
.
Abela tersentak saat kudanya lepas kendali. Monster yang besar itu mulai meraung dan menyerang. Mereka tidak memprediksi akan ada monster besar menghadang mereka. Ekspedisi ini jadi lebih berbahaya.
"Armand ! " Abela berteriak lagi. "Sisik yang ada di bawah dagunya !" Abela menyampaikan kata-kata yang penting saja. Tapi Armand menatapnya dengan pandangan mengerti.
"Calix !" Armand berteriak memberi instruksi. Semua prajurit menyebar seperti saat di timur membawa senar sihir.
Tapi Abela merasa suatu keanehan, monster itu tidak bergerak ataupun memberontak. Saat Armand meluncur ke atas untuk menusuk tempat yang ditunjuk Abela. Abela bisa melihat orang yang memakai jubah tadi lebih jelas. Sudah pasti itu adalah wajahnya. Saat Abela terpana dengan kenyataan itu. Monster besar itu terjatuh. sedang kuda Abela entah bagaimana menjadi hilang kendali dan berlari menghampiri orang berjubah hitam.
"Madam !" seseorang berteriak memanggilnya. Di balik derap kaki kudanya sendiri. Abela bisa mendengar suara derap kaki kuda yang lain.
Abela gagal mengendalikan kudanya dan meluncur ke dalam lingkaran sihir yang menyala merah. Dalam hitungan detik pandangannya di penuhi cahaya putih yang menyilaukan.
"Abela !"
Dan suara Armand yang memanggil namanya adalah hal terakhir yang dia dengar.
...----------------...
Abela terbangun saat merasakan setetes air menerpa wajahnya. Kesadarannya perlahan kembali. Dan yang pertama dia lihat adalah sosok berjubah hitam tadi. Sosok itu membelakangi Abela.
"Kau bangun?" tanya sosok itu.
"Dimana aku? Siapa kau?" tanya Abela tenang.
"Kau terlihat lebih tenang dan berani. Kau tidak seperti kebanyakan wanita bangsawan yang lain."
"Apa maumu? Kenapa membawaku kemari?" tanya Abela lagi agak tidak sabar.
"Kau tahu, ini adalah tubuh penyihir paling hebat sepanjang masa," ujar sosok itu lagi.
"Aku membuat penelitian dan menjadikan tubuh ini menjadi milikku. Tapi, tidak satupun ingatan tubuh ini yang muncul." Sosok itu terus bicara.
Abela menatap ke sekeliling tempat itu. Entah kenapa merasa familiar. Abela bisa merasakan tangan dan kakinya yang terikat. Samar-samar Abela mencium bau busuk.
"Jadi maksudmu, kau menggali kuburan penyihir itu dan membawa tubuh busuknya?" Abela bertanya lagi. Siapa orang bodoh ini?
__ADS_1
"Ada alasan kenapa beberapa sihir disebut sihir terlarang," ujar Abela lagi.
"Tapi penyihir ini bisa menguasainya dan hidup abadi," kata sosok itu. "Kau terlihat tahu banyak soal sihir?" tanyanya lagi.
Abela tidak menjawab, dia masih menatap lekat sosok yang ada di depannya itu. Tubuhnya yang membusuk. Dan wajahnya yang setengah muda setengah tua. Menyedihkan. Itu kata yang terlintas di benak Abela saat ini.
"Menurutmu kenapa ingatan dari tubuh ini tidak pernah muncul?" tanya sosok itu lagi.
"Kenapa kau bertanya padaku?" Abela merasa harus lebih waspada.
"Entahlah ... Aku punya firasat kau tahu jawabannya." Sosok itu menyeringai menyeramkan. Abela menelan ludah, menyesal kenapa dulu dia begitu serakah.
"Aku tidak tahu apa-apa soal itu," kata Abela lagi.
"Benarkah? Kau terlihat sangat tahu soal monster. Bagaimana kau menjelaskan itu?" Sosok itu bertanya lagi.
"Itu hanya kebetulan." Abela berusaha berbohong dengan terus menatap mata lawan bicaranya. Jika ada orang yang ingin dia beritahu soal rahasianya. Dia ingin Armand yang pertama mendengarkan.
"Aneh sekali ... Monster itu adalah koleksi penyihir Ghotel yang belum pernah dia lepaskan. Kecuali hari ini aku yang melepaskannya. Dan kau bisa tahu dimana titik lemahnya dengan mudah. Kau bilang itu kebetulan?"
"Sisik itu menarik perhatianku," ucap Abela lagi.
"Terserah padamu." Abela tidak ingin terus berdebat. Rasanya percuma.
