Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Kamar Armand


__ADS_3

.


Abela anehnya merasa nyaman berada di sini. Diantara warna emas dan dominasi merah dekorasi kamar ini. Langit-langitnya yang tinggi dan cahaya mentari yang lembut masuk dari jendela kaca besar. Tidak terlalu kuat, hanya cukup menerangi seluruh bagian ruangan saja. Suara perapian yang mulai dinyalakan karena hari sudah mulai senja.


Tidak ada yang membuat Abela merasa risih untuk tinggal di sini. Tidak dengan sentuhan jari Armand di bahu dan pundaknya yang telanjang. Atau wangi parfum Armand yang tercium di jarak mereka yang sangat dekat. Bahkan dada Armand yang semakin menempel di punggung Abela, tidak membuatnya ingin lari.


Abela bisa merasa hembusan napas Armand di tengkuknya saat dia berbisik pelan di dekat telinganya. Abela melepaskan tangan Armand dan berjalan menuju tempat tidur, duduk di sana menyilangkan kaki. Mata Abela menatap Armand sedikit tajam. Dua tangannya turun menyentuh ranjang, menyangga tubuhnya.


"Kenapa tidak memberitahu ku tentang bayi itu?" tanya Abela.


"Kamu sudah tahu jawabannya," jawab Armand ambigu.


"Karena dia akan sedih?"


"Dia?" Armand menaikan alisnya. Mencoba mengerti apa yang dikatakan Abela tadi.


"Abela." Abela menyebut namanya, melebarkan mata Armand.


"Kau membicarakannya seakan kamu bukan dia." Armand menatap wajah Abela yang cantik. Ada emosi yang berkecamuk di dadanya. Cukup membuat dia mencoba menenangkan diri.


"Aku dan dia berbeda. Aku tidak mengenal orang itu, atau orang-orang di sekitar orang itu. Aku tidak bisa merasakan apa yang dirasa orang itu pada semua orang yang memandangnya kagum. Aku tidak kenal atau ingat wajah anak yang lahir dengan mengorbankan kekuatanku. Atau suami yang meninggalkan dunia ini, atau bahkan kau yang mengklaim diriku sebagai milikmu. Atau anakmu yang memanggilku ibu."


Armand terdiam cukup lama, mendengar apa yang Abela sampaikan. Selama ini dia paham, hanya mungkin masih menolak kenyataan itu.


"Armand ... Aku bahkan tidak merasakan apa-apa saat tahu aku kehilangan bayi. Sudah jelas kalau dia yang kamu kenal di masa lalu. Dan aku yang di hadapanmu adalah orang yang berbeda."


Armand masih tidak menjawab, dia mendekat pada Abela. Duduk di lantai, di samping kaki Abela dan mengistirahatkan lengannya di pangkuan Abela. Sementara kepalanya bersandar pada ranjang.


"Aku paham, semua yang kau katakan benar. Tidak adil bagimu di seret untuk menjalani hidup seperti apa yang tidak kamu ingat sebelumnya. Aku harap, aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi."


Armand tersenyum miris sebelum melanjutkan, "Tapi mendengar mu menyuruhku menikahi wanita lain membuatku tidak percaya diri. Abela ... Sayang ... " Armand terkekeh saat merasakan tubuh Abela sedikit tegang saat dia memanggilnya sayang.


"Abela bersabarlah padaku."


Abela menatap belakang kepala Armand, dia diam belum bisa menjawab apa-apa. Abela menghela napas sebentar.

__ADS_1


"Bahkan dari belakang sini saja kau tampak menyedihkan. Bagaimana dengan pernikahan mu dengan putri itu?"


"Hentikan itu, Abela. Kalau kau ingin aku tidak mendekatimu. Akan aku lakukan, tidak perlu mengatakan hal yang membuat ku kesal." Armand menghela napas di tengah kalimatnya.


"Kenapa aku harus membuatmu menjauh? Hanya kamu sekarang ini yang bisa membantuku menaikan kekuatan aura ku."


"Kenapa akhir-akhir ini kamu sangat terobsesi dengan aura?" Armand mendongakkan kepalanya untuk melihat raut wajah Abela.


"Entahlah ... Mungkin karena firasat ku mengatakan nyawa ku dalam bahaya." Abela menghindari tatapan mata Armand. Dia tidak mungkin jujur kalau dia ingin Abela yang asli segara kembali dan dia meninggalkan dunia ini.


Sebenarnya hal ini sangat ambigu, Abela belum tahu apa yang bisa dia lakukan di dunia ini.


"Aku akan pergi lusa. Ke wilayah timur, ke teritori Duke Estonia, ada monster yang mengancam teritori itu. Jadi ...." Armand menghentikan apa yang akan dia katakan saat melihat Abela tiba-tiba tersenyum aneh.


"Abela?"


"Aku ikut, aku ikut dengan mu." Abela mencengkram dua sisi wajah Armand yang terkejut memandang Abela di atasnya. Wajah Abela sangat dekat dengan wajah Armand.


