
.
Abela bersyukur pelayan tidak tertawa saat mendengar apa yang dia ucapkan dan membantunya hingga akhir. Sampai dia bisa menyantap sarapannya dengan tenang. Hari ini dia akan menunggu Armand dan bersikeras untuk ikut ekspedisi monster. Kemarin malam dia dengan ceroboh mengatakan kalau dia akan memberitahu semuanya. Jadi, jika Armand bertanya nanti saat di ekspedisi. Apa yang akan dia katakan?
Abela sebenarnya cukup khawatir tentang ekspedisi kali ini. Dia belum bisa mengendalikan auranya. Belakangan ini dia malah disibukan dengan bisnis keluarga baron. Dan Armand tidak datang ke kediamannya membuatnya sedikit malas berlatih.
Yang paling Abela khawatirkan bukan karena dia belum mendapatkan petunjuk apa-apa agar dirinya bisa kembali ke tempat yang seharusnya. Tapi nyatanya dia agak, sedikit saja, merasa semakin nyaman hidup sebagai Abela. Kenyataan itu membuatnya resah. Dia ingin segera menyelesaikan semua ini sebelum perasaan nyamannya semakin besar.
...----------------...
"Apa yang membuat wajah Paman di tekuk begitu?" tanya Cesar yang tidak sengaja mendapati pamannya menghela napas berulang kali hari ini.
"Jangan pedulikan aku, fokus saja pada laporan itu," jawab Armand yang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Paman terlihat sangat lelah," kata Cesar lagi.
"Aku memang lelah, cepatlah jadi tangguh dan gantikan aku." Armand tertawa pelan diakhir ucapannya. Dan menghentikan tawanya segera saat pintu di ketuk dari luar.
Armand bangkit dari duduknya, mengambil perkamen dari tangan Cesar ,mengangkat dan sedikit menyeret Cesar untuk di dudukan di sofa nyaman kantornya. Dengan natural membuat Cesar memegang cangkir teh.
"Masuk," seru Armand tenang, sedang Cesar menahan tawanya dan menyilangkan kaki.
"Yang Mulia, aku membawa daftar ksatria yang akan ikut dalam ekspedisi." Ray masuk dengan setumpuk perkamen.
"Ah ...." Ray terlihat kaget mendapati putra mahkota ada di ruangan tuannya itu. "Semoga kedamaian selalu bersama negeri kita. Hormat saya pada yang mulia putra mahkota." Ray membungkuk, dia hanya menegakkan kembali badannya setelah Cesar mengizinkannya.
"Jangan hiraukan aku, kalian bisa berdiskusi dengan bebas." Cesar tersenyum diatas cangkir teh yang sudah dingin.
"Mereka ditunjuk?" tanya Armand singkat.
"Mereka mengajukan diri mereka dengan suka rela," jawab Ray.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak perlu melihat ini semua Ray. Hanya ... Tambahkan satu orang untukku." Armand membuka sarung tangannya. Entah kenapa banyak hal kecil yang menggangunya hari ini.
"Siapa? Bastian?" tanya Cesar penasaran.
"Bukan. Tambahkan Abela dalam daftar ekspedisi." Armand menjawab seakan itu adalah hal yang biasa. Sedang Ray menatapnya seperti dia sudah gila.
__ADS_1
"Madam Abela? Sudah ku duga Paman tidak sedang baik-baik saja." Cesar menyipitkan matanya , memandang Armand dengan tatapan menilai. "Orang waras tidak mungkin memikirkan hal itu?"
Cesar tahu alasan Armand menyeretnya untuk duduk di sofa adalah untuk memperlihatkan bahwa mereka tetap memakai etiket kerajaan dalam situasi apapun. Tapi mendengar Armand bermaksud membawa Abela ke ekspedisi monster. Membuat Cesar melupakan itu.
"Itu berarti, seorang lady akan tidur di tenda di tanah yang mungkin berbatu. Makan apa saja yang bisa kita ditemukan jika suplai makanan kita sudah habis. Paman, pikirkan lagi." Cesar terdengar bersemangat mengajari Armand.
"Saya paham tentang itu yang mulia." Armand menekan kata-kata formal yang dia ucapkan. "Ada alasan di setiap keputusan saya."
"Tapi tetap saja. Aku mengerti kalau paman membawanya ke Estonia Duchy. Karena di sana ada kastil Duke Estonia yang megah dan memenuhi kebutuhan Madam. Tapi tidak untuk perjalanan kali ini."
