Hasrat Terlarang

Hasrat Terlarang
Kecewa


__ADS_3


Masih dengan kebimbangannya, Siti menyarankan agar Nana melaksanakan sholat meminta petunjuk. Beberapa kali melaksanakan sholat tersebut hati Nana tergerak untuk mengatakan kejadian ini kepada Rico.


Rico yang masih sibuk dengan Bunga sejak beberapa hari yang lalu, hingga kini belum terlihat kembali ke kost, dikirim pesan tidak dibaca, ditelepon pun tidak diangkat. Nana dengan perasaan sedihnya merasa Rico mulai mengabaikannya dan lebih mengkhawatirkan wanita lain dibanding istrinya.


"Ada hubungan apa Rico dengan Tante Bunga?? Seistimewa itu dia memperlakukan Tante Bunga" Tanya kembali Nana dalam hatinya.


Sekilas Nana teringat kejadian saat Rico menghempaskan gelas di kamarnya.


"Oh iya, setelah membanting gelas aku tak mendengar Rico mengunci pintu kamarnya. Apa mungkin kamarnya tidak terkunci ya??" ucap Nana berbicara sendiri


Nana yang merasa yakin dengan ingatannya mendatangi kamar Rico dan ternyata apa yang diingatnya tersebut sangat benar, pintu kamar Rico dalam keadaan tidak terkunci dan lantainya pun masih berserakan beling. Nana memberanikan diri masuk ke dalam kamar tersebut dan pandangan matanya mulai menyapu seluruh isi ruangan hingga akhirnya terhenti disebuah ponsel milik Rico.


"Lho handphone Rico kok gak dibawa??" Ucap Nana berbicara sendiri

__ADS_1


"Pasti dia kemarin tergesa-gesa sampai lupa" Ucap Nana menjawab pertanyaannya sendiri


"Selagi tidak ada Rico, aku buka ah!!" Ucapnya dalam hati seraya berjalan mengambil ponsel yang berada diatas tivi.


Saat Nana membuka pesan What**pnya, tidak ada pesan yang mencurigakan. Hampir seluruh isi pesannya berhubungan dengan pekerjaannya, begitu pula dengan inbox di face***knya yang sama sekali tidak ada pesan. Namun hati Nana mendorong tangannya untuk membuka galery foto.


"Astaghfirullah!!" Ucap Nana dengan nada pelan dan tubuh melemas


Nana terlihat shock saat melihat foto Rico melangsungkan akad nikah bersama Bunga. Di foto tersebut tertera tanggal serta tempat acara pernikahan mereka.


"Ya Allah, ternyata ini jawaban yang Engkau berikan atas pertanyaanku." Ucap Nana dalam hati seraya meneteskan air mata.


"Lalu bagaimana dengan janin ini?? Apakah aku harus mengorbankan hubungan mereka demi janin ini?? Atau aku harus korbankan janin ini demi kebahagiaan mereka??" Pertanyaan Nana yang membuat pikirannya makin berkecamuk.


Terlalu kerasnya berfikir menimbulkan sedikit nyeri pada kepala Nana hingga membuatnya kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya dia menangis sepuasnya, dia merasa seperti orang bodoh yang dipermainkan Rico dalam ikatan pernikahan siri. Dia pun malu terhadap Tante Bunga karena menjadi duri dalam daging.

__ADS_1


"Ya Allah.. apakah janin ini hukuman darimu atas perbuatanku??" Prasangka buruk Nana atas takdir Allah


"Astaghfirullah!!! Maafkan hambamu ini ya Allah??" Ucap Nana saat tersadar atas prasangka buruknya kepada Allah


Masih dalam isak tangisnya, Nana membulatkan tekad untuk menghubungi Rico ke ponsel milik Rico yang lainnya.


"Rico, besok aku akan kembali ke Jakarta. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Pesan singkat yang dikirimkan Nana melalui what's*p


Cliiing.. cliiinng.. Bunyi nada pesan ponsel milik Rico


Tanpa menunggu lama pesan tersebut berceklis 2 (dua) dan berubah warna menjadi biru


"Iya Na, tapi maaf seminggu ini aku dinas luar kota. Jadi bicaranya ditunda dulu sampai aku pulang ya!!" Pesan balasan yang dikirimkan oleh Rico.


"Tapi ini penting Rico!!" Pesan Nana yang dikirimkan kembali dengan sedikit memaksa.

__ADS_1


"Aku sedang meeting Na, nanti saja aku hubungi kembali" Jawab pesan Rico yang diikuti dengan mematikan ponselnya.


Dengan hati terenyuh Nana menjatuhkan tangan yang masih menggenggam ponselnya ke kasur yang kemudian diikuti dengan tubuhnya.


__ADS_2