"Seseorang yang bukan ksatria. Ikut ke ekspedisi monster. Pasti ada alasannya kan?"
"Aku ksatria," bantah Abela.
"Benarkah? Tidak terlihat seperti itu bagiku. Madam Abela."
"Kau tahu namaku?" Abela menatap sosok itu tajam.
"Kau kaget? Siapa yang tidak mengenal kekasih dari Duke Armand de Rhodes."
"Itu berarti selama ini kau hidup di Romano?" tanya Abela lagi. Apa orang ini mengincar Armand?
"Tidak tinggal di sana pun semua orang tahu siapa dia. Penyihir ini ...." sosok itu menunjuk dirinya sendiri, "Juga dibunuh oleh Duke itu."
__ADS_1
"Jadi? Apa maksudmu membawaku kemari?"
"Aku hanya penasaran saja. Seperti sisik monster itu yang menarik perhatianmu. Kau pun menarik perhatian ku." Sosok itu kembali menyeringai.
"Kau sangat cantik sekali madam Abela. Kurasa bertukar tubuh denganmu akan lebih menguntungkan ku."
Abela menggigit bibir bawahnya. Sial. Dia mengumpat dalam hati. Hal ini semakin berbahaya. Dia harus menemukan cara untuk pergi dari sini. Abela melihat ke sekeliling lagi. Dimana tempat itu dan kenapa dia merasa familiar.
"Kau tahu madam syarat sempurna untuk mengisi tubuh seseorang? Agar ingatan tubuhnya bisa kita lihat?" sosok itu memulai percakapan lagi.
"Dengan cara melenyapkannya dari dunia ini." Sosok itu menjawab pertanyaannya sendiri.
"Jadi ... Apa ternyata penyihir itu masih hidup?" tanya sosok itu lagi dengan nada seperti bersenandung.
Abela tersentak dengan kenyataan itu. Apa maksudnya harus membunuh? Apa itu berarti selama Abela tiba-tiba mendapat ingatan tubuh yang dia tempati ini, itu berarti Abela yang asli....
Abela menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mungkin bukan itu jawabannya.
"Apa penyihir Ghotel masuk ke dalam tubuh orang lain sebelum dia mati?" Sosok itu kembali bicara lebih kepada dirinya sendiri.
"Kenapa Madam tidak menjawab?"
"Aku hanya tidak paham apa yang kau bicarakan," jawab Abela.
Sosok itu tidak terlalu perduli dengan jawab Abela, dia terus menggambar formasi sihir di lantai. Bau anyir darah tercium seiring goresan kuas besar yang menggariskan pola dengan cairan merah mencurigakan yang ada di satu ember besar.
"Aku tidak bisa berada dalam tubuh ini terlalu lama. Rasanya tidak nyaman. Aku akan pergi dulu," ucap sosok itu. Dia berbaring di tengah formasi sihir. Dan tidak lagi bergerak saat cahaya jingga membuat Abela buta.
Abela menatap tubuhnya yang busuk terbaring di lantai. Abela mau tidak mau berpikir lagi. Jika dia tidak kembali di hidupkan di tubuh Abela, apa itu berarti semua ingatan dan pengetahuannya akan bisa di baca oleh orang yang merasuki tubuh aslinya itu?
Siapa kiranya orang itu? Dan untuk apa dia melakukan itu? Abela mengeratkan giginya. Dasar Armand bodoh. Harusnya dia membakar Abela menjadi abu. Kenapa dia malah menguburkannya. Membuat tubuhnya mudah ditemukan siapa saja.
Terlebih lagi kenyataan yang mungkin baru dia tahu. Soal Abela yang asli, apa dia benar-benar sudah menghilang? Apa tidak ada kesempatan baginya masuk ke dalam tubuhnya lagi? Lalu, apa yang terjadi jika Abela memilih mati lagi? Apa ingatan tubuhnya akan mampu di lihat orang gila ini.
Abela menghela napas lelah, memandang tubuh dan wajah aslinya lagi. Matanya terbuka dan lidahnya sedikit terjulur. Mengingatkan hal yang terakhir dia lakukan saat Armand menusuk dadanya.
Tubuh itu tergeletak dengan bau busuk yang semakin menyengat. Apa yang Abela rasakan sekarang ini? Dia merasa takut dan jijik. Sedih dan frustasi. Melihat dirinya sendiri terbaring di depan matanya.
__ADS_1
Abela menggigit bibirnya dengan keras. Menghasilkan luka yang cukup dalam dan berdarah. Dia harus berpikir bagaimana cara keluar dari sini. Secepatnya. Secepat mungkin.
...----------------...