Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Calix dan Bastian


__ADS_3

.


Benar apa yang dikatakan Armand, Calix benar-benar datang ke kamar Abela. Abela tersenyum canggung. Dia entah kenapa merasa tidak nyaman berada berdua saja dengan Calix di dalam kamarnya dan mengenakan gaun tidur saja.


"Duke Estonia?" tanya Abela yang masih duduk bersandar di ranjangnya.


"Apa yang anda rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya Calix khawatir.


"Tidak, bukan itu. Saya hanya memanggilmu karena anda terus terdiam. anda baik-baik saja?" tanya Abela lagi.


"Saya baik-baik saja Madam. Saya hanya merasa sedikit menyesal. Sudah dua kali saya gagal melindungi anda." Calix sepertinya serius saat mengatakan itu. Bisa di lihat dari wajahnya.


"Yang paling penting, apa anda sudah tahu apa uang terjadi dengan tunangan anda, Duke?" tanya Abela sedikit penasaran.


"Tubuhnya dijaga oleh para penyihir di menara sihir. Saya sempat bertemu dengannya saat dia ada di dalam tubuh penyihir itu. Tidak pernah dibayangkan jika putri yang terlihat lemah itu ...." Calix tidak meneruskan kata-katanya.


"Anda benar, sejujurnya saya sangat menyukai gadis itu," gumam Abela. "saya cukup akrab dengannya."


"Sebenarnya ada yang lebih mengejutkan dari itu," ucap Calix terdengar sedikit ragu untuk bercerita lagi.


"Benarkah?" Abela menatap Calix yang terlihat ingin mengatakannya.


Banyak pelayan disini. Rupanya hal itu membuat Calix tidak nyaman.Tapi Abela entah kenapa tidak berniat membuat para pelayan itu pergi.


"Anda tidak perlu mengatakan semuanya, anda tidak memiliki hutang penjelasan apa-apa pada saya," ucap Abela sedikit tersenyum.


"Sayang sekali, banyak yang ingin saya diskusikan." Calix tersenyum miris.


Abela tidak ingin membuat Calix merasa dekat dengannya lebih dari hubungan mereka sekarang ini. Abela lebih memilih untuk menjaga jarak dengan keturunannya ini.


"Saat semuanya selesai, anda harus menghancurkan tubuh itu." Abela berkata lagi setelah keheningan tiba-tiba yang terjadi diantara mereka.


"Madam pikir itu yang terbaik?" tanya Calix.


"Ya ... atau hal ini akan terulang lagi," jawab Abela. Tatapannya terkunci pada mata Calix yang sama birunya dengan miliknya.


"Baiklah, saya rasa saya harus menuruti saran Madam." Calix tersenyum lagi.


Abela membalas senyum Calix dengan canggung. Pria ini tampaknya akan menuruti apa saja yang dia katakan. Kecantikan Baroness ini benar-benar berbahaya. Pikir Abela.


"Saya memberi saran begitu karena saya pikir hal itu adalah yang terbaik," ucap Abela, entah mengapa masih merasa canggung.

__ADS_1


"Saya tahu, tentu saja, saya setuju," ucap Calix lagi.


Senyum Calix tiba-tiba menghilang, dia menatap wajah Abela yang pucat. Bibir wanita itu kering dan berwarna putih.


"Tetap saja, seharusnya anda tidak ikut dalam ekspedisi lagi," gumam Calix pelan. Hampir tidak terdengar.


"Anda benar, orang yang lemah seperti saya. Hanya mengganggu saja," jawab Abela.


"Tidak bukan itu maksud saya," ucap Calix sedikit gugup.


"Tidak apa-apa Duke, saya menerima opini itu," kata Abela lagi.


Abela tentu saja tahu, yang dimaksud Calix bukan seperti itu. Tapi tetap saja, dia tidak ingin mengakuinya. Dia harus membuat percakapan ini tidak sampai kesana. Ke arah yang mungkin Calix harapkan.


Tapi seperti Abela yang cepat memahami situasi. Calix juga sadar dengan apa yang dilakukan Abela. wanita itu jelas membuat batas diantara mereka. Dan menyampaikan secara tidak langsung jika batas itu tidak mungkin bisa dilewati.


"Saya selalu berharap, anda tidak mengerti apa yang saya pikirkan," gumam Calix pelan.


"Saya memang tidak mengerti," jawab Abela. Mata mereka bertemu lagi. Abela bisa melihat ada sedikit rona merah terlukis di wajah Calix. Atau tenggorokannya yang bergerak saat menelan ludahnya sendiri.


"Madam .... Saya ...." Calix berkata lambat dan Abela tidak ingin mendengar apa selanjutnya yang ingin pria itu katakan padanya.


