Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Waktu Yang Terhenti


__ADS_3

.


Abela tidak tahu apa yang dia pikirkan. Kenapa dia bisa begitu terbawa. Entah karena suasana atau karena orang itu Armand. Abela perlahan melepas semua kancing yang ada pada pakaian Armand. Armand tidak terlihat berusaha menolak itu. Dia masih sibuk membawa Abela lebih dekat padanya.


Cahaya batu sihir yang temaram, perlahan memudar. Di kamar yang di dominasi dengan kegelapan itu. Yang terdengar hanya suara dari perapian yang menyala dan desah yang tertahan.


Abela masih ada di pangkuan Armand, gaunnya masih melekat di badannya. Hanya semakin lama semakin tersingkap. Abela berhasil melepas pakaian Armand dan melemparnya ke lantai. Lalu mengakhiri pagutan bibir mereka.


Armand belum bicara sepatah katapun lagi. Tapi tangannya sudah ada di balik gaun tidur Abela. Membelai kulit perutnya dengan ujung jari.


"Arabela ...." bisik Armand lagi.


Abela tersenyum Armand memanggilnya dengan nama itu. Dia akhirnya menyangga tubuhnya dengan lutut memberi jarak untuk Armand.


"Kau yakin?" tanya Armand parau.


Abela tidak mungkin mundur lagi, akan sangat canggung jika dia bilang tidak untuk saat ini. Lagipula dia tidak punya alasan untuk menolak. Dia juga, terkadang mendambakan saat-saat seperti ini. Abela tidak tahu, mungkin setelah malam ini Armand akan menatapnya lagi seperti hari-hari kemarin. Dengan tatapan datar dan dingin.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Armand saat melihat tatapan Abela yang tiba-tiba kosong.


"Kau menyadarinya?" tanya Abela memiringkan kepalanya.


"Tentu saja ... Tidak ada aku di tatapanmu," ucap Armand yang entah kenapa terdengar seduktif.


"Omong kosong," jawab Abela dengan tawa tertahan.


Armand mulai membenamkan kepalanya pada tubuh Abela, mengecup apa saja yang bisa dia jangkau dari posisinya.


"Kau ingin aku melepas gaunku?" tanya Abela menggoda.


"Tidak perlu, gaunmu tidak menghalangi apa-apa," jawab Armand.


Abela mengerutkan keningnya. Suara lenguhan terdengar dari bibirnya yang sedikit terbuka.


"Lihat ... Ini tidak menghalangi apa-apa," kata Armand lagi.


Abela membalas senyum menawan Armand. Tubuhnya bergerak sendiri. Sementara matanya tidak lepas dari leher dan rahang Armand. Abela tidak tahu, entah kenapa pemandangan itu menarik sekali baginya hari ini.


"Lakukan apa yang kau inginkan," ucap Armand lagi.

__ADS_1


Abela menaikan alisnya tidak mengerti, di tengah gerakan badannya yang sedikit tidak terkendali.


"Hmm ... Aku milikmu ...." bisik Armand lagi di telinga Abela. Helaan napasnya terasa menggelitik. Abela menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri. Tangannya dia simpan di pundak Armand yang tegap.


"A-aku ...." Abela menelan ludah setelah tergagap saat ingin mengatakan sesuatu.


Wajah Abela terlihat merah bahkan di ruangan yang kurang cahaya itu. Kuku-kuku jarinya selalu menggores kulit Armand.


"Aku?" tanya Armand.


Abela belum menjawab, dia masih menahan desahannya. Sedang Armand tidak memberi jeda sama sekali.


"Arabela ...." panggil Armand lagi.


Abela akhirnya menekan bibir bawah Armand dnegan ibu jarinya agak keras. Membuat Armand mengigit nya kecil.


"Jangan. Banyak. Bicara." Abela menekan semua kata yang dia ucapkan. Dan berhasil mengatakannya dengan jelas.


Mendengar itu Armand tertawa cukup keras. Dia menambah tempo gerakannya membuat Abela sedikit menjerit diawal. Tapi bersikap biasa lagi setelah itu.


Baik Armand dan Abela tidak ada yang menduga jika mereka berani melakukannya lagi. Abela tidak pernah berpikir Armand mau mendekatinya lagi. Yang Abela sadari saat itu. Armand tidak melepaskan pelukannya hingga cahaya matahari yang baru terbit masuk ke jendela.


.


