
.
Abela masih sedikit melamun menatap keluar jendela kereta kuda yang membawanya pulang dari istana. Dini hari ini terlihat indah, kota Romano terlihat bersinar oleh lampu-lampu jalanan yang dinyalakan oleh batu sihir.
Beberapa penduduk kota mulai terlihat mendorong gerobak. Atau membuka toko mereka.
"Apa yang menarik perhatianmu?" tanya Armand memecah kesunyian.
Abela mengeratkan jas Armand yang membalut tubuh kecilnya sebelum menjawab, "Aku terpana, tidak melihat satupun anak yang terlantar."
"Kuil mengurus mereka di bawah perlindungan kerajaan. Itu ide putra mahkota. Aku tidak bisa tidak bangga pada anak itu." Armand tersenyum diakhir penjelasannya.
"Dia sangat baik hati," puji Abela tulus.
"Dia mirip dengan ayahnya."
"Itu ... Terlalu riskan." Abela berkomentar tanpa maksud apapun. Tapi membuat senyum Armand hilang.
"Begitukah?" tanya Armand sambil memejamkan matanya lagi.
"Kau dan Raja memiliki ikatan yang kuat. Itu tidak bisa dipungkiri. Ikatan itu membuatmu yang hebat ini mempertaruhkan segalanya demi keamanan raja. Aku kagum, dengan cara orang tua kalian mendidik kalian." Abela tersenyum tipis.
"Tapi tetap saja. Aku baru melihat Bastian satu kali saja ...." Abela sadar jika ucapannya salah. "Katakanlah begitu, karena aku tidak ingat pertemuan sebelumnya," koreksinya.
"Tapi ... Aku merasakan hal lain di dalam dirinya. Bulu kuduk ku meremang melihat senyuman anak itu setelah membunuh seseorang."
"Bastian ... Tidak akan berani mengklaim tahta. Ikatannya dan sepupunya juga sangat baik. Lagipula, dia urutan ke empat setelah aku. Dia harus bisa membunuhku dulu untuk menjadi raja."
"Jika saat itu tiba? Apa yang akan kau lakukan?"
"Abela, apa yang kau khawatirkan tidak akan terjadi." Armand masih memejamkan matanya.
"Armand semua orang tahu apa alasanmu tidak memiliki keturunan dari semua istri bangsawan yang pernah kau nikahi."
"Sudah aku duga, aku tidak suka kau dekat dengan Rewelin." Armand mendengus.
"Aku tidak mendengarnya dari Rewelin. Para pekerja di rumah ku sangat bersemangat setiap menceritakan semua hal yang berhubungan denganmu."
"Apa alasannya?" tanya Armand sedikit menantang.
"Kau tidak ingin penerusmu mendapat dukungan dari bangsawan."
"Jawaban itu kurang tepat." Armand masih belum membuka matanya.
"Aku hanya tidak mencintai mereka," ucap Armand lagi.
"Tidak mencintai bukan berarti tidak tertarik, aku tidak percaya hasrat dan cinta itu sama." Giliran Abela yang bicara dengan mata yang tertutup.
"Jadi apa yang sedang terjadi diantara kita ini?" tanya Armand.
__ADS_1
"Entahlah ...."
Armand membuka matanya untuk melihat ekspresi Abela saat mengatakan itu. Hanya wajah datar dengan mata terpejam yang Armand temukan. Armand tersenyum miring dengan mata yang sendu. Keningnya berkerut saat merasa dadanya sedikit sakit.
Entah kenapa Armand tidak ingin melanjutkan percakapan ini. Armand menyilangkan tangannya di depan dada. Bibirnya rapat saat menelan ludah. Nyatanya Armand harus bisa menerima. Dia dan Abela mungkin sudah berakhir jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. Mereka bisa ada di dalam kereta kuda ini sekarang hanya karena Abela kehilangan ingatannya.
Kereta kuda berhenti tepat di depan rumah Abela, Lui , Hana dan beberapa pelayan berhamburan keluar menyambut nyonyanya. Armand keluar lebih dulu untuk membantu Abela turun.
