Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Kontrak Dengan Penyihir


__ADS_3

.


"Ya?" Orlando siap mendengarkan apa yang akan Bastian sampaikan.


"Kau harus membuat ibumu setuju menikah dengan ayahku secepatnya. Dan dengan itu, ayahku akan menjadi walimu. Sampai kau dewasa."


"Apa kau yakin ayahmu mau?" tanya Orlando. Dia mungkin bisa memaksa Abela melakukannya. Dengan alasan timbal balik. Atau apapun itu. Tapi bisa kah Orlando memaksa Armand.


"Kau benar ... Aku tidak terpikir sampai kesana," ucap Bastian menghindari tatapan Orlando.


"Lagipula apa keuntungan ayahmu menikah dengannya?" tanya Orlando lagi.


Bastian tidak ingin menjawab lagi. Dia tidak ingin mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dia katakan pada anak kecil ini. Meskipun Bastian yakin Armand tidak keberatan dengan itu. Dengan atau tanpa menikah pun Armand pasti akan menjadi 'Ayah' Orlando. Dan Bastian yakin Armand akan melakukan cara apa saja untuk itu.


Tapi Bastian hanya ingin mendorong Orlando untuk bicara dengan Abela. Mungkin saja, hubungan mereka akan sedikit berubah setelah bicara. Karena Bastian yakin sedikit saja, pasti Orlando perduli pada Abela. Dan Abela, sudah jelas seperti siap melakukan apa saja untuk Orlando.


"Kau hanya tinggal menyuruhnya untuk meyakinkan ayah. Tidak harus kau yang melakukannya," jawab Bastian tenang.


"Kau yakin wanita itu mau?" tanya Orlando lagi.


"Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya." Bastian melihat wajah Orlando yang sedang berpikir. Bagaimana pun Orlando hanya anak berusia tiga belas tahun.


"Kau harus tahu Orlando ...." kata Bastian perlahan. "Kehilangan ku tidak bisa melebihi kehilangan mu. Tapi aku juga merasakannya."


Bastian terdiam sebentar. Saat dia melihat Orlando menghindari tatapan matanya. Bastian tidak bermaksud membuat Orlando merasa bersalah karena melepaskan semua kemarahannya pada Bastian. Bastian hanya ingin Orlando tahu jika dia ada di pihaknya.


"Ayah juga ... ada yang belum aku beritahukan padamu," ucap Bastian pelan. Dia terlihat berpikir sebentar sebelum melanjutkan.


"Saat pertama kali ayahku tahu, dia hampir membunuhnya," ucap Bastian lagi.


Bastian menunggu reaksi Orlando setelah mendengar itu. Cukup lama Orlando hanya terdiam saja. Bastian menghela napas pelan. Entah kenapa jari-jari tangannya lebih menarik dari apapun sekarang ini.


"Lalu ... Kenapa dia ragu?" gumam Orlando tanpa menggerakkan bibirnya. Membuat Bastian menoleh padanya, mempelajari ekspresi wajah Orlando.


"Karena kau belum tahu apa-apa. Bisa kau bayangkan apa yang terjadi jika ayahku benar-benar melakukannya? Kau akan membencinya dan dia tidak akan memiliki kesempatan untuk melindungi mu lagi," jelas Bastian, akhirnya dia bisa menjelaskan semua itu pada Orlando.


Orlando menatap Bastian setelah mendengar apa yang dikatakan Bastian. Entah kenapa dia merasa sentimental. Bagi Orlando, Armand adalah sosok ayah yang tidak dia miliki. Dan kehadirannya membuat Orlando merasa aman. Orlando sempat berpikir apa semua akan berubah jika ibunya memang sudah tiada?

__ADS_1


Orlando, merasa sedikit berkecil hati. Walau Bastian selalu datang untuk mencoba bicara dengannya seperti biasa. Tetap saja kecemasannya semakin hari semakin besar. Dia takut Armand atau Bastian suatu hari nanti berjalan memunggunginya. Dan pada akhirnya dia akan hidup sendirian. Tapi kali ini dia memutuskan untuk berharap lagi.


"Aku akan mencoba bicara dengan wanita itu," kata Orlando akhirnya.


Bastian akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri Orlando. Menepuk pundaknya dua kali.


"Itu keputusan yang bagus," ucap Bastian meyakinkan.


"Boleh aku meminjam monster itu sebentar?" tanya Bastian sambil mengulurkan tangannya.


Orlando ingin menolak. Tapi pada akhirnya memberikan Mossie pada Bastian. Yang dengan cekatan mengelus kucing itu juga.


.


.


Abela tidak pernah tahu, setelah sekian lama dia akan mendengar seseorang mengomelinya lagi. Rewelin datang pagi-pagi sekali ke kamarnya dan memulai omelan dengan airmata yang menggantung di sudut matanya.


