
.
Orlando masih mengurung diri di kamarnya saat Bastian datang. Lui butler keluarga Isla menyambut Bastian dengan raut wajah lelah dan khawatir. Nyonya mereka sudah lama tidak pulang. Pekerjaan perkebunan dan rumah yang harus dia tangani sendiri dalam satu waktu. Walau dibantu oleh para pekerja yang lain tetap saja Lui merasa terlalu banyak yang harus dia kerjakan.
Sedang tuan mudanya terlihat tidak baik-baik saja. Terlebih yang dia dengar membuat seisi mansion khawatir. Penculikan dan sekarang terluka. Apa yang dipikirkan Duke Armand membawa nyonyanya ke tempat yang berbahaya.
Bastian masuk tanpa mengetuk pintu kamar Orlando. Bastian tahu, Orlando sedang dalam suasana hati yang buruk. Saat Bastian masuk, Orlando sedang duduk di samping jendela. Memeluk Mossie yang bergelung di pangkuannya.
"Hei ...." sapa Bastian pelan.
"Kau datang?" tanya Orlando terdengar acuh.
"Ya ... Aku datang lagi. Ayah bilang dia belum bisa datang," jawab Bastian pelan sambil duduk di sofa. Menatap wajah murung Orlando yang sangat kentara.
"Ya ... Bukan salahmu kalau kau kecewa," kata Bastian lagi. Bastian tahu ayahnya sedang sibuk. Tapi sebentar saja, seharusnya dia menemui Orlando walau hanya sebentar. Untuk menenangkan anak ini sedikit.
"Bagaimana wanita itu?" tanya Orlando pelan.
Pertanyaan Orlando tidak mengejutkan Bastian. Bastian tahu hal pertama yang Orlando tanyakan padanya adalah wanita itu. Bastian mengulas senyum tipis, berusaha untuk terlihat tenang.
"Dia .... " Bastian memberi jeda, "Belum terlihat baik-baik saja. Wajahnya masih pucat pasi. Dia juga belum beranjak dari tempat tidurnya juga," ucap Bastian menjelaskan kondisi Abela siang ini saat dia berkunjung.
Hening agak lama setelah itu, Bastian memperhatikan Orlando yang mengelus badan Mossie. Ekspresi anak itu belum berubah sama sekali. Masih membuat Bastian takut salah bicara.
"Kau khawatir padanya?" tanya Bastian hati-hati.
"Bagaimana denganmu? Kau khawatir padanya?" Orlando balik bertanya padanya, masih belum berbalik menatap Bastian.
"Ya ... Sejujurnya iya ...." Bastian menjawab pelan. Dia takut Orlando akan meledakan kekesalannya. Akhir-akhir ini Orlando selalu punya alasan untuk mendorongnya pergi. Dari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah mereka perdebatkan. Ke hal-hal besar yang bisa Bastian pahami kenapa pertengkaran itu terjadi.
"Baguslah ... Tidak penting siapa saja kan?" nada sarkastik keluar dari mulut Orlando.
"Apa maksudmu?" tanya Bastian menyipitkan matanya.
__ADS_1
Bastian tahu, Orlando sudah memulai mencoba berdebat dengannya. Bukan Bastian merasa akan kalah. Hanya saja Bastian selalu tidak suka kecanggungan diantara mereka setelah pertengkaran itu.
"Siapa saja bisa jadi ibumu ...." kata Orlando lagi.
Bastian tidak langsung menjawab, dia terdiam menatap tajam pemuda pirang yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.
"Aku rasa kau benar," jawab Bastian. Dua tangannya mencengkram pegangan kursi cukup kuat.
"Bagi ku yang sudah kehilangan ibu kandungku sejak aku bayi, tentu saja mudah menggantinya dengan orang lain." Bastian tidak seharusnya mengatakan itu. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menahan emosinya kali ini.
Orlando akhirnya berbalik menatapnya. Wajahnya masih datar, pandangan sendunya sudah berubah. Mata biru itu menatap Bastian tajam. Hingga kerutan terlihat diantara alisnya.
Bastian tahu, dia yang salah. Dia tidak seharusnya membandingkan dirinya dengan Orlando. Membandingkan penderitaan dengan orang yang sedang terpuruk bukanlah hal yang bijak. Seharusnya dia bersimpati, bukan membuat seakan kehilangan Orlando bukan sesuatu yang besar.
Bastian menghela napas pelan. Dia menunduk menatap lantai. Bayangan wajah Abela yang tersenyum saat memanggil namanya terlihat di depan mata. Orlando tidak akan tahu, apa yang Bastian rasakan pada ibunya bukan hanya sekedar karena wanita itu adalah kekasih ayahnya.
