Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Yang Armand Pikirkan


__ADS_3

.


Abela menatap Armand dengan tatapan bingung. Dia bertanya dengan matanya. Apa yang Armand tanyakan tadi? Abela mengerutkan dahinya saat melihat wajah Armand yang datar, tidak menunjukkan emosi apapun.


"Apa arti pertanyaan mu?" tanya Abela, rona merah sudah sedikit terlihat diatas wajahnya yang pucat pasi.


"Kenapa? Apa itu pertanyaan yang sulit untuk dijawab?" tanya Armand.


"Itu hanya sedikit ... Tidak terduga," jawab Abela, memalingkan wajahnya.


"Aku tidak berpikir tentang itu sekarang, aku tidak sekejam itu melakukannya dengan orang sakit," ucap Armand datar.


"Aku juga tidak berpikir apa-apa." Abela menjawab dengan nada kesal.


"Aku tidak sedang merayu mu," ucap Armand lagi.


Wajah Abela memerah lagi, bukan karena merasa malu seperti tadi. Tapi karena merasa marah. Kenapa dengan laki-laki ini. Dia sangat menyebalkan.


"Terserah saja," ucap Abela sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


"Aku hanya penasaran," jawab Armand, senyum terbit di wajah datarnya.


"Aku penasaran dengan apa yang kau. Arabela. Pikirkan." Armand menekan kata-katanya.


"Entahlah ...." Abela menggantung kalimatnya. Dia mengigit bibir bawahnya. Masih tidak bisa memikirkan jawaban yang tepat.


Tidak, dia tahu jawabannya. Abela hanya tidak siap mengakuinya. Abela ragu apa dengan tanggapan Armand jika dia mengatakannya sekarang. Abela tertunduk menatap lantai di bawah kakinya. Seharusnya dia pura-pura tidur saja tadi.


"Baiklah, tidak usah dijawab kalau begitu," ucap Armand.


Cukup lama mereka berdua terdiam. Armand masih menatap lurus ke arah jendela. Sedang Abela masih belum mengangkat kepalanya. Abela melirik Armand dengan sudut matanya. Rambut basah Armand meneteskan air ke sisi wajahnya yang terlihat lebih tirus. Membasahi jubah tidurnya yang terbuat dari sutra.


Entah sadar atau tidak, tangan Abela terangkat mengusap tetes air itu sebelum jatuh ke pundak Armand. Menyentuh pipi Armand dengan ujung-ujung jari.

__ADS_1


Armand sedikit terkejut dengan sentuhan tidak terduga itu. Dia menolehkan wajahnya perlahan. Menatap Abela yang belum memindahkan jarinya sama sekali.


"Kau ... Harus segera tidur ...." kata Armand pelan.


Abela menarik tangannya membuat Armand merasa sedikit kecewa. Lalu menunduk lagi menatap lantai. Abela mengerutkan keningnya. Merasa aneh pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa melakukan hal itu tadi. Dia tidak seharusnya berpikir macam-macam sekarang ini. Ada hal yang lebih penting. Abela menarik napas pelan dan menatap Armand yang masih menatapnya.


"Aku akan mencoba tidur," gumam Abela. Membaringkan diri dan bersembunyi di balik selimut.


Armand tidak melepaskan matanya dari pergerakan Abela. Kening Abela masih berkerut walau matanya terpejam. Armand masih bisa merasakan jantungnya berdebar lebih cepat saat melihat wajah itu. Bagaimanapun itu adalah wajah orang yang dia cintai.


Armand sudah tidak marah lagi pada Abela sebenarnya, dia tidak lagi menyalahkan wanita itu untuk kesalahan yang dia perbuat sendiri. Armand menyesal telah melampiaskan frustasinya pada Abela. Seharusnya dia lebih bisa berpikir jernih. Dia tidak akan heran jika Abela membencinya sekarang.


Armand ikut berbaring juga di sebelah Abela. Memejamkan mata dan menghitung dalam hati. Bersiap jika mungkin Abela mengusirnya dari tempat tidur. Armand membuka matanya menoleh pada Abela saat lama tidak mendengar apapun.


Bibir Abela yang kering terlihat lebih jelas di jarak yang dekat itu. Wajahnya masih sangat pucat pasi. Rambut emasnya terhampar di kain linen putih. Abela masih membuka matanya. Tatapannya memenjara tatapan Armand.


Armand menelan ludahnya. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ada dorongan kuat untuk lebih mendekatkan dirinya pada Abela. Armand masih berusaha menahan diri. Hingga tanpa sadar tangannya terangkat membelai rambut Abela. Helaian emas itu terasa lembut di telapak tangannya yang kasar.