Abela akhirnya bisa menenangkan Rewelin dan membuatnya duduk dan minum teh. Abela cukup terkejut mengetahui jika ternyata Rewelin mencoba menemuinya selama ini. Tapi tentu saja Armand tidak mengizinkannya.


"Aku tidak mengerti, kenapa Armand mengurung mu begini?" tanya Rewelin pelan setelah dia mendapatkan ketenangannya kembali.


"Kau yakin? Bagaimana dengan ekspedisi pertama?" tanga Rewelin lagi. Kenapa aku tidak boleh menemui sejak saat itu.


"Itu karena aku diculik dan lain sebagainya," ucap Abela berusaha untuk tetap menatap mata Rewelin.


"Tapi tetap saja, bagaimana mungkin kau bisa sedingin itu. Tidak menulis surat padaku sekalipun." Rewelin menatap galak Abela dan menyilangkan tangannya di depan dada.


Abela meringis melihatnya. Dia tidak berpikir tentang Rewelin akhir-akhir ini. Yang ada Abela pikirkan hanya Orlando, Bastian , Armand dan tentu saja tubuhnya yang berkeliaran dirasuki putri dari Wilhelm. Dan apa yang putri itu lakukan. Bagaimana dia bisa bertahan tidak berpindah tubuh lagi. Bagaimana dia bisa bertahan berada di dalam tubuh membusuk Abela.


"Apa kau mendengar sesuatu tentang Lyra?" tanya Abela.


"Kau mendengarnya juga? Delegasi dari Wilhelm datang untuk mengambil tubuhnya dari menara sihir. Suamiku bilang, entah kenapa putri terlihat tidak bernapas. Apa mungkin Lyra sudah tiada?" Rewelin bicara tanpa jeda.


"Kalau dia sudah tiada, kenapa mereka membawa tubuh itu ke menara sihir?" tanya Abela lagi.


"Itu yang menjadi pertanyaan semua orang. Dan apa kau tahu Abela, kardinal juga menghilang."

__ADS_1


Abela menaikan sebelah alisnya. Kardinal? dia tidak tahu yang mana kardinal ini. Dia tidak pernah bertemu dengannya. Setidaknya sejak dia merasuki tubuh Abela.


"Kau tidak tahu siapa dia? Dia yang mengusulkan pernikahan Armand dan putri Lyra," kata Rewelin lagi.


"Kenapa? Apa keuntungan yang dia dapat dari itu?" tanya Abela pemasaran.


"Ada desas-desus yang bilang jika kardinal adalah paman raja. Saat raja sebelumnya berkuasa, ada seseorang mengaku sebagai adiknya."


"Dan orang itu kardinal?" Abela cukup terhanyut dengan cerita Rewelin.


"Ya, kau benar. Walau hal itu tidak pernah terbukti," kata Rewelin lagi.


"Masuk akal kalau begitu," gumam Abela mengingat percakapan orang-orang berjubah hitam yang membuat Lyra merasuk ke tubuhnya saat itu.


"Apa yang masuk akal?" tanya Rewelin.


"Jika dia ingin tahta raja, dia ada diurutan paling lama. Raja memiliki dua pangeran, lalu ada Armand dan Bastian. Cukup masuk akal jika dia membuatku keguguran saat itu. Membuat kemungkinan jarak pewaris tahta semakin besar."


"Kau yakin apa yang kau katakan sekarang?" tanya rewelin.


"Dan kalau dia ingin segera menjadi raja ...." Abela mengehentikan ucapannya.


Rewelin menelan ludahnya gugup. "Dia harus membunuh semuanya ...." ucap Rewelin lirih.


"Aku yakin dia tidak bekerja sendirian," ucap Abela tenang.


"Aku menjadi gugup. Apa yang akan terjadi jika ada revolusi?" Rewelin menggigit kuku jarinya.


"Tenanglah ... Hal itu belum terjadi. Aku yakin Raja dan Armand tidak membiarkan itu terjadi." Abela meminum tehnya.


Abela tidak ingin memikirkan itu sekarang. Ada banyak hal yang harus dia lakukan untuk kembali ke tempatnya berada. Dan entah kenapa semakin hari dia merasa masalahnya semakin rumit saja.


Abela menghela napas pelan. Kepalanya terasa sakit. Mungkin kondisi badannya belum pulih sepenuhnya. Abela menoleh ke arah pintu saat seseorang mengetuknya dari luar. Jika penjaga membiarkan orang itu mengetuk pintu, itu berarti yang mengetuk pintu itu bukan orang asing.


"Apa itu Duke Armand?" tanya Rewelin terlihat kesal.


Abela menggeleng dan menyuruh pelayan untuk membuka pintu. Saat pintu dibuka. Abela melihat Orlando memeluk Mossie dengan ekspresi kikuk. Diikuti Bastian di belakangnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2