
.
Abela menatap rintik hujan yang membasahi jendela kereta kuda yang membawanya dan duke kembali dari istana.
"Hari ini, kamu ingin ke kediamanku? Sudah lama kamu tidak datang." Armand memecah kesunyian diantara mereka.
"Jika kau berkata begitu, maka bukan salahku jika aku berasumsi kalau hubungan kita tidak terlalu baik sebelum penyerangan ini terjadi." Kata-kata Abela menusuk sekali. Tidak bisa disanggah oleh Armand.
"Kurasa apa yang dikatakan putri dari wilhemn itu benar. Hubungan kita menjadi dingin. Jadi, benarkah kalian akan menikah?" tanya Abela lagi dengan nada dingin.
"Jika ada pernikahan di kediaman Duke. Itu berarti hanya satu pernikahan, antara aku dan dirimu. Aku tidak berniat menikah dengan orang lain," jawab Armand lebih tegas.
"Kurasa putri itu sangat yakin kamu akan menikahi nya," ucap Abela tidak mau kalah.
"Sudah ku bilang untuk tidak terlalu memikirkan apa yang dia katakan." Armand memijat pangkal hidungnya.
"Baiklah, kita ke kediamanmu," kata Abela sambil memalingkan wajahnya. Tidak ingin berdebat dengan Armand, untuk apa juga. Armand sudah akan membuka mulutnya tapi memilih menarik kata-kata yang sudah akan dia katakan. Dan mengintruksikan kusirnya untuk menuju Duchy (kediaman Duke).
Abela sedikit kagum dengan kenyataan bahwa orang-orang Armand menyambutnya dengan sangat hangat. Mungkin ratu benar, jika mereka sudah siap menerimanya sebagai tuan mereka.
"Ada yang harus aku kerjakan di ruang kerja, kamu ingin beristirahat lebih dulu di kamar kita?" Armand mengatakannya dengan senyum miring, yang bukan hanya membuat Abela merinding tapi membuat semua pelayan yang mendengarkan tersipu.
"Aku akan ikut ke ruang kerjamu saja kalau begitu," ucap Abela -yang entah perasaannya saja atau tidak- membuat para pelayan kecewa.
"Baiklah," Armand tersenyum sebelum mengajak Abela ke ruang kerjanya.
"Pekerjaanmu sepertinya sangat banyak," ucap Abela saat melihat banyak perkamen di atas meja Armand.
"Itu bisa menunggu nanti kalau kau tidak bisa menunggu," ucap Armand sambil melingkarkan tangannya di pinggang Abela. Memeluknya dari belakang. Melepaskannya saat merasakan ketegangan dari tubuh Abela.
"Baiklah, aku akan menyimpan tanganku untuk kali ini," ujar Armand mengangkat tangannya.
"Aku ingin tahu tentang penyihir, setelah penyihir tiada. Bukan urusanku sebenarnya, ini hanya karena ingatanku hilang. Dan ratu terus mengatakannya berulang, membuatku penasaran." Abela dengan santai duduk di kursi kerja Armand. Armand hanya memperhatikannya dalam diam. Abela dulu tidak pernah duduk di situ. Tidak, lebih tepatnya dia tidak pernah berada di ruangan ini.
__ADS_1
Armand mengitari meja untuk duduk di tepinya, dekat dengan Abela. Dia menatap wajah wanita yang dia kasihi itu dengan lekat. Entah harus bersyukur atau merasa sedih karena ingatannya hilang.
"Seperti yang kau tahu, aku membunuh penyihir itu dua tahun yang lalu. Saat itu aku kira menghabisinya bisa menyelesaikan masalah. Kau tahu, dia selalu berbuat onar." Armand tertawa, seperti mengenang teman lama.
"Tapi ternyata hal itu menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Banyak orang memperebutkan kastil penyihir itu. Dari orang biasa hingga beberapa penyihir dari seluruh kontingen. Beberapa monster hilang kendali. Dan bencana alam yang dulu tidak pernah ada terjadi. Atau penyakit yang tiba-tiba menyebar."
"Itu karena penyihir itu menghilang?" tanya Abela menaikan sebelah alisnya.
Aneh, dia tidak pernah melakukan apapun untuk mencegah bencana atau penyakit datang. Tidak ada yang seperti itu. Untuk monster Abela akui, dia memang yang menjinakkan mereka. Dan mereka hanya akan menyerang jika dia memerintahkannya. Itu pun jika dia ingin ada orang yang bisa mengalahkannya dulu. Saat dia merasa bosan hidup di dunia ini.
"Beberapa meyakini itu, saat penyihir itu hidup, tidak ada yang berani mendekat pada kastilnya. Banyak orang yang mencoba mengambil apa saja dari sana. Beberapa diantaranya menyebarkan penyakit," jelas Armand panjang lebar.
Abela menatap Armand penasaran, lalu dia tidak bisa menahannya lagi.
