
.
Orlando menunggu ibunya di meja makan. Sejak ibunya kembali ke rumah, Orlando tidak berani mendatangi kamarnya. Orlando tidak terbiasa melihat punggung ibunya. Jadi melihat Abela berjalan menaiki tangga tanpa menoleh lagi cukup membuat perasaan Orlando terluka.
Abela belum turun saat Armand datang. Butler mengantar Armand ke ruang makan. Armand tersenyum kecil saat melihat puncak kepala Orlando yang sepertinya sedang melamun.
"Apa yang membuat tuan muda berpikir begitu dalam?" tanya Armand membuat Orlando terkejut hingga hampir terjungkal dari kursinya jika Armand tidak segera menahannya.
"Kau baik-baik saja?" Armand bertanya khawatir, dia tidak menyangka Orlando akan terkejut dengan sapaannya.
"Aku ... Aku baik-baik saja Ayah," jawab Orlando. Dia segera menegakkan kembali duduknya.
"Apa yang kau pikirkan?" Armand bertanya lagi. Sedikit khawatir dengan Orlando yang tampak sedih.
"Tidak ... Aku hanya ... merasa sedih karena ibu terlihat tidak merindukanku." Orlando menunduk menatap lantai di bawah kakinya yang masih menggantung di kursi.
"Dia mungkin hanya sedang lelah. Maafkan aku, tiba-tiba membawanya ke teritori timur."
"Tidak, bukan begitu Ayah. Ini ... Ini hanya sedikit aneh. Maksudku ... Ibu yang aku kenal, tidak seperti itu." Kata-kata Orlando semakin lama semakin pelan.
Armand tidak menjawabnya, bagaimanapun Bastian dan Orlando adalah orang yang berbeda. Lagi pula Bastian bukan anak Abela, jadi dia bisa paham jika perhatian Abela padanya tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bastian bisa mentolerir semuanya dan memulai lagi.
Tapi Orlando berbeda, tentu saja dia akan merasa jika ada hal yang berbeda dari ibunya. Armand yang selama ini menganggap merahasiakan segalanya demi kebaikan anak dan ibu itu merasa sedikit tidak percaya diri. Mungkin saja tindakannya salah.
"Orlando, maafkan aku ...."
"Kalian sudah menunggu lama?" pertanyaan Abela memotong apa yang akan di katakan Armand. Abela berjalan pelan ke arah Orlando dan mengelus rambutnya lembut.
Abela merasa jika sikapnya tadi terlalu dingin. Bagaimanapun Orlando adalah anak kandung dari wanita ini. Dan firasat Abela mengatakan jika Armand merahasiakan insiden yang terjadi padanya dari Orlando.
"Tunggu apalagi, ayo kita mulai makan, Butler." Abela tidak memanggil Butler nya dengan nama. Dia hanya tersenyum mencoba menyampaikan dalam diam, memohon semoga laki-laki paruh baya itu bisa mentolerir hal itu.
Lui mengangguk dan tersenyum sebelum memerintahkan pelayan untuk mulai membawakan makanan. Dia paham nyonya nya pasti tidak mengingat namanya. Lui tidak mungkin memprotes hal itu. Kondisi nyonya nya memang sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa ibu ikut ayah ke teritori timur?" Orlando mulai bertanya saat pelayan menghidangkan sup mereka.
"Ayah?" Abela bertanya mengulang panggilan Orlando untuk Armand. Dia melirik Armand yang tersenyum tipis. Kalau di pikir lagi, kenapa Armand duduk disitu. Di tempat kepala keluarga duduk.
"Ibu hanya penasaran saja. Ibu tidak pernah kesana. Kapan lagi ibu bisa menikmati suasana teritori timur." Abela memberi jawaban sangat biasa sehingga Armand tidak bisa menahan tawanya.
"Kenapa ayah tertawa?" Orlando menatap Armand heran.
"Jangan pedulikan dia," ucap Abela yang memandang tajam Armand.
__ADS_1
"Jadi? Ada apa di sana?" Orlando tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Sama saja seperti ibu kota. Ibu ralat lagi, sebenarnya tidak terlalu ramai seperti ibu kota. Dan tuan Duke membelikan ibu banyak hadiah."
"Tuan Duke? Duke Estonia?" tanya Orlando lagi seraya memiringkan kepalanya.
"Maksud ku, Duke yang ada bersama dengan kita sekarang ini." Abela tidak menyangka jawabannya akan mempengaruhi semua orang yang ada di ruang makan ini. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka.
"Oh ... Sudah lama sekali ibu memanggil ayah dengan sebutan Duke ...." Orlando berkata lirih dan melirik Armand dengan sudut matanya. Armand terlihat sangat tenang menyendok sup.
"Apa kalian sedang bertengkar?" bisik Orlando pada Armand yang dengan jelas bisa di dengar Abela.
"Sebenarnya iya, tapi seingat ayah, kami sudah berbaikan. Tapi sepertinya ibu mu tidak beranggapan begitu."
"Tidak, kami tidak bertengkar Orlando. Jangan khawatir." Abela sebenarnya tidak terlalu ingin ikut dalam percakapan mereka berdua. Tapi, entah kenapa dia merasa tidak boleh mengabaikan Orlando.
"Ayah menginap kan? Besok pagi, bisa temani aku berlatih?" tanya Orlando penuh harap. Wajahnya sangat berseri dan merona saat mengatakan itu.
"Tentu saja," jawab Armand santai.
"Maksud kalian berlatih aura?" Abela tiba-tiba terdengar antusias dari sebelumnya. "Berapa level Auramu Orlando?"
"Baru Level dua belas." Orlando menggaruk dagunya dengan jari telunjuk. Merasa salah tingkah untuk menyebutkan level auranya.
