bekerja untuk siapa hah! Apa dia bos kamu? " Teriak Lionel marah. Tidak tahu kenapa, tapi Lionel ingin sekali meluapkan emosi nya saat ini.


"Eh. Tidak tuan. Saya bekerja untuk tuan" Jawab Tika langsung.


"Sudah. Okamu keluar sana. Aku tak butuh bantuan mu" Lionel mengusir Tika.


"Baik tuan, saya permisi dulu" Pamit Tika langsung keluar kamar takut di amuk lagi.


"Ada apa dengan tuan dan Arumi? Apa mereka bertengkar? " Batin Tika yang Sudah di luar kamar.


Di dalam kamar


"Aargrh" Teriak Lionel menendang selimut dan melemparkan bantal nya asal.


"Ada apa dengan ku? Kenapa rasanya amarah ku meluap jika melihat foto mereka" Gumam Lionel.


"Hah. Kenapa rasa nya sesak? " Ucap Lionel memukul pelan dadanya ingin menghilangkan rasa sesak di dada.


Lionel membaringkan tubuhnya, menatap lekat langit-langit kamar.


"Ini. Membingungkan" Gumam-gumam Lionel


"Kenapa. Ketika Gami bersama dengan pria lain, bahkan adegan mesra lain nya mereka lakukan ketika ia sedang bekerja. Aku tidak merasa amarah seperti ini? " Batin Lionel bertanya-tanya.


"Rasa ini. Kenapa sangat menyebalkan" Gumam nya menutup mata dengan lengan.


Lionel yang biasa nya sangat peka terhadap semua yang ada di sekitar nya, terlebih saat berhadapan dengan rekan bisnis nya. Dia yang biasa nya dengan mudah menebak isi pikiran orang yang menjadi lawan bicara nya, hanya dengan melihat tatapan mata dan gestur tubuh lawan bicara nya.


Lionel seorang CEO muda yang jenius, bisa dengan mudah menaklukkan rekan bisnis nya hanya dengan sekali ucapan.


Pria yang bisa dikatakan sempurna dalam segala hal.


Tapi tidak dengan hal yang satu ini.


Dia tidak mengerti dengan hal yang dirasakan nya saat ini.


Perasaan yang sangat asing bagi Lionel, dia belum pernah merasakan perasaan aneh ini. Perasaan marah ketika melihat Arumi dengan pria lain, perasaan ingin memukul atau menghajar pria itu. Ingin meluapkan segala amarah yang ada, pada pria yang bersama Arumi karena dengan beraninya dia bersama dengan Arumi.


Dan terselip rasa kecewa di ruang hati nya yang terkecil. Ini benar-benar rasa baru baginya. Ahh... Sangat sulit sekali menggambarkan perasaan Lionel saat ini.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2