
.
Abela tersenyum canggung, dihadapan Rewelin yang masih tersenyum ramah. Entah Abela merasa terkejut karena ternyata Rewelin dekat dengannya. Atau karena Rewelin dan Armand masih menjalin hubungan yang baik.
"Madam." Panggilan Rewelin membuyarkan lamunan Abela.
"Maaf atas ketidaksopanan saya madam," ujar Abela merasa tidak enak.
"Madam tidak melakukan apa-apa. Madam tidak perlu khawatir." Rewelin tersenyum ramah membuat Abela merasa nyaman.
"Anda tampak tidak menikmati pesta ini," Rewelin berkata lagi.
"Saya hanya tidak terbiasa. Yang saya kenali di aula ini hanya Yang Mulia Ratu dan Duke Estonia saja." Abela menyunggingkan senyuman.
"Sebenarnya kita berdua juga cukup dekat madam. Anda bisa mengandalkan saya." Rowelin mengedipkan sebelah matanya membuat Abela tertawa.
"Terimakasih," ucap Abela tulus.
Alunan musik sudah terdengar, dan semua undangan mulai berdansa dan menari. Abela dan Rowelin masih berdiri di tempat yang sama. Tampaknya Marques Delacour juga dipanggil oleh Raja.
"Jadi Madam Delacour," Abela agak berbisik mendekat pada Rewelin, "Apa anda tahu dimana putri dari Wilhemn berada?"
"Madam merasa aneh juga kan? Dia tidak ada di aula ini. Dan semua orang yang berpengaruh di panggil oleh raja." Rewelin menjawab dengan hati-hati.
"Ini sangat aneh, mengingat pesta ini untuknya. Apa dia kesal karena Armand tidak menjadi pengantinnya?" Ucapan Abela membuat Rewelin tertawa.
"Armand tidak mungkin menerima lamaran itu. Tidak dengan wanita seperti anda ada di sampingnya," kata Rewelin.
Abela menaikan sebelah alisnya. "Anda terlalu memuji saya."
"Tidak perlu menjadi rendah hati Madam. Anda memang menakjubkan. Anda harus menerima itu. Setidaknya ...." Rewelin tidak meneruskan kata-katanya. Dan Abela juga tidak ingin tahu lebih lanjut apa yang ingin dia katakan.
"Anda ingin berjalan-jalan di taman. Ada air mancur yang indah di tengah kebun mawar." Rewelin memberi saran yang cukup bagus.
"Kurasa ... itu saran yang bagus." Abela dengan cepat menyetujuinya.
Mereka berdua keluar aula dan mulai berbincang lagi, Abela jadi tahu jika Rewelin tidak pernah punya anak dari pernikahannya dengan Armand. Dengan Marques, dia memiliki tiga orang putri.
Percakapan mereka cukup menarik dan santai. Abela tidak merasa terganggu dengan kehadiran Rewelin. Dia sebenarnya cukup terhibur. Semuanya baik-baik saja sampai mereka mendengar suara erangan. Abela cukup yakin suara itu berasal dari balik taman labirin.
"Apa ada seseorang yang terluka?" tanya Rewelin pelan.
"Saya tidak yakin, apa mungkin ...." Abela tidak meneruskan perkataannya. Tapi membuat wajah Rewelin memerah. Rewelin membuka kipasnya dan menutup setengah wajahnya dengan itu.
"Nona muda mana yang melakukannya di tempat terbuka," ucap Rewelin sedikit berbisik.
__ADS_1
"Hahaha ...." Abela tertawa canggung, hal ini mengingatkannya pada mimpinya saat itu.
Sekarang mereka mendengar ******* dan cukup menjadi alasan bagi mereka untuk pergi dari sana. Sebelum mereka sadar yang ada di sekitar air mancur itu bukan hanya mereka berdua saja.
"Yang mulia?" tanya Abela, menatap Putri dari Wilhemn yang cukup berantakan.
"Apa yang...." Abela tidak meneruskan ucapannya. Saat dia melihat airmata mengalir di pipi putri itu.
Suasana diantara mereka sangat canggung, kesunyian yang terganggu oleh suara ******* wanita, membuat mereka tidak bisa bergeser sedikitpun dari tempat mereka berdiri.
Abela memaksakan senyumnya dan mendekat pada Putri itu.
"Yang Mulia ...." panggil Abela. "Semua orang sangat mencemaskan anda, kenapa anda bersembunyi disini?"
"Ini semua karena dirimu," kata putri itu gusar. Sangat tidak sopan.
"Madam Abela, saya rasa putri sedang sibuk. Jadi bagaimana kalau kita meninggalkannya disini dan kembali ke aula." Rewelin mengatakan itu bukan tanpa sebab, tapi putri itu benar-benar sangat melewati tingkat kesabarannya.
Mendengar semua itu, Abela bisa melihat putri itu kecewa dan menahan tangis. Dia ingin meminta tolong tapi harga dirinya tidak membiarkan hal itu. Tapi Abela juga tidak memiliki keinginan untuk terlibat dengan apa yang mungkin terjadi pada putri itu.
Tapi rupanya, Putri dari Wilhemn itu memilih membuang harga dirinya dan menarik gaun Abela. Abela dan Rewelin bertatapan dan saling melempar senyum pengertian.
Abela membantu putri itu berdiri. "Apa yang terjadi pada anda?" tanya Abela. Gaun putih yang di kenakan sang putri sangat kotor.
