
Arumi mengintip Lionel dari ekor matanya. Saat melihat Lionel mendesah lesu dan sudah tak melihat dirinya lagi. Arumi menunjuk Lionel dan tersenyum malu-malu. Dan inilah reaksi semua orang kecuali Lionel.
Albi tersenyum senang akan hal yang baru diketahui nya.
"Eeh… wow" Seru semuanya tak percaya apa yang mereka lihat. Kecuali Bara, ia hanya tersenyum sambil memeluk kaki Kesya.
"Apa benar kamu sudah…
Sstt
Tanpa suara, Arumi meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Meminta semua orang agar diam. Dan semuanya menganggukkan kepalanya mengiyakan pinta Arumi.
"Kenapa" Tanya Lionel membalikkan badannya, melihat Arumi. Bertanya heran kenapa semua orang terlihat kaget.
Arumi tersenyum manis menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Lionel.
"Oh baiklah. Aku ke kamar dulu. Selamat malam" Ucap Lionel lesu, sambil berjalan ke kamar. Meninggalkan semua orang tanpa mendengar jawaban mereka.
Setelah kepergian Lionel semua orang duduk merapat melingkari Arumi. Ingin bertanya heboh, tapi di urungkan karena permintaan Arumi.
"Apa benar kakak sudah…
Albi yang belum selesai bertanya tidak jadi melanjutkan kata-katanya, karena Arumi menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Albi yang belum selesai.
"Wow sejak kapan? " Tanya Kesya yang mewakili pertanyaan semua orang.
Arumi tersenyum.
"Hemm. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjawab nya. Ini sudah sangat larut, besok Arumi harus bangun pagi untuk mengajar tuan memasak" Arumi tidak menjawab pertanyaan Kesya.
"Yah… kenapa sudah sangat malam" Desah Kesya malas. Sekretaris Rai dan Fathan pun ikut mendesah karena tidak bisa mendengar berita yang luar biasa bagi mereka.
"Arumi, mommy gak mau tahu, pokoknya kamu besok pagi jangan pergi kemana-mana. Kamu harus cerita sejak kapan kamu su…
"Sayang" Panggil Bara mengingatkan Kesya agar tidak terlalu ikut campur dalam urusan perasaan anak dan calon menantu nya.
"Huh… iya, kalau kamu belum bisa cerita gak masalah. Tapi kalau kamu mau cerita, mommy siap kapanpun akan menjadi pendengar yang baik" Ucap Kesya masih tidak menyerah.
Arumi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, menjawab perkataan Kesya.
"Hemm apa sekretaris Rai dan tuan Fathan bisa merahasiakan nya dulu? " Tanya Arumi lebih ke pada perintah.
"Hohoho siap adik ipar" Jawab Fathan mengacungkan tangan nya. Dan sekretaris Rai hanya menganggukkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Albi, hari ini kamu tidur dengan kakak ya" Pinta Arumi beranjak dari duduk nya diikuti Albi.
"Selamat malam semua nya" Salam Arumi pamit pada semua orang.
"Malam juga sayang mimpi indah untuk kalian berdua" Seru Kesya.
Arumi membawa Albi dalam gandengan tangan nya menuju kamar.
Setelah punggung Arumi dan Albi tak terlihat lagi semua orang pada heboh, kecuali sekretaris Rai. Ia meminta izin agar segera istirahat juga. Karena besok pagi pekerjaan menumpuk menanti dirinya.
"Hohoho sebentar lagi mommy akan punya anak perempuan idaman" Seru Kesya senang. Tidak, tidak hanya senang, Kesya merasa sangat sangat bahagia, ya walaupun belum sepenuhnya hal itu terjadi.
"Dan tinggal dua anak mommy yang belum memperkenalkan seorang wanita. Dan itu kamu sama sekretaris Rai" Ucap Kesya membuat Fathan hanya cengengesan.
Sementara itu, Arumi dan Albi yang sedang berada di dalam kamar.
"Sejak kapan kak? " Tanya Albi pada Arumi yang ingin ke kamar mandi mengganti baju tidurnya.
"Ganti baju kamu dulu. Baru kakak cerita" Arumi tidak menjawab pertanyaan Albi.
"Hemm baiklah" Jawab Albi.
Setelah keduanya berganti pakaian. Arumi dan Albi sudah berbaring di kasur, sambil menikmati polosnya langit-langit kamar.
"Waktu itu kakak hanya memejamkan mata kakak saja. Belum tertidur sama sekali. Ponsel kakak berdering, jadi kakak cuma lihat siapa yang menelepon saja. Tidak mengangkatnya. Apa kamu tahu siapa yang menelpon? "
"Apa mungkin paman Lionel? " Jawab Albi dengan sebuah pertanyaan baru.
"Ya, dialah yang menelpon. Setelah ponsel kakak tidak berdering lagi. Tak lama kemudian, dia masuk ke kamar kakak diam-diam. Tidak tahu dia ingin apa, dan entah kenapa kakak malah pura-pura tidur. Waktu itu kakak berpikir, jika dia mencium kakak atau berbuat yang tidak-tidak. Kakak akan langsung menampar nya atau berteriak kencang" Ucap Arumi menghentikan sejenak cerita nya.
"Lalu apa yang di lakukan paman Lionel diam-diam masuk ke sini? " Tanya Albi penasaran.
" Dia ikut berbaring di samping kakak. Jujur saja, waktu itu kakak ingin sekali mendorong nya. Tapi tidak kakak lakukan. Karena kakak juga penasaran apa yang ingin di lakukan nya" Ucap Arumi, ia memperbaiki selimut nya agar menutup sampai dada.
