Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Kau indah


__ADS_3

.


Tidak ada yang pernah berjalan lancar jika kita merencanakannya. Itulah yang membuat kening Armand berkerut sepanjang malam. Urat dahinya berkedut saat melihat Abela berdansa dengan Calix di tengah aula lantai dansa.


Armand menyesal terburu-buru masuk ke dalam aula lagi. Raja memanggilnya dan Abela di seret beberapa istri bangsawan dan terjebak dengan mereka sebelum berakhir berdansa dengan Calix.


"Wajahmu sangat menyeramkan," kata Raja menahan tawa.


"Yang mulia memanggil saya di waktu yang salah," jawab Armand tidak melepaskan pandangannya dari wajah tersenyum abela. Apa yang membuat wanitanya itu terlihat bahagia berdansa dengan Calix.


"Apa rencana awalmu?" Raja menikmati setiap godaannya pada adik satu-satunya itu.


"Saya khawatir, saya tidak ingin menjawabnya."


"Hahaha ...." Raja tertawa agak keras menarik perhatian orang-orang yang dekat dengannya.


"Duke ... aku berencana memberi Bastian gelar Count dengan nama Armano. Gabungan dari namamu dan kota ini. Bagaimana menurutmu? Aku akan memberikannya di ulang tahun Bastian ke enam belas tahun ini. Setelah dia menjadi penerusmu. Gelarnya akan menjadi Duke Armano." Raja menatap adiknya dengan sudut matanya.


"Apa hal seperti itu bisa kita diskusikan di tengah pesta dansa, Yang Mulia?" Armand akhirnya melepas pandangannya dari Abela.


"Hal itu baru terpikir olehku. Kau tahu kan, terkadang aku terlalu sibuk sehingga melupakan beberapa gagasan spontan," kata raja diiringi tawa.


"Yang mulia ...." Armand tersenyum sebelum melanjutkan. "Yang mulia sedang mengkhawatirkan sesuatu kan?"


Armand masih berdiri di samping singgasana kakaknya itu, "Apapun yang menjadi kekhawatiran Yang Mulia. Semua itu tidak akan terjadi."


"Benarkah? Anak-anak kita akan tumbuh dewasa suatu saat nanti. Banyak hal yang akan mempengaruhi mereka." Raja menatap ke kerumunan di lantai dansa.


"Aku bersyukur, Duke Estonia mau berkorban agar menjauhkan pengaruh Wilhemn dari keluarga kerajaan. Ingatkan aku untuk memberinya banyak hadiah," kata Raja lagi.


"Baik Yang Mulia."


"Duke Estonia dan Baroness Isla ...."


"Madam Abela," sela Armand sedikit tidak sopan.


"Hanya kau yang belum mendapatkan hukuman karena selalu menyela perkataan Raja," ucap Raja kesal.


"Saya yakin saya pantas mendapatkan hukuman mati Yang Mulia," canda Armand.


"Cemburu pada orang yang sudah lama meninggalkan dunia ini bukan hal yang baik." Raja berkata lagi.


"Baiklah. Boleh saya undur diri?" tanya Armand sedikit tidak sabar.


"Aku tidak berniat mengizinkannya." Raja membalas dengan kilat jahil di matanya.

__ADS_1


"Akan saya panggilkan putra mahkota jika Yang Mulia butuh teman mengobrol," ucap Armand.


"Jangan ganggu kesenangan putraku, dia sedang bicara dengan para nona muda."


"Akan saya panggilkan yang mulia ratu kalau begitu," ucap Armand lagi.


"Istriku pasti sibuk bertukar informasi dengan para nyonya bangsawan," jawab Raja membuat kesabaran Armand menipis.


"Bagaimana dengan Duke Estonia, saya yakin dia punya banyak hal yang bisa diceritakan." Armand membujuk kakaknya lagi.


"Tentu saja, dia pemuda yang sangat menarik. Bukankah begitu. Tapi aku lebih nyaman bicara dengan mu," jawab Raja.


"Yang mulia ...." Armand menerbitkan senyum palsu menyembunyikan rasa kesalnya.


"Ah ... Kau harus menunda rencanamu lagi dengan madam Abela, dia sekarang berdansa dengan Viscount Morris." Raja tersenyum menggoda Armand hingga matanya tertutup. Membuat Armand menahan amarah dengan mengepalkan tangannya.


"Armand ... Ini pertama kalinya aku melihatmu dengan ekspresi seperti ini," ucap Raja. "Kau tidak pernah menyangka akan datang saatnya melihat mu seperti ini."


"Yang mulia sedikit berlebihan," jawab Armand. Matanya menatap tajam laki-laki yang berdansa dengan Abela.


"Setelah mereka selesai, kau boleh pergi dari sisiku." Raja tersenyum menahan tawa. "Aku juga akan mengajak ratuku berdansa."


Armand tersenyum tulus mendengar apa yang dikatakan raja. Ada banyak cerita terkenal di kota Romano ibu kota Kerajaan ini. Yang paling populer dari semua cerita itu adalah semua bukti dan testimoni orang-orang yang menjadi saksi keharmonisan Raja dan Ratu yang dipercaya saling mencintai.


