
.
"Saya dengar Yang Mulia sedang tidak enak badan?" Abela memulai percakapan kelompok yang tidak dia duga ini.
"Begitulah, saya tidak keluar dari kamar saya sama sekali," Lyra meletakkan kipasnya di atas meja.
"Syukurlah anda terlihat lebih baik."
"Saya juga mendengar tentang anda akhir-akhir ini." Lyra menatap Abela. "Semua orang membicarakan tentang anda."
"Yang mulia benar. Mereka mengatakan banyak hal tentang saya. Bagian mana yang anda dengar?" Abela bertanya, senyum palsu tidak lepas dari wajahnya.
"Saya tidak akan mengatakannya disini. Melihat ada dua orang yang tampak siap menghancurkan saya. Tentu saja. Siapa saya, kenapa saya harus berkomentar tentang madam. Sementara Yang Mulia Raja sendiri tampak tidak mengatakan apa-apa."
Perkataan Lyra membuat senyum Abela semakin lebar. Abela bisa merasakan kebencian aneh menguar dari tuan putri yang masih muda ini. Sejak pertama mereka bertemu hingga hari ini.
"Ya ... Kalau yang mulia bertanya kenapa. Jawaban saya tidak tahu," ucap Abela tenang. Tangannya terjulur mengetuk paha Bastian pelan. Membuat wajah tengang pemuda itu sedikit meluntur.
"Saya yakin Yang Mulia terlalu lama ada di luar, saya khawatir anda sakit lagi," Calix berdiri dari kursinya dan menjulurkan tangan pada Lyra. "Biar saya antar Yang Mulia ke kamar anda lagi."
"Terima kasih atas perhatian Duke Estonia, walau saya tidak tahu untuk siapa perhatian itu. Semoga saya tidak salah paham." Lyra mengatakan itu dengan bahasa formal. Sikap yang tidak biasa dari tuan putri itu. Tapi Lyra tetap mengandeng tangan Calix. Dan pergi dari sana.
"Putri itu sangat menyebalkan," ucap Bastian.
"Dia akan jadi calon istrimu kalau saja kau lebih tua sedikit." Abela menjawab menahan tawanya.
"Bukan kah harusnya Cesar yang menikahinya? Kenapa aku?"
"Tidak, jika kau dan Cesar sudah cukup umur untuk menikah, ayah dan pamanmu tidak akan membiarkannya menjadi calon ratu." Lagi Abela menahan tawanya saat melihat wajah Bastia di tekuk.
Armand duduk dikamar Abela yang di tinggal pemiliknya. Menatap sekeliling kamar itu bosan. Sementara pelayan sudah akan menghidangkan teh sebelum Armand menolaknya dan meminta mereka membawa wine sebagai gantinya.
Masih terlalu sore untuk menenggak minuman keras. Tapi entah kenapa Armand membutuh kan itu. Dia Melepas kancing kemejanya dengan tidak sabar. Kenapa Abela belum kembali? Dia ingin segera bicara dengannya.
Armand menoleh ke arah pintu saat pintu itu terbuka. Dia menatap Abela dan Bastian bergantian. Dua orang itu terdiam diambang pintu.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sana? Tidak masuk?" tanya Armand yang lebih terdengar seperti perintah.
"Tidak ... Kami hanya kaget melihatmu disini," jawab Abela mencoba tersenyum. Dan duduk canggung di depan Armand.
"Aku yakin kalian ingin aku tinggalkan berdua saja. Jadi ... Aku rasa aku akan pergi." Bastian menatap ayahnya yang mengangguk kecil.
Bastian mundur dan menutup pintu, pelayan juga mengikutinya. Itu berarti tidak ada yang boleh Mendengar apa yang akan mereka bicarakan di dalam. Ada apa dengan perasaan tidak nyaman ini. Batin Bastian. Dia dengan berat meninggalkan kamar Abela. Entah kenapa dia bersyukur bertemu Abela hari ini.
.
.
"Masih terlalu terang untuk mabuk." Abela memperingatkan Armand yang sudah meminum wine nya.
"Kenapa? Aku akan mengambil liburanku mulai besok." Armand tersenyum sebelum minum lagi.
"Kau kemari karena siap mendengarkan apa yang akan aku katakan?"