Abela tersenyum pada Hana dan berjalan ke arah pintu. Lalu dia merasa ada sesuatu yang aneh, tidak biasa. Abela menoleh ke belakang. Menatap Armand yang masih berdiri di dekat kereta kuda.
"Kau tidak masuk?" tanya Abela.
"Kau ingin aku masuk?" Armand menjawab dengan pertanyaan, senyum tipis tersungging di wajahnya yang terlihat lelah.
"Tidak apa-apa jika kau ingin pulang. Terserah saja," jawab Abela acuh. Dia melepas pandangannya dari Armand dan berbalik siap memasuki rumah bersama beberapa pelayan wanita yang terbungkuk kaku pada Armand.
"Anda ingin saya menyiapkan kamar?" tanya Lui.
"Tidak. Aku pulang saja." Armand tersenyum pada Lui yang masih membungkuk. "Hari ini, nyonyamu menyakiti hati ku lagi. Kau tahu itu, Lui?"
"Nyonya hanya sedang tidak dalam kondisi yang baik. Harap Yang Mulia memakluminya." Lui berhasil menjawab dengan tenang di balik wajah terkejutnya tadi.
"Ya. Aku tahu," gumam Armand sebelum naik ke kereta kudanya lagi. Meninggalkan rumah Abela.
.
.
Menurut prajurit yang berjaga, Armand memang sempat melempar beberapa barang. Tapi hanya itu saja. Tony menarik napasnya sebelum masuk bersama dengan beberapa pelayan pria. Dia melihat Armand tertidur di kursi. Beberapa muntahan dan pecahan kaca berceceran di karpet permadani.
Tony memerintahkan pelayan memindahkan Armand ke tempat tidur. Tapi mereka tidak berhasil melakukannya, karena Armand sudah membuka mata.
"Apa yang mulia baik-baik saja?" tanya Toni khawatir.
"Ah ... Aku minum terlalu banyak," jawab Armand. Dia menekan keningnya dengan jari telunjuknya.
"Kepala ku seperti akan hancur," kata Armand lagi sebelum tertawa pelan.
"Siap kan air hangat untukku. Aku akan mandi dan ke istana. Dan sampaikan pada Bastian untuk ikut denganku." Armand berdiri dan mulai melucuti pakaian semalam yang belum dia ganti.
Armand memejamkan matanya saat berendam di dalam bathtub. Aroma lembut daun mint memenuhi hidungnya. Sekilas bayangan wajah yang hampir dia lupakan hadir lagi ke depan matanya. Wajah menangis Abela yang memintanya untuk pergi. Atau suara bentakan dari dirinya sendiri terdengar jelas di telinga Armand. Berdenging bersama suara teriakan Abela yang putus asa.
Armand membuka matanya, menatap langit-langit kamar mandi. Sialan. gumamnya pelan. Egois. Gumamnya lagi. Armand menghela napas lagi dengan alis berkerut.
...----------------...
"Kalian tidak tahu betapa senangnya hatiku melihat semua orang ada di meja makan ini." Raja berkata seperti bersenandung sebelum menyuapkan makanan penutup.
"Anda benar yang mulia, sudah lama sejak terakhir kita berkumpul untuk makan bersama." Senyum ratu sangat lebar.
__ADS_1
"Bastian, di umurmu yang ke enam belas, aku akan memberimu gelar Count Armano, gelar itu akan kau pakai sebelum kau menyandang gelar Duke."
"Armano?" tanya Bastian.
"Itu gabungan antara nama ayah mu dan kota ini." jawab Raja.
"Paman. Paman benar-benar tidak kreatif," ujar Bastian yang membuat Cesar -putra mahkota- meledakan tawa yang dia tahan.
"Apa sejelek itu?" Raja ikut tertawa juga.
"Haha ... Mungkin kita bisa sedikit memikirkan nama yang lebih bagus." Ratu menanggapi santai sebelum menghirup tehnya.
