Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke

Hidup Kembali Menjadi Kekasih Duke
Yang Terasa


__ADS_3

.


Jantung Abela berdebar saat mendengar Armand mengatakan itu. Dia merasa senang dan takut di waktu yang sama. Seperti mendapatkan harapan yang bahkan tidak dia harapkan.


Abela menelan ludahnya yang terasa pahit, tenggorokannya tercekat. Abela berusaha untuk tidak terlihat menyedihkan. Dia tidak ingin menangis lagi. Tidak di hidupnya kali ini.


"Apa kata-kataku yang membuat mu tertegun?" tanya Armand.


"Ya ... Itu terdengar seperti omong kosong," jawab Abela parsu.


"Apa? Kata-kataku?" Armand tertawa pelan.


"Sudah aku bilang iya," jawab Abela cepat.


Armand memundurkan tubuhnya, memberi jarak antara mereka. Armand tersenyum melihat pandangan Abela yang tajam padanya.


"Anggap saja itu rayuan," ucap Armand ringan.


"Kau? Sedang merayuku?" Abela menaikan satu sudur bibirnya.


"Ya ... Lagipula kita adalah pria dan wanita. Berada berdua saja di ruangan ini." Armand berkata lagi.


Abela tertawa pelan dan berbalik ke arah tempat tidur. Duduk di sana menyilangkan kaki. Armand melihat gestur Abela dengan sorot mata yang tajam. Dia tahu, mungkin saja jawabannya tadi menimbulkan kesalahpahaman bagi Abela. Tapi dalam kondisi saat ini, apapun yang Armand katakan tidak akan membuat Abela percaya padanya.


"Kau sudah mendapat kabar soal Lyra?" tanya Abela.


Armand sebenarnya tidak suka, mereka harus membahas tentang itu saat ini. Meskipun Armand tahu itu prioritas Abela. Menemukan tubuhnya dan menghancurkannya lalu pergi dari dunia ini.


Jika Armand menjadi orang egois yang membuatnya terwujud selama mungkin. Apa yang akan Abela lakukan padanya? Apa dia akan membenci Armand?


"Belum ada, mereka belum bergerak." Armand menjawab singkat. Dia belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Aku tidak percaya. Putri yang keras kepala. Bagaimana dia bisa bertahan berhari-hari di dalam tubuh itu?" Abela bertanya pada dirinya sendiri.


Armand diam, dia tidak bisa mengubah apa yang dia pikirkan sebelum ini. Mungkin dia yang tidak mengizinkan kepalanya memikirkan hal lain. Tidak untuk memikirkan pekerjaan atau Lyra atau kekacauan di kerajaannya.


"Kau tahu ... Kepalaku tidak ingin memikirkannya saat ini," ucap Armand. Nada suaranya masih terdengar tenang. Tapi semakin tenang Armand bicara entah kenapa membuat Abela menjadi tegang.


"Kenapa? Kau sedang memikirkan hal lain?" tanya Abela.

__ADS_1


"Ya ...." gumam Armand pelan.


"Apa yang kau pikirkan?" Abela sebenarnya tahu, tapi dia ingin pura-pura tidak mengerti.


"Kau bercanda?" tanya Armand tersenyum miring.


Wajah Abela memanas melihat senyum Armand. Jantungnya berdebar tidak terkendali. Dia menyesal harus mengganti topik pembicaraan mereka. Sekarang dia merasa sangat canggung. Ingin memulai lagi tapi dia terlalu malu untuk melakukannya.


"Dengar, aku tidak bermaksud menghindari apa-apa," ucap Abela.


"Dan apa maksudnya itu?" Armand mulai berjalan mendekat.


"Arabela ...." bisik Armand sangat dekat dengan wajahnya.


Armand menumpu badan besarnya dengan tangan yang diletakkan di samping kanan dan kiri badan Abela. Tangan kanan mereka bahkan hampir bersentuhan. Abela bisa mencium wangi kayu dan daun mint dari Armand.


"Apapun, yang kau pikirkan," jawab Abela sedikit ambigu. Armand tertawa pelan mendengarnya.


Armand mendekatkan wajahnya lagi, hari ini kesabaran Armand cukup membuat Abela merasa kesal. Kenapa Armand sangat bertele-tele hari ini. Membuat Abela tidak berhenti merasa gugup. Haruskah dia membicarakan putri dari wilhemn lagi?


"Kau tahu apa yang aku pikirkan?" bisik Armand lagi.


Armand tahu dia seharusnya tidak tertawa, tapi Abela sangat menghiburnya.


"Kau sangat menyebalkan hari ini," ucap Abela dengan gusar.


"Menyebalkan? Itu karena kau terlalu sering menghindari ku."


"Aku?" Abela menatap Armand heran.


"Kapan aku menghindari mu?" tanya Abela lagi.


"Sekarang, saat ini," jawab Armand.


"Omong kosong," ucap Abela memalingkan wajahnya. Dia bikan marah dia hanya gugup.


"Jadi ...." bisik Armand pelan. "Karena aku atau suasana?" tanya Armand masih dalam bisikan.


