
Suasana di dalam ruangan Lionel mendadak menjadi panas dingin yang di rasakan oleh Tika.
Tika hanya bisa merapalkan mantra di dalam hati nya.
"Semoga enak! Semoga enak!" Mantra yang berulang kali di rapal kan Tika.
Lionel sudah menelan suapan pertama nya. Suasana hening, diam seribu bahasa memenuhi ruangan. Lionel melihat Tika tajam. Belum ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Lionel.
"Biasa saja" Ucap Lionel santai.
"Tapi masih bisa di makan" Sambung nya.
Jederr.
Kata asing yang di dengar Tika selama dia menjadi koki di Indonesia.
Itulah kata yang pertama kali nya di dengar oleh Tika setelah suapan pertama Lionel mencicipi masakan nya. Dan kata "biasa saja" juga yang pertama kali di dengar nya. Selama dia sukses dengan kemampuan memasak nya.
"Sebenarnya kata enak bagi tuan ini yang seperti apa sih?" Batin Tika bertanya tanya.
"Untuk sementara waktu, kamu yang akan menjadi koki ku" Ucap Lionel.
Lionel melanjutkan makan siang nya. Tapi sebelum itu dia mengibaskan tangannya sebagai tanda bahwa Tika boleh pergi.
Dan tentu saja hal itu tidak dipahami oleh Tika.
"Silahkan ikuti saya nona" Ucap sekretaris Rai.
Sekretaris Rai dan Tika pergi meninggalkan Lionel yang sedang makan siang.Rai mengantar Tika sampai di depan lobi perusahaan.
"Anda akan tinggal di apartemen yang sudah kami siapkan selama anda bekerja. Setelah ini anda boleh istirahat ,tapi jangan lupa untuk memasak makan malam tuan" Ucap sekretaris Rai lalu memanggil seseorang yang tentu saja tidak di kenali oleh Tika.
"Nona cukup memanggil nya Dan. Dia akan menjadi sopir anda selama di sini, Dan kamu antar kan nona ini ke apartemen yang kemarin saya bicarakan" Ujar Sekretaris Rai.
"Baik tuan. Ayo nona akan saya antar kan" ucap Dan lalu melangkah terlebih dahulu, dan Tika hanya bisa mengikuti langkah pria yang ada di hadapannya ini, yang bernama Dan ini.
"Ya Tuhan. Bos ku kali ini sangat perhatian, dan dia juga tampan. Kyaaa" Batin Tika histeris bahagia
***
__ADS_1
"Huwaaah untung lah aku tidak terlambat" Gumam Arumi membuka pintu mobil, dan melihat sekitar nya.
"Hemm. Kata mis Anna Albi akan berkumpul di dalam kelas nya. Oke aku akan langsung saja ke sana" Gumam Arumi.
Sesampainya Arumi di depan kelas Albi,bukan kata sambutan yang di dengar nya.
"Kakaaaak!" Marah Albi melotot sangar pada Arumi.
"Iya sayang. Maaf kan kakak okey, kakak terlambat datang nya" Ucap Arumi menyamakan tubuh nya dengan Albi.
"Hufft" Dengus Albi kesal.
"Albi sayang" Bujuk Arumi.
"Sekarang kakak pergi bayar sana! Tahu tidak? Kami itu hanya menunggu kakak saja tahu" Ucap nya lalu meninggalkan Arumi, dan berjalan menuju mis Anna.
Arumi mengikuti langkah Albi. Ia merutuki keterlambatan nya. Yang mengakibatkan kemarahan Albi yang kedua kali nya dalam satu waktu ini.
"Maaf kan keterlambatan saya mis" Ujar Arumi meminta maaf pada mis Anna. Tak lupa pula meminta maaf kepada para orang tua yang ada di dalam kelas.
"Tidak masalah Arumi. Kamu tidak terlalu terlambat, jika kamu sedetik saja lama dari pada ini, bisa saya pasti kan kamu akan kewalahan untuk meredakan emosi Albi" Gurau mis Anna, menghibur Arumi.
"Baiklah ini akan saya terima" Ucap mis Anna. Lalu menulis sebuah tanda di buku yang di pegang nya, sebagai tanda bahwa Arumi telah lunas membayar.
