
"Baik" Jawab Lionel lantang.
"Hemm. Baguslah" gumam Arumi lirih.
Arumi menggenggam tangan Lionel. Di bukanya kepalan tangan Lionel lalu menyerahkan tempat obat yang sangat menakutkan bagi Lionel.
"Anak pintar" gumam Arumi lirih tapi masih bisa di dengar oleh Lionel.
"Eh...
"Eh. Tunggu. Apa yang sedang aku lakukan? " Batin Lionel.
Lionel memandang Arumi tak percaya. Bagaimana bisa gadis ini begitu berani terhadap nya? Bahkan dengan keberanian nya itu, dia menantang Lionel untuk memakan sebuah obat. Obat yang menjadi musuh nya selama ini.
Ya. Lionel memang takut pada obat. Tidak. dia hanya tidak ingin memakan atau meminum sesuatu yang rasa nya pahit. Bahkan kopi sekali pun. Lionel pasti tidak akan meminum nya jika itu pahit.
Sebenarnya hanya hal sepele lah yang membuat nya tidak menyukai yang nama nya obat.
Awal mula nya ketika ia masih kecil. Lionel kecil adalah bocah laki-laki yang menyukai sesuatu yang manis. Pernah suatu ketika ia sakit dan di haruskan untuk di rawat di rumah sakit beberapa hari. Mungkin ini adalah sakit yang pertama kali baginya. Bagi ingatan nya.
Dan. Bukankah jika kita sakit maka harus minum obat? Ya. Begitu juga dengan Lionel, ia harus minum obat. Obat pertama yang di minum nya adalah obat sirup yang masih ada rasa manis-manis nya. Jadi itu masih belum ada masalah. Lalu obat terakhir adalah obat pil yang akan di minum Lionel. Ia di suapi oleh Kesya saat itu. Kesya memerintahkan Lionel agar langsung menelan nya begitu saja. Tapi Lionel tidak melakukan perintah mama nya, dia menggigit obat itu ingin merasakan rasa yang sama seperti obat sirup yang pertama kali di minum nya, agar bisa merasakan manisnya.
Tapi tidak seperti yang di bayangkan nya. Tidak ada rasa manis sama sekali.
Kejadian itu lah yang membuat Lionel tidak akan pernah lagi menyentuh obat. Hingga sekarang. Hingga ia dewasa.
"Kenapa aku mengikuti perintah nya begitu saja? " Batin nya bertanya-tanya.
"Cih. memang nya dia siapa? Lagi pula untuk apa aku harus mengikuti perintah nya untuk minum obat? Dan aku juga tidak membutuhkan pengakuan nya bahwa aku bukan seorang bocah hanya karena tidak meminum pil pil pahit itu" Gumam-gumam Lionel di batin nya.
" Tapi. Kenapa aku merasa senang? "
" Tidak" Jawab Lionel tegas. Lalu menyerahkan obat itu lagi pada Arumi.
Menatap Arumi tajam.
" Seperti nya kamu harus mendapat pujian dari ku atas keberanian mu menantang ku" Seru nya kesal. Masih tidak percaya bahwa dia sebentar lagi akan terjebak dalam perangkap yang di mainkan oleh Arumi. Pembantu nya sendiri.
" Tidak? Pujian apa? memang nya apa yang saya lakukan sehingga anda mau memberikan saya pujian? " Tanya Arumi mengernyitkan dahi nya karena penolakan di atas keterima nya ide yang sudah di iya kan Lionel.
Lionel menatap tajam Arumi. Kenapa gadis ini sangat berani pada nya?.
__ADS_1
" Kenapa? Tuan menatap saya seperti itu? " Tanya Arumi polos.
" Wah kau masih berani bertanya kenapa? " Tanya Lionel semakin tak percaya.
"Ya. Kenapa? bukan kah tadi tuan sudah bilang akan meminum nya? "
" Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan meminum nya" Jawab Lionel sengit.
" Lalu,? " Tanya Arumi membingungkan keadaan Lionel untuk menjawab nya.
" Lalu? " Beo Lionel.
"Hah. Intinya aku tidak akan meminum itu! " Tunjuk Lionel pada tempat obat yang ada di tangan nya, dia mengembalikan lagi pada Arumi.
"Ooh. Baiklah. Saya juga tidak akan memaksa tuan untuk meminum nya" ucap Arumi menampilkan senyum terbaik nya.
