Hanya Dia

Hanya Dia
Hanya untuk berdiri


__ADS_3

Tok!


Tok!


Tok!


" Masuk" Perintah Lionel dari dalam ruang kerja nya.


Arumi masuk ke ruang kerja Lionel dengan membawa nampan. Lionel yang sedang menandatangani berkas melirik Arumi sekilas, lalu melihat berkas nya. Lalu melirik Arumi lagi. Begitu seterusnya hingga Sekretaris Rai meminta Arumi untuk keluar dari ruangan segera.


" Sekretaris Rai ini bubur dan obat nya" ucap Arumi meletakkan nampan di atas meja di depan Rai.


" Ya. Kamu boleh keluar" Ucap Sekretaris Rai.


Lionel menatap tajam Sekretaris Rai yang telah berani mengusir Arumi.


" Rai" Panggil Lionel mata nya tak lepas memandang pintu yang telah menelan keberadaan Arumi.


" Ya Tuan" jawab Rai berdiri, berjalan menuju meja kerja Lionel.


" Sebaiknya kamu segera istirahat" Perintah Lionel pada Sekretaris Rai.


" Tapi Tuan, pekerjaan saya masih ba...


Bantah Sekretaris Rai tidak jadi karena tatapan membunuh Lionel.


Lionel menatap tidak suka Sekretaris Rai yang membantah nya.


" Istirahat lah. Dan panggilkan Arumi" Perintah Lionel mutlak. Tidak bisa dibantah.


" Baik Tuan. Tuan juga harus segera istirahat, kalau begitu saya permisi dulu" Sekretaris Rai membungkukkan badan nya lalu pergi mencari Arumi.


Sekretaris Rai langsung mencari Arumi ke kamar nya. Sesuai dugaan, Arumi tengah berbincang asik dengan Tika di dalam kamar nya. Hari ini Tika akan menginap di sini karena Arumi lah yang meminta nya. Dengan sedikit trik-trik kecil agar Tika mau.


Tok!


Tok!


Tok!


Rai mengetuk pintu kamar Arumi.

__ADS_1


" Yaa... Tunggu sebentar" Teriak Arumi dari dalam kamar. Entah apa yang di lakukan Arumi di dalam kamar nya, lima menit kemudian barulah ia menampakkan diri nya.


" Ada apa Sekretaris Rai? " Tanya Arumi membuka sedikit celah di pintu nya agar bisa melihat Sekretaris Rai. Sekretaris Rai hanya bisa melihat Arumi saja dan tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar. Karena di dalam kamar sedikit heboh ketika Arumi membuka sedikit pintu nya.


" Tuan memanggil anda" Imbuh Sekretaris Rai tanpa basa-basi.


"Hah. Tidak bisa kah jika kakak Tika saja yang di panggil? " Keluh Arumi.


" Bisakah nona langsung menuju ruang kerja Tuan tanpa ada bantahan? " Rai malah balik bertanya. Membuat Arumi mendengus kesal.


" Huhuh... Baiklah saya akan kesana" Jawab Arumi malas.


" Kalau begitu tunggu sebentar" Ucap Arumi lalu menutup pintu kamar nya lagi.


Sama seperti sebelumnya, Arumi membuat Sekretaris Rai menunggu nya. Sepuluh menit kemudian barulah Arumi keluar dari kamar nya. Tidak seperti tadi yang memakai kaos kebesaran hingga lutut saja, tanpa bawahan. Sekarang Arumi sudah memakai bawahan nya dengan celana training seperti style nya yang biasa, tentu saja kacamata tebal nya tak terlupakan.


Sekretaris Rai yang kesal karena baru kali ini ada seseorang yang membuat nya menunggu, terlebih lagi membuat Tuan muda nya menunggu. Rai menatap tajam Arumi seakan meminta pertanggungjawaban karena telah membuat waktu nya terbuang percuma karena menunggu Arumi keluar dari kamar. Ia kesal.


" Ayo Sekretaris Rai. Nanti Tuan bocah " gumam Arumi lirih di akhir kalimat nya. " Marah karena menunggu anda" Seru Arumi yang sudah jalan terlebih dahulu meninggalkan Rai yang masih menatap nya tajam.


" Jika kamu bukan wanita yang... Hah. Sudah ku pecat kamu" Batin Sekretaris Rai.


Deg!


Mata mereka bertemu. Cukup lama mereka saling memandang satu sama lain.


