
Melihat Rico sudah kembali ke kamar kostnya, Nana segera menghubunginya. Pada kesempatan kali ini Nana menghubunginya langsung dengan menelpon, tidak dengan mengirimkan pesan.
Kriiinngg.. kriiinnggg.. kriinnggg.. kriiinngg...
"Kok gak diangkat?? Lagi ngapain ya dia??" Batin Nana mengucap
"Coba lagi ah, barangkali diangkat" Ucap Nana dengan menekan kembali tombol-tombol yang ada dilayar ponselnya.
Kriiinngg... kriiinngg... kriiinngg... kriiinngg...
"Yah, tetap gak diangkat!!" Batin Nana mengucap dengan penuh kesedihan.
Saat ingin mencoba untuk yang ketiga kalinya, terdengar suara orang dari kamar sebelah "Mau apa sih telepon berkali-kali?"
Dengan sedihnya Nana mengirimkan pesan "Kapan aku bisa menghubungimu Rico?"
__ADS_1
Rico yang membaca pesan tersebut segera menelpon Nana.
Kriiinngg... Suara dering handphone Nana
"Eh Rico nelpon!!" Ucap Nana dengan hati yang sedikit terobati
"Iya Rico!!" Ucap Nana membuka percakapan
"Kamu kenapa Na?? Mau ngomong apa??" Tanya Rico dengan sedikit kesal karena merasa terganggu dengan telepon Nana
"Kamu terlalu berbelit-belit Na!! Bikin aku pusing!!" Jawab Rico dengan emosinya
"Aku bingung harus mulai bicara dari mana??" Tanya Nana seraya mencengkramkan tangannya ke kepalanya
"Sudah!! Sudah!! tunggu aku pulang saja ngomongnya!!" Jawab Rico dengan nada tinggi dan diikuti dengan menekan tombol berwarna merah pada layar ponselnya.
"Ya Allah... seperti itukah sifat asli Rico??" Tanya Nana dalam hati seraya mengusap-usap perutnya yang sama sekali belum terlihat membuncit.
__ADS_1
Nana yang belum lama menempati rumah kost tersebut segera merapihkan pakaiannya serta meninggalkan kost jauh lebih awal dari masa berakhirnya. Nama memutuskan kembali ke rumah Rico. Sementara Rico yang tidak tahu Nana telah kembali ke rumahnya tetap melanjutkan menempati kostnya sampai masa sewanya berakhir.
Kesendiriannya menempati rumah Rico membuat Nana merasa lebih sedih, dia teringat 2 (dua) Minggu yang lalu ketika masih menikmati kebahagiaannya menjadi pengantin baru yang selalu dimanja serta diperhatikan oleh Rico.
"Ya Allah.. aku gak sanggup!! Aku gak sanggup membayangkan semua keindahan itu!!" Ucap Nana ditengah isak tangisnya
Terlintas dalam pikirannya untuk mengugurkan janin yang ada dalam rahimnya namun dia tidak tahu tempat untuk menggugurkannya serta tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa karena ini merupakan aibnya. Berbagai cara yang dilakukannya untuk mengeluarkan janin yang ada di rahimnya agar dapat keluar lebih cepat telah dilakukannya, dari mulai minum obat dokter hingga jamu tradisional telah dicobanya namun hasilnya tidak sesuai dengan harapannya.
Terlalu lamanya Nana menantikan kedatangan Rico membuatnya berada pada puncak kegalauannya, dia makin merasa tidak tahu harus berbuat apa. Perjanjian yang dibuatnya bersama Rico kini menjadi pagar yang membatasi langkahnya mencari kebahagiaan.
"Ibu.. maafkan aku Bu!!" Ucap Nana dengan Isak tangisnya yang belum berhenti seraya mengusap bingkai kaca yang melapisi foto seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu kandungnya
"Aku anak yang tak pantas meminum air susumu!! Engkau sangat mulia tapi ini balasan yang kau dapatkan dariku!!" Ucap Nana dengan tangis yang makin terisak-isak
"Aku orang pertama yang akan mencoreng nama baik keluarga yang kau jaga Bu!!!" Ucap Nana dengan tangisan yang seketika pecah.
Ingin rasanya Nana pulang menemui ibunya, dia ingin sekali curhat seluruh masalahnya seraya memeluk erat tubuh ibunya, namun dirasanya semua itu hanya khayalannya karena tekadnya menjaga perasaan ibunya lebih kuat dari apapun
__ADS_1