
.
Armand masih memeluk Abela bahkan saat dia tahu airmata wanita itu membasahi pundaknya. Armand yakin apa yang dia lakukan bukan karena spontanitas atau apapun. Dia sudah memikirkan ribuan kali untuk mengatakan ini dibalik topeng ego nya yang tinggi.
Perlahan Armand memberi jarak diantara mereka. Dia menatap Abela yang menghindari tatapan matanya. Airmata belum berhenti mengalir disudut mata Abela.
Armand menyentuh pipinya perlahan, menunggu penolakan yang mungkin Abela lakukan. Tersenyum tipis saat Abela tidak melakukan apapun untuk menolaknya.
"Bisa kau menyingkir," gumam Abela dengan sudut bibirnya. Armand tertawa sebelum melepas pelukannya.
"Kau menganggap aku lucu?" tanya Abela.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya senang kau kembali pada dirimu." Armand menegakkan badannya dan mengambil sendok dari tangan Abela. Dia beruntung gerakannya tadi tidak menumpahkan sup yang ada di depan Abela.
"Kau tahu kan aku bukan kekasihmu?" tanya Abela saat melihat Armand menyodorkan sendok di depan mulutnya.
"Ya aku tahu ... Kau penyelamat ku, bagaimana kalau kita mulai dengan itu." Armand tidak merasa ragu sedikitpun saat mengatakan itu.
"Dan? Kenapa kalau aku penyelamat mu?" Abela belum membuka mulutnya. Dia belum mengizinkan Armand menyuapinya.
"Tanganku mulai pegal," keluh Armand pelan.
Abela mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin kau Duke Armand de Rhodes?"
"Ya, itu aku."
"Kau berubah lembut setelah melihat ku menangis? Aku tidak tahu kalau kau selemah itu," kata Abela, dia tidak bermaksud sarkastik. Tapi mungkin itulah yang di dengar Armand.
"Aku hanya lemah pada wajah itu," balas Armand tidak mau kalah.
"Tentu saja, aku paham. Kau takut aku merusak tubuh ini?" Abela menatap Armand dengan seringai. Seringai yang cukup lebar dengan jejak air mata di wajahnya.
"Kau sangat mengerti aku," ucap Armand menahan senyumnya.
"Sekarang buka mulutmu," perintah Armand pelan.
"Aku bisa makan sendiri," balas Abela.
"Baiklah," ucap Armand tanpa berdebat lagi. Dia menaruh sendok yang dia pegang tadi ke tempat asalnya.
"Kau bisa kembali ke tempat duduk mu," kata Abela lagi.
"Aku akan tetap disini. Jadi makanlah." Armand menyilangkan tangannya di depan dada.
"Kau akan melihatku makan?" tanya Abela.
"Ya, aku baru saja mengatakannya," jawab Armand sambil menutup mata.
"Apa yang merasuki mu?" tanya Abela sedikit skeptis.
"Tidak ada," jawab Armand singkat.
Abela mendelik Armand sebelum menyendok sup nya. Rasa sup itu terasa hambar, mungkin karena dia menyantapnya dalam kondisi badan yang tidak baik.
Armand tidak bergerak sedikitpun di tempat duduknya. Membuat Abela penasaran apa yang pria itu pikirkan dengan mata terpejam.
"Bagaimana kabar putra mahkota?" tanya Abela akhirnya. Dia hanya merasa ingin banyak bicara.
"Sama seperti mu, dia semakin membaik."
__ADS_1
"Bagaimana dengan Orlando? Kau sudah bicara atau menghiburnya?" tanya Abela penasaran.
"Aku belum bertemu dia lagi, jadi aku tidak tahu jawabannya. Dan ya, aku sudah bicara dengannya sebelum pergi ekspedisi." Armand berkata jujur. Tidak dilebihkan atau dikurangi.
"Dia pasti tidak baik-baik saja," gumam Abela pelan.
