Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Mossie


__ADS_3

.


Abela dan Armand hanya melanjutkan perjalanan pulang dalam diam. Tentu saja karena Armand harus fokus mengendarai kudanya. Sedang Abela berusaha tidak terjatuh di belakang Armand. Gaunnya tidak sesuai dengan kegiatan berkuda yang tiba-tiba dia lakukan.


Sesampainya di kediaman Armand, Abela langsung menatap Orlando dengan sedikit tajam. Membuat anak itu menempel padanya untuk meminta maaf dengan sedikit merengek. Abela tidak percaya anak laki-laki tiga belas tahun masih bisa merengek seperti itu, bisa di tebak ibu yang seperti apa Abela bagi Orlando. Tapi alih-alih merasa terganggu, Abela justru menikmatinya. Dia membelai rambut Orlando pelan.


"Aku bermain dengan kucing ibu," kata Orlando, tersenyum lebar memperlihatkan giginya.


"Mossie? Kau suka dia?"


"Namanya Mossie? Ya dia lucu." Orlando menjawab.


"Kau boleh memilikinya kalau kau mau. Dia sebenarnya monster, tapi ayahmu memberinya kalung sihir. Selama Mossie memakai kalung itu dia tidak akan berubah menjadi ukuran monster."


"Boleh untukku?" tanya Orlando meyakinkan pendengarannya.


"Ya ... Tentu saja." Abela tersenyum, masih membelai rambut Orlando.


"Bastian pasti merasa iri," ucap Orlando sambil tertawa.


"Kau bisa berbagi dengannya." Abela tidak berpikir soal Bastian.


"Baiklah ... Baiklah ... Aku akan membawa Mossie dan mengganggu Bastian lagi." Orlando sudah akan sampai pintu sebelum berbalik menatap Abela lagi.


"Aku harap ayah dan ibu sudah berbaikan," ucapnya sambil tersenyum. Abela membalas senyumnya. Dia menatap anak itu sampai menghilang di balik pintu.


Abela mengistirahatkan punggungnya di sandaran sofa yang empuk. Tiba-tiba ingat dia belum menanyakan ekspedisi ke kastil penyihir pada Armand. Tapi dia terlalu lelah untuk beranjak dari tempatnya. Abela memejamkan matanya, berusaha tertidur.


.


.


Abela menyantap makanannya dengan tenang, cukup mengejutkan melihat Armand bersikap biasa saja sekarang ini. Waktu yang tepat untuk membahas ekspedisi ke kastil penyihir mungkin tidak harus ditunggu lagi.


Wajah Armand terlihat lebih rileks tidak kaku seperti pagi tadi. Setelah Orlando dan Bastian pamit. Abela tidak berhenti menatap Armand. Armand sadar dengan itu, tapi dia dengan tenang masih menyantap makan malamnya.


Abela juga hanya bisa menunggu, dia tidak ingin menginterupsi Armand kali ini.


"Jadi? Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Armand akhirnya.


"Kapan kita berangkat ke kastil penyihir?" Abela langsung mengungkapkan apa yang ingin dia tahu.

__ADS_1


"Besok." Armand menjawab singkat. "Lebih cepat lebih baik," katanya lagi dengan nada kosong.


Abela tertegun sebentar, apa yang lebih cepat lebih baik itu? Abela memaksakan senyumnya. Tentu saja. Lebih cepat meninggalkan dunia ini lebih baik untuknya.


"Aku memberikan mossie pada Orlando. Dia kucing yang pintar. Jadi kurasa tidak apa-apakan?"


"Kenapa?" tanya Armand pelan.


Abela belum menatap Armand. Entah kenapa dia tidak mau tahu wajah seperti apa yang Armand tampilkan sekarang ini.


"Entahlah? Hadiah perpisahan?" Abela tersenyum agak sendu. Mungkin itu tidak cukup. Hadiah apapun tidak akan bisa menghibur anak itu. Bagaimana bisa?


Armand menatap senyum Abela dalam diam dan bibirnya yang dia rapatkan. Emosi apa yang sedang dia tekan kali ini. Armand bahkan tidak mengerti perasaannya sendiri.


"Baiklah." Akhirnya, hanya itu yang bisa Armand katakan. Dia bangkit dari tempat duduknya fan meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Abela yang masih termenung.


.


.


Abela berjalan di lorong menuju kamarnya, saat dia melihat Mossie menatapnya di kejauhan. Abela mendekat pada kucing itu, membawanya ke pelukannya.


"Kau belum tidur?" tanya Abela.


"Belum ... masih terlalu awal untuk tidur." Orlando meminta Mossie dari tangan Abela.


"Besok, ayo pulang ke rumah," ucap Orlando, pemuda itu tersenyum sangat lebar.