"Karena waktu itu kakak memejamkan mata. Jadi kakak rasa dia hanya berbaring sambil memperhatikan kakak. Setelah itu… " Arumi menggantungkan kalimatnya, semakin membuat Albi penasaran.
"Setelah itu? " Tanya Albi mendesak Arumi agar melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu, dia berkata… aku tahu kamu tidur. Tapi aku akan tetap mengatakan nya. Izinkan aku berbaring sejenak di samping mu. Hanya untuk berdoa saja. Sebelum aku selesai berdoa, kamu janganlah bangun dulu. Aku tidak ingin kamu salah paham" Ucap Arumi meniru ucapan Lionel saat itu.
"Doa ku hanya singkat saja saat ini. Yaitu… aku mencintaimu dan kuharap kamu juga segera mencintai ku, aku ingin menjadi milik mu seorang dan aku ingin kamu menjadi milikku seorang. Hanya itulah doa ku saat ini" kata Arumi masih mengingat kata-kata Lionel.
"Walaupun saat itu kakak tidak melihatnya, tali kakak bisa merasakan bahwa dia sedang melihat kakak" Kata Arumi lagi
__ADS_1
"Setelah itu, dia duduk dari baringnya. Lalu dia mengatakan… karena kamu melarang ku untuk mencium mu. Izinkan aku mencium tangan mu saja katanya, lalu dia mencium lama tangan kakak. Setelah itu dia langsung pergi keluar kamar dengan pelan-pelan"
"Keesokan harinya, bahkan sampai kemarin malam dia terus melakukan hal itu, tapi sebelumnya dia menelpon terlebih dahulu baru diam-diam masuk ke kamar" Ucap Arumi, dia menutup seluruh tubuh nya hingga kepala dengan selimut.
"Kamu tahu, saat-saat dia ada di kamar. Kakak ingin sekali memeluk nya. Karena dia selalu berdoa di samping kakak, dan dengan doa yang sama setiap harinya. Kakak… Ugh... kyaaa… " Teriak Arumi di dalam selimut.
Albi yang melihat tingkah kakak nya tentu saja terkejut. Tak menyangka bahwa hari ini akan tiba.
"Kamu jangan mengejek kakak ya… jangan cerita ke siapapun" Ucap Arumi lirih, ia mengeluarkan sedikit kepalanya agar bisa melihat Albi.
"Hemm kakak cerita apa sih? Aku gak dengar apa-apa loh" Ucap Albi yang paham bahwa Arumi malu.
Arumi tersenyum malu.
"Sudah yuk tidur. Sudah malam" Ucap Arumi menenggelamkan tubuh nya di dalam selimut.
Apa dia akan ke kamar lagi yaa? Tapi… tadi dia terlihat lesu karena ucapan ku tadi. Huh semoga dia masih melakukan doa di sini. Batin Arumi.
Hihihi aku jadi ingin melihat paman Lionel berdoa di sini. Jadi aku harus berpura-pura tidur. Batin Albi memulai rencana nya.
Hah, aku ingin melihatnya berdoa lagi. Tapi, aku sudah sangat mengantuk. Batin Arumi.
"Tapi, aku tidak yakin kali ini dia akan ke sini. Hah, dia pasti merasa kecewa karena perkataan ku tadi. Dia pasti berharap aku mengatakan namanya" Batin Arumi.
"Ah… apa seperti ini rasanya cinta? Padahal itu hanya hal sepele. Tapi kenapa aku jadi sangat sangat senang seperti ini? "
"Tapi, apa benar aku menyukainya hanya karena hal itu? Hemm, sepertinya karena kelakuan nya yang selalu menggoda ku ketika mengajarinya memasak juga deh. Agrh gak tahu lah. Intinya aku sudah menyukainya. Tidak peduli jika aku menyukainya hanya karena hal-hal kecil seperti itu, ah sudahlah aku harus segera tidur. Aku takut dia tidak datang dan aku malah merasa kecewa" Batin Arumi yang sudah mulai memejamkan matanya. Memasuki gerbang mimpi. Tak lama kemudian Arumi terlelap dalam tidurnya.
Dan seperti yang di rencanakan Albi, ia memilih menahan kantuk nya. Menunggu kedatangan Lionel. Ia lebih dulu mengurangi volume nada dering ponsel Arumi. Menggenggam ponsel itu, menunggu panggilan telepon.
Kring kring kring seperti yang di cerita kan Arumi tadi. Ponselnya berdering, dan memang benar Lionel lah yang menelpon. Albi memilih tidak mengangkat telepon Lionel. Lalu ia pura-pura tidur setelah dering ponsel tak lagi berbunyi.
Krieeet suara pintu kamar Arumi terbuka pelan. Dan masuklah pria yang menjadi topik pembicaraan Albi dan Arumi sebelum tidur tadi.
Wah, lihat lah paman Lionel. Dia benar-benar seperti yang di ceritakan kakak tadi. Batin Albi yang mengintip di celah matanya yang terbuka sedikit.
Hemm, dia memang hanya mencium punggung tangan kakak. Eeh wow salah, paman Lionel juga mengecup dahi kakak. Wah wah wah tapi kali ini doa nya di tambah yaa, lebih panjang daripada yang kakak katakan tadi. Oh dia sudah pergi. Batin Albi.
Albi membuka sempurna matanya, tersenyum-senyum sendiri mengingat perlakuan lembut Lionel pada kakak nya.
"Ah sepertinya aku harus menagih sesuatu pada paman" Batin Albi tersenyum senang.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like vote and share yaa dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