Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Nama


__ADS_3

.


Abela membelalakkan mata saat mendengar Armand menyebut nama aslinya untuk pertama kali. Tubuhnya menegang , membatu di tempat dia berbaring. Otaknya mencerna dengan cukup lama. Kapan terakhir kali dia di panggil dengan nama itu?


"Arabela?" bisik Armand lagi.


Abela menelan ludahnya. Dia berusaha lepas dari pelukan Armand yang kencang.


"Entah kenapa mendengar kau menyebut nama itu membuatku ...." Abela menggantung kalimatnya. Dia masih berusaha menggeser lengan Armand.


"Membuatmu? Takut? Bersemangat?" Armand menyeringai sebelum akhirnya melepas pelukannya.


Abela segera turun dari tempat tidur, tanpa menoleh pada Armand. Dia berjalan pelan ke arah kursi, dimana Armand duduk kemarin. Dan menegak liquor yang masih tersisa.


Armand juga beranjak dari tempat tidurnya dan menyalakan bel. Beberapa pelayan menghambur masuk ke dalam kamarnya. Empat diantaranya sibuk dengan Abela. Armand keluar dari sana setelah melihat pemandangan itu.


.


.


"Ibu terlihat sedang tidak baik-baik saja," ucap Bastian di meja makan.


"Apa? Tidak. Tentu saja ibu baik-baik saja," jawab Abela sambil lalu.


"Wajah ibu terlihat pucat." Orlando masuk ke dalam percakapan.


Abela bersyukur, Armand tidak ikut sarapan bersama mereka kali ini. Itu berarti dia bisa makan sepuas yang dia mau. Tanpa harus merasa tidak nyaman.


"Perut ibu sedikit perih. Tadi saat bangun. Ibu merasa haus dan tidak menyadari yang ibu minum adalah liquor."


"Jadi? Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Orlando lagi.


"Kami memang tidak pernah bertengkar, nak." Abela memaksakan senyumnya.


"Syukurlah kalau begitu," Orlando menjawab seraya membuang tatapannya dari Abela. Sadar jika senyum yang tersungging di wajah ibunya adalah senyum palsu.


"Apa rencana kalian hari ini?" tanya Abela basa-basi.


"Kami akan ke kota. Ibu mau ikut?" tanya Orlando polos.


"Tidak ... Ibu rasa Ibu akan istirahat disini saja," jawab Abela terlalu cepat. Dia hanya merasa jika Armand tidak akan mengizinkannya pergi.


"Sayang sekali. Aku ingin pergi dengan ibu," ucap Orlando.


"Aku rasa tidak apa-apa, untuk berjalan-jalan sebentar." Bastian ikut berkomentar, membujuk Abela.


Abela hanya tersenyum canggung, bingung dengan apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


"Aku, akan bilang pada ayahmu dulu." Abela tersenyum canggung lagi. Walau dia bilang begitu, sebenarnya dia tidak tahu dia bisa bicara dengan Armand atau tidak.


"Kenapa ibu harus minta izin ayah hanya untuk keluar?" pertanyaan Orlando masuk akal. Kenapa dia harus melakukannya seperti memperlihatkan jika dia tahanan.


Abela tertawa canggung, dia menyuap lagi sarapannya. Memikirkan cara agar bisa keluar dari situasi ini.


"Ibu mu boleh pergi. Tentu saja." Suara Armand terdengar tiba-tiba. Armand muncul tanpa bersuara membuat semua orang terkejut.


Bastian entah kenapa memasang wajah datar, sedang Orlando tampak berseri-seri. Abela melirik Armand dengan sudut matanya. Dia berusaha tetap bersikap tenang.


"Pakaian ku sudah agak mengecil Ibu. Hanya beberapa bulan saja dan aku bertumbuh dengan cepat. Jadi ayo cari pakaianku dulu." Orlando berkata riang.


Abela dengan spontan mengambil tangan Orlando dan melihat lengan kemejanya yang sudah lebih pendek dari ukuran tangannya. Abela tersenyum sendu sedang hatinya terasa sedikit sakit.


"Aku lupa kapan terakhir kali aku membelikan pakaian untuk mu," ucap Abela tanpa sadar.


"Aku juga tidak ingat, mungkin beberapa bulan lalu." Orlando menampilkan wajah berpikir. Lalu tersenyum lebar lagi. "Kita bisa melakukannya hari ini," katanya lagi.


Pemandangan itu membuat Armand menelan minumannya dengan lambat. Dia menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik cangkir. Apa yang terjadi jika Orlando tahu kenyataannya jika dia telah yatim piatu?


Gestur Armand di tangkap oleh Bastian yang masih diam memperhatikannya. Banyak yang anak itu pikirkan juga.


.


.


Orlando mungkin hanya mengingat yang pernah Armand katakan padanya bahwa Abela hilang ingatan.