"Jadi anda kabur saat melihat hal itu?" tanya Abela lagi.
"Siapa yang tidak akan kabur saat melihat hal itu." Putri dari Wilhemn itu menaikan nada suaranya.
"Lihat diri anda Yang Mulia," Abela tertawa pelan. "Gadis yang sangat polos seperti anda bersikeras menikah dengan laki-laki yang dua puluh tahun lebih tua dari anda."
"Duke ... Dia tidak mungkin melakukan itu." Putri itu menyakal hal yang tidak dia tahu. Tapi membuat Abela dan Rewelin tertawa.
"Yang mulia, ini adalah madam Delacour dan dia mantan istri Armand. Dan anda pasti sudah tahu siapa saya. Jadi kami berdua lebih tahu apa yang mungkin dan tidak mungkin dilakukan oleh Duke." Abela tersenyum geli.
"Saya tidak heran dengan kepolosan anda. Saya heran kenapa Armand melewatkan kesempatan yang sangat langka untuk menikah dengan wanita secantik anda."
"Aku dengar tunangan ku berganti menjadi Duke Estonia. Bagaimanapun aku tidak akan di terima lagi di kerajaan ku. Lalu aku harus menerima pertunangan ini. Dengan keturunan penyihir jahat. Kalian ... Tidak tahu bagaimana ... Rasanya."
Dan tangis putri itu pecah, semakin keras seiring waktu. Rewelin menatap putri itu simpati. Abela mendekat pada putri itu dan duduk disampingnya.
"Penyihir itu sudah tidak ada dan Duke Estonia sangat tampan. Aku pernah bertemu dengannya. Setidaknya dengan melihat wajah tampannya, hal-hal menyedihkan bisa sedikit terlewati dengan mudah." Abela tidak tahu apa yang dia katakan. Rasanya sangat canggung menghibur seseorang yang sedang menangis.
Rewelin tertawa mendengar apa yang dikatakan Abela. "Sungguh nasehat yang unik," ucapnya di sela tawa.
"Saya tidak pandai melakukan ini. Anda tahu yang mulia. Jadi ayo ganti pakaian anda. Dimana para pelayan anda?" Abela menatap sekitar. Dimana gadis-gadis yang mengikuti putri itu kesana kemari.
__ADS_1
"Mereka ada di dalam labirin," cicitnya. "Dan panggil aku Lyra."
Rewelin menggelengkan kepalanya dan membantu Abela menopang tubuh tuan putri itu. Saat beberapa orang mendekat ke tempat mereka berada.
"Abela?" panggil seseorang dengan suara yang familiar.
Baik Abela dan Rewelin tahu siapa orang itu. Mereka dengan cekatan menutupi keadaan putri yang berantakan.
"Armand, mendekatlah dan pinjamkan jubahmu padaku." Perintah Abela pada Armand yang membuat semua orang terpana.
Lebih terpana lagi , saat dengan santai Armand mendekatinya dan menyerahkan jubah yang sesaat tadi dia kenakan.
Abela melebarkan jubah itu dan menutupi kondasi gaun Lyra. "Aku dan Madam Delacour akan membawa tuan putri ke tempat aman dan mengganti pakaiannya. Semua pelayan yang dia bawa ada di dalam labirin." Tepat saat Abela mengatakan itu suara ******* terdengar lagi.
Membuat Armand, Calix dan Putra mahkota terlihat kaget.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya putra mahkota yang hanya di tanggapi dengan wajah dingin oleh Calix.
"Yang terdekat dari sini adalah istana tempat pangeran ke dua tinggal. Sebutkan namaku dan minta bantuan pada mereka." Armand mengatakannya dengan tenang. Abela tersenyum sebelum membawa Lyra pergi dari sana.
...----------------...
"Aku tidak tahu nama Armand sangat berpengaruh disini," ucap Abela pada Rewelin, mereka menunggu Lyra berganti pakaian.
"Sebelum dia Duke, dia adalah pangeran kedua," jelas Rewelin. Mereka berdua sudah meninggalkan formalitas mereka sejak sampai di dalam istana.
"Dengar, terima kasih." itu yang pertama dikatakan Lyra saat keluar dengan gaun yang baru.
"Tidak masalah yang mulia. Sulit di percaya anda tidak didampingi Cameron (pendamping nona muda yang belum menikah)." Rawelin merasa kasian pada gadis itu. Jika yang menemukan orang lain. Maka rumor mengerikan akan tersebar saat ini.
"Untuk apa mereka memberikan itu untuk putri yang dibuang seperti ku," jawab Lyra. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi.
"Kalau begitu anda hanya tinggal memilihnya saja. Anda hanya perlu mengirim surat pada madam-madam yang sudah diatas tiga puluh tahun, sudah dan pernah menikah. Mereka akan dengan senang hati datang untuk yang mulia." Rewelin menjelaskan.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Lyra malu-malu.
"Saya tidak bisa, saya sibuk." Abela menjawab cepat tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Membuat Lyra menatapnya kesal dan tawa Rewelin terdengar lagi.
" Madam Abela sungguh sangat unik ...." lirih Rewelin di tengah tawanya.
"Menyebalkan lebih tepatnya," gumam Lyra tidak pelan sama sekali.
Abela tertawa mendengar itu. Tawa mereka berhenti saat pelayan memberitahu jika Armand menyuruh mereka bersiap untuk ke aula pesta lagi.
...----------------...
__ADS_1