
.
"Ya ... Menikahlah denganku," ucap Armand pelan hampir seperti bisikan.
Abela menatap mata Armand yang gelap. Mendengar Armand mengatakan itu membuat jantungnya berdebar. Abela memperhatikan semua yang ada di wajah Armand. Dari matanya yang tajam, ke alisnya yang tegas. Dari tulang pipinya ke rahangnya yang kokoh. Dari hidungnya ke bibir Armand yang hampir terlihat putih.
"Apa yang kau lihat?" tanya Armand lagi. Masih dengan bisikan.
"Aku melihat mu ...." jawab Abela lirih.
Abela tidak tahu, jawaban dan suaranya menimbulkan getaran yang cukup mengguncang Armand. Armand menelan ludahnya, tangannya menelusuri punggung Abela di atas gaun tipisnya. Tekstur lembut sutra yang bercampur dengan tulang belakang yang terasa di atas telapak tangan Armand.
Wangi lili yang tercium dari tengkuk Abela, Armand memindahkan sebelah tangannya untuk menyisir helaian rambut Abela dari sisi wajahnya. Di bawah tatapan mata biru Abela yang masih menatapnya tegas. Rona merah di wajah Abela terlihat kentara di mata Armand.
"Jawabanmu?" tanya Armand parau.
"Lakukan saja ... Itu tidak berarti apa-apa bagiku," jawab Abela terlalu cepat.
"Tidak berarti apa-apa?" tanya Armand mengulang jawaban Abela.
"Ya ... Aku tidak tahu sampai kapan akan ada disini." Abela menjawab cepat lagi. Dia tidak ingin memberi harapan palsu pada dirinya sendiri bukan pada orang lain.
Armand masih menatap Abela, tatapan tajamnya sedikit menurun saat dia tersenyum tipis. Armand menjatuhkan dahinya di pundak Abela. Dan membawa tubuh Abela lebih dekat dengannya lagi.
"Ternyata kau masih sulit dijangkau," bisik Armand.
Abela mengerutkan keningnya mendengar itu. Apa maksud dari perkataan Armand? Abela tidak punya keberanian untuk menanyakan itu. Dia tidak ingin mendengar jawaban Armand. Dia belum siap. Hanya saja tangan Abela refleks mengelus belakang kepala Armand. Rambut Armand sudah agak panjang.
Armand melebarkan matanya merasakan sentuhan tangan Abela. Dia tersenyum lebih lebar saat merasakan jemari Abela memijat lembut tengkuknya.
Akhir-akhir ini banyak sekali yang Armand pikirkan. Dan semua hal itu membuatnya lelah. Dia tidak suka menunggu musuh seperti ini. Dia lebih baik memilih berperang di medan perang. Lebih mudah melepaskan emosinya di sana. Dibandingkan disini, dimana dia harus menahan emosinya demi kepentingan keluarganya.
"Bagaikan kabar putra mahkota?" Abela bertanya tidak bermaksud mengalihkan pembicaraan, dia hanya baru teringat anak itu. Bagaimana dia bisa lupa dengan Cesar.
Armand tertawa pelan mendengarnya. Punggungnya bergetar pelan, dia menaikan pandanganya. Melihat Abela yang ternyata sednag menatapnya. Bibir Abela tertutup rapat.
__ADS_1
"Sekarang aku tidak tahu harus menjawab apa," ucap Armand di tengah senyumnya. "Tapi ya ... Dia baik-baik saja," kata Armand lagi.
"Aku hanya baru ingat saja padanya," balas Abela menghindar dari tatapan Armand.
"Isi kepala mu pasti terlalu banyak," gumam Armand.
"Kau juga ...." Abela menjawab lirih. "Isi kepalamu pasti sangat banyak juga."
"Kau benar .... " Armand mengankat kepalanya lagi. Membuat tatapan mata mereka sejajar lagi.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku bilang isi kepalaku saat ini hanya dirimu, wajahmu, aroma tubuhmu ...." Armand menelan ludahnya lagi.
"Maksudmu Abela?" Abela menekan nama itu. Membuat Armand memejamkan matanya sebentar sebelum tersenyum miring.
"Kenapa? Kau ingin kembali pada tubuh aslimu?" tanya Armand masih memejamkan matanya.
"Ke tubuh yang sudah membusuk itu?" Abela menaikan alisnya. "Tidak, pasti tidak nyaman bahkan dengan aroma busuk itu."
Tanpa sadar Abela meringis, bagaimana Lyra bisa bertahan selama itu. Abela merasa sedikit simpati pada gadis bodoh itu. Bisa-bisanya orang dengan strata sosial yang tinggi seperti dirinya bisa di perdaya oleh para orang tua serakah.