Tapi Calix sepertinya sudah yakin dengan apa yang ingin dia sampaikan. Bisa Abela lihat dari pancaran matanya.


"Saya harap, Tuan Duke tidak meneruskannya," ucap Abela memotong perkataan Calix.


Dia tidak ingin mendengar hal itu. Abela tidak ingin mendengar lebih jauh. Karena jika dia mendengarnya, maka sulit untuknya mendekati Calix lagi.


Calix akan sangat berguna baginya untuk mencapai tujuan. Kekuatan sihir dan mana dalam jumlah besar yang dia turunkan pada Calix. Akan mampu membantu Armand untuk menghancurkan tubuh aslinya.


"Seperti yang saya duga, anda mengerti isi kepala saya," gumam Calix.


Abela memaksakan senyumnya. Dia ingin percakapan ini segera selesai. Tapi dia tidak memiliki alasan cukup kuat untuk membuat Calix pergi. Di saat seperti ini Abela berharap Armand datang tiba-tiba.


Dan mungkin doa Abela dikabulkan saat itu juga. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dan pelayan memberitahu Abela siapa yang datang.


"Count Armano ada di depan pintu," ucap pelayan itu sedikit gugup.


"Bastian? Suruh dia masuk," perintah Abela pada pelayannya.


Bastian memasuki kamar Abela dna memberi hormat pada Calix.

__ADS_1


"Saya tidak tahu kalau yang mulia ada disini," ucap Bastian sopan.


"Saya dengar Raja memberimu gelar. Jadi sekarang alih-alih memanggil anda tuan muda, saya harus terbiasa memanggil anda Count." Calix menjawab sapaan Bastian.


"Ansa boleh memanggil saya apa saja yang mulia," jawab Bastian.


Pandangan Bastian beralih pada Abela. Kemarin malam, dia tidak fokus pada wajah Abela. Yang dia lakukan hanya waspada pada apa yang mungkin akan dilakukan Orlando pada Abela atau sebaliknya.


"Ibu terlihat lebih pucat. Apa ibu tidak cukup makan?" tanya Bastian, sedikit membuat Abela terkejut dengan panggilan ibu itu.


"Semua makanan yang aku makan terasa hambar. Mungkin karena tubuhku sedang tidak baik-baik saja." Abela berusaha terlihat biasa saat menjawab Bastian. Bagaimanapun anak itu sudah berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada Calix tentang hubungan mereka.


"Ibu ingin makan sesuatu yang manis? Aku akan menyiapkannya kalau ibu mau," tawar Bastian.


"Baiklah, bawakan aku jika lain kali kau berkunjung lagi," ucap Abela, senyum sedih tersungging di wajah pucat nya.


Abela tahu yang dikatakan Bastian hanya pura-pura saja. Mungkin itu yang membuatnya sedikit sedih. Bagaimana pun bicara dengan anak itu sangat menyenangkan.


"Saya bisa membawakannya untuk Madam," kata Calix tiba-tiba.


Abela menaikan sebelah alisnya, menatap Calix yang wajahnya sudah merona lagi. Rupanya dia tidak sadar sudah mengatakan hal itu. Apa yamg mendorongnya mengatakan sesuatu yang memalukan itu? Seperti berebut perhatian Abela.


Abela tertawa pelan melihat ekspresi kikuk Calix. Tawanya terhenti saat melihat Bastian menatap Calix tajam.


"Yang mulia tidak perlu repot-repot melakukan itu," ucap Bastian dengan sudut bibir yang berkedut. Jelas terlihat kesal.


"Tidak Count, hari ini saya bahkan tidak membawa apa-apa, saya terlalu khawatir dan ingin cepat melihat keadaan madam," balas Calix.


Mereka terlihat sangat kekanakan di mata Abela. Abela memutar matanya. Yang satu adalah keturunannya berusia hampir tiga puluh tahu. Yang satu adalah anak 'kekasihnya' yang masih berusia enam belas tahun.


Abela menahan senyumnya, dia menatap wajah kesal Bastian. Beralih ke wajah terganggu Calix.


"Duke Estonia ...." panggil Abela lirih.


"Ya Madam?" tanya Calix, sedikit terlalu bersemangat. Membuat dia dengan canggung membuat suara batuk kecil.


"Saya harap, anda tidak keberatan meninggalkan saya dan anak saya, saya ingin menyampaikan sesuatu padanya," ucap Abela.


"Anak madam?" gumam Calix dengan bibir yang rapat.


Abela masih mempertahankan senyumnya.

__ADS_1


"Ya ... Anak saya, Bastian."


...----------------...


__ADS_2