
.
Abela menahan napas saat melihat tubuh yang tergeletak di tengah formasi sihir itu bergerak perlahan. Dia menelan ludah gugup. Firasatnya mengatakan itu adalah tubuh miliknya. Orang gila seperti apa yang masih hidup tapi ingin merasuki mayat orang lain.
Tubuh itu sudah berdiri, kain merah yang melilitnya sudah terlepas. Rambut merah yang pucat dan terlihat mati menjuntai sembarang. Sedang lengannya tampak tidak memiliki daging.
Abela melirik Cesar yang terlihat ingin muntah. Mereka waspada siap mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang-orang berjubah hitam itu.
"Apa orang-orang itu sudah sampai?" tanya sosok yang sudah bisa menguasai tubuh Ghotel.
"Mereka baru berangkat kemarin, mungkin esok hari mereka baru sampai," jawab satu orang yang berdiri lebih dekat dengan selubung hitam.
"Kita harus segera memindahkan tubuh ini. Aku yakin ini yang mereka cari," kata sosok itu lagi.
"Itulah kenapa kami menyiapkan selubung ini," jawab orang yang dekat dengan selubung lagi.
"Kemana selubung ini terhubung?" tanya sosok Ghotel.
"Ke istana." Orang yang dekat dengan selubung masih menjawab sosok itu dengan rajin.
"Istana?" tanya sosok Ghotel lagi.
"Ya. Istana The Rhodes tempat raja kerajaan Rhodes tinggal, Duke Armand sedang ada di perjalan menuju kastil ini. Dan kita bisa melakukan apa yang sejak dulu ingin kita lakukan di sana."
"Secepat ini?" sosok Ghotel tampaknya tidak suka dengan gagasan penyerangan itu.
"Ya ... Kenapa kita harus menunggu lebih lama lagi, kemenangan mungkin sudah ada di depan mata kita." Orang-orang berjubah hitam tampak meyakinkan sosok Ghotel dengan saling sahut menyahut.
__ADS_1
Cesar menengok ke belakang, matanya dengan gugup mencari Armand. Sedang Armand terpaku di tempatnya berjongkok. Abela sedikit menarik baju Armand meminta perhatian, sebagai respon Armand hanya meliriknya sebentar dengan ekor mata.
Cesar sudah akan melompat menyerang orang-orang itu. Tapi Abela berhasil menarik bajunya untuk tetap diam dulu. Abela buka tidak tahu bagaimana perasaan anak itu. Dia pasti khawatir dengan orangtuanya yang ada di istana.
"Aku ... Belum bisa mengingat apapun dari tubuh ini ...." desis sosok itu menghentikan perdebatan orang-orang yang ada di depannya.
"Penyihir itu masih hidup di suatu tempat," ucap sosok Ghotel lagi.
"Itu tidak berpengaruh apa-apa ... Tidak ada yang tahu soal itu. Kehadiran mu hanya untuk menakuti saja. Tidak masalah kau hebat atau tidak," ucap sosok yang terdengar licik. Entah kenapa Armand dan Cesar sangat familiar dengan suara itu.
"Aku tahu kalian memanfaatkan aku ... Kalian pikir menyenangkan terbangun di tubuh ini dan merasa khawatir tentang tubuh asli ku?" Sosok Ghotel terdengar marah.
"Itu kegunaan mu ... Tanpa melakukan ini kau tidak berguna. Kau seharusnya bisa menggoda Armand, jika kau menjadi istrinya kau tidak perlu melakukan ini," suara licik itu bicara lagi.
Abela mengerutkan dahinya, siapa yang seharusnya hadi istri Armand. Pikirnya keras. Abela menoleh kepada Armand. Wajah pria itu entah kenapa terlihat sangat puas. Seperti menantikan apa yang dia dengar.
Cesar mengangguk sekali dan kembali menatap kerumunan di depan selubung hitam itu. Mereka rupanya belum bisa membujuk sosok Ghotel untuk masuk ke dalam selubung mencurigakan itu.
"Kau harus siap-siap juga dengan pedangmu," bisik Armand tepat di belakang Abela. Sedikit membuat Abela terkejut.
Abela kembali fokus dan melihat pergerakan Cesar. Saat pangeran mahkota pemberani itu keluar dari persembunyiannya dan menyerang orang-orang berjubah itu dengan tiba-tiba. Semua ketenangan tidak sama lagi.
