
.
Abela tersenyum puas saat pelayan mengetuk pintu kamar mereka pelan. Itu berarti sudah waktunya makan siang. Dan Armand terpaksa menjauhkan diri dari Abela.
Armand merapikan pakaiannya sebelum membuka pintu dengan wajah masam. Sedang Abela mengekor di belakangnya.
"Maaf yang mulia, tuan Duke sudah menunggu anda untuk makan siang." Butler menunduk sangat dalam di hadapan Armand.
"Baiklah. Kami juga sudah bersiap," jawab Armand tenang. Armand mengulurkan tangannya agar Abela menggandengnya lagi.
...----------------...
Calix menatap jauh keluar jendela. Dia duduk di tempat dimana kepala keluarga duduk saat makan. Menunggu tamunya tiba. Calix sebenarnya tidak ingin bertemu Armand, hubungan mereka tidak baik. Tapi ketidakmampuannya melenyapkan monster itu sendirian membuat dia harus menekan harga dirinya. Dia harus memperlakukan Armand dengan baik demi teritorinya. Hal yang bertentangan dengan keinginannya sendiri atau bahkan orang-orang yang ada disini.
Calix berdiri menyambut Armand dan Abela ya g dengan sopan menyapanya. Mereka berdua duduk di tempat masing-masing setelah Calix mempersilahkan mereka duduk dengan sopan. Pelayan mulai menyajikan makan siang.
Tidak terdengar percakapan di meja makan itu. Mereka makan dengan damai. Hanya suara alat makan saja yang terdengar. Keheningan ini sangat canggung dan membuat semua orang tegang. Para pelayan menjadi lebih gugup dari biasanya. Abela juga tidak punya keinginan untuk mencaitkan suasana. Lagipula kenapa dia harus.
"Duke, boleh saya meminta waktu anda setelah makan siang. Ada hal yang ingin saya diskusikan." Calix akhirnya memulai percakapan setelah keheningan yang panjang. Dia terlihat sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Tentu saja, kita tidak boleh membuang waktu untuk mendiskusikan banyak hal," Armand menjawab dan melirik Abela yang sedang membersihkan area sekitar bibirnya dengan serbet.
"Kau dengar itu, Abela?" Armand berkata pelan.
"Ya baiklah, karena aku yang memaksa ikut denganmu aku tidak bisa merengek agar kau selalu denganku kan. Aku akan menghibur diri dengan berjalan-jalan di area kastil yang boleh aku injak." Abela mengatakannya dengan nada bosan berbanding terbalik dengan kata-kata yang dia ucapkan.
Calix menatap wajah Armand yang terlihat lelah, hetan dengan gurunya sendiri. Benarkah dia bisa menuruti permintaan seorang wanita? Calix sedikit terkejut saat Armand berbalik ke arahnya.
"Saya harap Duke mau berbaik hati meminjamkan satu pelayan untuk madam yang saya bawa," kata Armand datar.
"Dengan senang hati yang mulia." Calix kembali menerbitkan senyum diplomatiknya.
"Alfred, kau dengar itu. Pilih pelayan yang terbaik untuk menemani nyonya Isla." Calix memerintah butlernya. Seorang laki-laki paruh baya yang berusia sekitar lima puluhan mendekat pada tuannya.
__ADS_1
Laki-laki itu menarik perhatian Abela. Tentu saja, karena dia mirip dengan laki-laki yang selalu mengikutinya di masa lampau. Orang yang setia yang tidak segan memberi mandat pada keluarganya untuk selalu di sisi Abela. Bahkan selalu memberi namanya sendiri di setiap keturunan laki-lakinya. Abela tersenyum menerka, sudah berapa generasi yang dia lewatkan. Alfred yang ini mirip sekali dengan leluhurnya.
"Baik Tuan, saya akan memerintah salah satu pelayan untuk menemani nyonya Abela," jawab lelaki tua itu. Saat dia menegakkan diri dari posisi hormatnya mata mereka bertemu. Abela dengan spontan mengulas senyumnya. Bukan hanya Alfred yang terpana melihat senyum itu. Calix yang melihatnya pun sedikit melebarkan matanya. Tidak dia pungkiri madam yang ada di hadapannya ini memiliki wajah yang cantik.
Armand menangkap reaksi Calix dengan sudut matanya. Dia cukup terganggu dengan senyum yang di tampilkan Abela. Kapan terakhir wanitanya ini tersenyum padanya seperti itu. Armand memutar gelas wine nya dan menenggak cairan warna merah itu dengan sedikit gusar.
"Setelah aku bicara dengan Duke, aku akan ke tempat latihan prajurit. Jadi setelah kau merasa cukup menghibur diri. Tunggu aku di kamar saja." Armand tidak segan mengatakan itu dengan nada perintah. Abela tidak terkejut dengan itu, tidak seperti semua orang yang ada di ruangan ini. Sulit bagi mereka melihat emosi Duke Armand yang naik turun.
"Baiklah." Abela menjawab singkat. Dia masih duduk di tempatnya bahkan saat Armand dan Calix meninggalkan ruangan.
"Nyonya ... Pelayan ini bernama Jane. Dia akan menemani anda." Alfred berkata dengan sangat sopan.
"Baiklah Alfred, terima kasih," jawab Abela tenang. Alfred sedikit kaget karena Abela mengucapkan namanya dengan nada yang familiar.
Abela tersenyum pada butler itu sebelum keluar di ikuti oleh pelayan yang bernama Jane.
"Beritahu aku jika aku menginjak tempat yang tidak seharusnya aku datangi." Abela masih mengatakannya dengan tenang.
