
.
Abela bergeming di tempat duduknya. Noda darah mengotori bagian depan gaunnya. Para prajurit Armand berhamburan ke tempat dimana mereka berada. Mereka sangat terlambat, tidak ada satupun yang menyangka jika akan ada yang berani menyusup ke dalam kediaman Duke Armand yang terkenal.
Abela menangkap tatapan Bastian di sebrang meja, "Lemparan yang bagus," puji Abela sambil lalu.
"Tidak heran, aku selalu hebat."
"Begitu? Berapa level auramu?" tanya Abela penasaran. Dia ingin minum teh lagi, tapi cangkir teh dan manisannya sudah bercampur darah di atas meja.
"Baru level delapan."
Abela menaikan alisnya mendengar itu, dia tertawa kering.
"Bagus, levelku hanya dua puluh delapan." Abela kembali memusatkan atensinya pada bunga tulip yang berjajar dengan warna senada di tengah taman bunga.
"Ibu tidak ingin pindah dari sini?"
"Tidak perlu, di sini indah," jawab Abela terdengar seperti melamun.
"Indah? Ibu baru saja melihat satu pelayan di tebas, dua tangan melayang dan darah yang berceceran."
Abela kembali menatap Bastian, dia menyangga wajahnya dengan sebelah tangan. "Kau sangat hebat. Kau bahkan tidak gentar membunuhnya."
"Aku benar-benar khawatir saat pisau itu hampir mengenai ibu." Bastian berkata dingin tapi Abela tahu kalau dia jujur.
"Baiklah. Terima kasih." Abela berdiri, mengotori lantai gajebo dengan darah yang menetes dari gaunnya.
"Ayah bilang ibu hilang ingatan. Jadi kenapa kita tidak berbincang dulu sebentar."
"Baiklah, tapi darah ini sudah semakin terasa lengket. Jadi ayo bertemu kembali saat aku sudah berganti pakaian." Abela tidak menoleh ke belakang setelah itu. Membuat kening Bastian sedikit berkerut.
"Dia tidak terlihat seperti ibu," gumam Bastian pelan. "Bagaimana menurut mu Sid?" tanya Bastian lagi pada seseorang yang muncul dari arah belakang.
"Bagi seseorang yang lembut seperti madam, melihatnya sangat tenang bahkan saat seorang pelayan terluka. Sungguh tidak biasa tuan muda. Dia bahkan tidak terkejut saat tahu dia telah kehilangan bayinya." Sid menunduk menatap tanah tidak berani menatap tuannya.
"Aku juga terkejut melihatmu tidak melakukan apa-apa tadi." Bastian belum menatap pengawal yang jelas di perintahkan ayahnya untuk menjaga Abela.
Sid masih bergeming. Dia tidak mampu menjawab. Dia terlalu terpesona dengan raut puas di wajah madam Abela tadi saat pelayan itu hampir menusuknya, seakan-akan dia telah menunggu lama saat itu.
"Sayang sekali, hanya Duke yang boleh menghukum mu," ucap Bastian lagi sebelum berjalan pergi.
...----------------...
"Jadi seperti yang kamu tahu aku hilang ingatan." Itu kalimat pertama yang Abela ucapkan saat duduk bersama Bastian di ruang rekreasi.
"Aku tahu," jawab Bastian tenang.
"Baiklah." Abela sangat canggung. Dia ingin segera pulang saja dan mengurung diri di dalam kamarnya.
"Ibu ...."
"Ya?" Abela menatap Bastian penasaran.
"Apa ibu tidak merasa apa-apa saat mendengar bahwa ibu kehilangan bayi ibu?"
"Tidak." Abela menjawab tanpa berpikir, "Aku tidak mengingat perasaan ku saat itu."
"Begitu?" Bastian tiba-tiba terdiam. Dia cukup bingung dengan situasi ini. Dulu Abela lah yang selalu mendekatkan diri terlebih dahulu.
"Aku tidak tahu aku masih seperti ibumu atau tidak. Aku berharap kamu tidak berekspektasi apapun, dengan keadaanku yang seperti ini." Abela akhirnya menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Dia tidak ingin terbebani dengan ekspektasi orang lain padanya. Sedang Bastian agak terkejut mendengar kalimat itu seakan Abela mampu mengintip isi kepalanya.
__ADS_1
"Tidak tentu saja. Lakukan apa yang ibu inginkan." Bastian akhirnya menjawab dengan nada datar.
