
Seminggu sebelum sidang kedua, Reza dan Bunga berkunjung ke rumah Nino dengan maksud ingin menjadikan Nana dan Nino sebagai saksi pada sidang keduanya. Nana menjadi saksi atas pernikahannya dengan Rico sementara Nino menjadi saksi atas keburukan tabiat Rico. Saat mengunjungi Rumah Nino, Reza menggunakan mobil miliknya namun dia berbohong kembali kepada Bunga dengan alasan mobil tersebut milik David.
"Ini mobil siapa lagi yank?" Tanya Bunga dengan wajah serius
"Mobil David Say?" Jawab Reza
"David mobilnya berapa sih?" Tanya Bunga menelisik
"Ada 4 (empat)!" Jawab Reza dengan jujur
"Dia cuma freelance bisa sampe punya mobil sebanyak itu?" Tanya Bunga
"Dia freelance juga clientnya pejabat." Jawab Reza
"Oh, pantes!" Ucap Bunga
Sesampainya di rumah Nino ternyata Nana sudah menunggu kedatangan Bunga dan Reza. Nana memasak beraneka ragam menu untuk menjamu Bunga dan Reza.
"Ini kamu masak semua Na?" Tanya Bunga antara percaya dan tidak percaya
"Iya mba!" Jawab Nana
"Lagian ngapain sih repot-repot? Orang hamil mah harus jaga janin. Gak usah ngoyo masak segala." Ucap Bunga memberikan nasihat pada Nana
"Ini juga jarang-jarang mba!" Jawab Nana disertai dengan senyuman.
Tumben nih mba, ada apaan?" Tanya Nino yang baru saja muncul karena mandi terlebih dahulu
"Mba kan lagi sidang cerai, kamu sama Nana bisa gak jadi saksi? karena hakimnya nyuruh mba bawa 2 (dua) saksi." Ucap Bunga memberitahukan maksud kedatangannya.
"Kapan mba?" Tanya Nino singkat
"Minggu depan." Jawab Bunga singkat kembali
"Tapi Nana repot perutnya udah gede." Ucap Nino
"Kan cuma duduk di mobil No!!" Jawab Bunga
"Tanya Nana aja deh mba, kalau dia mau ikut ya nanti saya ikut. Kalau dia gak ikut ya saya juga gak bisa ikut." Ucap Nino yang menyerahkan keputusan kepada Nana
__ADS_1
"Emang Nana udah berapa bulan sih??" Tanya Bunga
"Udah 9 (sembilan) bulan kurang 10 (sepuluh) hari. Masih 20 (dua puluh) hari lagi sih dari perkiraan dokter." Jawab Nino
"Ya udah ikut aja, sekalian refreshing lah! Kan selama abis nikah gak pernah keluar kan?" Tanya Bunga
"Iya sih, tanya orangnya aja deh mba!" Jawab Nino yang tidak berani mengambil keputusan.
Karena Nana sudah merasa jenuh di rumah, dia pun menyetujui ajakan Bunga untuk pergi bersama. Dan sehari sebelum sidang, mereka pergi dengan menaiki mobil Nino dengan rute perjalanan langsung menuju hotel untuk bermalam.
Sesampainya di hotel, mereka check in dengan memesan 2 kamar terconnecting karena ingin merasakan suasana kebersamaan. Namun saat malam hari Bunga memerintahkan Nino agar menemui orang tuanya dengan ditemani Reza
"No, kemarin mba ke rumah Tante Ana. Dia seneng banget mba main. Coba kamu tengokin sana!" Perintah Bunga kepada Nino yang sudah lama tidak pulang kampung
"Iya nanti mba" Jawab Nino
"Minta temenin Reza aja kalo malas sendirian." Ucap Bunga kembali
"Iya mba, aku emang ada niat ngajak Reza." Jawab Nino
Pada pukul 19.00 WIB Nino dan Reza berangkat ke rumah orang tua Nino, orang tua Nino yang tidak menyangka anaknya datang menangis terharu seraya memeluk Nino sekuatnya seakan tidak rela untuk melepaskan kembali. Mereka ngobrol sangat asyik hingga tak sadar jam dinding telah menunjukkan pukul 22.00 hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pamit.
"Mah, Nino mau ke hotel lagi ya! Udah malam gak enak sama teman yang lain." Ucap Nino
"Banyak teman Nino mah!! Nanti ditegur sama panitianya. Karena Nino mau ada acara di Pelabuhan Ratu." Jawab Nino memberikan alasan.
Di penghujung pertemuannya orang tua Nino meminta foto bersama. Mereka ingin mengabadikan moment tersebut. Nino yang saat itu diajak berfoto bersama mengikut sertakan Reza karena menganggap Reza telah menjadi bagian dari keluarganya walaupun belum ada ikatan sah dengan Bunga. Melihat hasil foto bersama, orang tua Nino tidak dapat menyembunyikannya hingga menjadikan foto tersebut sebagai foto profil serta status Wha**App.
