
.
Jantung Armand berpacu seiring suara desah yang hasilkan Abela. Saat bibirnya menyentuh seluruh bagian leher wanita itu. Wangi manis bunga yang tercium jelas di hidung Armand membuat Armand kehilangan akal sehat.
Armand tahu , Abela tidak memiliki kekuatan untuk melawannya sekarang. Terimakasih pada aura yang Abela keluarkan tadi. Anehnya Armand tidak merasa bahwa dia telah berbuat curang. Tentu saja dengan auranya yang lebih kuat Abela sudah di pastikan tidak bisa berbuat banyak.
Apa dia benar melakukan ini? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepala Armand. Dia menghentikan pergerakannya dan menjauhkan diri dari Abela. Menatap hamparan rambutnya yang kontras tapi serasi dengan warna maroon selimut di bawah mereka.
Armand menelan ludahnya. Akal sehatnya tidak akan kembali malam ini. Dia tidak akan mampu melakukannya. Dan dia tidak yakin dengan Abela. Tidak ada kata jangan atau lepaskan sejak Armand mencumbunya.
Armand menatap wajah Abela yang merah. Uap tipis terlihat keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Dadanya yang naik turun menghirup napas. Sedang baju tidurnya sudah tersingkap atas dan bawah. Pandangan Armand berpindah ke mata Abela yang terpejam.
"Abela ...." bisik Armand lirih.
"Ya ...." jawab Abela tidak kalah pelan.
"Aku benar-benar akan melakukannya." Armand Masih mencoba mendekat pada Abela.
"Ke timur. Aku ikut ke timur," jawab Abela dalam situasi itu. Armand tidak bisa menahan tawanya karena terkejut.
"Apa yang kau katakan di saat seperti ini?" tanya Armand.
"Kau sudah berhenti kan?"
"Belum. Aku bilang aku, akan benar-benar melakukannya. Jadi maksudku, aku baru saja akan memulainya." Armand bingung tapi di lain sisi dia merasa situasi ini lucu.
Armand bisa melihat mata Abela melebar saat mendengar dia mengatakan itu. Atau caranya memalingkan wajah, jelas terlihat kesal.
"Menyingkir !" ucap Abela ketus.
Armand masih tertawa saat dia berpindah posisi menjadi berbaring. Tatapannya lurus ke atas menatap langit-langit. Rambut Abela menggelitik sisi wajahnya. Dan jari telunjuk mereka saling bertaut.
"Aku masih sulit percaya ... Kau benar-benar melupakanku?" tanya Armand sekali lagi.
"Kenapa kau tidak pernah mengerti ucapanku?" tanya Abela, dia menghela napas pelan. "Aku berkata jujur," ucapnya berbohong. Dia ingin mengatakan pada Armand jika dia penyihir jahat itu. Mungkin Armand bisa langsung menebasnya lagi. Tapi masalahnya, apa Armand tidak ragu untuk membunuh kekasihnya juga?
Sungguh rumit, bagaimana caranya pergi dari dunia ini tanpa merasa bersalah pada orang lain. Lebih mengesalkan lagi jika Dewa masih keras kepala menyuruh dia untuk hidup lagi. Tubuh siapa lagi yang akan dia rasuki.
Satu-satunya yang bisa Abela pikirkan adalah monster-monster yang sekarang ini bertindak agresif. Apa dengan melenyapkan semua monster itu tugas Abela selesai.
"Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan Armand tidak lagi membuatnya terkejut.
Abela membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah tatapan Armand yang lembut. Armand dengan hati-hati menyingkirkan anak rambut Abela yang ada di wajahnya. Sentuhan Armand tidak membuat Abela terganggu.
"Banyak yang aku pikirkan," jawab Abela. "Rasanya banyak sekali sampai kepala ku berdenging."
"Kau bisa mendiskusikan semuanya denganku." Tatapan Armand masih sama lembutnya, dia menarik sudut bibirnya sedikit. Jelas merasa sedikit sedih.
__ADS_1
"Pada orang yang banyak merahasiakan semua hal padaku?" Abela memutar matanya. Ditanggapi tawa canggung Armand.
"Aku ... Tidak punya alasan lain selain tidak siap memberitahumu semuanya." Armand masih sangat tenang. Ujung jarinya masih mengelus pipi Abela.
"Kenapa kau ingin ikut ke timur?" tanya Armand akhirnya.
