Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Calix


__ADS_3

.


Armand menatap jari-jarinya yang bertaut diatas meja. Wajahnya sangat kaku dan keras hingga semua orang yang ada di sekitarnya terlihat waspada. Armand sudah mengirim banyak bayangannya untuk mengikuti kemana Abela dan anak-anaknya pergi. Dia juga sudah memberi instruksi pada Bastian untuk berhati-hati. Tapi tetap saja hatinya tidak tenang.


Armand kembali mengingat kejadian pagi ini saat dia memanggil nama asli penyihir itu. Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia bisa menyebutnya dengan nada seduktif seperti itu. Armand meyakinkan dirinya bahwa semua yang dia lakukan karena wajah dan tubuh Abela bukan karena Arabela.


Lalu kenapa dia sangat gusar sekarang ini. Dia ingin pergi ke tengah kota dan menjemput mereka bertiga. Tapi tentu saja itu sedikit memalukan, entah wajah apa yang akan ditampilkan Bastian jika dia melakukan itu. Mereka berdua bukan anak kecil yang harus di temani kedua orang tua mereka saat mereka berpergian.


Armand menghela napas dengan cukup keras. Membuat Ray dan Tony terkejut. Entah kenapa mereka mulai menyiapkan diri.


"Apa yang tuan khawatirkan?" tanya Tony hati-hati.


Armand menatap Tony lama. Tidak ada yang tahu jika wanita itu bukan Abela yang asli kecuali Armand dan Bastian. Tentu saja Armand tidak bisa mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya dengan bebas seperti biasanya pada butler nya itu.


"Menurut mu?" Armand menjawab dengan pertanyaan ambigu.


Tony menatap Ray yang menyembunyikan wajahnya di balik perkamen jelas tidak mau ikut campur.


"Maafkan saya Tuan. Saya bertanya karena Tuan terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu."


"Aku baik-baik saja. Kau bisa melanjutkan apa yang sedang kamu kerjakan." Armand beranjak dari duduknya. Dan keluar ruangan. Dia hanya akan melakukan apa yang ingin dia lakukan daripada merasa tidak nyaman seharian.


.


.


Dan disini lah Armand sekarang ini. Berdiri membatu di dekat pintu masuk toko buku. Dia diberitahu satu bayangannya kalau anak-anaknya -dan Abela juga- ada di toko buku ini. Tapi hal pertama yang dia lihat tidak sepenuhnya menyenangkan.


Kenapa Abela terlihat sangat dekat sekali dengan Calix? Mata Armand menyipit melihat ujung jari Abela yang memegang ujung lengan baju Calix. Armand masih diam saat melihat mereka berdua saling menatap satu sama lain. Atau wajah Calix yang terlihat memerah. Kenapa wajahnya harus memerah seperti itu?


Armand menyembunyikan satu tangannya di balik saku celana yang dia kenakan. Semua orang yang melihatnya sudah pasti akan tahu kalau dia sedang gusar.


"Ayah?" Bastian menyadari kehadirannya dan membuat semua orang menoleh fokus pada Armand.


Abela melepas ujung jarinya dan mencoba bersikap biasa saja. Kenapa dia harus terganggu dengan benang yang ada di lengan baju Calix.


"Yang mulia," Calix menyapa Armand sopan. Armand balik menyapanya juga dengan anggukan singkat.

__ADS_1


Abela masih duduk di tempatnya. Dengan sudut matanya Armand bisa melihat telinga wanita itu sedikit merah.


"Apa yang ayah lakukan disini?" tanya Orlando dengan nada heran.


"Ayan hanya khawatir." Armand menjawab tenang. Dia tersenyum pada remaja itu dan menghampirinya. Melewati Abela yang duduk dekat dengan Calix.


"Khawatir?" tanya Orlando lagi. Menatap Abela yang tidak mengatakan apa-apa sejak kedatangan Armand.


"Ayah seharusnya tidak terlalu khawatir. Aku, Sid dan yang lainnya sudah cukup." Bastian bergumam pelan.


"Ayah tahu," ucap Armand tersenyum canggung.


"Apa? Tentang apa?" Orlando masih bertanya pada dua orang yang tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.


"Baiklah ... Pada akhirnya aku yang selalu tidak tahu," rajuk Orlando dengan wajah cemberut.


"Kau jelek sekali saat menampilkan wajah itu." Bastian mengejek teman baiknya.


"Hah? terserah saja." Orlando membalas dengan mendelik pada Bastian yang tersenyum lebar.


