Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Salah Paham


__ADS_3

.


Setelah Raja keluar dari ruangan Armand, Ray sudah bersiap untuk mendapat omelan. Dan benar saja, Armand tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ray.


Armand sendiri lebih heran saat mendengar Abela mencarinya. Dia tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi. Dan apa kata Ray tadi? Abela ingin meminta izinnya untuk pergi piknik? Hal sederhana seperti itu?


Sampai Armand menyadari sesuatu, mungkin saja bukan itu alasan sebenarnya Abela ingin bertemu dengannya. Armand akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Membuat Ray sedikit terkejut, karena atasannya tiba-tiba berdiri.


"Kemana kira-kira Abela pergi?" tanya Armand pada Ray yang masih berwajah bingung.


"Jika Madam Abela benar-benar berpiknik, mungkin di danau yang ada di dalam hutan. Sebelah barat istana," jawab Ray tanpa banyak berpikir.


Armand keluar dari ruangannya dan menuju ke kamar Abela dulu memastikan jika Abela benar-benar tidak ada di sana. Lalu pergi ke danau seperti yang di tunjuk Ray. Entah kenapa sudut bibirnya melengkung ke atas.


.


.


Sementara itu, Abela tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat keluar dari koridor dimana ruangan Armand berada. Dia kesal sekali pada alasan kekanak-kanakan Armand menolak bertemu dengannya. Apa tadi asistennya bilang? Raja datang menemuinya?


Abela berdecak mengingatnya, seberapa penting Armand bagi Raja sehingga orang yang paling berkuasa itu datang sendiri ke ruangannya? Tanpa pengawal dan asistennya?


Abela menghela napas untuk mencoba sedikit meringankan hal yang menekan dadanya. Lagi pula, kenapa dia harus kesal. Atau kenapa dia harus pergi ke ruangan Armand. Seharusnya dia hanya menitipkan pesan saja pada pelayan sebelum pergi.


"Ibu ...." Bastian menelan ludahnya saat melihat mata Orlando melotot padanya. "Maksudku ... Madam sudah bertemu ayahku?" tanya bastian akhirnya.


"Tidak, ada Raja sedang berkunjung," jawab Abela terdengar gusar.


"Raja?" Bastian mengulang dengan nada tanya.


"Jangan tanya padaku, asistennya bilang begitu," ucap Abela lagi.


"Mungkin dia hanya tidak ingin bertemu denganmu," kata Orlando mengejutkan.


"Aku terkejut kau memiliki pemikiran yang sama denganku," komentar Abela.

__ADS_1


Bastian sudah membuka mulutnya untuk menyangkal pikiran dua orang itu. Tapi dia memilih untuk menarik semua yang akan dia katakan. Bastian hanya menghela napas ringan sebelum berjalan memimpin jalan.


Orlando dan Abela mengikuti Bastian dalam diam. Abela sebenarnya sedikit bingung saat Bastian menyarankan berpiknik di danau yang ada di hutan di dalam istana. Menurut Bastian di sana sangat tenang untuk bicara dengan bebas tanpa takut ada yang mendengar.


Benar saja, danau itu selain tenang juga sangat indah. Banyak daun teratai yang mengapung diatasnya. Bastian menggelar selimut diatas padang rumput. Abela sempat memetik bunga daisy dulu sebelum duduk. Cahaya matahari tidak terlalu terik karena mereka duduk di bawah pohon yang rindang.


Orlando duduk juga di sebelah Abela dan menatap lurus ke arah danau. Anak itu masih diam, belum memulai pembicaraan seperti tujuan awal mereka kemari.


"Seharusnya ayah juga ada, jadi kita tidak harus membahasnya dua kali," ucap Bastian dengan nada bosan.


"Jadi? Apa yang akan kita bahas, kalau masalah pernikahan. Bukankah aku sudah setuju?" kata Abela.


Bastian dan Orlando bertukar pandang. Mereka lalu menatap Abela serius. Kerutan terlihat di dahi mereka.


"Hal yang kau katakan tadi pagi jujur mengusik kami, Madam," ucap Bastian hati-hati.


"Ucapan yang mana?" tanya Abela bingung.


"Tentang kau yang ingin mati." Orlando kali ini yang bicara. Abela tertarik dengan cara Orlando mengucapkannya. Jadi dia mengarahkan atensinya pada anak itu.


"Kenapa ...." Orlando tidak bisa meneruskan ucapannya. Dia menunduk dan terdiam. Melihat tikar di bawah kakinya.


Abela tidak langsung menjawab, dia tersenyum tipis sambil memandang danau. Lewat sudut matanya, Abela juga bisa melihat Bastian ingin tahu alasannya.


"Bagaimana perasaan mu saat kehilangan ibu mu?" tanya Abela pada mereka berdua.