Armand menjulurkan tangannya ke atas. Menyelipkannya di rambut Abela yang diikat sembarangan. Tatapan Armand melembut, menatap bibir Abela yang dekat dengan matanya.


"Pemandangan yang indah," gumam Armand pelan. Menyadarkan Abela pada posisi mereka yang intim.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Abela.


"Kau boleh membuka bajumu di depanku. Apa aku tidak boleh melakukan hal yang sama?" tanya Armand dengan suara rendah. Sebelah alisnya naik dan seringai muncul di wajah tampannya. Matanya yang coklat menatap Abela tajam.


"Terserah saja .... " Abela melempar tatapannya ke samping Armand.


Abela tidak pernah membuat Armand kecewa. Dia mungkin berusaha untuk memasang ekspresi datar. Tapi rona merah di wajahnya tidak bisa membohongi mata Armand. Armand naik ke tempat tidur perlahan. Pahanya sudah ada di satu sisi tubuh Abela. Dengan perlahan mendorong Abela ke tempat tidur.


Abela belum menatap Armand, dia masih menampilkan sebelah wajahnya yang merah sempurna. Rambut berwarna emasnya berhamburan di atas selimut maroon. Leher putihnya terekspos, bersinar di penerangan yang semakin redup.


Tatapan Armand menjadi sayu. Dia menelan ludahnya. Berusaha bertahan di saat terakhir. Armand tidak cukup percaya diri untuk tidak melakukan apa-apa.


"Katakan padaku? Kenapa kamu ingin bertemu Duke Estonia?" tanya Armand di atas leher Abela. Hembusan napas Armand yang Abela rasakan di sana. Membawa sensasi aneh pada tubuhnya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin bertemu dengan Duke Estonia. Aku ingin melihat monster," jawab Abela pelan. Tangannya sudah menahan bahu Armand untuk tidak mendekat lagi.


"Monster?"


"Maksudku, anggap saja berlibur." Abela entah kenapa merasa bodoh, tidak ada hal masuk akal yang datang ke kepalanya untuk di sampaikan pada Armand.


"Berlibur ke tempat dimana monster menyerang?" Armand bertanya lagi dengan nada yang terdengar menyebalkan.


Abela entah kenapa merasa kesal mendengarnya. Dengan emosi, dia menarik kerah baju Armand, mencengkram kerah itu dengan dua tangannya. Membuat wajah Armand semakin mendekat. Matanya yang sewarna langit menatap Armand tajam.


"Aku bisa ikut atau tidak?" tegas Abela.


Sedang Armand, sedari tadi hanya bisa terpaku. Dia bergeming di tempatnya. Matanya hanya terarah pada bibir Abela. Tidak ada hal lain yang memenuhi pandangannya.


"Armand?"


"Ya?" Suara Armand terdengar parau, menyadarkan Abela dengan apa yang dia lakukan. Dengan canggung melepaskan tangannya.


"Aku bisa membawa mu kalau kau mau. Itu bukan hal yang sulit," kata Armand pelan.


"Hanya saja ... Buat aku mengatakan iya Abela." Armand kembali menyeringai.


Sedang aura berwarna biru menyelimuti seluruh tubuh Abela. Armand tertawa pelan saat merasakan aura itu. Tapi kemudian aura juga menyebar ke seluruh tubuhnya. Dengan warna yang senada.


"Kau ingat kan percakapan kita tadi malam?" tanya Armand tenang.


"Kalau begitu matikan aura mu. Tidak. Menyingkir dariku." Abela mengatakan di tengah napasnya yang tersekat.


Armand tersenyum sebelum mematikan auranya. Aura Abela juga sudah menghilang, habis di pakai menahan aura Armand yang lebih kuat darinya berkali-kali lipat. Sementara Abela berusaha bernapas normal kembali. Armand sudah menempelkan bibirnya di tengkuk Abela yang selalu menggodanya. Sementara tangannya memisahkan kaki Abela, agar dia bisa duduk diantaranya.


Abela mengucapkan kata kutukan berkali-kali dalam hatinya. Dia tidak seharusnya memakai auranya tadi. Dia tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk menjauhkan badan Armand yang besar di atasnya. Napasnya tersengal di sela desahannya yang tidak bisa dia kendalikan. Matanya melebar saat merasakan sentuhan jari Armand di betis dan lututnya.


"Terus , la-lakukan ini , dan ... Aku ..." Abela bahkan tidak bisa bicara dengan benar.


"Baiklah. Beri ancaman yang masuk akal kalau begitu," bisik Armand yang kini sudah mencengkram dua paha Abela kencang. Dengan satu tarikan membawa tubuh Abela lebih dekat pada tubuhnya.

__ADS_1


"Kau ...." Abela menelan ludah menatap Armand di atasnya. sebelah tangannya mencengkram selimut satunya menahan pergelangan tangan Armand agar tidak bergerak lebih jauh. Sementara napasnya semakin tidak bisa di kendalikan seiring jantungnya yang berpacu kencang.


...----------------...


__ADS_2