Setelah kembali ke hotel dan beristirahat, pada hari berikutnya mereka bersiap makan pagi bersama di hotel yang kemudian disusul dengan perti menuju pengadilan agama pada pukul 07.00 WIB
"Kita mepet banget nih buat dapetin nomor antrian awal!! Bawa mobilnya agak kenceng ya No!!" Ucap Bunga memerintahkan Nino
"Iya, iya!!" Jawab Nino
"Tapi nanti mampir ke pom bensin dulu ya! Semalam mau isi lupa!!" Ucap Nino melanjutkan ucapan sebelumnya
"Yaaahhh, gimana sih??!!" Tanya Bunga seraya gemas kepada Nino
"Di depan juga ada pom bensin mba!!" Ucap Nino dengan santai
Bunga yang mendengar jawaban Nino hanya menjawab "Owh.." dan perlahan cooling down.
__ADS_1
Ketika melihat plang sebuah pom bensin, Nino merasa lega. Dia yakin semuanya akan aman. Namun saat hendak mengarahkan kendaraannya ke pom tersebut antrian panjang sudah menghadangnya.
"Ajigileee!!" Ucap Nino yang tidak dapat berkata apapun selain kata tersebut. Dan dengan segera Nino memundurkan kendaraannya untuk keluar dari antrian.
"Gimana nih No??" Tanya Bunga mendesak.
"Ya sudah kita beli yang di pinggir jalan aja mba!!" Jawab Nino
Setelah menemukan pom bensin mini, Nino menghampiri pedagangnya untuk mengisi full tank, namun karena stock bensinnya terbatas terpaksa pedagang tersebut menolak orderan Nino dan menyarankan agar Nino mengisi bensin di pom besar yang tidak jauh dari pom bensin mini miliknya.
"Di depan ada pom bensin pak, sekitar 500meter. Pom bensinnya besar, jadi gak terlalu panjang kalau antri." Ucap pedagang bensin mini
"Baik pak, terima kasih." Jawab Nino yang kemudian melajukan kendaraannya ke arah yang diinfokan pedagang bensin mini.
Ternyata benar yang dikatakan pedagang bensin mini sebelumnya bahwa antrian di pom yang direferensikan tidak panjang, bahkan sama sekali tidak antri. Sehingga Nino dapat mengisi full tank dengan cepat.
Ketika perjalanan mereka sudah memasuki sebuah jalan dimana kanan kiri jalan tersebut hanya terdapat pohon besar dengan rumah penduduk yang masih sangat terbatas, Nana merasakan sebuah cairan membasahi kedua paha bagian dalam. Betapa terkejutnya Nana saat telapak tangan yang baru saja menyentuh cairan tersebut terlihat berwarna merah.
"Maaaassss!!" Teriak Nana membuyarkan semua pikiran dari beberapa kepala.
"Astaghfirullah Nana!!" Teriak Bunga histeris yang membuat Reza serta Nino menolehkan wajahnya ke arah belakang.
"Berhenti No, berhenti!!!" Ucap Bunga kepada Nino yang sedang fokus melajukan kendaraan.
Nino yang sedang melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menyempatkan diri menoleh sejenak ke arah Nana.
"Astaghfirullah!!" Teriak Nino seraya memaksakan berhenti mendadak.
Akibat memberhentikan mobilnya secara mendadak, Nana pun terlempar ke bagian belakang jok yang di duduki Reza hingga menimbulkan mengalirnya darah yang lebih banyak.
"Cepat ke rumah sakit!!" Teriak Bunga
"Tapi mba mau sidang kan?" Tanya Nino yang masih memikirkan urusan Bunga
"Iya, ke rumah sakit dulu!!" Ucap Bunga mengambil keputusan.
Dengan segera Reza menggantikan Nino melajukan kendaraannya karena Nino mencoba menenangkan Bunga di kursi belakang. Reza membalikkan arah kendaraan dan kembali ke arah kota Sukabumi.
Sesampainya di rumah sakit, Nana di bawa ke sebuah ruangan oleh petugas dengan di dampingi Nino. Dan setelah setelah mendapatkan pemeriksaan oleh dokter Nana diharuskan melahirkan secepatnya dengan alasan untuk keselamatan ibu dan bayinya.
Nino yang diwajibkan menandatangani surat persetujuan operasi sesar tidak dapat menolak karena hanya itu yang dapat dia lakukan. Sementara Bunga yang telah menyiapkan Nana dan Nino untuk dijadikan saksi atas perkaranya dengan terpaksa harus rela gugatannya batal karena kondisi saksi yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke sidang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf karena ada sesuatu hal untuk sementara novelnya saya tamatan. Terima kasih