"Aku juga tidak tahu. Aku mungkin tahu jawabannya setelah aku sampai di sana. Ini hanya firasat saja. Firasat ku bilang aku harus kesana. Mungkin aku bisa sedikit membantumu." Abela tahu dia pasti membuat Armand bingung. Tapi dia tidak peduli.
"Baiklah. Aku lemah pada tatapan mu yang seperti ini," ucap Armand.
Tatapan yang seperti apa? Abela bertanya dalam hati.
"Kau pasti sangat mencintai wanita ini?" Abela tidak bermaksud mengatakannya dengan keras.
"Lagi, kau berkata seakan kau bukan dia," kata Armand dengan nada tenang.
"Mau bagaimana lagi aku ...."
"Baiklah aku paham," potong Armand.
Tangan Armand sudah tidak di wajah Abela lagi, sudah berpindah ke lengan telanjangnya. Mengusapnya dengan telapak tangannya yang sedikit kasar oleh kalus. Abela menatap Armand, tiba-tiba tenggorokannya tercekat. Kapan terakhir kali dia bisa bertukar pikiran dengan orang lain atau bahkan merasakan afeksi mereka.
Hidup sendirian dan kesepian selama ratusan tahun adalah hal paling menyiksa yang ingin dia akhiri segera. Tidak pernah dulu dia membayangkan akan ada waktu dimana dia bisa tidur bersebelahan dengan seseorang yang menatapnya dengan pandangan kagum. Sedikit miris karena tatapan itu bukan untuknya.
"Kau benci aku menyentuhmu seperti ini?" tanya Armand mengembalikan akal sehat Abela.
Armand tertawa lagi mendengar jawaban Abela, dia tidak tahu kalau kekasihnya bisa sangat manis seperti ini.
"Aku tidak tahu sekarang kau memandang ku begitu. Penuh nafsu?" Armand terkekeh lagi.
"Kau cenderung menyerang ku setiap kita bertemu," jawab Abela datar.
"Aku tidak bisa menyanggahnya kan. Aku hanya melakukan apa yang selalu aku lakukan padamu." Armand menghentikan tawanya.
"Aku bahkan selalu menekankan berkali-kali untuk tidak melakukannya lagi. Setidaknya lebih pengertian kalau aku tidak terbiasa, maksudku aku tidak ingat kebiasaan itu." Abela tidak tahu lagi apa yang dia katakan. Dia berharap dia sedang tidak berada disini.
"Baiklah maaf kan aku, seperti yang kamu bilang. Aku tidak bisa menahan nafsuku." Armand terdengar tidak menyesal sama sekali.
"Entah kenapa terdengar seperti omong kosong." Abela memutar matanya lagi.
"Baiklah. Akan aku ceritakan saat pertama kita melakukannya."
"Bukan kah harusnya di mulai dengan bagaimana pertama kali kita bertemu?" tanya Abela tidak bisa menyembunyikan rasa tidak tertariknya.
"Haha ... dingin sekali. Aku hanya ingin bercerita intinya saja. Tapi baiklah kalau kau ingin mendengar bagaimana kita bertemu," ujar Armand di sela tawanya.
"Lupakan saja, ceritakan saja bagaimana pertama kali kita melakukannya." Abela merasa harus terbiasa dengan wajah pembunuhnya yang seperti ini. Jadi dia hanya akan mengatakan apa yang ada di kepalanya saja.
__ADS_1
"Kita tidak melakukannya saat pertama kita bertemu kan?" tanya Abela lagi. Cukup memberi alasan pada Armand untuk tertawa keras.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, sayang ...." Armand berkata dengan nada rendah terdengar seduktif. Tatapannya fokus pada wajah Abela yang merona merah lagi. Sudah lama sekali saat panggilan itu membuat wajah Abela seperti ini. Atau bibir merah Abela yang mengatup.
"Aku ingin mencium bibirmu." Armand menelan ludahnya saat mengatakan itu.
"Kau tidak bisa dipercaya. Aku baru saja memujimu tadi," balas Abela, nada ketusnya tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya yang terlihat malu-malu.
"Itu salahmu, kau membuatku ingin melakukannya." Armand terdengar menyebalkan di telinga Abela.
"Aku tidak merasa melakukan apa-apa Yang Mulia Pangeran Armand," ucap Abela sarkastik.
"Sudah lama sekali sejak ada orang memanggilku pangeran. Lagipula sekarang aku ini jendral perang."
