
.
Abela mengendarai kudanya pelan di belakang Armand. Menuruni bebukitan yang hijau. Kumpulan bunga aster warna kuning menarik perhatian Abela. Abela tidak yakin kenapa mereka harus berjalan pelan seperti ini.
Abela melirik Armand yang masih terlihat tenang di atas pelana kudanya. Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh prajurit Armand yang sedikit tegang.
Setelah menuruni bukit terakhir, jalan setapak bebatuan yang di sekitarnya tampak lebih gersang dan kosong. Menuju sebuah gerbang dengan benteng yang cukup suram. Abela menatap menara yang mengapit pintu gerbang besar yang terbuat dari timah.
"Jendral dan pasukan hitam kerajaan Rhodes telah datang atas perintah Raja !" seru seseorang yang Armand panggil kapten. Kudanya lah yang paling dekat dengan gerbang besar.
Tak lama kemudian, bunyi rantai besi yang berdenting satu sama lain. Dan suara derik besi yang bergeser, sedikit memekakkan telinga. Abela menutup matanya saat bunyi dentum yang di hasilkan gerbang yang dibuka cukup kasar terdengar mengerikan.
Abela melirik Armand lagi saat matanya sudah terbuka. Rupanya mereka tidak disambut baik oleh orang-orang timur ini. Anehnya, seringai Armand yang dilihat Abela lebih menyeramkan dari situasi yang mungkin terjadi.
Armand mengintruksikan agar kaptennya memimpin prajuritnya masuk dengan sedikit gerakan kepala. Sedang dia dengan santai menjalankan kembali kudanya. Abela bisa merasakan tatapan dingin orang-orang yang di wilayah teritorial ini.
Tidak ada hal apapun yang menghadang rombongan prajurit dari istana itu, mereka dengan lancar mendekati sebuah kastil yang lebih terlihat segar di banding gerbang depan tadi. Meski kastil itu terlihat sangat tua, tapi perawatan yang di lakukan membuatnya cukup untuk di sebut mewah.
Abela terdiam saat melihat kastil itu lagi. Tidak pernah dia bayangkan dia akan kembali ke kastil pertama yang dia bangun. Apakah keturunan-keturunannya masih menjadi pemilik kastil ini?
Abela turun setelah Armand turun dari kudanya. Berjalan beberapa langkah di belakang Armand. Seorang pria berambut perak menyambut mereka. Dari pakaian yang dia kenakan jelas bahwa pria itu memiliki kedudukan tinggi di teritori ini. Pria itu menunduk memberi penghormatan pada Armand.
"Kami menyambut yang mulia Duke Armand de Rhodes, jendral pasukan prajurit hitam kerajaan ini. Di kediaman kami yang sederhana," ucap pria itu panjang. Seringai Armand tampaknya menunjukan sikap puas yang tidak biasa.
"Terimakasih Duke Estonia," jawab Armand singkat.
"Anda bisa memanggil saya Calix yang Mulia."
"Anda mungkin memang mantan murid saya. Tapi bukan berarti saya bisa tidak mengikuti aturan yang ada. Gelar kita sama, bukankah itu berarti kita setara." Armand mengatakannya dengan nada dominasi. Tidak terdengar dia sedang bertemu dengan mantan muridnya yang mungkin membuat dia bangga karena telah mengambil alih gelar ayahnya.
Calix Estonia mengangkat kepalanya dan menjulurkan tangan untuk berjabat tangan, yang segera Armand sambut. Di sepersekian detik yang aneh, Abela terpesona dengan warna mata calix, mata birunya yang senada dengan langit musim semi. Abela mematung mengingat masa lalu. Lalu diam-diam tersenyum, matanya melembut menatap Calix. Dia yakin pria ini adalah cucu dari cucunya dari cucunya. Abela tertawa geli memikirkan berapa generasi yang sudah dia lewati.
Yang tidak Abela sadari, tawa yang dia tahan ternyata terdengar di suasana yang sepi itu. Semua orang menatapnya penasaran. Sebagian tidak menyembunyikan rasa ingin tahunya. Sebagian merasa tersinggung. Abela melihat sebelah alis Armand yang naik. Jelas bertanya apa yang terjadi padanya. Sedang Abela hanya mengulas senyum tipis saja. Dia ingin Armand mengendalikan keadaan untuknya.
"Maafkan saya, dia hanya sedang meminta perhatian dari saya. Saya harap anda tidak tersinggung, Duke." Armand mengulas senyum diplomatiknya. Membuat Calix tidak memiliki pilihan lain selain membalas senyuman itu.