"Ibu tidak bisa." Abela menjawab, "Besok, ibu akan ikut ekspedisi lagi."


Orlando terdiam menatap Abela. Banyak yang ingin dia tanyakan pada perempuan yang dia panggil ibu itu.


"Kenapa?" tanya Orlando akhirnya.


"Apa yang membuatmu harus ikut?" Orlando bertanya dengan nada dingin yang aneh. Baru pertama kali Abela mendengarnya.


"Nanti ... Akan aku beritahu nanti," jawab Abela setelah termenung agak lama.


"Kapan? Setelah kembali dari ekspedisi dan di culik dan hampir mati lagi? Nanti kapan?" Orlando menaikan nada suaranya.


Benar sekali, Abela dan Armand selalu menganggap Orlando masih terlalu muda untuk tahu segalanya. Tanpa sadar jika dia adalah orang yang berhak tahu lebih dari siapapun.

__ADS_1


Orlando seharusnya adalah orang yang pertama kali di beritahu jika Abela sekarang bukanlah lah Abela ibunya.


Abela menelan ludah, melihat airmata menggantung di mata anak itu yang biru menyala.


"Dengar ... Orlando ... Aku ...." apa yang akan dia katakan? Abela tertegun lagi saat air mata Orlando benar-benar mengalir di pipinya.


Abela terbelalak merasakan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ingatan tubuhnya lagi kah? Tanya Abela pada diri sendiri. Abela tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di sepersekian detik saat Orlando berusaha berlari pergi. Apa yang tangannya lakukan. Saat dia tiba-tiba menjangkau anak itu dan membawanya ke pelukannya.


Tangisan Orlando mulai terdengar, terisak di pelukan Abela. Abela belum tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuat Orlando lebih tenang. Tapi rupanya, Orlando tidak memberinya kesempatan itu. Orlando melepaskan diri dari Abela dan berlari pergi. Tanpa menghiraukan panggilan Abela.


Abela tidak tahu apa yang membuatnya berlari juga. Apakah tubuhnya bereaksi spontan atau memang atas kesadarannya sendiri. Abela bahkan lupa dia memakai sepatu tinggi dan dress yang cukup besar.


"Orlando !" Abela memanggil nama anak itu sekali lagi saat dia melihat Orlando menuruni tangga.


Tapi itu adalah kesalahan, saat Orlando menoleh kakinya kehilangan keseimbangan. Orlando sudah agak terjerembab ke lantai. Membuat semua pelayan menjerit dan Abela yang masih jauh dari jangkauannya.


Dan saat kekacauan itu terjadi, kelebat hitam terlihat di sudut mata Abela. Sedang Mossie dengan bentuk monsternya melompat dan meraih baju Orlando dengan giginya yang tajam, sebelum Orlando mencapai lantai.


Teriakan pelayan semakin keras membuat kegaduhan. Apalagi saat monster itu membawa Orlando dengan menggigit bagian punggung bajunya, kaki dan tangan Orlando menggantung.


Dengan perlahan Mossie meletakan Orlando di lantai. Mata kucing itu yang kuning berkilau bertatapan dengan mata biru Orlando yang terpana. Baru pertama kali melihat monster sedekat itu.


Abela tergopoh-gopoh mendekati Orlando dan membawanya ke pelukannya lagi.


"Apa yang kau pikirkan? Kau hampir terluka!" teriak Abela sedikit frustasi.


"Ibu ... Mon ... Monster ...." gagap Orlando sambil menunjuk Mossie.


"Apa itu penting sekarang ini? Mana bagian yang sakit? Ada yang terluka?" Abela membombardir Orlando dengan pertanyaan. Tidak satupun bisa yang bisa dijawab Orlando. Anak itu masih tertegun di tempatnya. Menatap langsung ke mata monster itu.


"Mossie?" panggil Orlando hati-hati.


Perlahan Mossie mendekat pada Orlando dan meletakan kepalanya di sebelah tangan Orlando. Orlando sedikit terkejut merasakan bulu-bulu Mossie yang sedikit kasar. Tapi akhirnya mengelusnya juga dengan canggung.


"Jangan takut, dia yang menyelamatkan kita. Dia akan menjagamu mulai hari ini," bisik Abela pelan.


Orlando menatap ibunya yang terasa asing itu. Saat itu adalah hal paling aneh yang Orlando rasakan. Ibunya yang tiba-tiba tidak memanggil dirinya sendiri ibu, monster yang menyelamatkan nyawanya. Atau air mata yang tidak bisa dia tahan. Semua hal ambigu yang membuatnya bingung ini, entah kapan akan terjawab.


"Kau ... Bukan ibuku kan?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2