
Nana berharap dengan perbuatannya tersebut dapat menyingkirkan Siti dan Icha dari kanca persaingan perebutan hati pria yang diharapkan akan menjadi kekasihnya. Namun karena semakin lama dirasa tak kunjung tersingkirkan, Nana pun disarankan oleh temannya untuk mendatangi orang pintar di kampung temannya tersebut.
Demi mendapatkan pria tersebut, tanpa berfikir panjang Nana menerima saran temannya dan segera mencari pinjaman kepada temannya yang berprofesi sesama Asisten Rumah Tangga. Beberapa teman yang dihubunginya tidak bisa memberikan bantuan dengan alasan karena gajinya ditahan oleh sang majikan, dan baru diberikan saat menjelang hari lebaran.
Ditengah keputusasaannya mencari pinjaman, tak disangka tak diduga Siti menghubunginya menawarkan pinjaman. Bagai gayung bersambut Nana pun segera menerima tawarannya dan kemudian menghubungi sahabatnya untuk menyegerakan misinya.
Sesampai kampung temannya, Nana sempat berfikir untuk mengurungkan niatnya karena dosa. Namun hasrat untuk memiliki pria tersebut mendorongnya untuk terus melakukannya.
"Van, aku takut dosa!!" Ucap Nana kepada Vani disertai dengan kebimbangan untuk berhenti atau melanjutkan
"Kamu gimana sih Na, aku jadi bingung sama kamu!!" Ucap Vani sedikit kesal dengan sikap Nana yang tidak konsisten
"Ya sudah Van, teruskan saja!!" Jawab Nana meyakinkan dirinya sendiri
"Sayang kan kalau dibatalkan sudah keluar uang banyak buat biaya perjalanan??" Tanya Vani
__ADS_1
"Iya Van." Jawab Nana
Saat bertemu sang dukun, Nana sedikit takut karena wajah sang dukun dirasanya menyeramkan. Belum lagi sederet cincin serta kalung berliontin tengkorak yang dikenakannya. Hingga Nana merapatkan duduknya ke Vani saat sang dukun mulai bicara dengan suara keras.
Dalam pertemuan tersebut, Nana mengutarakan maksudnya mendatangi sang dukun.
"Kamu mau melet anak muda ya?" Tebak mbah dukun dengan suara sedikit serak dan kencang
"Kok Mbah tahu?" Jawab Nana dengan takjub karena kehebatan sang dukun menebak
"Siapapun yang masuk ke rumah saya sudah bisa saya baca pikirannya!!." Jawab sang dukun
"Biayanya bisa diatur!! Ha.. ha.. ha.." Jawab Mbah dukun diikuti dengan tawa keras
"Maksudnya diatur gimana Mbah?" Tanya Nana dengan harapan bisa membayar dengan biaya rendah
"Kamu mau cepat tapi murah atau mahal tapi agak lama?" Jawab Mbah Dukun dengan nada rendah
__ADS_1
Nana terdiam dan merasa makin bimbang dengan ucapan sang dukun, karena biasanya yang membayar mahal akan lebih cepat hasilnya. Tetapi pilihannya saat ini berbanding terbalik dengan syarat pada umumnya dan dengan cepat Nana menjawab memilih yang murah tapi cepat.
"Saya pilih yang cepat dan murah Mbah!!" Jawab Nana dengan yakin
"Kalau begitu kamu harus siap untuk ikut ritual" Jawab sang dukun
"Iya Mbah, saya siap!! Jawab Nana
Sang dukun tersenyum mendengar jawaban Nana dan menyuruh Nana menyiapkan diri sementara sang dukun merapihkan ruangan yang berada disebelah ruangan tempat Nana dan Vani duduk.
"Kalau sudah siap kesini!! " Perintah sang dukun
Nana yang sudah membayangkan menjadi kekasih pria tersebut dengan semangat mendatangi ruangan yang telah disiapkan oleh sang dukun.
"Kamu tiduran di sana!!" Ucap sang dukun seraya menunjuk tempat tidur yang telah dibersihkan
Bagai orang terhipnotis Nana pun mengikuti seluruh perintah sang dukun satu demi satu. Entah dalam keadaan sadar atau sudah dibawah kendali sang dukun Vani mendatangi ruangan yang digunakan untuk menjalani ritual dan membantu sang dukun memperlancar proses ritualnya.
__ADS_1
Nana yang sudah berada dalam kendali sang dukun tidak dapat menguasai dirinya, dia menjalankan seluruh ritual layaknya orang yang tidak pernah mengenal dosa