"Baik nyonya." Jaane bergumam sopan.
Disisi lain, Abela merasa sedang bernostalgia. Dengan semua ornamen yang di jaga dengan baik sejak dahulu kala. Abela ingin sedikit menyentuhnya dengan ujung jari. Tapi dia tahu, dia harus menekan keinginannya itu. Kakinya melangkah dengan pasti ke suatu tempat, ke sebuah potret yang Abela yakin masih ada di sana. Di sebuah Aula di ujung lorong, dimana semua silsilah keluarga Duke terpajang. Abela menuju ke Aula itu, dan Jane tidak berkata apa-apa tentang itu. Jadi dengan percaya diri Abela masuk lebih dalam lagi. Menatap sebuah potret besar seorang pria tampan berambut perak, matanya yang sewarna langit siang di musim semi.
"Beliau adalah Duke Estonia yang pertama, Calisto Estonia, disebelahnya adalah Duchess Arabela Estonia." Jane menjelaskan dengan suara pelan. Membuat atensi Abela beralih ke potret seorang wanita berambut merah menyala, matanya yang tegas sewarna senja. Potret dirinya sendiri.
"Mereka berdua, terlihat luar biasa." Abela tersenyum pada Jane, senyum Abela entah kenapa membuat gadis muda itu tersipu.
"Anda benar sekali nyonya," gumam Jane pelan, menghindari tatapan Abela.
"Aula ini, bisa dimasuki oleh siapa saja?" tanya Abela.
"Tentu saja nyonya, Tuan Duke sangat bangga dengan semua leluhurnya."
"Benarkah?" raut sedih terlukis di wajah Abela. Apa yang diajarkan oleh keturunannya dari generasi ke generasi, bukankah berbahaya jika mereka dengan bangga menyebut diri mereka keturunan penyihir jahat. Mereka yang tidak bisa menyentuh teritori ini karena takut penyihir datang melindungi wilayah ini dulu. Tapi dia -penyihir jahat itu- sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tidak ada alasan untuk takut pada Duke Estonia lagi. Kecuali dia cukup untuk membuatnya di takuti orang lain. Dan Abela cukup khawatir. Abela menghembuskan napasnya.
__ADS_1
"Demi keamanan teritori ini, bukankah lebih baik Duke Estonia tidak terlalu bangga dengan leluhurnya?" Abela tersenyum saat merelasakan tatapan tajam Jane. Rupanya gadis muda ini tidak setuju dengan ucapannya.
"Anda tidak perlu khawatir tentang itu nyonya. Kami tidak akan pernah menutup mata pada sejarah teritori kami." Jane masih menjaga nada suaranya.
Jawabna Jane membuat senyum Abela semakin lebar. "Kalian orang-orang pemberani." Abela mengatakannya dengan tulus. Bisa Jane lihat dari ekspresi wajahnya.
"Maafkan saya sudah intoleran pada nyonya. Saya dengan mendiang suami nyonya ...." Jane tidak meneruskan kata-katanya.
"Tidak masalah dengan itu. Setiap kejadian tidak terhubung satu sama lain. Yang menimpa kita adalah takdir. Jane, aku disini tidak untuk mengutuk siapapun. Lagi pula kesedihanku juga sudah hilang. Aku rasa ...." Abela tidak yakin apa yang Abela asli rasakan tentang keturunannya ini. Apa dia membencinya?
"Aku kesini untuk menemani kekasihku yang kaku itu. Aku hanya ingin menganggunya saja. Aku hanya kesal kenapa Raja, bisa-bisanya memberi perintah lain setelah tidak lama ini Armand menyelesaikan perintah sebelumnya." Abela mengatakannya dengan nada merengek membuat wajah Jane memerah.
"Kalau bukan karena ada pembunuh yang menyusup ke kediamannya untuk membunuhku. Dia pasti akan meninggalkan ku dengan dingin disana," kata Abela lagi yang dengan cepat membuat Jane merasa simpati.
"Tentu saja di mata kalian hal ini tidak bisa di terima kan?" tanya Abela sedikit menampilkan wajah sedih yang palsu.
"Tidak, tentu saja tidak nyonya. Kami tidak mungkin menentang keluarga Kerajaan." Jane sangat cerdas. Itulaha kesan yang Abela beri pada pelayan muda itu.
"Lagi pula, kalian terlihat serasi." Akhirnya Abela melihat senyum Jane juga.
"Kau benar Jane, Duke itu sangat mencintai wanita ini." Abela mengatakannya dengan senyum menawan dan percaya diri.
Jane memangguk pada tamu tuannya itu, "Saya berharap tuan saya juga segera mendapatkan pendamping."
"Itu bukan sesuatu yang sulit kan? Duke Estonia sangat tampan." Kalau dipikirkan lagi, cucu dari cucu, cucunya itu sudah melewati umur standar tian muda untuk menikah.
"Duke cukup pemilih." Jane berbisik membuat Abela tertawa kecil.
"Aku paham, di seperti orang yang pernah aku kenal. Pamilih, pemarah dan arogan." Abela menatap potret Calisto dihadapannya. 'kenapa orang ini harus menurunkan sifat jeleknya.'
"Jane, kalian punya taman bungakan? Bisa bawa aku kesana?" Abela tersenyum melepaskan pandangannya dari potret Calisto.
"Tentu saja Nyonya. Sebelah sini." Jane menunjuk jalan dengan sopan. Dan Abela mengikuti arahannya.
__ADS_1
Calisto anak-anak kita melakukannya dengan baik.
...----------------...