Bastian juga kehilangan, tentu saja. Mungkin diantara dia, ayahnya dan Orlando. Orlando lah yang paling kuat menerima kenyataan. Menerima bahwa ibunya telah tiada. Dan wanita itu adalah orang lain. Tidak seperti Bastian atau Armand yang masih seakan menipu diri mereka.
Mereka masih berharap tidak tahu kebenaran. Mereka yang masih berharap jika yang dikatakan wanita itu semua adalah omong kosong.
Bastian mencoba tenang dan menahan emosinya dengan menggigit bibir bawahnya. Dia menunggu Orlando menumpahkan apa yang ada di kepalanya.
"Daripada kai disini, di tempat yang mungkin sebentar lagi tidak ada." Orlando mengatakan sesuatu yang tidak di mengerti Bastian. Apa maksudnya sebentar lagi tidak ada?
"Setelah ibuku tiada, paman dari pihak ayahku akan datang seperti dulu. Mengklaim semua yang ada disini." Bastian berkata lagi.
"Kau khawatir soal itu? Soal gelar mu?" tanya Bastian menaikan alisnya.
"Kau, tidak akan mengerti Count," desis Orlando.
"Dengar, tidak ada yang bisa merebutnya darimu. Ibu mu, belum tiada," ucap Bastian.
"Dia. Bukan. Ibuku." Orlando menekan setiap kata yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Ya. Aku tahu. Setidaknya tubuhnya masih bisa berdiri dan hidup." Bastian bukan tidak paham apa yang coba Orlando katakan padanya. Orlando sudah menganggap Abela tiada. Dan dia bersiap dengan kemungkinan selanjutnya yang terjadi saat Abela benar-benar tiada.
Bastian terdiam sejenak, Bastian tidak lagi menemukan tatapan mata Orlando. Yang bisa Bastian lihat hanya bibir Orlando yang melengkung ke bawah.
"Kau tahu, siapa yang merasuki tubuh ibumu? San apa tujuannya?" tanya Bastian memulai lagi.
"Kenapa aku harus tahu?" tanya Orlando pelan.
"Dengar, dia tidak bisa sesuka hati memakai tubuh ibumu. Kau harus membuatnya membayar. Buat kontrak dengannya. Dan petik keuntungan dari kontrak itu." Bastian sedikit terdengar manipulatif. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain untuk membantu Orlando.
"Kau ingin melindungi apa yang telah orangtuamu bangun kan? Rumah ini, perusahaan mu, orang-orang yang ada disini? Tapi kau tidak bisa melakukannya sendiri sekarang ini. Karena kau masih di bawah umur." Bastian menjelaskan dengan rinci pemahamannya.
"Kau bisa membuat wanita itu melindunginya untuk mu," lanjut Bastian.
"Sampai kapan?" tanya Orlando, meski ekspresi wajahnya tidak berubah. Dia terdengar sedikit tertarik.
"Itu ... Kita bisa membicarakannya dengan wanita itu langsung." Bastian tidak yakin sebenarnya. Tapi seharusnya Ghotel mau melakukan kontrak itu demi Orlando. Bastian yakin penyihir itu tidak sejahat yang dia dengar.
"Apa hal yang paling cepat untuk bisa melindungi rumahku?" tanya Orlando lagi. Orlando tidak ingin bertaruh dalam waktu yang lama. Dia ingin segera menyelesaikan dengan satu langkah saja.
"Akan aku pikirkan ...." jawab Bastian.
Mereka berdua sedang sama-sama terdiam dan menyelami pikiran masing-masing. Saat Anna -pelayan Abela- masuk membawa teh dan cemilan.
"Maaf saya agak lama menyajikan teh untuk tuan muda," ucap Anna sopan.
"Kalian berdua terlihat sangat serius," kata Anna sebelum menghela napas ringan. "Semoga nyonya dan tuan Duke segera menikah. Jadi kalian bisa benar-benar jadi saudara," kata Anna lagi sambil lalu.
Bastian melebarkan matanya sedikit. Dia menatap Anna yang sedang menyajikan teh. Mata mereka bertemu, senyum terlihat di wajah pelayan itu. Bastian tersenyum juga saat dia sudah merasa memiliki jawabannya. Ya kenapa dia tidak memikirkannya tadi.
Bastian menyandarkan punggungnya dengan rileks sekarang. Menunggu Anna meninggalkan ruangan.
"Hei ... Orlando ... Aku tahu cara yang cepat untuk melindungi apa yang jadi milikmu," ucap Bastian.
__ADS_1
"Ya?"
...----------------...