
Hari yang masih sangat pagi untuk memulai aktivitas. Cuaca dingin yang menembus kulit membuat tubuh siapa saja menggigil kedinginan.
Tapi tidak dengan Lionel.
Lionel saat ini sudah berada di dalam jet pribadi nya ,yang menembus Cakrawala biru menuju suatu tempat yang saat ini menjadi tempat bermalam nya sang istri.
Seperti kata nya semalam, bahwa dia ingin menemui Gamila.
Ingin memastikan sesuatu hal yang sangat penting.
Dan ingin menghindar dari hal yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Menunggu selama sebelas jam di jet pribadi adalah hal yang sangat menyebalkan bagi Lionel saat ini.
Jet pribadi Lionel telah mendarat di bandara.
Dengan keadaan yang bisa di bilang cukup tergesa-gesa, Lionel ingin langsung menemui Gamila.
Sementara itu.
Gamila yang saat ini sedang berada di lokasi syuting, mendapatkan telpon dari sekretaris Rai.
Hal tak terduga yang Lionel lakukan, membuat Gamila panik khawatir di campur menjadi satu.
Membuat gamila menjadi ketar ketir sendiri.
Memikirkan hal yang harus di lakukan nya, agar orang orang tidak mengetahui status nya yang telah menyandang gelar nyonya muda keluarga Danindra.
Dengan alasan sakit, yang di awali dengan akting mual. Di sebab kan cuaca yang dingin sehingga membuat daya tahan tubuh nya menurun. Akhir nya Gamila di perbolehkan untuk pulang ke hotel tempat nya menginap selama syuting berlangsung.
Hal itu membuat lawan main Gamila, yaitu Ilario Guthni merasa khawatir. Dan berniat untuk mengantar Gamila untuk kembali ke hotel.
Dengan alasan yang sudah susah payah di pikirkan manager Gamila. Dengan berat hati Ilario Guthni, tidak jadi mengantar Gamila kembali ke hotel.
Tentu saja manager Gamila harus melakukan tugas nya, agar hubungan artis nya dengan Lionel tidak terkuak media massa.
Tidak seperti yang di katakan sebelumnya bahwa Gamila akan beristirahat di hotel.
Dia di perintah kan oleh sekretaris Rai agar menyusul Lionel di apartemen nya, yang telah menunggu kedatangan Gamila.
Dengan napas yang sedikit tersenggal Gamila memasuki apartemen Lionel. Tapi sebelum nya, manager Gamila telah di perbolehkan untuk kembali lagi ke hotel. Berjaga jaga jika seseorang ingin bertemu dengan Gamila. Dan harus mencari alasan yang tepat.
"Lio kenapa kamu mendadak ingin bertemu?"Tanya Gamila yang telah duduk di samping Lionel.
Gamila menyenderkan kepalanya di dada Lionel yang tengah bersandar di sofa. Dan tangan Lionel mengelus puncak kepala Gamila.
"Aku hanya rindu" ucap Lionel lirih. Lalu memeluk erat tubuh Gamila.
Hahhh.
Tidak ada.
"Sayang kita istirahat di kamar ya" Ajak Lionel lalu menggendong tubuh Gamila bak seorang tuan putri.
Gamila tidak tahu apa yang di pikirkan Lionel saat ini, Lionel hanya mengajak nya istirahat sesampainya Gamila di apartemen. Tanpa melakukan aktivitas apa pun.
__ADS_1
***
Malam ini Arumi dan Albi sedang menikmati makanan yang telah selesai di bakar bersama. Sama seperti yang lainnya, yang sedang menikmati makan malam.
Hari yang sangat menyenangkan, tanpa ada nya majikan menyebalkan yang seenaknya memerintah Arumi. Pikir Arumi di sela-sela makan nya.
Rasa bahagia juga menghampiri Albi.
Walaupun Albi hanya berdua saja dengan Arumi, yang tidak lengkap seperti keluarga teman teman nya. Dia tetap merasa senang.
Hari sudah sangat larut, akhirnya semua orang kembali ke hotel untuk beristirahat.
Di dalam kamar Arumi dan Albi sudah mengenakan pakaian tidur mereka masing masing.
"Kak" Panggil Albi yang sedang main game di ponsel Arumi.
"Hemm" Gumam Arumi yang fokus pada novel nya.
"Kapan kakak menikah?" Tanya Albi dengan santai nya, dan mata yang masih fokus pada layar ponsel.