"Kalau begitu ... Haruskah aku menutup mata?" tanya Armand menarik atensi Abela lagi.
"Untuk merasakan mu ... Dirimu ... Arabela ...." Armand berbisik pelan. Matanya masih menatap Abela tajam. Membuat Abela tidak ingin melepaskan tatapannya.
"Kenapa, kau harus melakukan itu?" bisik Abela hampir tidak terdengar.
"Karena kau terlihat menginginkannya."
Jawaban Armand membuat Abela menelan ludah. Jantungnya berdebar lebih kencang, wajahnya terasa lebih panas. Ada dorongan lain yang aneh. Dia ingin meyakinkan dirinya jika itu hanyalah reaksi tubuhnya saja. Dia tidak ingin mengakui jika dia yang tergetar dan terpengaruh dengan suasana saat ini.
Jarak wajah Armand sudah sangat dekat. ujung hidung mereka bersentuhan. Abela tidak tahu siapa yang mendekat lebih dulu. Apa dia atau Armand. Otaknya membeku dan tidak mampu berpikir lagi. Matanya menangkap leher Armand yang bergerak saat menelan ludah. Entah kenapa pemandangan itu memenuhi matanya. Dia tidak bisa beranjak dari sana. Tidak juga bisa melupakannya. Pemandangan itu terus terulang dipikirannya.
Hingga jarak mereka hilang. Lagi, Abela tidak tahu siapa yang memulai. Yang dia tahu bibir Armand yang kering menggelitik kulit bibirnya. Gigitan kecil yang diberikan Armand di bibir bawahnya menghantarkan gelinke dalam perutnya. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang liar didalam sana.
Abela membuka mulutnya untuk mengeluarkan suara desah. Tangannya mencengkram bagian depan jubah yang dipakai Armand. Pelukan Armand terasa semakin erat. Tubuh mereka menempel dan mata mereka yang sayu masih terbuka.
__ADS_1
Abela mendorong leher Armand lembut. Memberi mereka sedikit jarak. Dia terengah pelan. Jemarinya menelusuri leher Armand sampai belakang kepalanya.
"Arabela ...." bisik Armand di depan wajan Abela.
Desiran lembut yang Abela rasakan tadi muncul lagi. Perlahan membuat bulu lengannya berdiri. Abela menggigit bibirnya sendiri. Tatapan matanya menjadi lebih sayu. Satu tangannya masih mencengkeram jubah Armand walau cengkeramannya semakin mengendur.
"Kenapa kau menjauh?" tanya Armand dalam bisikan.
"Kau membuka matamu," jawab Abela asal.
Armand tertawa mendengarnya. Dia membawa tubuh Abela mendekat lagi dengan satu tarikan.
"Kau ingin aku menutup mataku sekarang?" tanya Armand. Membuat Abela tertawa pelan.
"Aku hanya gugup, bukan apa-apa." Abela menjawab pelan.
"Kau yakin?" Armand tersenyum menggoda Abela.
"Apalagi alasannya," Abela memutar mata. Tapi masih tersenyum ringan.
"Kau terlihat ...." Armand menggantung ucapannya. Di matanya, Abela terlihat bahagia. Itulah yang ingin dia katakan. Tapi entah kenapa dia merasa tidak boleh mengatakan itu
"Terlihat?" Abela menaikan alisnya saat bertanya.
"Aku tidak akan mengatakan lanjutannya," jawab Armand. Dia terlihat jujur saat mengatakan itu. Matanya tidak bergetar sedikitpun.
"Kenapa?" bisik Abela lagi.
"Entahlah ... Aku hanya merasa tidak boleh mengatakannya," jawab Armand.
"Baiklah. Terserah padamu." Abela akhirnya melepas tatapan mereka dengan menutup matanya.
Armand sedikit kecewa tidak bisa melihat mata biru itu lagi. Tapi dia tersadar walau Abela dan Arabela memiliki warna mata yang sama tetap saja tidak merubah kenyataan kalau Abela mungkin tidak suka jika Armand memuji fisiknya.
"Kau tahu ... Aku bisa menutup mataku jika kau mau," bujuk Armand. Telapak tangannya masih mengelus punggung Abela lembut.
__ADS_1
Abela tertawa pelan mendengar Armand mengatakan itu. Tawanya terhenti saat Armand menempelkan dahi mereka. Abela bisa melihat pupil mata Armand yang terlihat lebih gelap. Dan saat bibir mereka saling menyentuh lagi. Abela berharap waktu terhenti sejenak.
...----------------...