Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Amarah


__ADS_3

.


Lyra lagi-lagi melempar makanan yang disodorkan padanya. Dasar orang-orang gila. Pikirnya. Bagaimana mereka bisa berpikir dia mampu makan dengan tubuh yang membusuk ini. Ini karena orang-orang tua itu tidak memiliki kesabaran dan rencana yang bagus.


Sekarang, tubuh aslinya di kurung di menara sihir. Dan mereka tidak bisa menyelinapkan portal di sana agar Lyra bisa masuk ke dalam tubuh aslinya lagi.


"Satu-satunya cara adalah menghancurkan kerajaan. Kami sedang berusaha membuat rencana yang mulia," ucap salah satu sosok berjubah hitam yang ada di hadapan Lyra.


"Berusaha katamu? yang kalian lakukan hanya bersembunyi !" teriak Lyra. "Dan kalian bilang berusaha?" Lyra menekankan kata itu lagi.


"Saya harap anda bersabar," kata sosok lainnya yang berjubah hitam.


"Kalian ... tidak tahu rasanya ada di dalam tubuh ini !" Lyra berteriak lagi. Dia mulai melempar semua benda yang bisa dia jangkau.


Dia sangat marah, di depan matanya tiba-tiba dia melihat wajah Abela yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk Armand. Ingatan itu membuat kemarahan semakin membengkak di dalam diri Lyra. Dia menggigit bibirnya. Seharusnya, dia ada di dalam tubuh Abela. Jika saja orang-orang bodoh ini berhasil membunuh Abela tempo hari.


Lyra mulai berteriak dan melempar barang lagi. Tidak ada satupun yang berusaha untuk menghentikan Lyra. Mereka hanya diam melihat itu.


...----------------...


Armand duduk di kantornya siang ini. Dia membaca perkamen, tapi terkadang pikirannya ada di tempat lain. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti dan meletakkan perkamen itu di atas meja.


Armand menyandarkan punggungnya dan berusaha rileks. Ucapan Abela pagi ini sungguh mengusiknya. Dia tidak berhenti mendengar suara Abela yang mengatakan ingin mati.


"Apa aku bisa menikah sekarang ini?" gumam Armand pelan.


Gumaman nya yang terdengar oleh Raja yang baru saja masuk. Raja menatap adiknya yang sedang melamun melihat langit-langit. Lalu pandangan Raja beralih pada Ray -asisten Armand.


"Kenapa dengan Tuan mu?" Tanya Raja pada Ray yang di balas senyum canggung Ray.


"Saya tidak tahu, Yang Mulia." Ray menjawab sopan dan singkat.


"Apa kau sibuk?" tanya Raja akhirnya membuat Armand kembali sadar.


"Kenapa Yang Mulia datang kemari? Yang mulia bisa memanggilku jika ada yang perlu Yang mulia katakan." Armand membungkuk di depan kakaknya.


Raja segera membalas hormat Armand dan menyuruhnya berdiri tegak lagi.


"Kau sibuk?" tanya Raja lagi.


"Tidak, Yang Mulia," jawab Armand sopan. Dia mengerling Ray untuk keluar ruangan yang segera dimengerti oleh Ray.


Ray keluar dan menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Setelah Ray keluar, Raja dengan santai duduk di sofa dan menyilangkan kaki.


"Jadi? Kau ingin menikah?" tanya Raja penasaran.


"Aku selalu ingin menikah," jawab Armand terlalu cepat.


"Dengan madam Isla?" tanya Raja lagi, membuat Armand mendelik dengan tatapan tajam padanya.


"Abela ... Namanya Abela ...." jawab Armand dengan nada lirih diakhir. Arabela, namanya Arabela. Ucap Armand dalam hati.

__ADS_1


"Sama saja, baik madam Isla atau Abela mereka orang yang sama," simpul Raja sederhana.


"Jadi ... Aku boleh menikah?" tanya Armand setelah memutar matanya menanggapi omong kosong kakaknya.


"Boleh, aku memberikan mu izin." Raja terdiam sebentar.


"Jika kau menikah karena Orlando ...." Raja tidak meneruskan ucapannya. Tapi cukup membuat Armand waspada. Apa yang kakaknya ketahui dan apa yang belum.


"Kak ...." panggil Armand lirih.


"Kau tidak berpikir aku tidak tahu kan? Kau pikir, hanya kau yang memiliki bayangan?" Raja menyeruput teh nya dengan tenang.


"Apa saja yang kakak tahu?" tanya Armand hati-hati.


"Tidak banyak, kecuali kenyataan jika orang itu bukan kekasihmu," ucap Raja tenang.


"Sejak kapan?" tanya Armand lagi.


"Kau bodoh jika tidak menyadarinya. Itu sangat jelas terlihat." Raja tersenyum pada Armand. Armand terlalu terburu-buru jika merasa situasi ini sudah aman.


"Aku tidak terkejut, anda memang hebat." Armand menelan ludahnya. Armand sadar, kakaknya sebagai raja memiliki kelebihan yang tidak bisa diremehkan.


"Jadi ... Walau dia orang lain, kau masih akan menikahinya?" tanya Raja lagi.


"Mungkin." Armand menjawab dengan acuh. Membuat Raja mendelik kesal.


"Kau yakin?" tanya Raja lagi.


"Jika wanita itu dia ... Aku tidak masalah," jawab Armand lagi.