"Kapan-kapan" Jawab Arumi sekenanya. Dia menganggap pertanyaan Albi hanya sebuah candaan saja.
"Entah lah. Kakak hanya ingin membahagiakan kamu dulu" Jawab Arumi membatin.
"Aku juga tidak kepikiran untuk menikah. Apalagi dalam waktu dekat ini" Batin Arumi.
Albi menghentikan permainan game nya, ia menatap lekat Arumi. Mengambil novel yang di baca Arumi, lalu melemparkannya jauh ke sisi ranjang lain.
"Albi!" Teriak Arumi kesal.
Tanpa menjawab, Arumi menatap Albi.
"Ada apa ini? Tumben dia. Dengan ekspresi seserius ini" Batin Arumi.
"Kak. Walau saat ini. Kta hanya berdua saja" Seru Albi mendesah panjang.
"Tapi Albi ingin. Merasakan kebahagiaan yang lengkap" Ujar Albi lalu membaringkan tubuhnya bersiap untuk tidur.
"Maaf kak. Albi cuma ingin kakak bahagia juga. Albi tidak ingin kakak terlalu terbebani karena Albi" Batin Albi menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Arumi membatu sesaat mendengar hal yang di utarakan adik kecil nya. Arumi menoleh kearah samping, melihat Albi yang ingin memasuki gerbang mimpi.
"maaf kan kakak" Gumam Arumi.
Setelah perbincangan singkat mereka, Arumi dan Albi memilih untuk memasuki alam mimpi, berharap mimpi indah akan menghampiri kedua nya.
***
Kring kring kring.
Nada dering tanda telepon masuk di ponsel Lionel. Dia meraba keberadaan benda pipih itu dan menjawab panggilan telepon yang telah mengganggu tidur nya.
"Katakan!" Ucap Lionel serak. Suara khas bangun tidur dengan mata yang masih terpejam.
"..."
__ADS_1
"Kamu suruh saja dia menyusul ke mari" Jawab Lionel.
"..."
"Biar kan saja di di rumah" Ujar Lionel lagi.
"..."
"Hemm" Balas Lionel lalu mematikan sambungan telepon.
Lionel membuka mata nya, melihat Gamila yang masih terlelap dalam tidur nya.
Lionel mengecup kening Gamila. Mengusap lembut puncak kepala istri nya semakin mempererat pelukannya.
Hahhh. Masih tidak ada
Lionel semakin memeluk erat tubuh Gamila, setelah mengetahui hal yang ingin di ketahui nya. Dan bergumam sesuatu yang tidak di percayai akan terjadi pada diri nya.
Gamila merasa terusik dengan pelukan erat yang Lionel berikan. Diia membuka perlahan mata nya, terlihat Lionel yang bertelanjang dada.
"Uuh. Lio. Lepaskan. Sesak" Gumam Gamila mengagetkan Lionel.
"Ah. Maaf kan aku " Ujar Lionel melepaskan pelukannya pada Gamila.
Gamila melihat wajah Lionel yang memerah seperti menahan sesuatu.
"Lio kamu kenapa?" Tanya Gamila meletakkan tangannya di atas kening Lionel, memeriksa suhu tubuh nya. Lalu menyatukan dahi mereka.
"Hemm. Tidak panas" Ucap Gamila tepat di wajah Lionel.
"Gami" Panggil Lionel.
"Hemm. Ya" Jawab Gamila bingung dengan ekspresi wajah Lionel saat ini.
"Kita. Kamu. Mau punya anak? Buat yuk" Ajak Lionel seperti sedang mengajak teman nya bermain. Tapi tetap dengan mimik wajah yang serius.
"Eh. Ah. Maaf" Lirih Gamila lalu menundukkan pandangan nya, tidak sanggup menatap mata Lionel.
"Maaf. Aku masih belum. Bisa" Jawab Gamila yang sudah berurai air mata.
"Ssttt. Tidak apa-apa jika kamu masih. Belum. Bisa" Ucap Lionel pahit, seperti habis makan obat.
Lionel merengkuh tubuh Gamila dengan lembut, tidak erat seperti tadi. Yang membuat sesak.
" Jika. Kamu sudah siap. Tolong katakan pada ku" Ucap Lionel mengecup kening Gamila lembut.
"Hah. Apa kah seharusnya kami tidak bersama? Apa kah Gami bahagia? Aku tak berani menanyakan nya" Batin Lionel.
"Maaf" Batin kedua nya.
Lalu mereka terlelap lagi dalam mimpi masing-masing.
Semoga mimpi indah.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