"Rasanya sedih dan marah kan? Terasa menyakitkan di dalam sini ...." Abela menunjuk dadanya. Nada suaranya masih terdengar tenang. Senyum juga belum hilang dari wajah cantiknya.


"Bayangkan aku merasakannya ratusan kali dari ribuan tahun aku hidup." Abela menutup matanya.


"Tentu saja, hidup yang aku jalani tidak sepenuhnya buruk. Ada saat-saat aku merasa hidupku menyenangkan."


Abela membuka matanya lagi, pandangannya memang menatap danau. Tapi yang dia lihat adalah kilas balik hidupnya.


"Kalian tahu apa yang paling membuat ku bahagia?" tanya Abela. Orlando dan Bastian tidak menanggapi pertanyaan itu dengan ucapan. Mereka masih terdiam memandang wajah ibu mereka itu.

__ADS_1


"Itu saat Armand mengakhiri hidup ku ...." Abela berkata lirih. Seperti desir angin yang lewat di telinga dua pemuda yang masih tidak melepas atensi mereka padanya.


"Aku sempat marah saat dihidupkan kembali. Lalu aku paham aku juga harus membayar semua perbuatan jahat ku. Tetap saja aku merasa tidak adil bagi ibu mu." Abela menghentikan ucapannya. Dia memandang langsung mata biru Orlando.


"Aku kira, dia akan kembali setelah tugas ku selesai. Tapi aku tidak ingin kalian berharap pada kata-kata kosong ku. Kenyataan jika ingatan tubuhnya sudah bisa aku lihat mengartikan dia sudah tidak ada lagi ... Maafkan aku ...." Abela menurunkan pandangannya. Dia tidak bisa terus menatap mata Orlando yang sudah terlihat basah.


Di sisi lain, Bastian diam dan merapatkan giginya. Dia tidak ingin emosinya terlihat di wajahnya. Bastian menunduk menatap tajam kakinya sendiri.


Orlando tampaknya bertekad untuk tidak mengalirkan air matanya. Dia mengusap kasar matanya. Dia tahu, wanita uni bukan ibunya sejak mereka bertemu. Tapi seperti yang wanita itu katakan dia juga berharap ibunya kembali lagi. Tapi walaupun begitu, dia yang harus meneruskan hidup ini. Harus bisa lebih tegar dari ibunya dulu.


"Apa ... Tidak ada hal yang menyenangkan saat kau ada dalam tubuh ibu ku?" tanya Orlando pelan.


Abela dan Bastian menatap Orlando. Agak lama sebelum Abela menjawab.


"Tentu saja ada, wanita ini punya semua yang tidak aku punya. Wanita baik hati yang disukai dan dihormati banyak orang. Terlebih, dia dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya." Abela diam lagi. Perlahan kenangan saat dia baru terbangun di tubuh Abela terlihat di depan matanya lagi.


"Dia juga punya kalian. Aku setidaknya bisa merasakan perhatian dari kalian meski aku tahu itu bukan untuk ku. Bagiku yang memilih hidup kesepian selama ratusan tahun. Aku selalu menganggap ini hadiah ... Dan aku juga selalu menyesal karena itu. Seperti mencuri sesuatu dari orang lain."


Abela berkata jujur. Dia mengatakan apa yang ada di dalam hatinya untuk pertama kali. Dia perduli pada Orlando dan Bastian. Walau dia selalu menyangkal dan beranggapan jika itu hanya reaksi tubuhnya saja. Tapi perasaan itu nyata dan dia tidak ingin lari. Jika mereka memilih percaya padanya. Keinginannya hanya satu. Berkorban untuk mereka satu kali saja sebelum dia meninggalkan dunia ini.


"Kalian tahu ... Aku menyesal karena berpikir jika hidup panjang adalah sesuatu yang aku inginkan. Panjang ataupun pendek itu tidak masalah. Selama kita menghargai dan menikmatinya." Abela tersenyum lagi.


"Aku rasa kau benar ...." Bastian menanggapi. Dia juga tersenyum menatap langit.


"Aku juga setuju ...." Orlando berkata pelan. Anak tiga belas tahun itu menghela napas agak panjang.


"Ibu ku ... Dia pasti sudah bahagia sekarang," ucap Orlando lagi. Orlando menelan ludah dan memandang langit biru yang terang.


Orlando tidak tahu dia bisa menerima Ghotel atau tidak. Tapi berdamai dengan penyihir itu untuk kepentingannya tidak buruk juga. Walau hatinya bertentangan dengan niat jahat itu.


.


.


Di balik pohon Armand berdiri menyembunyikan dirinya. Tangannya disilangkan di depan dada. Dia diam tidak beranjak sedikit pun. Dia mendengar semuanya. Dan itu cukup membuat dadanya terasa nyeri. Entah karena kehilangan Abela atau karena cerita wanita itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2