
.
Sesampainya di kamar Hana membantu Abela berganti pakaiannya dengan gaun tidur. Agar Abela bisa cepat tidur malam ini. Di mata Hana nyonya nya terlihat sangat lelah.
"Hana, apa Orlando dan Armand sedekat itu?" tanya Abela saat dia sudah berbaring di tempat tidur.
"Ya ... tuan duke sangat menyayangi tuan muda, mungkin karena nyonya juga sangat menyayangi anak tuan duke seperti anak nyonya sendiri."
"Aku bertemu Bastian kemarin. Anak itu sungguh luar biasa. Dia menebas seseorang yang menyerang ku dihadapan ku. Aku ingat darah yang ...." Abela menghentikan kalimatnya saat melihat wajah Hana yang terlihat takut.
"Kau ketakutan?" tanya Abela dengan nada heran.
"Apa yang nyonya ...." Hana tidak mampu meneruskan kata-katanya. Dia tidak ingin melewati batasnya sebagai seorang pelayan. Jadi dia hanya menelan ludah dan membereskan meja rias Abela.
"Saya akan keluar, semoga nyonya tidur nyenyak," Hana membungkuk sebelum keluar kamar dan menutup pintu. Meninggalkan Abela yang masih terpaku heran.
Abela menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Cahaya yang ada hanya berasal dari perapian. Suara perapian yang lembut, membuat Abela mengantuk. Perlahan dia memejamkan matanya.
.
.
Abela membuka matanya sambil mengerang, erangannya terdengar sedikit halus. Yang dia lihat terakhir kali sebelum tidur adalah langit-langit kamar. Entah kenapa tiba-tiba berganti menjadi langit malam, langit yang benar-benar langit. Cahaya bulan berkilau lebih bersinar dibandingkan bintang yang mengelilinginya. Bahkan sangat jelas terlihat walau dia melihatnya melalui tile yang dia kenakan.
Suara erangan terdengar lagi, Abela yakin itu suaranya. Ada sensasi aneh yang dirasakan tubuhnya. Di dalam perutnya terasa panas tapi terasa menyenangkan, ada euforia adiktif yang terasa di setiap gerakan yang dilakukan oleh seseorang yang sedang memeluknya erat.
Abela dengan jelas bisa merasakan sensasi basah yang menggelitik di tengkuk dan lehernya. Atau rambut halus yang dia remas dan dia sentuh dengan ujung jarinya. Abela mendengar desah panjang yang dia keluarkan, saat yang ada di dalam perutnya di tarik dan di dorong sedikit lambat. Jemarinya meremas pundak yang kekar dan kokoh.
"Tu ...an ...yang ...mu ...." Abela yakin dia sangat berusaha untuk mengeluarkan kata-kata. Tapi terpotong dengan hal yang lain. Abela bisa merasakan pagutan di bibir bawahnya yang sedikit kencang atau lidahnya yang bersentuhan dengan lidah lainya. Abela bisa merasakan bahwa tangan dan kakinya memeluk orang itu semakin erat mendekat padanya.
Abela yakin dia merasa sangat kecewa saat ciuman itu berakhir, tapi setelah itu ******* tidak meninggalkan bibirnya. Terasa jelas bagaimana perih bibir bawahnya yang dia gigit agak keras. Saat dia ingin menahan agar desahannya tidak terdengar terlalu kencang. Abela yakin tubuhnya bergetar hebat saat dia mendengar suara rendah dan maskulin berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Armand ... Panggil aku Armand."
.
.
Abela terbangun terengah-engah. Sial, mimpi apa yang dia lihat tadi. Apa itu ingatan tubuh ini juga? Jadi wanita ini dan Armand bahkan melakukannya di tempat terbuka seperti itu? Ingin mengelak pun tetap saja yang dia lihat adalah langit malam.
"Kau bermimpi?" Armand mengagetkan Abela, Abela menoleh cepat melihat Armand menyeringai di sampingnya. Entah kenapa wajahnya terasa panas.
"Kau ... Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Abela yang entah kenapa merinding melihat seringai Armand.
"Seperti apa?" tanya Armand lambat.
"Kenapa kau menyeringai seperti itu?" Abela menggigit bibir bawahnya gugup. Dia tidak benar-benar mendesah dalam tidurnya kan?
"Jadi, ekspedisi apa yang harus aku tampilkan setelah mendengar mu membuat suara seperti itu dalam tidurmu?" tanya Armand dengan nada jahilnya yang menyebalkan.
"Suara apa?" Abela memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang malu-malu pada Armand.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak memimpikan apa-apa. Dan kau terlalu dekat, bisa mundur sedikit." Abela menahan pundak Armand dengan sebelah tangannya.
"Baiklah ... Tapi beritahu aku dulu apa yang ada dalam mimpimu?" bisik Armand pelan.
"Baiklah ... Itu hanya ...." Abela masih berusaha menghindari tatapan Armand.
"Hanya?"