"Lalu ... Siapa dia yang kita bicarakan ini?" tanya Raja lagi.


Armand tidak langsung menjawab, dia terdiam dan melemparkannya pandangannya keluar jendela. Apa respon yang akan kakaknya berikan jika dia tahu wanita itu penyihir bernama Ghotel.


Armand melirik ke kiri sebentar. Tanda bahwa dia berpikir keras. Gestur itu ditangkap oleh Raja. Raja tertawa keras menanggapinya.


"Sungguh menghibur, melihatmu terlihat gugup hanya untuk menyebut identitas satu orang." Raja berdiri dari tempatnya duduk. Dia berjalan menuju kursi Armand yang kosong dan duduk di sana.


Raja mengambil perkamen yang Armand letakan tadi dan mulai hanyut membaca laporan itu. Raja terdiam sebelum meletakkannya lagi di atas meja.


"Kau yakin?" tanya Raja lagi.


"Ya, Yang mulia," jawab Armand tenang.


"Aku akan membubuhkan tanda tangan pada surat persetujuan mu untuk menikah dengan madan Abela Isla kalau begitu," ucap Raja. Dia tersenyum menatap Armand.


"Tapi aku harap, kau tidak menyembunyikan apa-apa di depan ku. Dan demi semua dekrit yang aku buat. Semoga kau tidak melanggar dekrit itu." Raja berucap panjang lebar.


Armand mendengar dengan seksama apa yang Kakaknya katakan. Dia tidak sempat menjawab satupun pertanyaan Raja. Banyak hal yang harus dia pikirkan terlebih dahulu saat ini. Sebenarnya, pernikahan ini mungkin akan terdengar konyol di mata banyak orang. Bagaimana bisa dia, berpikir menikah di saat genting seperti ini.


"Jangan khawatir, tidak ada yang akan berani mengatakan apa-apa," kata Raja seakan membaca isi kepala Armand.

__ADS_1


"Aku tidak khawatir, bukan aku yang harus kita khawatirkan." Armand menjawab sambil melempar pandangannya keluar jendela.


"Menurutmu ...." Raja menggantung ucapannya. Dia menatap perkamen yang ada di atas meja Armand lagi.


"Apa peperangan ini menguntungkan untuk negeri kita?" tanya Raja.


"Peperangan itu tidak akan terjadi jika Yang Mulia memutuskan untuk tidak melakukannya," jawab Armand pelan.


"Aku sama sekali tidak pernah berpikir memulai hal-hal mengerikan karena masalah pribadi." Raja tersenyum lagi.


Lalu senyumnya hilang saat membaca perkamen lain. Pandangan matanya menjadi lebih tajam. Dia menatap punggung Armand dengan sudut matanya.


"Aku ingin kau segera menemukan kardinal.Jika dia memang terlibat ...." Raja tidak meneruskan kalimatnya. Dia merapatkan bibirnya, menahan emosi.


Armand berbalik menghadap Raja, dia berlutut di hadapan Raja. Sebagai seorang ksatria miliknya. Bukan sebagai seorang adik.


"Baik Yang Mulia," kata Armand tegas.


.


.


Ray masih terkejut karena Abela tiba-tiba datang dan menanyakan Armand. Sedang Abela masih mengusahakan senyumnya untuk tidak hilang.


"Duke masih bicara dengan Raja," jawab Ray setelah berhasil menenangkan diri.


"Dia ada di ruangan Raja?" tanya Abela.


"Tidak ... Raja ada di ruangan Duke." Ray menghindar dari tatapan Abela dan tersenyum canggung.


"Baiklah ...." ucap Abela pelan.


"Aku pergi saja kalau begitu, tolong katakan pada Armand aku mencarinya," ucap Abela.


"Baik Madam." Ray membungkuk sopan pada Abela yang perlahan berjalan menjauh. Ray menghembuskan napas yang entah kapan dia tahan.


Ray memijat pangkal hidungnya, semoga Abela tidak menganggap Ray berbohong. Bagaimana Abela bisa percaya dengan apa yang Ray katakan. Bukankah aneh jika Raja yang datang menghampiri orang-orangnya. Terlebih tidak membawa satupun pengawal atau asisten bersamanya.


Ray berusaha untuk tidak terlalu memikirkan itu dan kembali bekerja. Tapi dia kaget saat melihat ada tangan di atas mejanya. Menggebraknya cukup keras.


"Ada Raja katamu? Tanpa pengawal dan penjaga?" Abela mengatakan itu dengan nada yang terdengar dingin menyeramkan.


Benarkan. Apa yang Ray khawatirkan benar-benar terjadi. Ray menelan ludahnya dan berusaha tenang.


"Aku bisa mengerti jika Tuan mu tidak ingin bertemu dengan ku. Tapi buat alasannya yang masuk akal." Abela menyilangkan tangannya di depan dada, gusar.


"Madam salah paham ... Tapi Raja dan Duke benar-benar sedang ada di dalam sekarang ini," ucap Ray berusaha tidak tergagap.


"Katakan pada tuan mu, aku dan anak-anaknya akan pergi piknik sebentar. Dan karena dia sedang sibuk anggap saja dia sudah mengizinkannya." Abela berkata cepat membuat Ray tidak bisa menjawab.


Abela menghentakkan kaki sekali sebelum pergi dari hadapan Ray. Celaka. Pikir Ray. Entah kenapa Ray mendapatkan firasat buruk.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2