"Kau terdengar bangga menjadi orang yang selalu di kirim untuk bunuh diri berulang kali." Lagi Abela mengatakannya dengan nada mencibir seperti pagi ini di meja makan saat mereka sarapan.
"Harus kah aku benar-benar mengunci mulutmu agar berhenti mengatakan sesuatu yang menyakiti hati ku? Asal kau tahu, jika orang lain yang mengatakannya. Aku pasti sudah kehabisan kesabaran." Armand mengatakannya dengan ekspresi datar yang anehnya menimbulkan simpati pada Abela. Matanya terpejam, tan kerutan terlihat di antara alisnya.
"Jadi aku pengecualian?" tanya Abela.
Armand terkejut, dia membuka matanya menatap wajah Abela dari dekat. Kerutan di antara alisnya menghilang, berganti tatapan mata yang agak di lebarkan. Bukan karena pertanyaan Abela, lebih tepatnya karena tangan Abela yang juga menyentuh lengannya. Itu gerakan yang tak pernah Armand pikir akan dilakukan Abela sekarang ini.
"Kau tahu ...." bisik Armand parau. "Saat pertama kita melakukannya, selalu di mulai dengan ciuman." Armand mendekatkan jarak diantara wajah mereka. Bibirnya akhirnya menyentuh bibir Abela pelan, Armand mengulum bibir bawah Abela. Membuat Abela membuka bibirnya sedikit. heh? Armand menyeringai di tengah ciuman mereka saat Abela memberi tanda membalas ciumannya.
Armand semakin menekan tubuhnya, dan menarik Abela mendekat. Sedang ciuman mereka semakin intens. Armand mendengar desah kecil keluar dari saat lidahnya menyapa langit-langit mulut wanita itu. Lebih jelas terdengar saat Armand menyentuh pinggulnya dan menariknya mendekat sementara satu kaki Armand sudah ada diantara kakinya.
Armand menjauhkan wajahnya mengakhiri ciuman mereka, untuk memandang wajah Abela yang lebih menggoda dari sebelumnya. Rona merah belum meninggalkan wajahnya sedang tatapan matanya berubah sayu. Armand mengusap pelan kulit Abela dari pipi, ke leher , ke lengan. Sensasi tangan kasar Armand membuat Abela tanpa sadar menggigit bibirnya.
"Setelah ciuman kita berakhir aku meletakkan tanganku disini," kata Armand serak. Entah kenapa dia merasa perlu bicara banyak. Saat tangannya sudah berpindah ke kulit paha Abela, mengelusnya naik ke atas pinggangnya. Merasakan pakaian dalam Abela.
"Kau seharusnya tidak memakai ini," ucap Armand.
"Kau yang tidak membukanya tadi," jawab Abela terlalu cepat. Membuat seringai Armand semakin lebar.
"Baiklah, aku hanya perlu meletakkan jariku di sini kalau begitu." Cengkraman tangan Abela di bahan pakaian Armand yang tipis menguat. Saat Armand menyentuh bagian diantara kakinya. Rasanya entah kenapa menyenangkan. Abela bernapas cepat seiring tempo gerakan jari Armand.
Mata Abela kembali sedikit melebar, cengkraman tangannya lebih kuat lagi hingga ke kulit Armand. Bisa Armand lihat gigitan pada bibirnya juga ikut menguat. Sedang tubuh Abela sedikit bergetar saat dua jari Armand masuk ke dalam tubuhnya.
Abela mendesah pelan, panas di dalam tubuhnya tidak bisa dia kendalikan. Dia bingung meletakkan tangannya dimana selain mencengkram pakaian. Armand. Dia ingin Armand melakukan lebih intens di tempat yang dia mau tapi terlalu malu untuk mengatakannya. Sialan. Umpat Abela. Dia begini hanya karena sudah lama sekali dia tidak melakukannya kan?
"Abela ... Kau lebih basah dari yang aku kira ... Haruskah aku menambahkan jari ... Atau ...." Armand menelan ludahnya. Ekspresi Abela sekarang ini membuat kepalanya sakit. Ingin cepat melakukannya jika boleh.
"Lakukan ... Saja ...." Abela susah payah mengeluarkan kata itu.
"Apa?" Armand bukan tidak mendengarnya. Tapi entah kenapa dia ingin Abela mengatakannya sekali lagi.
"Ku bilang ... Lakukan saja ...."
__ADS_1
...----------------...