Ray berusaha Kabur dalam perdebatan antara paman dan keponakannya ini. Dia melangkah perlahan mendekati pintu.
"Kau tidak akan kemana-mana Ray," ucap Armand dengan nada rendah. Membuat Ray berbalik lagi dan tersenyum canggung.
"Abela adalah tanggung jawab saya. Bagaimanapun saya yang membawanya. Jadi Yang Mulia tidak perlu khawatir," kata Armand lagi pada Cesar.
"Ray ... Kau tidak bisa menghentikan tuanmu?" tanya Cesar pada Ray yang masih berdiri tanpa bergerak.
"Maaf kan saya Yang Mulia, tapi seperti anda tahu ...." Ray menelan ludahnya sebelum berucap, "Tuan Duke terlihat menyeramkan walau tidak marah." Ray berbisik dengan suara keras. Membuat Cesar tertawa.
"Tapi ... Kenapa dia ingin ikut?" tanga Cesar penasaran.
"Hmm ... Mungkin dia hanya tidak ingin berpisah denganku." Armand menjawab dengan nada dan ekspresi yang datar. Membuat Cesar dan Ray berekspresi seperti orang bodoh. Belum pernah Armand memperlihatkan sisi narsistik nya selama ini.
"Mengerikan sekali," gumam Cesar pelan.
Armand tersenyum tipis, entah kenapa wajah Abela muncul di pikirannya sekarang ini.
"Ray ... Masukan Abela dalam daftar kali ini. Aku pastikan dia tidak akan ekspedisi ini." Armand memerintah Ray, tentu saja Ray tidak bisa membantah perintah atasannya itu. Ray undur diri dan keluar ruangan. Meninggalkan dua orang yang sedang terlihat berpikir keras.
...----------------...
"Dimana Abela?" itu yang pertama Armand tanyakan saat sampai kediamannya.
"Setelah makan malam, nyonya berdiam diri di perpustakaan," jawab Tony.
Tony tidak menyangka Armand akan pulang lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena Abela ada rumah ini membuat Armand segera menyelesaikan pekerjaannya di istana.
__ADS_1
Armand perlahan masuk ke dalam perpustakaan pribadinya. Dia melihat rambut emas Abela bersinar diantara cahaya lilin. Armand mendekat tidak bermaksud menyembunyikan kedatangannya.
"Kau sudah pulang?" tanya Abela tanpa menengok .
"Ya ... apa yang sedang kau lakukan?" tanya Armand melirik judul buku yang Abela baca.
"Aku tidak sedikitpun berlatih aura ku. Aku sibuk dengan kebun anggur. Dan kau tidak muncul di rumah ku seperti biasa." Abela masih belum menatap Armand.
"Kau pernah bilang fisikku kuat. Kenapa aku bahkan tidak sanggup berlari lebih dari lima putaran," kata Abela lagi.
"Jadi apa yang salah? Aku yang berkata jika fisik mu kuat? Atau kau yang bahkan tidak bisa berlari lebih dari lima putaran?" Armand bertanya dengan perkataan yang rumit.
Abela mengerutkan keningnya dan akhirnya menurunkan bukunya. "Pertanyaan apa itu?"
"Pertanyaan yang membuatmu akhirnya menatapku." Armand memajukan wajahnya dan mengecup pipi Abela ringan.
"Pagi ini pelayan harus membantuku berjalan ke kamar mandi," kata Abela datar.
"Aku tidak akan meminta apa-apa," jawab Armand yang di tanggapi oleh tatapan tidak percaya Abela.
"Belum," kata Armand lagi.
"Aku. Tidak. Mau." Abela menekan semua kata.
"Kau tidak mau ikut ke ekspedisi?"
"Aku ikut tentu saja. Kau berjanji padaku semalam." Abela berkata kesal.
"Tapi kau bilang tidak mau ...."
"Aku bilang aku tidak bisa berjalan tadi pagi. Kau ... Aku minta kau lebih baik hati untuk tidak membuatku kesulitan lagi." Abela memotong perkataan Armand.
"Baiklah nyonya keras kepala," ucap Armand sambil tersenyum. Armand menatap Abela dengan tatapan lembutnya yang biasa. Membuat Abela sedikit terpana.
"Kau tahu Abela, yang membuatku gugup bukan ekspedisi ini tapi ...." Armand terdiam sebentar. Bisa Abela lihat ekspresi Armand yang tiba-tiba berubah. "Aku gugup mendengar apa yang kau katakan padaku setelahnya."
...----------------...
__ADS_1