Abela mengigit bibir bawahnya agak keras. Jantungnya masih berdebar. Jawaban apa yang Armand harapan? Abela memberanikan diri menatap mata Armand yang sudah terlihat sayu. Pria itu tidak lagi menyembunyikan hasratnya.

__ADS_1


"Karena kau ...." ucapan Abela terputus karena Armand sudah menempelkan bibirnya ke bibir Abela.


Mata Abela melebar karena terkejut, giginya agak sedikit linu karena tubrukan yang Armand lakukan. Armand memundurkan wajahnya lagi untuk memperlihatkan senyumnya. Membuat Abela menampilkan ekspresi heran dan bingung.


Dan sebelum Abela bisa mengatakan apa-apa lagi, bibir mereka sudah saling bertaut lagi. Abela bisa merasakan badannya sedikit bergetar saat Armand mengigit kecil bibir bawahnya menghisapnya dengan tempo.


Kepala Abela sempat terasa kosong karena apa yang Armand lakukan. Tapi instingnya menuntunnya untuk membalas ciuman Armand dengan hal yang sama seperti yang Armand lakukan padanya.


Abela merasakan tangan Armand sudah ada di pundaknya untuk melepas pakaian dalam yang dia kenakan. Abela tidak melakukan gerakan apapun untuk mempertahankan kain itu. Bahkan saat tubuh bagian atasnya sudah dengan langsung bersentuhan dengan angin.


Abela sedikit merasa sesuatu akan meledak dari dalam tubuhnya saat merasakan tangan Armand di punggung telanjangnya. Armand menariknya lebih mendekat. Saat melepaskan pagutan bibir mereka. Pandangan mereka bertemu lagi. Bukan pandangan yang sama-sama tajam dan saling mengintimidasi seperti sebelumnya. Pandangan mereka berubah lemah dan sayu.


Armand entah kenapa merasa hari ini berbeda dengan hari-hari kemarin saat mereka melakukannya. Apa yang membuat semuanya berbeda? Debaran jantungnya yang lebih cepat? Wajahnya yang terasa memanas? Atau seluruh tubuhnya yang merasa lebih peka untuk merasakan setiap sentuhan kulitnya dengan kulit Abela.


Armand menelan ludahnya saat dia melihat badan Abela. Ini bukan kali pertama Armand melihatnya atau menyentuhnya. Tapi kenapa rasanya ada hal lain yang membuatnya lebih terasa terangsang.


Armand menempelkan bibirnya di tengkuk Abela, menelusuri sepanjang garis lehernya dari bawah ke atas oleh lidahnya yang basah. Tangan Armand di punggung Abela semakin lama semakin dingin saat dia mendengar suara ******* pelan dari Abela.


Armand tersenyum di depan dada Abela kini. Memfokuskan kegiatannya di sana. Membuta Abela mendesah hebat. Abela meremas rambut Armand agak kencang. Dia tidak punya pilihan lain selain itu untuk menyalurkan hasrat menggebunya. Dia ingin Armand segera melakukannya. Tapi tidak punya keberanian untuk mengatakan hal itu.


Abela melengkungkan punggungnya saat Armand menggigit dan sedikit menarik bagian sensitifnya. Abela bisa merasakan deyutan di dalam perutnya. Dan saat Abela yakin Armand memasukan jarinya ke dalam tubuhnya. Abela mendesah hebat. Denyutan yang dia rasa semakin lama semakin kuat.


Tangan Abela menyentuh tangan Armand yang ada di dalam tubuhnya. Armand sempat menatapnya. Armand sempat berpikir Abela ingin dia berhenti. Sebelum ternyata Abela mengarahkan tangannya pada area tertentu.


He. Armand tersenyum miring menyadari itu.


"Arabela ...." bisik Armand di telinga Abela yang sibuk mendesah.


Abela menjawab dengan ******* yang dia tahan dengan bibir yang sengaja dia gigit. Armand menjilat bibirnya sendiri melihat itu. Punggung Abela akhirnya menyentuh ranjang, tangannya sudah lemas dan tidak bisa menumpu badannya.


Saat Armand memberi tempo dan tekanan yang semakin cepat. Abela mengangkat pinggulnya dan sedikit memekik. Jemarinya meremas kain linen yang menutupi kasur.


Armand diam-diam menyeringai saat dia bersiap menyatukan tubuh mereka. Abela menjerit lagi, tidak heran. Dia baru saja datang. Tubuhnya masih sensitif untuk menerima simulasi yang lain. Armand diam sejenak sampai Abela sedikit bergerak dan akhirnya bergerak juga untuk mengendalikan permainan mereka.


Armand tidak ingin terburu-buru, dia ingin semuanya dilakukan dengan hati-hati. Dia ingin lebih menikmati ini. Setiap tarikan atau tusukan. Atau desah yang dia dengar. Atau keringat mereka yang bertemu satu sama lain. Atau rasa yang di kecap lidahnya yang menari diatas tubuh Abela.


Semuanya terasa sempurna, seakan tidak ada apapun yang menjadi keraguan dan kecurigaan. Seakan mereka memang saling melihat ke dalam diri mereka yang sebenarnya. Dan saat Armand sampai. Bersama dengan geram rendahnya, nama yang dia bisikan adalah Arabela.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2