"Kenapa hal itu terkesan tergesa?" Armand bertanya lagi sebelum minum.
"Abela ...." Armand memanggil namanya lirih, wajahnya terlihat tenang seperti biasanya. "Aku mencintaimu."
Apa yang dikatakan Armand membuat Abela menelan ludahnya. Tidak, dia tidak boleh digetarkan oleh apapun. Lagipula yang Armand cintai bukan dirinya.
"Aku tahu kau mencintai wanita ini," jawab Abela.
"Wanita ini?" Armand tertawa tidak terkendali. Dia minum satu gelas wine lagi.
Apa yang tidak dia harapkan dia dengar kali ini. Armand menatap Abela dengan lekat. Wanita ini dia bilang. Armand tiba-tiba menyunggingkan senyum miring.
"Kau cantik hari ini," kata Armand lagi.
"Aku setuju, warna perak selalu serasi dengan warna rambut emas dan mata biru." Abela menjawab tenang. " Bisa kau berhenti minum sekarang?"
Armand tidak menjawab, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Menyilangkan tangannya di depan dada. Masih dengan lekat menatap Abela.
__ADS_1
"Jadi ... Apa ... Yang ingin kau katakan?" tanya Armand.
Abela tidak melepaskan tatapannya dari tatapan Armand. Pupil coklat gelap Armand terlihat sedikit bergetar. Abela tersenyum, bagaimanapun Armand adalah manusia biasa. Meski entah bagaimana Abela yakin Armand akan bisa menerima kenyataan. Tetap saja, Abela merasa sedikit simpati.
"Armand, aku bukan Abela." Abela mengatakan fakta itu dengan senyuman.
"Aku sering mengatakannya padamu. Tapi aku akan lebih meyakinkannya lagi. Armand. Aku. Bukan. Abela." Abela menekan semua kata yang perlu dia tekankan.
Armand bergeming di tempat duduknya. Air mukanya tidak berubah sama sekali. Tatapan matanya mungkin masih sedikit bergetar. Tapi dia terlihat sangat tenang.
"Saat kau hilang ingatan ...." Armand bergumam pelan.
"Aku tidak hilang ingatan. Aku memang tidak memiliki ingatan itu. Tapi ...." Abela menahan napas dan menghembuskannya sebelum menerus kan apa yang ingin dia katakan.
"Akhir-akhir ini aku lebih sering mengingat ingatan yang ada dalam tubuh ini. Ingat tentang sosok yang merasuki tubuh penyihir itu. Jika kita bisa melihat ingatan tubuh yang dirasuki itu berarti ...."
"Orang itu sudah meninggal." Armand meneruskan kalimat Abela.
Armand tersenyum dan memalingkan wajahnya. Dia menelan ludah berkali-kali. Entah kenapa tenggorokannya terasa lebih kering. Armand menyambar minumannya lagi dan meneguknya dari langsung dari botol.
"Armand ... Ku bilang hentikan."
Armand merespon ucapan itu. Dia meletakan botol wine dengan kasar di atas meja.
"Jadi ... kau ... Siapa kau?" Armand menatap Abela dengan tajam. Seakan ingin membunuhnya saat itu juga.
"Namaku Arabela Estonia. Tidak Estonia adalah nama mendiang suamiku. Nama ku Arabela, aku biasa memanggil diriku Ghotel."
Tidak ada yang tahu kapan Armand mencabut pedangnya. Hanya sedikit suara angin yang halus saat pedang itu audah di hunuskan di depan leher Abela. Sedikit darah mengalir dari sana. Mereka tetap bertatapan. Tanpa saling bicara.
Abela cukup paham perasaan apa yang Armand rasakan. Dia ingin membunuh tapi tidak bisa. Tidak karena tubuh ini adalah tubuh orang yang dia cintai. Seberapa besar luka yang Armand rasakan saat ini. Abela hanya bisa menebak saja.
"Kau tahu?" darah yang mengalir semakin banyak saat Abela menggetarkan tenggorokannya untuk bicara. "Aku siap kau bunuh kapan saja. Sungguh. Aku lelah dengan semua urusan manusia ini." Abela tersenyum pada Armand yang matanya berair.
"Aku ikut berduka atas kehilanganmu, Armand."
__ADS_1
...----------------...