.


Abela mengangkat cangkirnya dan meneguk teh yang masih hangat. Dia memang sedang sarapan bersama Armand. Dan rupanya dua anak muda itu menginap di istana, sehingga mereka bisa mengundang diri mereka sendiri untuk sarapan bersama Abela.


Abela menatap Armand yang masih santai menyantap buah dan membaca surat kabar. Tatapan Abela berpindah pada Orlando yang terlihat masih mengantuk. Anak itu menahan diri untuk tidak menguap.


"Kau masih mengantuk?" tanya Abela.


Orlando menatap Abela, tidak lama setelah itu dia memindahkan tatapannya pada piring yang masih terisi oleh roti isi. Tanpa menjawab pertanyaan Abela sama sekali. Membuat Abela merasa Orlando sedang mencoba menghiraukannya.


Pemandangan itu tertangkap oleh sudut mata Armand. Pandangan Armand cepat berganti, dari wajah sendu Abela, ke wajah 'tidak ingin diganggu,' Orlando.


Armand menatap Bastian dan tidak sengaja beradu pandang dengannya. Armand bertanya lewat matanya. Tapi Bastian hanya mengangkat bahu saja.


"Semalam ... Apa kau tidak bisa tidur?" tanya Abela pada Orlando. Dia sedikit meringis, apa yang dia lakukan setelah Orlando meninggalkan kamarnya? Dia merasa bersalah saat dia merasa baik-baik saja sedang anak itu tidak.

__ADS_1


Orlando menggeleng, mulutnya sibuk mengunyah roti yang dijejalkan ke dalam mulutnya. Mendapatkan tanggapan seperti itu, Abela tidak berusaha bertanya lagi. Dia hanya makan dalam diam.


"Apa ibu ...." ucapan Bastian menggantung saat dia mendapati Orlando memelototinya.Bastian menyembunyikan senyum tipisnya dengan berpura-pura batuk.


"Apa kalian sudah membuat keputusan soal pernikahan?" tanya Bastian akhirnya.


"Ya ... Arabela tidak keberatan, dia bilang itu bukan apa-apa." Armand menjawab walau matanya masih terpaku pada surat kabar.


"Arabela?" tanya Orlando.


Orlando menatap wajah wanita yang seharusnya ibunya itu. Wanita itu tanpa diduga sedang menatapnya juga.


"Ya ... aku pikir tidak masalah denganku untuk menikah dengan Duke Armand. Karena ini hanya sementara," jawab Abela terdengar ringan.


"Sementara ...." Bastian tanpa sadar bergumam.


"Sudah aku katakan berulang kali, kalau tujuanku hanya mati," jawab Abela lagi.


Orlando sudah meletakkan peralatan makannya. Armand juga sudah melipat surat kabarnya. Dan Bastian menatap Abela dengan serius.


"Kenapa kau harus selalu mengatakan itu, Madam Arabela?" tanya Bastian. Bastian menekan suaranya saat memanggil Abela dengan nama lamanya. Tapi Abela hanya tersenyum dari atas cangkir tehnya.


"Aku hanya takut kalian berharap padaku. Harapan yang tidak bisa aku kabulkan." Abela juga meletakan cangkirnya dengan lembut. Agar tidak menimbulkan bunyi denting yang keras.


"Aku tahu, aku terlalu percaya diri saat mengatakan ini ... Tapi, jangan ingin mengenalku," ucap Abela lagi.


Armand bungkam dan tidak bisa menanggapi ucapan Abela. Sedang Bastian terlihat memikirkan sesuatu. Dan Orlando, dia menatap jemarinya yang bertaut di atas meja.


"Baiklah," ucap Orlando membuat atensi semua orang tertuju padanya.


"Jika itu yang Madan inginkan," ucap Orlando lagi.


"Tapi bisakah kau melakukan apa yang aku inginkan terlebih dahulu." Orlando menatap langsung ke mata Abela. Matanya sangat tegas, tidak bergetar dan gentar sama sekali.


Abela mengangguk sebagai jawaban. Membuat Orlando tersenyum. Armand dan Bastian saling bertukar pandang lagi. Mereka tidak bisa menebak apa ya g Orlando pikirkan.


Armand menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke kursi lagi. Dia mendongak melihat langit-langit ruangan itu. Armand memijat pangkal hidungnya. Sial. Umpatnya dalam hati. Apa yang harus dia lakukan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2