
Nino merupakan seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal dunia saat hendak melahirkan anak pertamanya, sementara anak yang diharapkan dapat dilahirkan dengan operasi sesar saat itu terlambat untuk diselamatkan. Merupakan suatu pukulan terberat dalam hidup Nino kehilangan 2 (dua) orang yang sangat dia harapkan untuk dapat menemaninya hidupnya.
Sejak kepergian istri dan anaknya tersebut, Nino sering melangkah tanpa tujuan. Hari-harinya hanya diisi dengan bekerja serta mencari penghasilan tambahan, sehingga dia lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah jika tidak ada hal yang menurutnya tidak mendatangkan uang.
Berbeda dengan saat ini, dimana teman kerjanya banyak yang membicarakannya.
"Nino kenapa ya?? kayak orang lagi puber." Tanya salah satu teman pria si kantornya
"Iya kayaknya, soalnya kalo lagi kerja suka bengong terus senyum sendiri." Jawab teman wanitanya
"Malahan pernah dia ngomong sendiri!!" Jawab teman wanitanya meneruskan pembicaraan sebelumnya.
"Terus??" Tanya teman prianya dengan pandangan serius
"Ya bingung saya! Mau di suruh berobat dia gak gila, mau saya baca-bacain dia gak kesurupan. Pokoknya bikin saya gak fokus kerja lah!!"Jawab teman wanitanya dengan mencontohkan raut wajah lelah
"Keplak aja kepalanya!!" Jawab Teman prianya seraya tertawa
"Ogah ah, nanti gila beneran dia!! Hehehehe..." Jawab teman wanitanya yang diikuti dengan canda tawa
Setelah beberapa hari menunggu, tibalah hari yang dinantikan Nino, yaitu hari Sabtu. Hari dimana dirinya disibukkan dengan persiapannya untuk menemui sang pujaan hati. Pakaian satu demi satu dicobanya, begitu pula dengan sendal yang akan digunakan, dia selalu mencocokan dengan warna pakaiannya.
"Mau cukur dulu ah!! terus cukur kumis." Ucap Nino lirih
"Oh iya, sekalian mampir ke minimarket deh. Mau beli minyak rambut!!" Ucap kembali Nino dengan nada lirih.
"Bawa bunga gak ya??" Tanyanya dalam hati
"Bawa..??
Enggak!!
Bawa...??
Enggak!!
Bawa...??!!.
Wah bawa!!" Ucap Nino seraya menghitung kancing kemejanya
"Nanti aja deh sekalian jalan belinya." Ucapnya dengan nada lirih
Sebelum beranjak pergi ke salon, Nino menyempatkan berdiri di depan cermin seraya menyisirkan jarinya menelusuri arah rambutnya. Dilihatnya wajahnya dari berbagai sisi dan sesekali di selingi dengan menjepitkan bibirnya ke cela gigitan gigi
"Model apa ya??" Tanya Nino lirih
Terlintas dalam pikiran Nino untuk mengecat warna rambutnya, dia ingin terlihat seperti anak muda yang akan beranjak dewasa. Namun keinginan tersebut akhirnya terpatahkan saat dia mengingat umurnya yang sudah hampir menginjak kepala 4 (empat).
Pukul 13:00 WIB..
__ADS_1
Pukul 14:00 WIB..
Pukul 15:00 WIB..
Tanpa sadar Nino sudah membuang waktunya sia-sia hanya untuk berbicara sendiri dan menyibukkan dirinya sendiri di depan cermin.
"Haahh, jam 3?" Ucapnya dalam hati dengan mata terbelalak setelah melihat jam dinding.
Dengan segera Nino pergi ke salon, dia memberikan gambaran model kepada pemotong rambutnya.
"Mau di model apa nih bang?" Tanya pemotong rambut
"Yang lagi model aja bang!!" Jawab Nino
"Yang lagi model kayak gini nih bang!! Ucap pemotong rambut seraya menunjuk gambar foto model yang di tempel di dinding salon tersebut
"Ya udah kayak gitu aja bang!!" Ucap Nino menyetujui masukan yang diberikan pemotong rambut
Setelah selesai potong rambut, Nino segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi karena hendak mandi dan berganti pakaian. Sesampainya di rumah, dia baru tersadar kalau saat di jalan tadi dia lupa membeli minyak rambut sehingga dia harus membawa sisir untuk merapihkan rambutnya jika terkena angin.
"Ah,, pake lupa beli minyak rambut lagi!!" Ucap Nino dalam hati
"Ya sudah lah, mau diapain lagi." Jawabnya kembali dalam hati
Bermodalkan pembicaraan sebelumnya dengan Nana, Nino pun nekad mendatangi tempat kost Nana. Nino yakin bawah dia paham dengan lokasi yang pernah dijelaskan oleh Nana. Dan sesampainya disana, dia berhenti di depan rumah Bunga.
