Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Bintang dan Langit


__ADS_3

.


Langit sudah gelap saat mereka keluar dari portal sihir. Butuh dua hari dengan berkuda untuk sampai di kastil penyihir. Abela melihat sekitar, tampaknya tidak terlihat ada tanda-tanda monster berdiam di sana.


"Sangat sunyi kan, Madam?" tanya putra mahkota dari kudanya.


"Saat terakhir kita kemari, paman seperti orang gila menumpas semua monster itu," kata Cesar lagi.


"Maksud Yang Mulia, Duke Armand?" Abela tahu siapa lagi yang putra mahkota itu sebut paman selain Armand. Tapi tetap saja, Abela tidak ingin bersikap tidak sopan dengan tidak memberi respon.


"Ya ... Siapa lagi, jika bukan dia madam. Saat madam diculik ...." Cesar tidak meneruskan kata-katanya. Pemuda calon raja itu terlihat menelan ludahnya gugup. Dia menghidar dari tatapan Abela.


"Maaf ... Tidak seharusnya aku banyak bicara," ucap Cesar lagi.


Abela menaikan alisnya melihat tingkah Cesar, tapi keheranannya terjawab saat dia menoleh ke sisi kanan. Armand sedang menatap tajam mereka berdua.


"Yang mulia, bagaimana jika kita beristirahat dan berkemah disini?" tanya kapten tim pada Armand.


"Ya, sudah terlalu gelap untuk melanjutkan perjalanan," jawab Armand.


"Apa kita perlu mendirikan tenda?" tanya kapten lagi.


"Tidak perlu, aku yakin semua orang cukup kuat untuk tidur diatas tanah," jawab Armand. Entah kenapa penyataan itu terasa tertuju pada Abela. Tatapan kapten tim pada Abela juga lebih meyakinkan maksud tenda itu untuknya.


Cesar menatap pamannya tidak percaya. Bagaimana mungkin Armand bisa bersikap dingin begitu. Tapi dibanding Cesar, Calix terlihat lebih kesal.


"Jika kalian mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja," ucap Abela, membuat kapten tim berhenti menatapnya dan kembali ke posisi semula.


Abela turun dari kudanya, saat semua orang sudah turun. Dia minum dari tempat minum yang dia bawa. Rasa dia hanya ingin membasuh wajahnya dengan air. Dia berjalan perlahan menuju suara yang dia yakin suara sungai.


Armand menahannya dengan menggenggam sebelah tangannya, "Mau kemana?" tanyanya singkat.


"Ke sungai ... Aku hanya akan membasuh wajahku," jawab Abela tenang.


Armand menatapnya, sebelum membawanya ke dalam pepohonan yang rimbun. Benar saja ada sungai balik pepohonan itu. Armand melepaskan genggaman tangannya dan duduk di bawah pohon. Abela menatapnya sekilas sebelum mendekat ke tepi sungai dan mulai membasuh wajahnya.


Rasa dingin terasa di kulit wajah Abela. Air ini cukup menyegarkan untuk melepas semua penat yang dia rasakan seharian ini. Pikirannya masih di penuhi Orlando.

__ADS_1


Abela mengdongak menatap langit malam yang cerah. Bintang terlihat sangat banyak di langit sana. Semilir angin menerpa badannya. Mengantarkan udara yang lebih dingin.


"Terima kasih," ucap Abela pelan. Tapi tetap bisa terdengar oleh Armand.


Armand tidak bereaksi, dia masih menunduk menatap tanah.


"Aku tahu kau sangat membenciku, tapi kau masih mau memenuhi permintaan ku. Suatu hari nanti ... Jika aku bisa ... Aku juga ... ingin memenuhi permintaanmu." Abela memejamkan matanya. Merasakan angin menerpa wajahnya yang semakin lama semakin terasa dingin.


Abela tidak menoleh pada Armand, dia tidak ingin tahu ekspresi seperti apa yang ditampilkan pria itu.


"Aku tidak yakin apa yang akan aku minta darimu," gumam Armand.


Abela tersenyum ke arah sungai, "Tentu saja, aku tahu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Jika pun ada, aku tahu itu apa. Dan itu diluar kemampuan ku."


Abela paham, jika tidak ada yang Armand inginkan selain Abela yang asli kembali padanya. Tapi tentu saja itu mustahil. Apa yang bisa menghidupkan orang yang telah meninggal?


"Mungkin ada ... Yang bisa kau lakukan ... Tapi aku tidak yakin aku menginginkannya atau tidak," ucap Armand belum mengangkat wajahnya.


"Begitukah? Kalau begitu beritahu aku kalau kau sudah menginginkannya," jawab Abela. Dia berbalik berjalan mendekat pada Armand.


"Kau ingin aku menunggumu membasuh wajah juga?" tanya Abela setelah sampai di hadapan Armand.


Abela sebenarnya sedikit terkejut dengan gestur Armand, Abela melirik Armand dengan sudut matanya. Wajah Armand dari samping tampak lebih menarik dari tempat Abela berdiri. Abela tersenyum menyadari ketampanan Armand.


"Apa yang membuat mu tersenyum?" tanya Armand dengan nada datar.


