Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Pesta Dansa


__ADS_3

.


Abela masih berkutat di meja kerjanya, dia sangat sibuk hingga terkadang lupa diri. Mengurusi urusan rumah dan bisnisnya membuat dia mengingat memori masa lampau. Abela sekarang lebih sering mengurung diri di dalam kantor. Apalagi sejak Orlando kembali ke akademi.


Sudah berhari-hari juga sejak terakhir dia bertemu dengan Armand. Bukan dia ingin bertemu dengannya. Hanya saja, terkadang di dalam delusinya dia mendengar Armand memanggil namanya.


Mimpi-mimpi tentang kenangan Abela juga sering datang. Ada satu malam dia bermimpi mengantar Orlando di hari pertamanya masuk akademi. Wajah Orlando yang merah menahan tangis karena akan berpisah dengan ibunya, membuat Abela meneteskan air mata. Di dalam mimpi itu dia juga merasa sedih. Tapi saat dia bangun, bayangan ekspresi yang ada di wajah Orlando saat itu membuatnya gemas.


Abela mendengar suara pintu di ketuk, tidak lama Lui datang di ikuti dua pelayan yang membawa teh dan manisan.


"Anda mendapat surat dari istana." Lui menyodorkan baki perak. Amplop warna emas yang tersegel oleh lambang kerajaan ada diatasnya.


Abela mengambil amplop itu dan membukanya dengan pisau. Membacanya dengan seksama dan serius.


"Istana akan mengadakan pesta dansa." Abela membaca konten undangan itu. Sepertinya isinya untuk menyambut perdamaian antara dua kerajaan. Rhodes dan Wilhemn.


"Aku rasa akan ada pernikahan dalam waktu dekat," gumam Abela.


"Apa menurutmu Armand akan menikahi putri itu?" tanya Abela pada Lui.


"Saya rasa tidak nyonya."


"Kita tidak akan tahu Lui, kalau bukan Armand berarti duke Estonia yang akan jadi mempelai prianya. Aku tidak tahu, kurasa raja dari Wilhemn tidak akan senang."


"Tapi Duke Estonia juga merupakan keluarga yang berpengaruh di negeri ini. Dan saya dengar putri itu baru sembilan belas tahun. Bukankah dia akan memilih kandidat yang lebih muda?" Lui memberi komentar yang cukup masuk akal.


"Putra mahkota berusia enam belas tahun bukan? Mungkin mereka lebih menginginkan posisi itu. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka pasti lebih memilih Armand sebagai orang yang ingin mereka ikat. Armand lebih dekat dengan tahta."


"Tapi nyonya ...."


"Kenapa kita harus mendiskusikan ini Lui." Abela memotong ucapan Lui. Dia merasa tidak ingin mendengar apa-apa.


"Siapkan gaunku untuk pesta dansa. Dan ...." Abela memandang Lui sedikit berhati-hati dengan ucapannya. "Aku dan Armand belum bertunangan kan? Kenapa aku tidak pernah memakai gaun dengan warna yang gelap atau tile?"


"Ah ... Itu ...." Lui tersenyum, "Duke de Rhodes membakar semuanya dan menggantinya dengan yang baru setelah ...."


"Membakar? Setelah?" Abela menaikan sebelah alisnya.


"Setelah puluhan lamaran datang ke rumah ini untuk nyonya."


"Hah?" Abela menampilkan wajah tidak percaya. Kekanak-kanakan. Pikir Abela. Tapi entah kenapa membuatnya tersenyum.


"Jadi Armand sangat mencintai wanita ini," gumam Abela sangat pelan.


"Nyonya mengatakan sesuatu?" tanya Lui sedikit mendengar gumaman Abela.


"Tidak. Jangan hiraukan itu. Aku hanya bicara pada diriku sendiri."


...----------------...

__ADS_1


Abela tidak menyangka hari dimana pesta dansa di istana datang juga. Abela masih ingat jika dia berkeliling ke semu butik untuk mencari gaun dengan pabrik berwarna gelap. Tapi semuanya menolak permintaan Abela dengan alasan yang sama. Duke de Rhodes tidak akan senang.


Abela tidak ingin mengundang banyak perhatian, tapi memakai gaun putih juga sangat tidak sopan. Karena putri dari Wilhelm sudah di kabarkan akan memakai gaun warna putih. Abela tidak mau dibandingkan dengan putri itu.


Abela akhirnya memilih gaun warna lilac. Semua yang datang tidak diharuskan memenuhi etika istana karena bukan pertemuan pribadi. Jadi Abela memilih gaun dengan punggung terbuka. Walaupun harus mendengarkan protes berlebihan dari Hana dan pelayan lainnya.


Mereka bicara tentang Armand yang mungkin tidak terlalu senang dengan pilihan gaun itu. Tapi memangnya kenapa? Abela hanya ingin menikmati apa yang bisa dia nikmati. Lagi pula sejak dia menjadi penyihir Ghotel dia suka gaun dengan model seperti ini. Sayangnya dia hanya tidak punya alasan untuk keluar kastilnya.


Abela menatap wajahnya di cermin. Rambutnya ditata dengan cantik. Satu kepangan besar dengan hiasan bunga kecil. Wajah wanita ini tidak seperti sudah berumur kepala tiga.


"Nyonya, Duke sudah menunggu di ruang rekreasi." Hana berbisik pelan, di tanggapi dengan sedikit anggukan dari Abela.


Abela berjalan pelan menuju tempat Armand berada. Abela tidak yakin apa yang dia rasakan saat melihat Armand berdiri tidak jauh dari pintu. Armand terlihat sangat berbeda. Rambut coklat yang biasanya turun hampir menutupi matanya, di tata dengan rapi memperlihatkan keningnya.