"Rumah Bunga bentuknya masih sama kayak dulu!" Ucap Nino membatin
Rico yang tak sadar dirinya sedang di pantau masih terus berbicara dengan salah seorang laki-laki yang diduga seorang pengemudi truk. Tidak lama berbicara, mereka segera pergi dengan menaiki truk yang sebelumnya terparkir di halaman rumah Bunga.
"Kok Rico naik truk ya?? Ada apa ini sebenarnya??" Tanya Nino dengan perasaan yang semakin bimbang
"Mendingan aku mampir ke rumah Bunga aja deh, pengin tanya sekalian silaturahmi." Ucap Nino dalam hati meneruskan ucapan sebelumnya.
"Tok.. tok.. tok..!!" Suara hentakan jari ke pintu kayu
"Tok.. tok.. tok..!!!" Suara hentakan jari ke pintu kayu yang makin keras
Bunga dan Reza yang berada di dalam rumah sengaja mengabaikan suara ketukan tersebut karena mereka menyangka bahwa yang mengetuk pintu adalah Rico.
"Tokk... Tokk.. Tokk!!!!!" Suara hentakan jari makin kencang
"Ini udah ganggu banget buat aku yank!!" Ucap Bunga kepada Reza
"Abaikan aja say!!" Perintah Reza dengan santai kepada Bunga
"Krekk!!" Suara pintu dibuka dengan cepat
"Belum puas???!!" Teriak Bunga kepada orang yang di duga Rico
Nino yang mengetuk pintu seraya melihat pemandangan di halaman rumah Bunga terkejut dengan teriakan Bunga, tubuhnya terlihat seperti orang yang hendak meloncat namun dibatalkan.
__ADS_1
"Haa!!!!" Teriak Nino kencang
"Nino??!!" Tanya Bunga antara percaya dan tidak percaya dengan orang yang dilihatnya.
"Aduh Bunga, apa sih ngagetin aja!!" Ucap Nino dengan sedikit kesal atas perlakuan Bunga
"Eh, maaf! maaf Nino!! kirain Rico yang ngetik pintu." Ucap Bunga menanggapi ucapan Nino
"Ayo masuk!! Maaf ya tadi jadi ngagetin!" Ucap Bunga mempersilahkan Nino masuk rumahnya.
"Yank, kenalin ini Nino. Dia sepupu aku!!" Ucap Bunga memperkenalkan Nino kepada Reza
"Ini calon suamiku No!!" Ucap Bunga memperkenalkan Reza kepada Nino
Mendengar diperkenalkan sebagai calon suami, Reza terlihat tidak mampu menutupi rasa senangnya. Dia segera mengulurkan tangannya ke arah Nino. Sementara Nino dengan detak jantungnya masih tak beraturan berusaha menerima uluran tangan Reza untuk berjabat.
"Wah, jangan lupa undangannya ya!!" Ucap Nino seraya tersenyum.
"Duduk No!!" Ucap Bunga mempersilahkan Nino duduk
"Mamanya Nino ini adiknya mama aku yank!" Ucap Bunga kepada Reza menjelaskan hubungan orang tuanya dengan orang tua Nino
"Oh, jadi sepupuan ya?" Tanya Reza kepada Nino
"Iya benar." Jawab Nino singkat.
"Kamu tumben ke sini No?? Ada angin apa nih??" Tanya Bunga kepada Nino karena melihat sikap Nino seperti ada udang di balik batu
"Gak ada angin, makanya nyangkut di sini. Kalau ada angin mah udah sampe ke tempat tujuan" Jawab Nino dengan canda tawanya.
"Masa??!!" Tanya Bunga singkat.
"Hehehehe.." Jawab Nino dengan senyuman
"Eh, kenal yang namanya Nana gak??" Tanya Nino kepada Bunga
"Nana?? Nana siapa??" Jawab Bunga
"Nana yang lagi hamil itu lho" Ucap Nino dengan memberikan ciri fisik kepada Bunga
"Oh, kenal. Dia bukannya kost di depan situ??" Jawab Bunga seraya menunjuk rumah kost dengan wajahnya
"Gak tau, dia sih cuma bilang kost di daerah sini." Ucap Nino
"Ada urusan apa nih sana Nana?? Jangan-jangan ada urusan asmara ya??" Tanya Bunga menggodanya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like di setiap bab tanpa dilewati dan kasih bintang 5 ya!!
Terima kasih sudah mampir dan berpartisipasi dalam pencapaian level penulis
__ADS_1
Semoga pembaca dan penulis sehat selalu dan sukses dunia akhirat! Aamiin