
Rico yang dari kemarin tidak mendengar suara Nana terlihat mulai mengkhawatirkan keadaannya, dia duduk di meja makan seraya memantau kondisi Nana. Setelah beberapa lama berdiam di meja makan dan tak mendengar suara, Rico segera mendatangi kamar Nana. Alangkah terkejutnya Rico saat mendapati kamar Nana dalam keadaan rapih tanpa barang serta pakaian.
"Lho kemana dia??" Ucap Rico dalam hatinya.
Melihat Nana tidak ada dikamarnya, Rico pun terlihat sedikit panik dan mencari ke setiap ruangan.
"Jangan-jangan Nana bunuh diri." Ucap Rico dengan nada pelan.
"Wah, bakalan berabe kalau sampai dia bunuh diri di sini!! polisi pasti datang memasang garis batas polisi!!" pikir Rico
Dalam kebimbangannya, dia mencoba menelpon Nana.
"Kriiinngg... kriiinngg... kriiinngg... " Dering nada telepon Nana berbunyi
"Lho kok bunyi telponnya kedengeran??" Tanya Rico dalam hati
Tanpa menunggu lama Rico mendatangi bunyi tersebut dan dilihatnya sebuah ponsel yang pernah dia berikan kepada Nana. Saat ponsel tersebut diambil, ternyata Nana meninggalkan sebuah surat yang ditaruhnya dibawah ponsel yang kemudian dibacanya.
Rico...
__ADS_1
Saya minta maaf atas seluruh kesalahan saya.
Kamu orang baik yang berasal dari keluarga baik-baik serta derajat mu pun sangat tinggi, sungguh tidak pantas untuk wanita hina sepertiku.
Apapun yang kamu hujat kan kepadaku, ku terima dengan tulus tanpa dendam. Namun untuk menjaga hatiku dari dendam aku terpaksa pergi dan meninggalkan semua kenangan yang dapat mengingatkanku padamu.
Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari hidupku.
Nana..
Setelah membaca surat Nana, Rico segera meremas dan membuangnya.
"Aaaaaagghhh!!" Teriak Rico seraya melemparkan remasan surat ke tempat sampah
"Kriingg.. kriiinngg... kriiinngg..." Handphone Nana berdering
Melihat layar ponselnya yang berdering serta memunculkan nama Rico, Nana yang sedang duduk berjaga diruang tamu kost segera mencari tempat yang lebih tenang dan bebas bicara.
"Ada apa Co??!!" Tanya Nana membuka percakapan
"Dimana kamu??" Ucap Rico yang bertanya kembali kepada Nana
__ADS_1
"Mau dimanapun, itu urusanku Rico!!" Jawab Nana dengan kebulatan tekadnya untuk melupakan Rico dari hidupnya
"Nana, kamu itu masih istri saya!! Masih tanggung jawab saya!!!" Ucap Rico
Sementara di tempat lain Bunga yang mengantarkan nasi uduk telah sampai di dalam halaman kost-kostan.
"Permisi..!!" Teriak Bunga mengucapkan salam
"Permisi Bu Eko!!" Teriak salam Bunga kepada pemilik kost.
Karena tidak ada yang menjawab, Bunga pun memutuskan kembali dan memerintahkan Siti mencari Nana untuk memberikan nasi uduknya. Namun saat hendak membalikkan tubuhnya, hembusan angin membawa suara wanita yang terdengar samar-samar dari pepohonan. Dan saat didekatinya ternyata Nana sedang menelpon.
Dengar Rico, sejak kamu bilang aku bagaikan sampah yang menjijikan, sejak itu pula kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kita sebagai suami istri!!! Dan aku akan membesarkan anak yang ada di rahimku tanpa meminta sedikitpun bantuan darimu baik lahir maupun batin!!" Ucap Nana dengan penuh emosi
"Jadi lebih baik kamu gak usah hubungi aku lagi!!" Ucap Nana melanjutkan luapan emosinya.
"Haaahh.. hamil??!!" Ucap Bunga terkejut
"Rico??? Suami istri???" Ucap Bunga dalam hati
Sungguh sebuah penggalan percakapan yang membuat Bunga terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. Bunga yang menduga Nana hamil ternyata bukan hanya isapan jempol. Sementara Nana yang terkejut dengan kehadiran Bunga segera mengakhiri percakapannya dengan mematikan telepon disaat lawan bicara masih dalam keadaan berbicara.
__ADS_1
"Tttttttante Bunga.. sudah lama Tante??" Tanya Nana dengan harapan Bunga tidak mendengar apa yang baru saja dibicarakannya melalu telepon
"Yah, lumayan..!!" Jawab Bunga dengan pertanyaan yang masih mengganjal di hatinya.