"Lagipula pamanmu sudah merencanakan siapa yang akan jadi nyonya rumah ini. Dan itu bukan aku."
"Maksud ibu putri dari Wilhemn? Ibu marah karena itu?" Bastian hampir tertawa tapi berhasil menahannya.
"Kenapa aku harus marah karena itu?" Abela menaikan sebelah alisnya.
"Entahlah ... Kau terdengar sangat gusar. Apa ibu cemburu?" Bastian tersenyum miring. Dia sangat mirip ayahnya jika berekspresi seperti itu.
"Tidak. Aku tidak cemburu atau apapun. Aku hanya merasa sedikit terganggu. Karena ayah mu terus mendekati ku."
Akhirnya tawa Bastian terdengar lebih nyaring.
"Dia memang seperti itu," jawab Bastian. "Aku tidak tahu apa yang akan ayah lakukan. Tapi aku rasa paman tidak bisa memaksanya," lanjutnya.
"Entahlah. Bukan urusanku juga." Abela menjawab acuh. "Aku hanya ingin cepat pulang."
"Maaf, aku tidak bisa membuatmu pulang sebelum ayah sampai. Dia bisa marah besar. Terutama karena apa yang terjadi hari ini." Bastian meminta pengertian Abela yang mengangguk tapi masih terlihat tidak peduli.
"Saat ayah mu datang, kami pasti bertengkar lagi," gumam Abela sambil tersenyum kecil dari atas cangkirnya.
Bastian tidak lagi mengatakan apa-apa dia hanya mengangguk dan mengantar Abela ke kamarnya untuk istirahat saat Abela meminta itu.
...----------------...
"Ada monster yang hilang kendali lagi, apa yang terjadi?" Raja bertanya pada semua orang yang berkumpul di ruangan yang sama dengannya.
"Banyak orang menyakini jika tempat tinggal mereka telah banyak yang mengusik." Seorang bangsawan dengan wajah bijak menjawab , dia dengan pelan mengelus janggutnya yang panjang.
"Saya akan memeriksanya. Jangan terlalu khawatir." Armand menjawab semua tatapan bangsawan kepadanya.
"Tidak ada yang bisa di kirim ke sana lagi yang mulia. Tidak ada yang cukup kuat," sambung seseorang dengan mata licik di kursi paling ujung meja.
"Kardinal benar." Armand menatap kakaknya dengan pandangan agar dia segera menghentikan diskusi ini dan segera memerintahkannya untuk pergi ke wilayah timur.
"Baiklah , seperti yang kalian mau. Duke Armand akan pergi memeriksa wilayah timur." Raja sudah akan membubarkan pertemuan mereka. Tapi kardinal mengangkat sebelah tangannya meminta perhatian.
"Ya?" tanya Raja singkat.
"Yang mulia. Bagaimana dengan pernikahan antara Duke Armand dan putri dari Wilhemn?"
"Sesuatu yang seperti itu, tidak akan terjadi," jawab raja tegas.
"Tapi yang mulia, putri mereka di kirim kemari untuk misi perdamaian. Jadi ...."
"Aku tegaskan sekali lagi. Tidak akan ada pernikahan itu. Armand tidak akan menikah dengan putri itu. Jika kontingennya memang berani mengancam kedamaian kita. Maka tentu saja kita tidak akan tinggal diam kan, Kardinal?" Raja memanggil kardinal dengan nada yang sangat dingin. Membuat semua orang yang ada di sana menunduk. Kecuali Armand.
"Kalian sudah bisa pulang. Dan Duke, kita perlu bicara," kata Raja menatap adiknya serius.
"Kalau begitu kami pamit Yang Mulia, Semoga kemenangan selalu milik negeri kita." Pria berwajah bijak itu mewakili semua orang untuk pamit, mereka menghormat sebelum keluar ruangan satu persatu.
"Aku mendengar ada berita mengejutkan hari ini," kata Raja akhirnya.
"Ya, ada tikus yang masuk ke kediamanku," jawab Armand terdengar lelah. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang keras, terbuat dari kayu jati.
"Apa Baroness baik-baik saja?"
"Ya, Bastian datang di waktu yang tepat," jawab Armand sambil memejamkan mata.
"Kau tampak tidak baik-baik saja."
__ADS_1
"Kapan aku baik-baik saja yang mulia. Berulang kali, aku hampir kehilangan dia." Armand membuka matanya dan menatap langit-langit dengan hiasan emas diatas kepalanya.