" Ini… Bocah Napa ya? " Batin Arumi.


" Duh jantung ku. Kenapa kau tidak bisa diam" Maki Lionel pada jantung nya sendiri.


" Ah... Seperti nya aku benar-benar menyukai nya"


"Tapi... Kenapa saat aku melihat Gami aku tidak merasa kan hal ini? Bahkan kami sudah melakukan hal melebihi saling bertatapan"


"Apa itu artinya aku tidak menyukai Gami? Karena aku tidak pernah merasakan hal ini saat bersama dengan nya" Batin Lionel meraba dadanya" Apa itu hanya sebatas rasa kagum ku karena dia penyelamat ku waktu kecil? Dan aku hanya membiasakan diri untuk menyukai nya? "


"Tunggu. Bukan kah sebelum nya Gami meminta ku untuk memastikan sesuatu? Apa selama ini Gami tahu bahwa aku tidak benar-benar menyukai nya seperti pasangan suami istri pada umumnya??"


" Apa Gami juga tahu bahwa aku menyukai dia" Batin Lionel menatap Arumi tajam.


" Oh Lionel. Kau sungguh pria b******k karena telah menikahi Gami tapi tidak mencintai nya. Dan kau malah menyukai pembantu mu yang baru beberapa bulan kau kenal" Batin Lionel memaki diri nya sendiri. Rasa bersalah menggerogoti hati dan pikiran nya.

__ADS_1


" Sungguh. Kau pria ******* yang tidak tahu diri memaksakan wanita yang tidak kau cintai untuk menjadi istri mu. Terlebih lagi istri mu juga tidak pernah bisa mencintaimu" Batin Lionel menyesal.


Lionel merasakan nyeri di sudut hati nya. Merasa kan apa yang di rasakan Gamila selama ini saat menjadi istrinya. Menjadi istri yang tidak pernah di cintai selama masa pernikahan mereka.


Dan saat ini dia malah menyukai seseorang saat dia masih menjadi suami dari Gamila.


" Kenapa aku baru menyadari nya? " Batin Lionel frustasi.


" Hah" Lionel mendesah panjang "Aku harus minta maaf pada Gami. Dia pasti sangat terluka selama ini" Batin Lionel menundukkan kepalanya. Menelungkup kan wajah nya di meja.


" Tuan ini kenapa si? Bubur nya keburu dingin nih. Aku kan juga pegel berdiri Mulu disini" Batin Arumi kesal.


Lionel menegakkan lagi kepala nya, dia menatap lekat wajah Arumi dan tersenyum masam. Dia masih tidak percaya jika ia telah jatuh cinta pada gadis yang berdiri di hadapannya ini. Gadis yang tengah menatapnya kesal.


Tidak ada lagi rasa salah tingkah yang di rasakan Arumi. Dia sudah sangat lelah berdiri di sini selama satu jam. Bayangkan saja dia berdiri satu jam tanpa melakukan apapun. Mungkin hanya bernafas sambil menatap jengah Lionel. Sesekali Arumi mengalihkan pandangan nya menyapu seluruh ruangan dengan penglihatan nya.


Dan Lionel masih saja betah berlama-lama menatap Arumi. Hingga...


" Bisakah Tuan berhenti menatap saya" Pinta Arumi akhirnya bersuara. Ia benar-benar kesal.


" Kalau Tuan menatap saya tajam seperti itu bisa-bisa wajah saya bolong nanti" Imbuh nya lagi.


Mendengar ocehan Arumi membuat Lionel menampilkan deretan gigi putih nya yang rapi.


" Kenapa Tuan memanggil saya? " Tanya Arumi semakin kesal dengan senyum yang ditampilkan Lionel.


" Aku kan juga mau istirahat" Gumam-gumam kecil Arumi.


" Tidak mungkin kan anda memanggil saya hanya untuk berdiri di sini selama satu jam? " Seru Arumi melotot tidak percaya dengan apa yang di katakan nya barusan.


Lionel tersenyum semakin lebar. Dia beranjak dari duduk nya, berjalan menuju sofa.


" Tunggu. Ba... Barusan dia tersenyum? " Ucap Arumi lirih.


" Jangan bilang yang saya katakan benar? " Seru Arumi setengah berteriak menatap Lionel tak percaya.


Arumi tidak percaya bahwa Lionel benar-benar memanggil nya hanya untuk berdiri saja selama satu jam.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2