Postur tubuhnya yang terlihat lebih mencolok, kentara sangat ideal di balik setelan suit sewarna langit malam.Dihiasi jubah yang sama gelapnya dan hiasan bulu binatang mewah tersampir di sisi tubuhnya.


"Apa yang kau kenakan?" tanya Armand dengan nada dingin. Berbeda dengan Abela yang terpana, rupanya penampilan Abela sekarang membuat Armand sedikit kesal.


"Apa? Ada yang salah dengan gaunku?" tanya Abela menantang.


"Jangan bercanda, Abela. Ganti gaunmu. Kita punya cukup waktu untuk itu."


"Kenapa aku harus menurutimu? Kau bahkan bukan tunanganku." Bagus, Abela sedang ingin bertengkar sekarang ini.


"Abela ...." panggil Armand pelan dan berhasil membuat semua orang tegang.


Armand menghela napas dan memijat pangkal hidungnya. Penampilan Abela sangat luar biasa hingga dia tidak bisa untuk tidak merasa kesal. Itu berarti banyak orang yang akan melihat kecantikan Abela. Dan punggung telanjangnya membuat Armand lebih gusar lagi.


Armand akhirnya memilih mendekat pada Abela dan mengulurkan tangannya siap membawa Abela pergi. Abela menyambutnya dengan ekspresi menang.


"Kau tahu. Kau semakin pandai membuatku marah," gumam Armand pelan.


"Setidaknya itu sedikit menghiburku," jawab Abela.


Armand tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membawa Abela masuk ke dalam kereta kuda. yang mulai membawa mereka ke istana.


.


.


Saat mereka datang, kedatangan mereka di umumkan dan cukup mengundang banyak perhatian semua yang ada di aula.


Abela dengan percaya diri berjalan berdampingan dengan Armand. Tidak ada seorangpun yang sepertinya dia ingat. Abela lupa fakta itu. Tapi dia tidak terlalu peduli.


Sampai matanya menangkap duke Calix Estonia sedang menatap di tengah aula. Dia menunduk saat mata mereka bertemu. Saling menyapa dalam diam. Tentu saja gestur kecil yang bisa Armand lihat dengan mudah.


"Apa para pangeran akan datang?" tanya Abela dengan sudut bibirnya. Dia hanya ingin mengalihkan perhatian Armand yang sedari tadi memandang Calix dengan tatapan membunuh.


"Hanya pangeran mahkota saja," jawab Armand melepas pandangannya dari Calix dan menatap wajah Abela.

__ADS_1


"Aku ingin segera menyembunyikan mu di suatu tempat," bisik Armand di sisi wajah Abela yang membuat rona merah menjalar dari wajahnya yang terasa panas.


Disaat seperti itu, Abela bersyukur raja dan ratu serta pangeran mahkota masuk ke dalam aula. Membuat Abela bisa melepaskan dirinya dari perhatian Armand.


Mereka menunduk sampai raja menyuruh mereka berdiri tegak lagi dan memulai pesta dansa dengan sedikit pidato pembuka.


"Aku tidak melihat putri dari Wilhemn." Abela bergumam pelan, sedikit heran dengan pemeran utama yang tidak terlihat di manapun.


"Mungkin dia sedang merajuk di suatu tempat," jawab Armand tenang.


"Coba aku tebak, dia ingin kau mendampinginya di pesta ini."


"Tebakanmu benar, tapi aku tidak mau. Bukankah dia lebih pantas jadi anakku?" Armand tersenyum.


"Kau benar yang mulia. Tapi situasi ini membuatku terlihat seperti penjahat." Abela menanggapi candaan Armand.


"Ayo ke balkon setelah ini." Armand berbisik lagi.


"Kau tahu? Aku tidak akan menurut padamu malam ini." Abela menyeringai licik membuat Armand melayangkan tatapan tajamnya.


"Duke ... Raja memanggil anda," kata seorang ajudan pelan pada Armand.


Armand sebenarnya enggan meninggalkan Abela. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Abela hanya mengangguk dan tersenyum saja, menyuruh Armand segera pergi.


Abela mengambil segelas wine dan berdiri di pinggir aula. Melihat sekitarnya, sudah dia duga tidak ada yang berani mengajaknya berdansa. Atau menghampirinya. Pada gadis remaja tampak sedikit segan padanya dan yang seumuran dengannya melayangkan tatapan kesal karena suami mereka sering mencuri pandang padanya.


"Baroness Isla."


Abela menoleh saat seseorang memanggil namanya. Seorang wanita yang tampak tidak jauh dengan umurnya tersenyum dengan anggun. Wanita itu sangat cantik dalam balutan gaun berwarna tembaga.


"Ah. Maaf jika saya tidak sopan. Tapi ... Saya tidak mengingat anda." Abela memaksakan senyumnya.


"Saya dengar tentang kecelakaan itu. Dan kondisi anda. Tapi nama saya Rewelin Delacour. Saya istri dari Marques Delacour."


"Maaf atas ketidaktahuan saya madam." Abela sangat tidak enak. Kenyataan jika wanita ini memiliki gelar yang lebih tinggi darinya, membuatnya merasa sangat kurang ajar.


"Tidak masalah, Armand memberitahu ku beberapa hari lalu saat kami bertemu di istana."


"Apa kalian dekat?" tanya Abela polos.


Rewelin tertawa pelan. Tapi kemudian tersenyum, "Sangat aneh mengatakan ini sendiri, sejak semua orang sudah mengetahuinya."


Abela menaikkan alisnya tidak paham.


"Maksud saya, saya mantan istri Armand. Pernikahan Armand yang pertama."


Abela tidak tahu harus menanggapi apa. Dia hanya terdiam canggung. 'Wanita ini tidak dekat dengan mantan istri kekasihnya kan?'


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2