"Pilih salah satu, kau ingin bicara formal atau tidak dengan ku. Menggabungkannya membuatku berpikir kau sedang meledekku." Raja mengatakan dengan nada bercanda.
"Kak, aku bisa berperang ribuan kali. Tapi jangan menyuruhku menikah lagi," ucap Armand tak lagi bicara dengan Rajanya tapi dengan kakaknya.
"Aku tidak akan melakukannya, tenang saja. Jadi fokus saja untuk pemulihan baroness. Apa dia separah itu?"
"Pagi ini aku membelah meja makan karena perkataannya cukup menyakitiku. Di ingatannya yang hilang, keberadaan ku juga mungkin hilang di hatinya." Armand tidak terlalu serius mengatakannya, dia bermaksud bercanda saja. Tapi tatapan menyedihkan kakaknya entah kenapa membuat dia merasa lebih menyedihkan.
"Jangan mengasihani ku, aku baik-baik saja," ucap Armand agak parau.
"Baiklah, pulanglah."
Armand hanya melakukan hormat dan keluar ruangan itu dalam diam. Mencoba tidak berpikir terlalu berat di perjalanan menuju kediamannya. Armand termenung di dalam kereta kuda yang melaju kencang tanpa di perintah. Rupanya bukan hanya dia yang khawatir pada Abela.
...----------------...
"Dimana Abela?" tanya Armand sesampainya di rumah dan di sambut butler dan jajaran pelayannya.
"Dikamar Anda," jawab Tony.
Langkah kaki Armand terdengar tidak sabar untuk segera bertemu Abela. Dia sudah akan berlari lagi, kalau sesuatu terjadi lagi pada Abela tadi.
Armand membuka pintu dengan tidak lembut sama sekali, membuat Abela yang sedang susah payah mengganti gaunnya terkejut. Abela berniat istirahat tidur siang dan berganti gaun yang nyaman.
"Lagi? Tidak bisakah kamu mengetuk pintu!" teriak Abela lantang. Membuat semua orang yang mengikuti di belakang Armand terkejut.
"Tidak adakah satupun pelayan yang bisa membantu tamuku berganti pakaian? Dia terlihat kesulitan." Armand mengabaikan teriakan Abela dan bicara pada Tony.
"Maafkan saya Tuan, saya akan ...."
"Tidak perlu." Armand memotong perkataan Tony dan menyuruh mereka semua pergi. Dan menutup pintu kamarnya. Menatap Abela yang sudah setengah jalan membuka gaunnya.
"Kenapa tidak memanggil pelayan?"
"Dengan kejadian di gajebo tadi. Kamu tidak berharap aku akan percaya pada orang yang tidak aku kenal itu kan?" Abela menaikan alisnya.
Armand tidak menjawab, dia menghampiri Abela dan menyuruh Abela berputar dengan gerakan tangan. Dan membantu Abela membuka korsetnya.
"Kamu bertemu Bastian?" Armand bertanya sedang tangannya sibuk melonggarkan tali-tali korset Abela.
"Ya, dia mirip sekali denganmu," jawab Abela.
"Begitukah? Banyak orang bilang dia mirip ibunya," ujar Armand yang entah kenapa membuat Abela penasaran.
"Siapa ibunya?" Abela sudah berdiri menghadap Armand.
"Aku tersanjung jika kamu penasaran." Tatapan Armand masih terkunci di mata Abela, sementara tangannya sibuk menanggalkan layer demi layer pakaian yang dikenakan Abela. Hingga dengan satu tarikan lagi. Dan Abela hanya menyisakan pakaian dalam.
Akhirnya, pandangan Armand berpindah ke tangannya yang masih menggenggam layer terakhir yang dia tanggalkan. Lalu kembali ke atas ke arah Abela yang sudah memunggunginya. Tangannya terangkat untuk menyatukan rambut dan mengikatnya. Armand menelan ludahnya melihat tengkuk Abela saat rambutnya tersibak.
"Kamu akan tidur?" tanya Armand sedikit parau.
"Ya. Jangan macam-macam." Abela mengatakannya dengan nada tegas.
Armand hanya tersenyum, melempar layer terakhir gaun Abela dan menghampirinya. Membantu Abela menaikan tali gaun tidurnya dari bahu ke pundaknya.
"Aku tidak tahu ... Aku tidak berjanji ..." bisik Armand tepat di telinga Abela.
...----------------...
__ADS_1