"Siapa yang akan baik-baik saja saat kehilangan ibunya," balas Armand. Matanya terbuka lagi untuk melihat sudut bibir Abela yang melengkung ke bawah.
Armand tersenyum tipis, benar yang dia duga. Dia tahu, Abela pasti menyesali apa yang sudah dia katakan pada anak-anaknya.
"Kau tahu ... Sulit memaafkan ku kan?" tanya Armand yang sudah menegakkan punggungnya lagi.
"Kau saat menyeramkan saat itu," gumam Abela, mengingat hari dimana dia memberitahu kebenaran kepada Armand.
"Aku tidak akan membantah itu." Armand menatap lantai di bawah kakinya. Hari itu dia sedang mabuk dan sulit mengontrol emosinya. Terlebih saat dia tahu Abela sudah tiada.
"Aku tidak akan meminta mu mengerti keadaanku," ucap Armand. Matanya masih menatap wajah pucat Abela.
"Tapi aku harap kau mengerti keadaan ku, Armand." Abela mengatakan itu dengan lugas. Membuat Armand merasa berkali-kali lipat merasa bersalah.
"Bisa aku lakukan itu mulai hari ini?" tanya Armand lagi.
"Apa yang membuatmu ingin melakukannya?" Abela menarik napas pendek dan menghembuskannya perlahan.
"Kau. Tentu saja. Karena kau."
"Aku tidak mengerti," Abela mendelik lagi dan mulai menjejalkan sup hambar itu ke dalam mulutnya.
"Itu ... karena ... kau ... Arabela," ucap Armand lambat.
"Kenapa?" Abela masih bingung arah pembicaraan Armand.
"Dua tahun lalu saat seorang wanita jahat sedang merasa kesepian, langit yang cerah pun berubah merah. Tidak ada satupun orang yang berjalan keluar rumah mereka." Armand memulai ceritanya.
"Bukan kah itu aneh? Jika memang wanita itu bermaksud memburu semua orang, untuk apa dia memberi tanda?" Armand menatap tepat ke mata Abela.
"Kenapa menurut mu?" tanya Armand lagi.
Abela terdiam, Armand jelas membicarakan dirinya. Dirinya yang masih menjadi sosok Ghotel. Kenapa saat itu dia selalu menghabiskan manna nya hanya untuk membuat sinyal di langit. Saat langit yang cerah tiba-tiba berubah merah. Itu adalah tanda yang dibuat Abela untuk memberitahu orang-orang bahwa dia akan melepaskan banyak monster. Selain itu tanda itu juga menjadi tanda bagi orang-orang yang mungkin bisa membunuh Abela.
"Apa yang ingin kau dengar?" tanya Abela seraya menaikan alisnya.
"Aku tidak yakin apa yang ingin aku dengar," ucap Armand, senyum tersungging lagi di wajahnya yang tampan.
"Ada satu waktu saat sebuah desa yang terabaikan karena baron pemimpin desa itu korup dan seenaknya. Lalu wanita jahat itu setiap hari meneror desa itu. Sampai saat kami datang kesana, kami jadi tahu apa yang dilakukan baron itu," kata Armand panjang.
Armand menatap raut wajah Abela yang tidak berubah. Dia masih menyuap sup nya dengan wajah datar. Terlihat tidak tertarik.
"Apa kau pikir ... Wanita itu sengaja?" tanya Armand lagi.
"Dan ... Kenapa kalau dia sengaja?" Abela menjawab pertanyaan Armand dengan pertanyaan lainnya. Akhirnya menatap Armand langsung ke matanya. Mata birunya berkilat seperti langit sore.
"Kalau begitu ... Bukankah hal yang wajar kalau diam-diam banyak yang mengaguminya?" balas Armand. Tatapan matanya masih terpaku di mata biru Abela.
"Ya ... Walau hal seperti itu selalu disadari saat orang itu sudah tidak ada," kata Armand lagi, akhirnya mengalihkan tatapannya.