"Apa dia benar-benar telah tiada?" tanya Armand lebih pada dirinya sendiri. Armand tersenyum miris. Armand tahu, dia tidak seharusnya menanyakan hal itu. Saat ini pandangan Abela terlihat sedikit sendu.


"Kau akan tahu kalau aku sudah meninggalkan dunia ini lagi," jawab Abela pelan, Abela tidak ingin memberi harapan kosong.


"Jika dia tidak kembali, itu berarti aku akan kehilangan kalian berdua?" Armand membalas tanpa memutus tatapan mata mereka.


"Kau berkata seolah tidak mau aku pergi," ucap Abela sambil tersenyum tipis.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku bilang iya?" Pertanyaan Armand membuat Abela kehilangan senyumnya.


Abela terdiam, masih mencari tahu seberapa tulus perkataan Armand tadi. Mata Armand tidak bergetar sedikitpun saat dia mengatakan hal itu tadi. Membuat Abela berharap semua yang Armand katakan benar.


"Apa kau akan sedih jika aku pergi?" tanya Abela hampir berbisik.


"Sampai hari ini, aku selalu menyesal karena telah membunuhmu." Armand menjawab dengan tenang.

__ADS_1


"Dan apa artinya itu? Karena kepergian ku menimbulkan banyak kekacauan?" Abela tertawa ringan. Teringat apa saja yang Armand ceritakan padanya karena kepergiannya.


"Kau benar ...." Armand juga ikut tertawa pelan. Membuat Abela terpaku. Tawa ringan Armand memenuhi telinganya. Tawa yang entah kenapa selalu Abela tunggu akhir-akhir ini.


Armand menghentikan tawanya perlahan. Tangannya masih memainkan anak rambut Abela. Terkadang ujung jarinya menggelitik kulit wajahnya.


"Rambutmu yang berwarna merah. Terlihat sesuai dengan panggilanmu sebagai penyihir jahat." Armand terdiam sebentar setelah mengatakan itu. Seperti memikirkan sesuatu.


"Saat pedangku menembus dadamu saat itu. Air mata mengalir di matamu yang biru, tapi bibir pucat mu tersenyum." Armand terdiam sebentar. "Saat itu, kau terlihat bahagia ...." lanjutnya lirih.


Abela masih terpaku pada wajah Armand yang terlihat teduh. Jika Abela bisa, dia ingin menyelami pikiran Armand. Apa yang pria itu pikirkan? Apa yang sekarang sedang dia lihat? Wajah kekasihnya yang sudah tiada? Atau dia yang ada di dalam tubuh ini?


"Aku memang bahagia saat itu," jawab Abela parau.


Abela tersenyum miris, apa kesalahannya seburuk itu hingga membuat Dewa tidak mengizinkannya tertidur tenang di alam sana? Apa dia hidup untuk merasa kehilangan sekali lagi? Atau kali ini saat dia pergi, apakah akan ada orang yang menangis untuknya?


"Sebelum kau memberitahu ku. Tentang kebenaran ini. Kau juga terlihat bahagia." Armand berkata lagi. Dia hanya ingin mengatakan apa yang ada di kepalanya. Dia tidak ingin menahannya lagi. Untuk kali ini saja.


"Kau benar, Armand. Ada kalanya aku menyesal memberitahumu. Aku hanya tidak ingin bersikap egois." Abela menjawab dengan nada tenang. Walau di dalam kepalanya setiap kenangan dan kekhawatiran bertumpuk.


"Kau? Egois?" tanya Armand pelan.


"Ya ... Aku tidak ingin menipu diriku sendiri. Semua yang kau dan orang-orang itu berikan. Adalah untuk Abela Isla. Bukan untukku." Tatapan Abela meredup lagi. Dia ingin memutuskan tatapannya dari tatapan Armand. Tapi di sisi lain, dia takut tidak bisa menatap Armand seperti ini lagi nanti.


"Apa itu berat? Menjadi orang lain?" tanya Armand, suaranya terdengar lebih parau.


"Entahlah ... tidak sulit sebenarnya. Ini hanya tentang isi kepala ku saja," jawab Abela seraya menyunggingkan senyum miris.


"Ada apa di dalam sini?" Armand mengelus kepala lembut. Elusannya membuat Abela mengantuk. Matanya terlalu berat untuk dipaksa bertahan untuk tidak terlelap.


"Banyak ... terasa siap meledak kapan saja ...." ucap Abela lirih. Matanya sudah setengah tertutup.


Abela tidak menahannya lagi. Perlahan dia memejamkan mata dan merasa nyaman. Lalu pandangan gelap. Dia masih merasakan tangan Armand di kepalanya. Atau bibir Armand yang menempel di bibirnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2