"Baiklah semua nya. Kita akan segera berangkat, mari kita menuju lapangan untuk bergabung dengan kelas yang lain nya" Seru mis Anna lantang.
Setelah selesai dengan semua pemberitahuan dari pihak panitia sekolah, dan telah di bagikan sebuah nomor urut, agar mempermudah perjalanan. Karena nanti nya mobil akan melaju sesuai dengan nomor urut yang telah di bagikan. Begitu juga dengan urutan parkir di tempat piknik nanti nya.
Arumi dan Albi mendapatkan nomor urut yang ke lima puluh enam dari enam puluh nomor urut.
Albi sudah tidak marah lagi dengan Arumi dikarenakan alasan yang tepat Arumi sampaikan pada Albi.
"Maaf kan kakak ya! Kakak terlambat karena. Karena majikan kakak yang bersikeras agar kakak membawa mobil ini, padahal kan kita bisa saja naik taksi" Ucap Arumi dengan nada sedih nya.
"Wah. Kak, bukan kah ini mobil keluaran terbaru tahun ini? Waow di lihat dari dekat mobil ini sangat keren" Tampak binar di mata Albi ketika melihat mobil yang akan di gunakan nya untuk perjalanan kali ini.
"Huh! anak ini. Di rayu dengan mobil baru luluh. Kemarin juga oleh oleh minta nya juga mobil mainan" Gemas Arumi pada Albi.
Sepanjang perjalanan Albi tak henti hentinya berceloteh kesana kemari tentang pengetahuan nya perihal mobil yang selalu menjadi topik pembicaraan nya ketika senang.
__ADS_1
***
"Tuan, apakah sesuai dengan selera anda?" Tanya Sekretaris Rai yang telah kembali dari pengantaran Tika ke lobby.
"Aku lebih suka Arumi" yucap Lionel tanpa sadar bahwa ada satu kata yang salah dari ucapan nya.
Sekretaris Rai yang mendengar nya tidak tahu ingin mengatakan apa, karena pertanyaan nya tidak sesuai dengan jawaban yang Lionel berikan. Dan ada sedikit rasa tidak percaya yang di rasakan nya setelah mendengar Lionel mengatakan hal itu.
"Hemm... maksud tuan?" Ucap sekretaris Rai hati hati.
"Maksud tuan. Tuan suka dengan nona Arumi?" Tanya sekretaris Rai terkejut, seakan tidak percaya dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh mulut nya sendiri.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Apa yang kau tanyakan?" Lionel tersedak makan siang nya karena mendengar perkataan Sekretaris Rai.
"Jaga ucapan mu! Kapan aku mengatakan bahwa aku menyukai nya?" Tanya Lionel yang tidak mengingat apa yang telah di katakan nya beberapa detik sebelum nya.
"Maaf kan saya tuan, seperti nya pendengaran saya bermasalah" Ucap Sekretaris Rai tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan Lionel. Tentu saja Sekretaris Rai tidak akan menang jika berdebat dengan Lionel.
"Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Hemm. Aku tadi mengatakan bahwa lebih enak masakan gadis itu dari pada masakan wanita ini" Tunjuk Lionel pada piring makanan nya yang sudah habis.
"Kenapa tuan tidak mengakui nya saja. Bahwa tuan sudah menyukai nona Arumi" Batin sekretaris Rai.
"Hal tak terduga yang aku dengar dari tuan ini, seperti nya harus aku laporkan" Batin Sekretaris Rai lagi.
"Apa? Tadi aku mengatakan bahwa aku menyukai gadis itu" Batin Lionel yang tidak percaya bahwa dia tadi mengatakan hal yang tidak masuk akal. Pikir nya.
Tiba-tiba hening menguasai suasana.
Lionel dan sekretaris Rai kalut dalam pikiran mereka masing masing. Suasana terasa sedikit canggung.
"Rai, untuk sementara waktu biarkan wanita itu yang memasak untuk ku. Tapi jika Arumi sudah kembali... Ah sudahlah nanti saja ku pikirkan" Perkataan Lionel yang tak sudah membuat Sekretaris Rai penasaran.
"Oh iya kau juga harus segera makan siang Rai" Titah Lionel.
"Baik tuan" Ucap sekretaris Rai, lalu memakan masakan yang di masak lebih Tika tadi.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗
__ADS_1