"Kau ingin bilang kalau kau mengagumi ku?"
"Kau benar. Aku harap, aku tidak membunuh mu saat itu. Aku harap aku bisa mengajak mu bicara." Dejavu, Armand pernah mengatakan itu juga.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, hanya mati keinginan ku untuk saat itu." Abela berkata dengan datar. Tidak ada keraguan yang terlihat di bola matanya.
"Kenapa? Jika kau kesepian, kau bisa dengan mudah mendapatkan teman," ucap Armand.
"Kau pikir ... Menyaksikan orang-orang yang berharga pegi meninggalkanmu satu persatu adalah hal yang menyenangkan?" Abela tersenyum miris.
"Itu menyakitkan Armand ...." ucap Abela lirih.
"Kau baru saja mengalaminya, kehilangan kekasihmu. Bayangkan aku mengalaminya berulang kali." Abela tidak lagi bisa menatap Armand.
"Yang lebih buruk dari itu, aku tidak bisa menyalahkan siapa pun. Kesalahan ku lah yang membuatku hidup abadi."
"Kau benar," gumam Armand pelan.
"Ya aku memang bersalah," kata Abela agak kesal.
Haruskah Armand mengatakan dengan seringan itu?
"Bukan. Maksudku kau benar tentang kehilangan itu. Percaya atau tidak bukan pertama kalinya aku kehilangan kekasih." Armand memaksakan senyumnya.
"Kau tidak berharap aku menghibur mu kan?" tanya Abela menaikan satu alisnya.
Armand tertawa mendengar itu. Tawanya terhenti saat melihat senyum Abela.
"Maafkan aku karena tidak pernah mencoba memahami mu," kata Armand tulus.
"Tidak masalah, aku juga tidak terlalu ingin dipahami," balas Abela dengan datar.
"Ayolah jangan begitu, kau membuatku merasa lebih bersalah," Armand memaksakan senyumnya.
"Itu bagus kalau begitu." Abela menyeringai lagi. Cukup nyaman memiliki percakan normal seperti ini.
"Istirahatlah, aku akan menyelesaikan semua hal satu persatu." Armand bangkit dari duduknya dan mengambil mangkuk sup lalu menyodorkan segelas air. Menunggu Abela minum sebelum mengambilnya juga.
"Aktingmu sangat bagus," sindir Abela.
"Kami, para aristokrat sangat pandai melakukannya," ucap Armand.
"Aku percaya itu." Abela tersenyum, dia menyandarkan punggungnya ke bantal yang empuk.
"Apa hal pertama yang akan kau lakukan?" tanya Abela penasaran.
"Calix mendapatkan tangkapan besar, mereka dalam perjalanan pulang. Jadi aku akan ikut mengurus itu," jawab Armand.
Armand terdiam sebentar, memikirkan sesuatu. Lalu sekilas terbayang tatapan yang Calix berikan pada Abela di ekspedisi terakhir.
"Dia pasti langsung menghambur kemari saat dia sampai." Armand terdengar kesal.
"Kenapa?" tanya Abela.
"Kau tidak tahu?" tanya Armand masih dengan nada kesalnya.
"Lebih tepatnya, aku tidak yakin." Abela tersenyum lagi.
"Tidak ada yang bisa menolak wajah ini," gumam Abela pelan.
Armand tidak menjawabnya, dia menyembunyikan ekspresi wajahnya dari Abela. Armand berjalan ke meja makannya dan makan sedikit sebelum merapikan pakaiannya dan bersiap pergi.
"Nyalakan saja loncengnya kalau kau butuh sesuatu," ucap Armand sebelum pergi.
__ADS_1
Abela menatap pintu yang tertutup. Menautkan jarinya di atas selimut. Sayang sekali, aku ingin mengobrol lebih banyak. Abela tersenyum dengan pikirannya. Dia menghela napas mencoba mengontrol hawa panas di wajahnya.
...----------------...