"Madam Isla, selamat datang." Sambut pemilik butik itu ramah.


Abela menunduk sebentar, "Aku butuh beberapa setelan untuk Orlando. Untuk di rumah dan diluar."


Pelayan toko mengerti dan mulai mengukur Orlando. Sedang Abela dan Bastian menunggu di kursi panjang yang tersedia di sana.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Abela tiba-tiba.


Bastian tidak langsung menjawab dia masih terdiam. Lalu dia memberi Abela senyuman. Abela mengerutkan keningnya.


"Tidak ada, kenapa ibu berpikir aku sedang memikirkan sesuatu," jawab Bastian tenang.


"Kau selalu tiba-tiba terdiam saat menatap wajahku," ucap Abela.


"Ouh ... Soal itu .... " Bastian tidak meneruskan apa yang dia katakan. Karena Orlando sudah bergabung bersama mereka lagi.


"Setelah ini, aku butuh beberapa buku." Orlando terlihat sangat ceria.


Ekspresi Orlando tidak bisa mengalihkan rasa penasaran Abela dengan apa yang ingin Bastian katakan. Apa Armand sudah memberitahu putranya kalau dia bukan Abela? Jika memang Bastian sudah tahu soal itu. Tidak heran jika dia selalu terdiam saat menatap wajahnya.

__ADS_1


Abela duduk diam di sebuah kursi dan melihat Orlando ke sana kemari di toko buku dengan Bastian yang mengekorinya.


"Saya tidak tahu, saya akan bertemu dengan madam disini."


Suara itu membuat Abela yang sedikit melamun terkejut. Dia menoleh dan melihat Calix sedang tersenyum padanya.


"Duke Estonia?" Abela sudah akan berdiri sebelum Calix menahannya dan menyuruhnya tetap duduk.


"Apa yang sedang madam cari?" tanya Calix lagi.


"Tidak , aku mengantar anak ku." Abela menunjuk Orlando dengan gerakan kepalanya.


"Tuan muda yang sedang bersama pangeran Bastian adalah anak madam?"


"Anda benar, yang berambut emas. Dia anak ku." Abela tersenyum lembut, dua sudut bibirnya terangkat dengan sangat indah. Matanya terpejam tidak terlalu lama. Tapi cukup mmebuata Calix memperhatikan bulu matanya yang lentik dan panjang.


Calix menelan ludahnya, jantungnya berdetak dengan ritme yang cepat. Selalu begini jika dia sedang bicara dengan madam ini.


"Saya terkejut anda masih ada di ibu kota," kata Abela membuyarkan lamunan Calix.


"Isu yang terjadi belakangan ini, membuat saya berpikir untuk tinggal di sini lebih lama." Calix menjawab pertanyaan Abela dengan lancar, pandangannya sudah beralih dari wajah Abela ke rak-rak buku yang berjajar.


"Tentang tubuh penyihir yang di rasuki?" Abela bertanya hati-hati.


"Anda benar. Tubuh itu sudah lama mati. Seharusnya hal itu mustahil. Tapi ... Saya yakin, siapapun orang yang melakukannya. Dia pasti memiliki tujuan yang salah."


"Sudah dua tahun bukan? Mereka pasti mencoba menyempurnakan tubuh itu dengan berbagai cara." Abela bergumam pelan, lebih bicara pada dirinya sendiri.


"Dua hari lagi, kami akan menuju kastil penyihir itu lagi. Beberapa pasukan tinggal di sana berjaga di sana."


"Kami?" Abela bertanya. Memastikan siapa saja yang akan pergi.


"Benar madam, semua yang ikut dalam ekspedisi monster saat itu."


"Armand tidak mengatakan apa-apa ...." Abela terdiam tiba-tiba, dia tersenyum miris. Armand tidak pernah memberitahunya. Ekspedisi monster pun Abela tahu saat berbincang dengan Rewelin.


"Duke mungkin hanya tidak ingin anda ikut lagi." Calix berkata seakan membaca isi kepala Abela.


"Tentu saja. Saya hanya menjadi penghalang untuk misi kalian." Abela belum menatap Calix.


"Itu tidak benar, madam banyak membantu kami."


Abela sedikit terpana dengan kata-kata calix. Dia diam-diam tersenyum. Cucu dari cucu, cucunya ini sangat mirip dengan anaknya dulu. Abela memperhatikan Calix dengan sudut matanya. Dari kakinya yang panjang ke lengan bajunya. Ada sedikit benang yang mencuat di dekat kancing jasnya.


Tanpa sadar tangan Abela terjulur meraih ujung lengan jas Calix. Saat kesadarannya kembali, Abela menatap wajah Calix yang menjulang tinggi di sampingnya. Abela tidak yakin apa yang membuatnya merasa canggung dengan posisi mereka. Wajah tidak percaya Calix pada apa yang dilakukan Abela atau wajah pria itu yang memerah?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2