"Tentu saja Yang Mulia, saya tahu anda pria romantis. Sungguh mengejutkan anda membawa kekasih anda jauh-jauh ke timur. Kami bahkan tidak memiliki banyak hal untuk di lihat."
Armand bukan tidak mengerti kalimat sarkastik yang di ucapkan oleh Calix. Dia juga pasti akan menganggap hal ini -mengajak wanita saat bertugas- menyebalkan.
"Anda ingin saya menyiapkan kamar terpisah untuk madam?" tanya Calix sopan.
"Tidak perlu, kami biasa tinggal dalam satu kamar. Anda tidak perlu khawatir," jawab Armand tidak kalah menyebalkan.
__ADS_1
"Tentu saja yang mulia, anda bisa memberitahu pegawai saya jika anda membutuhkan sesuatu." Calix masih berusaha mempertahankan wajah diplomatiknya.
Armand menoleh memberikan atensinya pada Abela yang tidak berhenti menatap Duke Estonia sejak tadi. Tentu saja Armand menyadari itu. Armand cukup menatapnya lama sampai Abela menyadarinya dan mendekat padanya. Dia memberi salam pada Tuan rumah dan menggandeng tangan Armand. Tidak punya pilihan lain selain terlihat sangat menempel dengan jendral ini.
Butler menunjukan kamar mereka dengan sopan dan memberi undangan makan siang bersama tuannya sebelum pamit. Setelah pintu tertutup, Abela menarik tangannya dari gandengan Armand dan membuka pakaiannya dengan kasual.
"Apa itu tadi? Aku baru tahu kalau kau tertarik dengan pria yang lebih muda?" tanya Armand, matanya tidak lepas dari badan telanjang Abela yang memunggunginya.
Abela tidak menjawab, dia sibuk berganti pakaian berkudanya dengan gaun sederhana yang dia bawa. Dia tampak terbiasa memakaikan layer demi layer pakaiannya tanpa bantuan orang lain. Saat memakai korset nya. Dia berbalik berjalan mendekat pada Armand. Membelakangi Armand dan menyibak rambut panjangnya, memperlihatkan tengkuknya yang sedikit memerah.
Armand agak sedikit membatu sebelum mengencangkan korset Abela, pelan sekali khawatir menarik terlalu kuat.
"Apa yang kau lakukan? Tenaga mu tidak ada apa-apanya dibanding para pelayan yang ada di rumah ku atau di rumahmu." Abela mengkritik kehati-hatian Armand.
"Begitukah? Berani sekali mereka semua menyakitimu," balas Armand datar.
"Baiklah ini cukup kencang, setidaknya cukup manahan dadaku." Abela kembali berjalan menjauhi Armand dan menyelesaikan berganti pakaian lalu berdandan dan menghias rambutnya sendirian.
"Kau ingin aku menyisir rambutmu juga?" tanya Armand dengan nada serius.
"Tidak perlu," Abela memutar matanya. Entah kenapa menganggap nada bicara Armand menyebalkan.
"Beberapa hari yang lalu, wajahmu akan memerah dan berubah jadi kikuk saat aku mendekati mu. Sekarang kau bahkan sudah berani melepas pakaian mu dan menyuruhku mengencangkan korset mu." Armand terduduk di tepi ranjang dan menyilangkan kakinya. "Apa yang membuatmu bersemangat hari ini?" tanya Armand lagi.
"Apa saja asal tidak berhubungan dengan Duke Estonia," jawab Armand jelas terdengar kesal.
"Kenapa jangan, dia terlihat tampan." Abela menyeringai di akhir kalimatnya. Dibalas tatapan tajam Armand yang dia lihat dari cermin di depannya. Lalu Abela tertawa.
"Aku tidak tertarik dengan pria muda dan lebih lemah darimu. Aku berkata jika dia tampan, karena dia memang tampan."
"Aku tidak tahu harus merasa bagaimana dengan jawaban itu. Aku bahkan belum tahu kenapa kau ingin ikut kemari." Armand memalingkan wajahnya. Jika bukan karena ternyata rumahnya pun bukan tempat yang aman bagi Abela, dia pasti akan mengurungnya di Duchy (kediaman duke).
"Jadi dia muridmu dulu? Kenapa hubungan kalian terlihat dingin?" Abela cukup penasaran dengan sikap orang-orang disini terhadap Armand dan pasukannya.
"Itu karena aku membunuh penyihir, orang-orang disini percaya bahwa Duke Estonia adalah keturunan penyihir itu," jawab Armand, matanya masih menatap keluar jendela.