"Kau tidak pergi kesana untuk mencari sesuatu juga kan?" tanya Abela.
Armand menghindari tatapan mata Abela, dia menghela napas sebelum menjawab, "kita sudah pernah berdebat tentang ini, jadi ayo tidak memperdebatkannya lagi. Itu terjadi satu tahun lalu. Aku hanya ingin mencari informasi tentang penyihir itu."
"Jadi apa yang kamu temukan?" Abela bertanya lagi.
"Tidak ada apapun, kecuali ...." Armand menggantung kalimatnya.
"Kecuali?"
"Sebuah catatan," Armand menjawab agak enggan.
"Catatan?"
"Ya, berisi kisah romansa penyihir itu." Jawaban Armand membuat Abela terkejut. Dia ingat pernah menulisnya hanya untuk menghibur diri dulu. Tidak pernah diduga jika catatan itu diketahui keberadaannya oleh orang yang telah menghabisinya.
"Aku tidak tahu jika kau tertarik dengan hal seperti itu." Wajah merah Abela berubah menjadi wajah skeptis.
"Haha ... itu cukup menarik, kalau kamu ingin membacanya juga aku akan meminjamkannya padamu," ucap Armand dengan nada jahil.
__ADS_1
"Tidak, terima kasih."
Abela akan beranjak dari kursinya saat tangan Armand menghalanginya.
"Kau yakin tidak tertarik dengan kisah cinta orang yang hidup ribuan tahun?" tanya Armand hanya untuk menjahilinya dan melihat wajah kikuk Abela. Tapi sayangnya Abela malah berwajah sedih dan menatap Armand sendu.
"Jadi bagimu menyenangkan membayangkan seseorang menyaksikan orang-orang yang dia kasihi pergi satu persatu meninggalkannya di dunia ini?"
Armand melebarkan matanya mendengar kalimat Abela. Benar juga, kehilangan satu orang saja sudah cukup menyedihkan. Armand menegakkan lagi tubuhnya.
"Kau benar Abela, tidak ada yang lebih menyedihkan dari itu. Maafkan aku."
"Satu hal lagi? Bagaimana dengan kastil penyihir? Kau belum menghancurkannya?" tanya Abela mengabaikan kalimat Armand.
"Bukan belum, lebih tepatnya tidak bisa. Kastil itu di luar wilayah teritorial kerajaan Rhodes." Armand dengan tenang menjawab pertanyaan Abela. Dia menatap wajah Abela yang terlihat berpikir keras. Sebelum mengulurkan tangannya dan mengelus sebelah pipi Abela.
"Kau tidak pernah bersemangat seperti ini saat membicarakan penyihir itu dulu." Armand berkata pelan. "Seingat ku, kau sangat membencinya," kata Armand lagi.
"Karena dia membunuh mendiang suamiku? Entahlah, barangkali karena aku tidak mengingatnya."
"Jadi ... Apa perasaanmu lebih ringan karena kehilangan ingatan itu?" Pertanyaan Armand tentu saja tidak bisa dijawab oleh Abela. Tapi jika memang dia harus terlahir kembali. Dia memilih tidak mengingat apapun tentang kehidupan lampau nya.
"Aku tidak tahu, bagaimana aku tahu ...." Abela mengakhiri kalimatnya dengan lirih.
"Apa yang aku bicarakan. Pembicaraanku melenceng dari apa yang ingin kamu tahu kan?" Armand masih mengelus pipinya lembut, selembut nada suaranya. "Saat penyihir tiada, banyak orang yang mengklaim dirinya paling kuat. Semakin banyak pertumpahan darah. Seluruh kontingen yang bersatu untuk menaklukkan penyihir menjadi saling menusuk dari belakang. Tidak ada yang bisa menghentikan keserakahan mereka lagi."
Armand masih menatap lekat wajah Abela, "Semua bencana dan penyakit yang mereka sebar untuk mengalahkan sekutu mereka. Terkadang kami semua yang masih berpikir waras selalu menyesali ketiadaan penyihir itu. Tapi ... bukan berarti semua lebih baik saat ada dia." Armand tertawa kering di akhir kalimatnya. Masih takut membuat Abela tersinggung.
"Itu yang di katakan ratu padaku. Tapi kau tahu Armand. Terimakasih. Sudah mencoba membunuhnya. Dan tidak pernah menyerah." Abela tulus mengatakan itu. Tidak, Ghotel dengan tulus mengatakan itu, baginya Armand adalah lawan yang tangguh. Yang memberinya harapan besar untuk mengakhiri hidupnya.
Abela menurunkan tangan Armand di pipinya, saat Armand masih terpaku pada kata-kata Abela tadi. Abela berdiri dan menepuk dada Armand dua kali sebelum melangkah keluar ruangan itu. Meninggalkan Armand yang tersenyum kecil dengan wajah yang memerah.
...****************...
__ADS_1