"Tidak ... Kurasa itu cukup bagus , setidaknya orang-orang akan tahu aku anak jendral ini," ucap Bastian.
"Tapi kak Bastian, Paman sepertinya tidak baik-baik saja sejak tadi," bisik Carl -pangeran kedua- pada Bastian yang jelas terdengar oleh semua orang yang ada di ruang makan.
"Paman mu mabuk dan mengamuk semalaman di dalam kamarnya. Jadi mungkin pencernaannya sedang buruk," jawab Bastian dengan jelas membuat Armand meliriknya dengan tajam.
"Kenapa? Seingat Ku kau dan madam Abela pulang dini hari dari istana." Raja mengatakannya dengan nada jahil.
"Aku harap, ingatan ibu tidak kembali secepat itu dan menyadari jika dia membencimu." Bastian mengatakan itu pelan tapi cukup membuat Armand meletakan garpu dan pisaunya.
"Ingatannya kembali?" tanya Bastian lagi.
"Tidak. Belum lebih tepatnya." Armand menjawab dengan senyum tipis. Sebelum wajahnya berubah serius.
"Aku dan Duke Estonia akan berangkat sebentar lagi untuk ekspedisi monster. Aku akan mengajak Cesar." Kata-kata Armand membuat semua orang terdiam. Raja menegakkan duduknya dan memberi atensinya pada Armand.
"Alasannya?" tanya Raja.
"Cesar harus cukup kuat untuk mengklaim pedang raja yang aku pegang. Jika bukan dia siapa yang kakak harapkan untuk mengklaimnya? Bastian? atau Carl?" Armand menatap kakaknya serius.
"Kakak paling tahu kenapa aku tidak punya keturunan dari istri-istri bangsawan yang aku nikahi dulu. Aku tidak ingin keluarga mereka mempengaruhi keturunan ku untuk mengklaim tahtamu." Armand menatap Bastian sekarang.
"Bastian lahir dari seorang gadis muda di desa, dimana aku menghabiskan waktu ku berpura-pura menjadi orang lain. Ibunya meninggal karena melahirkan di usia yang terlalu muda. Dan karena aku tidak bisa membuktikan jika aku pangeran kedua. Tidak ada penyembuh yang mau membantuku." Armand kembali menatap kakaknya. "Itu alasan aku sekuat sekarang ini."
"Teruskan." Perintah Raja dengan tenang.
"Bastian yang hanya memiliki setengah darah bangsawan. Hanya akan diterima oleh orang-orang berwajah palsu itu jika dia bisa membuktikan kekuatannya. Itulah kenapa dia bisa tersenyum bahkan setelah membunuh orang."
"Maksud ayah orang yang menyerang ibu?" Bastian menaikan satu alisnya. "Aku tidak punya keinginan untuk mengklaim tahta atau apapun." Bastian menghela napas pendek. "Bukankah ayah selalu bilang, jadi raja itu merepotkan."
Armand tersenyum, "Kau benar. Aku tidak meragukan itu. Aku hanya ingin Cesar menjadi lebih kuat dari siapapun. Kebijaksanaan mu dan kekuatan mu. Kau harus membuatnya seimbang Cesar."
"Aku siap. Aku akan ikut." Cesar tersenyum. "Aku akan mengklaim pedang itu paman. Aku pastikan tidak akan membuat anak ini ...." Cesar menekan atas kepala Bastian, "Membunuh sesuka hatinya," lanjutnya sambil mengacak rambut Bastian.
"Lihat dirimu yang satu tahun lebih tua ini." Bastian mencoba melepaskan dirinya dari Cesar.
"Satu tahun juga aku lebih tua darimu." Cesar mengatakannya dengan nada sombong.
__ADS_1
Raja menatap Armand yang masih tersenyum dan meliriknya dengan sudut mata. Saat pupil mereka bertemu Armand dengan jelas melihat Raja menyunggingkan senyum juga. Sedang semua orang membeku di tempat mereka saat mendengar Carl berkata, "Jadi apa yang harus aku lakukan sebagai pangeran kedua?"
...----------------...