Abela menatap Armand lewat cerminnya. Armand memang benar, kenyataan bahwa dia pernah jadi pemilik kastil ini. Tapi sejak dia meninggalkannya ribuan tahun lalu, dia tidak pernah mengklaim haknya atas tanah ini lagi.
"Apa kau tahu, Raja pertama kita sangat berhutang budi pada penyihir, itu yang membuat Duke Estonia di berikan gelar Duke walau bukan keturunan kerajaan. Itu adalah sejarah yang tidak bisa dilupakan. Aku yang membunuh leluhur mereka. Jadi wajar jika mereka membenciku." Armand menjelaskan dengan pelan.
"Bukan salahmu jika mereka lemah, seharusnya mereka yang membunuh leluhur mereka ratusan tahun lalu. Mereka cukup bisa untuk melakukannya sebelum keadaan menjadi lebih buruk."
"Abela ... Tidak semudah itu." Armand menghempaskan badannya ke atas tempat tidur, entah kenapa dia merasa gelisah. Firasatnya sesuatu yang buruk akan terjadi.
__ADS_1
"Jangan bicarakan penyihir di depan mereka. Atau mereka tidak segan untuk menebas mu." Armand bergumam cukup jelas.
Abela akhirnya berbalik , menatap wajah Armand yang sedang menutup mata. Apa yang terjadi kalau dibiarkan dirinya terbunuh disini. Rasanya Armand tidak akan membiarkan satupun orang yang ada disini hidup. Mengingat cintanya pada wanita ini. Pikir Abela. Cinta ya ....
Abela menatap wajahnya di cermin. Tentu saja, wanita ini memang sangat cantik. Wajar jika jendral perang yang berdarah dingin seperti Armand tergila-gila padanya.
"Baiklah, aku akan berhati-hati," jawab Abela patuh.
Armand membuka matanya saat mendengar itu. Sudah lama sekali sejak Abela tidak mendebatnya atau memprovokasinya. Armand terduduk lagi, menatap Abela yang masih bercermin.
"Kau bercermin cukup lama. Apa yang kau perhatikan dari wajahmu sendiri," komentar Armand.
"Kenapa? Aku sedang mengagumi wajah yang kau sukai ini," jawab Abela masih belum berbalik menghadap Armand.
"Kau jadi punya sifat narsistik juga kali ini, kepribadian mu yang berubah dari hari ke hari membuat ku sedikit bingung."
"Aku hanya sudah memutuskan untuk menjalani hidup ini. Sampai akhir. Jadi aku akan menikmati saja semuanya." Abela berkata jujur. Dia sudah terlalu sakit kepala memikirkan apa yang harus dia lakukan. Pada dasarnya dewa pasti menukar kembali jiwanya dengan Abela yang asli jika apa yang harus dia lakukan sudah selesai.
"Kau memutuskan itu setelah bercinta denganku?" komentar Armand membuat Abela terkejut, wajahnya memerah. " Aku tidak tahu kalau kau sangat menikmati itu hingga berpikir lebih positif dari sebelumnya." Armand menyeringai lebar sekali membuat Abela merinding.
"Hentikan itu, itu tidak lucu sama sekali," ucap Abela sedikit salah tingkah.
Armand bangkit dari duduknya dan menghampiri Abela yang dengan refleks memundurkan punggungnya seiring langkah Armand yang semakin mendekat.
"Apa yang kau ...." Abela terdiam saat Armand mengurung tubuhnya dengan ke dua tangannya. Abela dengan gugup melirik tangan Armand.
"Sudah jelas kan, aku hanya ingin melihat wajah yang aku sukai ini," ucap Armand mengulang kata-kata Abela tadi.
Abela tidak bereaksi selain menghindar dari tatapan Armand.
"Abela ...." bisik Armand rendah, membuat Abela menelan ludah. "Eh? Apa yang kau pikirkan?" tanya Armand lagi.
"Bisa kau agak mundur sedikit?" Abela menekan dada Armand dengan sebelah tangannya.
"Kenapa?" tanya Armand masih dengan nada rendah yang seduktif.
"Karena kau terlalu dekat," jawab Abela sederhana.
Armand tidak langsung menjawab , dia semakin menyandarkan badannya yang besar ke arah Abela, sedang kakinya memisahkan kaki abela yang dirapatkan. Abela menelan ludahnya lagi, saat wajah Armand mulai mendekat juga.
"Aku tidak mau ...." bisik Armand di samping wajahnya.
...----------------...
__ADS_1