"Kalau begitu. Silahkan keluar dari kamar saya" Ucap Arumi membuka pintu kamar nya. Memberikan Lionel jalan agar bisa keluar.
Lionel semakin di buat heran oleh Arumi.
Kenapa gadis ini sudah menyerah begitu saja untuk meminta nya minum obat?
Bukan kah tadi gadis ini Sampai berlari agar aku bisa menuruti perintah nya untuk minum obat?
Tapi Lionel tidak menanyakan nya secara langsung. Dia hanya menampilkan lewat sorot mata nya.
Lionel keluar dari kamar Arumi. Entah kenapa Lionel ingin Arumi tetap untuk memaksakan nya meminum obat. Dari sudut hati nya, Lionel merasa senang karena Arumi tetap mempedulikan nya walaupun mereka sedang marahan.
"Marahan? Tunggu dulu. Sejak kapan kata marahan ini ada di antara kita? " Batin Lionel.
"Eh. Kita? " Batin Lionel tak percaya dengan apa yang di pikirkan nya.
Lionel sudah berdiri di luar kamar Arumi. Dia masih sedikit berharap jika dia akan di tahan,agar Arumi meminta nya untuk tetap meminum obat. Walaupun Lionel tetap tidak akan meminum nya. Tapi tetap saja dia berharap agar Arumi masih memberikan perhatian nya pada Lionel.
"Oh. Iya" Ucap Arumi membuat Lionel sedikit berharap.
Arumi tersenyum manis menatap Lionel.
"Selamat istirahat tu... Bocah " Ucap Arumi menampilkan senyum terbaik nya.
Brakk!
__ADS_1
Arumi langsung menutup pintu kamar nya, tidak lupa mengunci nya.
Lionel melotot tidak percaya akan kata-kata Arumi barusan. Tapi sudut bibir nya melengkung keatas.
Ting!
Satu pesan masuk ke ponsel Lionel.
Lionel langsung memeriksa ponsel nya, guna melihat siapa yang mengirim nya pesan. Karena tidak ada yang pernah mengirimkan nya pesan. Mengingat orang orang yang hanya mengetahui nomor ponsel nya semua nya berada di rumah ini. Kecuali Gamila, istrinya. Tapi itu tidak mungkin juga, karena Gamila pasti akan selalu menelpon nya, bukan mengirimkan pesan.
Sebuah nomor asing lah yang mengirim kan nya pesan. Lionel membuka isi pesan itu. Mata nya melotot tidak percaya dengan isi yang di baca nya saat ini.
" Hei. Kamu kira aku sangat bergantung pada masakan mu hah" Teriak Lionel kesal. Menendang pintu kamar Arumi.
" Bocah. Bocah. Berani nya kamu memanggil ku bocah. Aku ini majikan kamu. Berani sekali kamu bicara seperti itu" Teriak Lionel tanpa henti.
" Silahkan. Mau kamu yang masak atau orang lain aku masih bisa memakan nya" Teriak nya lagi.
" Memangnya kamu kira hanya kamu koki di rumah ini hah. Masih banyak Koki bersertifikat yang bisa ku pekerjakan! " Kesal Lionel
Braakk!!
Sekali lagi Lionel menendang pintu kamar Arumi. Dengan wajah nya yang memerah karena saking kesal nya, ia pergi menemui Sekretaris Rai.
Sementara itu.
Arumi cekikikan sendiri di balik pintu yang di tendang Lionel. Menatap ponselnya yang telah mengirimkan pesan pada Lionel.
" Maaf kan saya tuan bocah. Malam ini saya tidak akan memasakkan anda makan malam. Sebelum tuan bocah meminum obat nya" Itulah isi pesan Arumi.
Di perjalanan Lionel mencari Sekretaris Rai.
"Heh. Ternyata dia tidak menyerah untuk meminta ku meminum obat itu" Gumam-gumam Lionel ada rasa aneh menjelajahi hati nya.
" Tapi. Kenapa aku tidak marah pada nya? kenapa aku malah senang jika dia masih bersikeras meminta ku untuk meminum obat"
" Ah. Sudah lah" Ucap Lionel menyudahi pemikiran nya.
Tapi di sepanjang perjalanan nya mencari Sekretaris Rai. Senyum tiada henti terbit di bibir Lionel.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