"Tidak ada. Aku hanya berpikir kalau kau benar-benar tampan dilihat dari sini," jawab Abela jujur.


"Ha!" Armand mendengus, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kau tahu ... Aku berkata jujur," ucap Abela lagi.


"Terserah saja," balas Armand acuh.


Mereka berdua datang dari balik pohon yang gelap dengan bergandengan tangan. Mencuri atensi semua orang yang sedang mengelilingi api unggun. Merasakan perhatian semua orang tertuju padanya. Abela berusaha melepaskan tangannya dari Armand yang masih bersikeras menggenggamnya.


Armand membawanya ke tempat yang nyaman di bawah pohon dan menyuruh Abela duduk di sana.

__ADS_1


"Tunggu disini," kata Armand dengan nada memerintah.


Armand berbalik meninggalkannya dan kembali dengan semangkuk sup dan satu ekor ayam bakar yang di tusuk. Armand menyerahkan mangkuk sup itu pada Abela tanpa banyak bicara dan duduk di sampingnya.


Abela melirik Armand sebelum meminum sup hangat itu. Rasanya sangat hangat saat melewati kerongkongan Abela dan cukup lezat di lidahnya.


Abela mengoper mangkuk itu pada Armand. Yang menerimanya dalam diam dan minum satu tegukan juga. Armand mulai merobek paha ayam yang masih sedikit panas dan memberikannya pada Abela.


Abela tertawa kecil saat menerimanya, membuat Armand menaikan sebelah alisnya.


"Ah ... Maaf ... Aku hanya kagum, aku yakin kau sebenarnya sangat membenciku. Tapi kau terlihat tidak bisa mengabaikan ku." Abela mencuri pandang dengan sudut matanya.


"Kau benar ... menurut mu ... Kenapa aku begini?" Armand bertanya sambil mengunyah ayam bakarnya.


"Mungkin ... Kau hanya baik hati ... Tidak mungkin karena tubuh ini kan? Kau tidak bisa mengabaikannya." Abela menjawab hati-hati.


Tapi kehati-hatiannya gagal, karena wajah Armand terlihat lebih kaku dari sebelumnya. Armand tidak menjawab. Dia hanya makan dalam diam. Abela juga tidak berharap jika Armand akan selalu menanggapinya. Tapi yang Abela tahu, setiap kali ayam bakar yang ada di tangannya habis Armand akan mengoper potongan yang baru. Tanpa bicara, tanpa menoleh.


.


.


Armand mendongak menatap langit di samping Abela yang terlihat mengantuk. Kepalanya selalu maju ke depan dan ke belakang sebelum dia sadar dia terlelap dan tiba-tiba terbangun. Semua itu Armand perhatikan lewat sudut matanya. Armand tidak beranjak sedikit pun setelan mereka selesai makan malam.


Udara malam terasa semakin dingin, bintang-bintang semakin berkilau di atas sana. Armand tersenyum ke arah langit. Bisa-bisanya untuk ke dua kalinya dia membiarkan wanita yang dicintainya meninggalkan dunia ini tanpa membiarkan dirinya berusaha lebih keras untuk mempertahankan mereka.


Tidak. Sejak awal semua itu memang salahnya. Kalau dari awal dia berhasil membujuk ibu Bastian untuk ikut ke istana dengannya sebelum Bastian lahir. Wanita itu pasti masih hidup membesarkan anaknya. Jika saja, setelah Abela kehilangan calon bayi mereka dan Armand setuju untuk berpisah dengannya. Mungkin saja dia akan selamat dan penyerangan itu tidak akan terjadi.


Armand bahkan tahu pemyerang Abela adalah orang-orang dari Wilhelm. Tapi semua itu berakhir dengan mengeksekusi pelakunya saja. Armand berhasil menahan keinginannya untuk berperang lagi, karena dia pikir Abela selamat. Lalu, apa yang Armand inginkan sekarang ini.


Armand menelan ludahnya masih melihat kearah langit, saat dia merasa sesuatu jatuh dengan pelan ke pundaknya. Armand melirik helaian rambut emas yang sekarang mendominasi pandangannya. Beberapa helai menggelitik lehernya.


Helaan napas pendek dari bibir Abela terdengar jelas. Armand merapatkan bibirnya saat teringat wanita itu. Tubuhnya ada disini. Tapi wanitanya sebenarnya telah menghilang. Armand dengan sadar atau tidak, mengulurkan tangannya dan menjangkau pundak Abela. Membawanya mendekat ke pelukannya. Menikmati atoma lembut lily yang tercium dari rambutnya.


Sial. Umpat Armand dalam hati. Dia ingin memeluk tubuh ini lebih sering seperti dulu. Kenapa dia tidak bisa membiarkan dirinya melakukan hal mudah itu. Jika saja dia tidak tahu kebenaran itu.


Armand tersenyum miris karena pikiran konyol itu terlintas di kepalanya. Tidak ada yang lebih buruk daripada kenyataan yang dia tahu. Tapi tidak ada yang lebih baik saat dia bahkan tidak tahu.

__ADS_1


Armand hanya ingin semua ini selesai. Semoga semuanya cepat selesai.


...----------------...


__ADS_2