Armand juga keluar dari persembunyian mereka dan segera mencabut pedangnya. Masuk ke dalam pertarungan. Abela masih diam di tempat. Dia belum mau masuk ke dalam pertarungan sengit itu. Walau dia ingin mati, tapi dia tidak ingin prosesnya menyakitkan.
Abela memperhatikan tubuhnya sendiri, sosok itu sedikit mundur ke belakang menghindari pertarungan juga. Tapi jelas-jelas dia sedang membaca mantra. Sedang tanpa sengaja mereka bertatapan.
Abela menelan ludah saat dia melihat senyum sinis wajahnya yang mengerikan itu. Tidak pernah dia menyangka wajahnya bisa seperti itu. Hidungnya bahkan terlihat hilang sebagian.
__ADS_1
Senyum sinis sosok itu semakin lebar saat mantra dan formasi sihirnya selesai. Entah kenapa firasat buruk menghinggapi Abela. Apa sosok itu bermaksud menyerangnya?
Tidak. Kepala Abela entah kenapa menyangkal pikirannya sendri. Mata Abela mengikuti kemana tangan sosok itu tertuju. Cahaya merah menyala menyilaukan mata Abela. Dengan mata yang semakin kecil Abela bisa melihat arah serangan sosok itu. Wajahnya melihat Armand yang masih mengayunkan pedangnya arogan.
Entah reflek siapa yang menguasai Abela. Jiwa dan pikirannya? atau tubuh dan pikirannya? Abela tidak mau memikirkan itu saat spontan dia berlari menghadang serangan sosok itu pada Armand. Sepersekian detik yang kacau. Armand baru sadar jika Abela membuat tubuhnya menjadi perisai bagi Armand.
Tangan Armando sudah akan terjulur meraih tubuh Abela saat suara Cesar terdengar berteriak kesakitan. Armand menolehkan wajahnya pada Cesar yang terlihat tersiksa dengan sihir yang musuh mereka pakai.
Amarah memenuhi hati Armand. Perlahan aura birunya berubah menjadi hitam. Dia tidak peduli lagi. Pedangnya berayun menyerang dan bertahan. Armand mungkin bisa menumbangkan orang-orang itu. Tapi satu lawan enam ditambah dia yang harus melindungi dua orang. Armand dadar prioritasnya adalah menyelamatkan Cesar dan Abela bagaimanapun caranya. Dengan tebasan terakhir yang membuat dinding kastil itu meledak. Armand berhasil mendapatkan badan Cesar dan Abela di kedua tangannya.
Armand berlari menuju ke arah selubung dan melompat ke dalamnya. Selubung itu berbeda dengan portal sihir yang jika masuk ke dalam sana maka yang terlihat adalah sinar putih. Di dalam selubung itu, sejauh yang Armand lihat hanyalah kegelapan.
Armand mengeratkan pegangannya pada Cesar dan Abela saat tubuhnya terasa di tarik oleh kekuatan yang tidak bisa terlihat. Saat akhirnya mereka terlempar di suatu tempat.
Di tengah Cesar dan Abela yang tidak sadarkan diri, Armand berdiri melihat ke sekeliling tempat itu. Tampak sangat familiar, tapi juga asing di saat bersamaan. Pandangan Armand tertuju pada seseorang yang berbaring di tempat tidur. Perlahan Armand melihat dan menyingkap selimutnya.
Armand tidak terkejut melihat wajah itu, tubuh itu tempat tidak memiliki nyawa. Tidak ada suara napas atau denyut jantung yang terasa di jari Armand saat Armand memeriksanya.
Armand tahu dimana dia sekarang, dengan langkah lebar dia menuju pintu dan membuka pintu kamar itu kasar.
"Tuan Duke !" teriak pelayan wanita yang tampak sangat terkejut.
"Panggil beberapa prajurit. Katakan pada mereka putra mahkota dan Abela terluka. Bekerjalah celat dan siapkan kamar untuk mengobati mereka," perintah Armand pada para pelayan yang ada di sana. Semua orang melakukan perintah Armand dengan sangat cekatan.
Mereka membawa Cesar dan Abela, memindahkannya ke kamar yang sudah siap. Para penyembuh dari kuil dan dokter datang di daat bersamaan. Bahkan raja dan ratu pun bergegas datang. Raja menatap adiknya yang berwajah kaku.
"Jadi, jelaskan padaku ... Kenapa kau yang seharusnya ada di kastil penyihir, tiba-tiba membuat kegaduhan di kamar putri dari Wilhemn?"
__ADS_1
...----------------...