"Aku tidak percaya kau dan wanita ini melakukannya di luar !" Abela tidak peduli lagi, dia sangat malu sekarang ini dan dia ingin Armand melepaskan pelukannya. Rasanya sedikit aneh saat dia di peluk oleh Armand setelah bermimpi aneh seperti tadi.
"Wanita ini?" Armand menaikan sebelah alisnya. Tapi seringai yang dia terbitkan membuat Abela yakin Armand mengerti apa yang dia maksud.
__ADS_1
Armand menutup mulutnya, "Jadi kau bermimpi tentang itu? Saat pertama kali kita melakukannya?"
Abela tidak yakin karena kamar ini sangat minim pencahayaan, tapi dia melihat rona merah di wajah Armand. Armand mencoba menghindari tatapannya. Abela tidak bisa menyembunyikan wajah tidak percayanya. Dia menyipitkan matanya.
"Jangan berekspresi seperti wanita ini, yang kau bilang tadi bukan dirimu." Armand dengan cepat kembali pada dirinya yang biasa.
"Apa maksudmu, sudah aku bilang kita berdua berbeda." Abela tidak mau kalah. Tidak. Selama hidupnya yang hampir tiga ribu tahun dia tidak pernah sampai melakukan hal memalukan di luar. Apa yang di pikirkan dua orang ini saat malam itu.
"Dengar .... " Armand menelan ludahnya. Bagaimana menjelaskan situasi saat itu. Yang bahkan tidak ingin Abela bahas lagi dulu. "Sederhananya, saat itu kita hanya tidak bisa mengendalikan diri kita masing-masing," ucap Armand agak ambigu. Membuat Abela menampilkan tatapan jijik.
Armand tertawa keras, dia merasa situasi ini lucu. Ekspresi menghakimi yang dibuat Abela untuk apa yang Armand dan dirinya sendiri lakukan di masa lalu benar-benar aneh. Bagaimana mungkin Abela memilih merasa jijik dengan kenyataan itu dibanding merasa malu.
Armand memilih menghentikan tawanya saat melihat ekspresi Abela yang berubah kaku.
"Kau tahu, jika kau bertanya padaku. Aku akan menjawab dengan lugas ...." Armand memberi jeda dalam penjelasannya. Mata Armand yang gelap terlihat berkilat sedikit menampilkan bayangan api dari perapian.
"Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang terjadi malam itu. Kenyataannya Aku merasa sangat beruntung dan bahagia. Seorang wanita cantik bergetar di pelukanku, wajahnya yang merona , bibirnya yang sedikit terbuka, suaranya yang ...." Armand menelan ludah menatap wajah Abela yang semakin memerah di setiap kata-katanya, bibir bawahnya yang dia gigit karena gugup. Atau debaran yang Armand dengar entah milik siapa.
"Kau sangat cantik malam itu, membuat pikiranku tidak bisa mengendalikan semua bagian tubuhku sendiri." Armand mengatakan seraya menjulurkan tangannya. Melepaskan gigitan Abela pada bibir bawahnya sendiri. Menekan bagian itu yang lebih merah dari yang lainnya.
"Aku mendengar detak jantung yang berdebar sangat kencang. Milik ku kah?" Armand tersenyum sangat lembut saat mengatakan itu.
Abela yakin, dia hanya ingin meyakini jika yang dia lakukan sekarang adalah efek dari mimpi anehnya bukan yang lain. Atau karena tubuh ini dan semua yang di rasakan tubuh ini bukan miliknya tapi milik wanita ini.
Abela tidak ingin memikirkan alasan, kenapa dia mengalungkan tangannya di leher Armand. Atau badannya yang lebih mendekat pada Armand. Atau kenapa dia menempelkan bibirnya di bibir tipis Armand.
Abela tidak ingin tahu kenapa debaran di dadanya semakin menggila saat matanya bertemu dengan tatapan sayu Armand. Kenapa tubuhnya bergetar saat merasakan tangan besar Armand menekan punggungnya agar lebih mendekat. Tubuh mereka yang saling menempel, kepala mereka yang dimiringkan agar bibir mereka masih menyatu walau sedikit terbuka. Abela tidak perduli dengan saliva yang mengalir melewati dagunya. Atau bunyi kecapan yang membuat telinganya berdengung.
Kedua tangan Abela hanya meremas bahu Armand dan pakaian tipis yang Armand kenakan malam ini. Abela hanya ingin Armand lebih mendekat padanya seakan kedekatan mereka yang tidak menyisakan jarak itu masih kurang dari apa yang Abela inginkan. Bahkan dia merasa kesal saat Armand menjauhkan bibir mereka untuk sedikit menarik napas.
Armand sungguh menikmati pemandangan yang ada di depannya. Dia mengelus dagu Abela dengan ibu jarinya, mengusap saliva yang ada di sana lembut. Armand menatap tatapan sayu Abela berpindah ke bibirnya yang basah, ke lehernya yang terlihat bergerak menelan ludah, ke dadanya yang naik turun terengah.
__ADS_1
"Kau ingin aku kan? Abela?"
...----------------...