Tidak lama kemudian semua orang terdiam saat Raja berdiri dari singgasananya. Perlahan menghampiri ratu dan mengajaknya berdansa. Membuat semua orang berkumpul untuk bertepuk tangan dan memberi pujian pada mereka.


"Aku sudah tidak bisa berdansa lagi. Kakiku sakit," ucap Abela sedikit meringis.


"Tidak ada yang berdansa saat raja dan ratu sedang berdansa," jelas Armand.


"Syukurlah." Abela mengulas senyum lega.


"Ayo ... ikutlah dengan ku. Untuk beristirahat."n


"Denganmu? Aku tidak yakin kau benar-benar mengajakku beristirahat." Abela memutar matanya.


"Kau bahkan setuju beberapa waktu yang lalu."


"Itu karena berdansa terlalu lelah membuatku malas," jawab Abela agak dingin.


"Lihat dirimu, kau benar-benar tidak terkalahkan," gumam Armand.


"Hanya kau yang berpikir begitu," bisik Abela pelan.


"Kurasa itu benar, kau selalu menang karena aku mencintaimu." Armand meraih pinggang Abela menariknya mendekat.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di depan umum setelah menyatakan cinta?" Sindiran Abela tidak sesuai dengan kenyataan bahwa dia tidak menolak sentuhan Armand.


"Kata-kata itu tidak sedikitpun membuat ku kesal. Dibanding keinginan ku untuk membunuh laki-laki yang berdansa denganmu tadi." Armand mengatakannya dengan senyum


"Kau terdengar berlebihan."


"Protesmu tidak diterima jika kau mengatakannya dengan senyum cantik seperti itu." Armand mengeratkan pelukannya.


"Kau ...." Abela menghentikan ucapannya, menatap tangan besar Armand diatas perutnya. Ada panas yang menjalar dalam tubuhnya. Rona merah menjalar semakin jelas. Abela menggigit bibirnya pelan, berusaha mengontrol debaran di dadanya yang membuat telinganya sendiri berdengung.


"Abela ... Ayo pergi dari sini ...." bisik Armanddi telinganya pelan.


.


.


Abela yakin hasrat dan cinta itu berbeda. Atau dia hanya membuat alasan saja sebagai pembenaran untuk dirinya sendiri. Abela yakin saat dia berjalan cepat dengan Armand menuju sebuah ruang istirahat yang tidak jauh dari aula, adalah sebuah tindakan yang dikendalikan oleh hasrat semata.


Abela tidak ingin berpikir banyak saat Armand mendorong tubuhnya ke pintu dan menciumi seluruh sisi wajahnya dengan lembut. Atau saat dia mendengar suara robekan gaunnya saat Armand mengangkatnya agar kaki Abela bisa melingkar di pinggang pria itu.


Abela tahu dia harus menahan semua erangannya karena masih banyak orang yang lalu lalang di luar ruangan ini. Abela tidak ingin tahu alasan apa yang membuat dia memulai menempelkan bibirnya lada bibir Armand. Dan mengulum bibir bawah Armand dengan semangat seperti tidak ingin menjauh sebentar saja.


Armand memangku tubuh Abela berjalan perlahan ke sofa. Membuat Abela duduk di pangkuannya. Wajah mereka menjauh dan saling bertatapan. Armand mengulurkan jarinya dan mengusap wajah Abela. Terus ke bawah hingga akhirnya melorotkan gaun Abela perlahan.


"Aku ingin merobek gaun ini sejak tadi," gumam Armand pelan.


"Aku lupa jika kau orang seperti itu," ucap Abela memutar matanya. Membuat Armand tertawa.


"Orang seperti itu, ini. Akan memulai apa yang dia inginkan." Armand berucap pelan di sebelah wajah Abela.


Abela tidak menjawab, jarinya sibuk melepas kancing baju dan celana Armand. Lalu menyatukan tubuh mereka perlahan.


"Aku melakukannya lebih dulu," tantang Abela dengan senyum miring. Jelas merasa puas melihat ekspresi Armand yang terlihat menahan sesuatu.


Alis Armand seperti akan menyatu tidak menyisakan jarak, matanya terpejam dipaksakan. Bibir bawahnya digigit. Saat Abela mulai bergerak.


"Kau tampan," bisik Abela di telinga Armand, membuat Armand membuka matanya perlahan.


"Haa!" Armand tidak percaya apa yang dia dengar. Lebih tidak percaya melihat senyum puas Abela yang semakin lebar seiring gerakannya yang cepat.


"Kau harus lihat wajahmu sekarang ini, Abela," gumam Armand sambil tersenyum.


"Begitukah? Jadi ... Mmm ... Bagaimana ... Wajahku?"


Armand menelan ludahnya mendengar nada provokatif itu, tawa pelan dan serak terdengar lagi. Armand memeluk Abela lebih erat dan menyerukan wajahnya di tengkuk Abela.

__ADS_1


"Hn. Kau indah," bisik Armand.


...----------------...


__ADS_2