Hasrat Terlarang

Hasrat Terlarang
Kekalutan


__ADS_3


"Aku harus bagaimana ini?? Apa yang harus kulakukan dengan perutku yang akan makin membesar??" Batinku dalam pikiran yang makin berkecamuk


Nana yang tidak tahu harus berbuat apa meminta bantuan kepada Vani, dia minta saran kepada Vani perihal kehamilannya.


Kriiinngg... kriiinngg... Bunyi suara handphone


"Hallo Van, kamu dimana?" Tanya Nana melalui handphone


"Aku di rumah Na. Tumben ini, ada apa Na?" Tanya Vani yang tidak menyangka dihubungi Nana


"Aku mau bicara sama kamu, bisa ketemu kamu kapan dan dimana?" Tanya Nana dengan serius


"Tumben Na, kayaknya ada hal yang penting ya??" Tanya kembali Vani


"Iya Van" Jawab Nana singkat


"Ya sudah nanti sore di tepi danau!!" Jawab Vani memberikan jadwal bertemu


"Iya nanti aku datang. Terima kasih Van!!" Ucap Nana

__ADS_1


"Iya sama-sama Na!!" Jawab Vani


Dalam kekalutannya Nana hanya terdiam seraya menyaksikan jarum jam dinding berjalan, dia berfikir apakah harus berterus terang kepada Rico atau harus pergi meninggalkan Rico. Lamanya keputusan yang diambil Nana membuat waktu pertemuannya dengan Vani semakin mendekat dan Nana pun segera pergi menuju tempat yang telah mereka sepakati.


"Kamu kenapa Na?? Kok terlihat lesu??" Tanya Vani dengan pandangan mata menyapu tubuh Nana dari kepala hingga ujung kaki.


"Aku.. Eeee.." Jawab Nana yang merasa ragu meneruskan perkataannya


"Aku..." dicobanya sekali lagi berkata tapi tak mampu meneruskannya


"Kamu kenapa?? Hamilll??" Tanya Vani dengan nada bercanda kepada Nana


"Iiii... iya!!" Jawab Nana seraya menangis sejadi-jadinya di pelukan Vani.


"Aku cuma bisa kasih saran Na, lebih baik kamu datangi si Mbah. Aku yakin ini adalah anaknya!!" Ucap Vani yang berusaha mencarikan solusi


"Tapi aku takut Van, aku takut si Mbah akan membunuh aku dan janin ini." Jawab Nana yang masih dalam keadaan menangis


"Tapi kamu kan belum nyoba Na!!" Ucap Vani yang terus menyupport Nana


"Aku takut Van!! Aku takut!!!!" Jawab Nana dengan suara pelan seraya mengeluarkan air matanya dengan deras

__ADS_1


"Ya sudah nanti kutemani." Jawab Vani


Mendengar jawaban Nani yang bersedia menemaninya, seketika Nana memeluk Vani kembali dan menangis kembali dengan kejar.


"Besok pagi jam 8 (delapan) kutunggu kamu disini ya!!" Ucap Vani membuat janji


"Iya Van!!" Jawab Nana menyetujui janji yang ditawarkan Vani


Saat sang Surya melemparkan sinarnya, Nana datang 1 (satu) jam lebih awal dari perjanjian mereka. Dengan sabar Nana menanti kedatangan Vani. Setelah Vani sampai, mereka segera pergi ke rumah dukun yang dulu direferensikan oleh Vani.


Tok! Tok! Tok! Suara ketukan jari ke pintu yang terbuat dari kayu


Kreeekkk!!! Bunyi suara pintu terbuka


"Permisi, Mbahnya ada??" Tanya Vani kepada wanita muda yang diterka merupakan Asisten Mbah dukun


"Mbahnya sudah meninggal 3 (tiga) minggu yang lalu" Jawab wanita muda tersebut


Bagaikan tersambar petir disiang hari, Nana dan Vani hanya bisa terdiam dengan pikiran kosong serta lamunannya


"Mba istrinya atau...???" Tanya Nana yang ingin meneruskan pertanyaannya namun bimbang

__ADS_1


"Saya anak pemilik kontrakan ini mba!!" Jawab wanita tersebut.


Mendengar jawaban wanita tersebut mereka segera ijin pamit dan dengan perasaan hampa mereka kembali pulang.


__ADS_2