Armand tertawa pelan seraya mengacak rambut Orlando yang sudah tersenyum lagi.


Anak malang yang kehilangan ibunya, Abela tersenyum miris sambil memejamkan mata. Sekilas kata-kata Armand yang mengatakan jika dia akan menjaga Bastian dan Orlando dulu sebelum menyusul kekasihnya terdengar bukan sesuatu yang mustahil.


Abela tidak tahu, dirinya salah atau tidak dengan apa yang menimpa Armand, Orlando atau Bastian. Tentu saja dia menolak disalahkan. Bukan keinginannya masuk dalam tubuh ini juga.


"Duke Armand terlihat sangat akrab dengan anak madam." Calix mengutarakan isi kepalanya. Membuat Abela meliriknya lagi. Dia masih ada disini -cucunya.


"Hn. Tuan Duke benar." Abela menjawab singkat.


"Madam, saya rasa anda tidak perlu ikut ke kastil itu." Calix berkata lagi. Pandangannya jatuh pada Armand yang masih berbincang di depan mereka.


"Jadi Armand sudah mengajukan ku untuk ikut ke kastil itu?" tanya Abela. Tidak ada perubahan ekspresi baik dari nada bicara atau wajahnya.


"Duke Armand, mengatakan itu saat dipertemuan kemarin."


"Begitukah? Kalau begitu aku harus ikut lagi." Abela menjawab dengan santai. Seperti semua itu bukan suatu beban. "Saya akan pastikan untuk mengacaukannya seperti tempo hari," ucap Abela lagi.

__ADS_1


"Saat itu anda tidak bersalah. Maafkan saya tidak bisa mencegah penculikan itu. Saat saya berteriak bahwa saya akan melindungi madam."


"Oh ... Saat itu Tuan Duke yang berteriak?" Abela menaham tawa kecilnya. Mengingat saat itu. Membuat wajah Calix memerah lagi.


"Saya memastikan hanya madam yang dapat mendengarnya," gumam Calix pelan.


"Terimakasih. Sungguh."


"Saya ...." Calix melirik Abela yang masih menampilkan senyumannya. "Dengan senang hati."


Mereka berdua kemudian tidak bicara lagi. Abela sedikit mengantuk di kursinya dan Calix sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak satupun dari mereka bergerak. Gestur mereka tertangkap oleh Armand. Dia melirik tempat mereka berada dengan sudut matanya.


Ada emosi yang Armand rasakan. Tentu saja, dia bisa cemburu. Bagaimana tidak, meski di dalam tubuh itu bukan jiwa Abela yang asli. Tubuh itu tetap milik Abela.


Armand tersenyum miris dengan wajah yang menggelap. Dia bersyukur baik Bastian atau Orlando tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini. Sejak tahu kebenaran yang Abela katakan. Pergulatan batinnya selalu membuat kepalanya sakit. Di satu sisi, dia ingin membunuh penyihir itu dan menyalahkan semua hal itu pada Ghotel. Tapi di sisi lain, tidak mudah menyakiti tubuh kekasihnya. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya.


"Ibu?" Orlando tiba-tiba ada disamping Abela dan menatapnya dengan pupil birunya yang cerah.


"Ibu terlihat lelah," kata Orlando lagi.


"Ya, aku rasa sudah saatnya kita pulang." Armand menimpali dari tempatnya berdiri. Dia menoleh melihat Calix yang terlihat terkejut.


Tapi tidak lama wajah terkejut Calix berganti. Matanya tajam membalas tatapan mata Armand.


"Duke Estonia?" Abela memanggil Calix dengan sopan untuk berpamitan.


"Ah ... Ya madam." Calix melepas tatapannya pada Armand. Dan berbalik pada Abela.


"Saya pamit lebih dulu. Senang bertemu dengan anda." Abela mengangguk sopan sebelum merangkul pundak Orlando dan mengajaknya pergi. Disusul Bastian dengan wajah datar.


"Senang juga bertemu dengan anda Duke," Armand berkata sarkastik.


"Jika saya jadi anda tuan, saya tidak akan membiarkan madam ikut dalam ekspedisi berbahaya." Calix berkata pelan. Saat Armand sudah berjarak sangat dekat dengannya. Membuat Armand meliriknya.


"Jika saya jadi anda. Saya tidak akan membicarakan hal itu disini." Armand memperingati Calix dengan nada dan tatapan mengintimidasi.


Calix tidak menjawab atau bergerak saat Armand berjalan keluar dari pintu toko.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2