"Ya ... Ayah melatihku jadi ... Aku cepat mendapatkan keahlian."
"Kalau begitu ibu ikut." Abela menegaskan hal itu sebelum memotong steak nya.
"Ikut? Latihan?" Orlando terdengar sangat heran.
"Tentu saja, apalagi selain latihan pedang? Memasak?" Abela tidak bermaksud melayangkan lelucon. Tapi sepertinya baik Armand dan Orlando menganggap itu lucu sehingga mereka tertawa.
"Aku harap Bastian ada di sini juga," kata Orlando tulus.
"Ayah belum pulang ke rumah setelah pulang dari timur. Ayah rasa dia sedang sibuk dengan lembar demi lembar perkamen di ruang kerja Duke de Rhodes." Armand tersenyum melihat anak dan ibu ini berekspresi sama.
"Tidak. Dia tidak mungkin tidak makan malam." Armand menjawab pertanyaan yang ada di kepala Orlando dan Abela. Seakan sudah terbiasa dengan arti dari ekspresi wajah mereka.
"Aku harap aku bisa mengundangnya datang juga." Orlando menghela napas pelan. Dia ingin mereka berempat berkumpul bersama. Orlando lupa kapan tepatnya hal itu terakhir terjadi.
"Undang saja kalau begitu. Dan jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya anak kecil pikirkan. Berhenti melamun dan memasang wajah sedih," kata Abela panjang.
Abela hanya sadar, sikapnya pasti membebani pikiran anak itu. Bagaimanapun, seumur hidupnya Orlando tidak mungkin jauh dari Abela..
__ADS_1
"Hari ini ... ayah tidur di kamar ibu?" tanya Orlando, entah kenapa dia menundukkan wajahnya ke bawah.
"Kau ingin tidur dengan ibumu?" tanya Armand.
"Tidak ... Bukan begitu ayah ... Aku hanya ...."
"Atau Kau ingin aku tidur di kamar mu?" Armand bertanya lagi dengan nada jahil. Membuat Abela memutar mata.
"Aku hanya ... Ingin sedikit berbincang dengan ayah." Orlando tidak bisa menegakkan kepalanya. Dia sangat malu saat ini.
"Baiklah, selesai mandi aku akan ke kamarmu. Kau bisa tanyakan apa saja padaku. Semua yang ingin kau ketahui," jawab Armand. Armand terlihat sudah selesai makan. Meletakan pisau dan garpu dengan cara bersilang diatas piring.
Abela sedikit terperangah melihat rona merah di wajah Orlando. Kenapa dia terlihat bahagia sekali. Abela memiringkan kepalanya menatap dua orang yang bertukar afeksi di hadapannya.
"Kau sudah berusia tiga belas tahun. Bukankah aneh jika kau meminta tidur dengan orangtuamu? Ralat orang yang bukan orangtuamu?" Abela mengucapkan dengan keras pikirannya. Dulu anak laki-lakinya tidak pernah meminta tidur dengan orang tuanya sejak umur delapan tahun.
Abela menyeka mulutnya dengan serbet saat menyadari semua mata memandangnya. Dia menghela napas, harusnya dia tidak berkomentar apa-apa tadi. Wajah Orlando terlihat seperti ingin menangis dan Armand menatapnya tajam. Sedang butler dan pelayannya terlihat menyesali apa yang Abela ucapkan.
"Kau dengar itu Orlando. Sepertinya ibumu ingin aku tidur di kamarnya." Armand mengatakan itu dengan nada santainya. Membuat Abela tergugu dan malu.
"Apa? Tidak, pelayan akan menyiapkan kamar tamu untukmu," jawab Abela sedikit sinis, berbeda dengan rona merah yang menjalar ke seluruh bagian wajahnya.
"Dengar itu Orlando, ibumu sekarang merasa malu." Armand membalas nada sinis Abela membuat Abela kalah telak. Dengan gerakan terburu-buru Abela bangkit dari duduknya dan berjalan pergi di ikuti oleh Hana -pelayannya.
"Ibu marah?" tanya Orlando.
"Tidak. Tidak perlu dipikirkan." Armand memutar gelas wine nya dan minum sedikit.
"Ayah tidak perlu tidur di kamarku kalau begitu. Aku pasti sangat memalukan memintamu menemaniku tidur."
"Bastian tidak pernah memintaku tidur bersamanya sejak umurnya tujuh tahun. Tapi setelah bertemu ibumu dia menempel padanya seperti lem. Kenapa kau tidak boleh begitu padaku jika Bastian melakukan itu pada ibumu?" Armand tersenyum pada Orlando dan mengusap puncak kepalanya.
"Yang harus kau tahu, aku tidak keberatan," kata Armand lagi.
Orlando tersenyum sangat lebar, wajahnya yang berseri sangat mirip dengan wajah ibunya. Matanya yang biru berkilau diterpa cahaya.
"Aku akan tidur lebih dulu kalau begitu, sampai besok pagi." Orlando turun dari kursinya membungkuk sedikit dan berjalan meninggalkan Armand sendirian.
Wajah Armand berubah kaku saat derap langkah Orlando tidak terdengar lagi. Lui menuang kembali wine ke dalam gelas Armand.
"Tuan Duke ... Saya sangat khawatir." Lui berkata pelan. Dia tidak perlu menjelaskan lebih jauh lagi. Dia yakin Armand paham apa yang dia coba katakan.
"Hn. Biar aku yang menyelesaikannya." Armand meneguk wine nya, dia mengetuk gelas itu dengan jari telunjuk. Berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan sedikit demi sedikit ingatan Abela.
__ADS_1
...----------------...