
.
Armand menutup matanya menikmati air hangat yang merendam sebagian tubuhnya. Tidak ada pelayan yang berani menatapnya pagi ini. Sesuatu yang tidak aneh. Mereka pasti menjadi saksi kejadian tidak menyenangkan.
Armand bahkan terkesan mengacuhkan mereka, menganggap mereka tidak ada.
"Ada yang anda butuhkan lagi, Yang mulia?" tanya pelayan senior.
"Tidak," jawab Armand dingin.
Para pelayan hanya berdiri kaku, bahkan saat Armand berdiri dan berganti pakaian. Armand terlihat ragu untuk masuk lagi ke ruangan yang dia tinggali dengan Abela. Tapi dia tetap membuka pintunya. Ruangan ini sudah agak lebih baik. Tampaknya para pelayan membersihkannya secepat yang mereka bisa.
Abela melirik Armand dengan sudut matanya. Dia duduk menikmati teh paginya. Armand tidak bicara apa-apa sebelum pergi meninggalkan Abela sendirian.
.
.
Sesampainya Armand di ruang kerjanya di istana. Hal yang pertama dia cari adalah asistennya Ray. Ray tampak gugup berdiri di depan atasannya yang terlihat sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Orlando Isla. Dia akan liburan panjang dari akademi. Kirim dia ke Duchy dan suruh Bastian menemaninya. Dan untuk Abela Isla ...." Armand menyebut nama kekasihnya dengan nada dingin membuat Ray semakin gugup. "Jangan biarkan dia meninggalkan istana."
"Baik Yang Mulia ...." Ray menjawab perintah tuannya dengan patuh. Sudah dia duga terjadi sesuatu tadi malam. Tapi Ray tidak mampu bertanya pada Armand. Dia takut melewati batasnya sebagai asisten pribadi Duke.
Ray undur diri dan segera ke ruangannya sendiri. Mengurus apa yang di perintahkan oleh Armand. Sebelum pergi menemui Abela.
"Anda tidak diizinkan meninggalkan istana, Madam," ujar Ray hati-hati.
"Bagaimana dengan liburan anak ku?" Pertanyaan Abela membuat Ray bingung harus menjawab apa. Kentara sekali hingga Abela menyadarinya.
"Duke memerintahkan untuk membawanya ke Duchy, tuan muda Bastian yang akan menemani tuan muda Orlando." Akhirnya Ray memiliki mengatakan dengan jujur.
"Baiklah ... Aku akan menuruti perintah tuanmu," jawab Abela pelan.
Ray menatap leher Abela yang tertutup syal. Syal yang sengaja di pasang longgar itu memperlihatkan sedikit perban yang membalut luka Abela.
"Madam?" Ray mengerutkan keningnya menatap perban itu. Kemarin perban itu tidak ada di leher Abela. "Apa leher anda terluka?" Ray tidak bermaksud bertanya, karena entah kenapa dia tidak ingin mendengarkan jawaban Abela. Tapi tidak bertanya pun terlihat tidak sopan.
"Armand menghunuskan pedangnya di leherku," jawab Abela seraya menyunggingkan senyum sinis.
Ray terdiam ditempatnya berdiri. Bertanya-tanya dalam hati apa benar tuannya itu sudah gila. Bagaimana mungkin dia berpikir menghunuskan pedang legendarisnya pada wanita biasa yang notabene kekasihnya sendiri.
Ray bukan satu-satunya yang terkejut mendengarnya tapi juga Bastian yang baru sampai di pintu masuk. Wajah Bastian menggelap sebelum beranjak dari sana.
.
__ADS_1
.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Armand pada Bastian yang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Apa yang terjadi?" tanya Bastian, matanya menatap ayahnya tajam.
"Tentang apa?" Armand sebenarnya tahu apa yang anaknya tanyakan saat ini.
"Ibu ... Apa yang terjadi dengan ibu?"
"Mulai hari ini berhenti memperlakukannya seperti itu. Jangan dekati dia. Dan pulanglah ke Duchy dan temani Orlando." Armand memberi perintah pada Bastian yang bahkan belum bisa memahami apa-apa.
"Ayah juga akan menjauhkan Orlando dari ibunya?" Bastian berkata tidak percaya. "Dan kenapa?"
"Itu yang terbaik untuk kalian berdua." Armand menjawab dengan kening yang berkerut.
"Aku tidak bisa melihat apa yang baik dari perintah Ayah."
"Bastian, lakukan saja apa yang aku katakan untuk sekarang ini." Armand berkata dingin.
"Ayah ... Tidak akan memberitahu ku sampai akhir? Kenapa aku dan Orlando tidak boleh mendekati wanita itu ... Atau kenapa wanita itu ayah kurung di istana?"
"Wanita itu?" Armand mengulang pertanyaan Bastian.
"Kau ....?" Armand menatap anaknya. "Apa yang kau tahu?"
"Aku tidak tahu apa-apa ... Kenapa aku bisa tahu kalau ayah tidak memberitahu ku. Aku dan Orlando hanya bisa menilai yang kami lihat dengan mata kami saja. Dia tidak sedikit pun mirip dengan ibu. Kecuali wajahnya tentu saja."
"Bastian ...."
"Aku tahu ... Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Seperti dirimu, kami juga hanya berusaha membohongi diri sendiri." Bastian mengerutkan alisnya. Menghindar dari tatapan Armand.
Ekspresi anak remajanya sebelum meninggalkan ruangannya membuat Armand tersenyum tipis. Membohongi diri sendiri. Armand mengulang ucapan Bastian.
Dia menyandarkan punggungnya. Merasa lelah. Pandangannya jauh menatap keluar jendela. Dia menutup matanya mengingat kegilaan yang dia lakukan tadi malam. Jika dia tidak mabuk, apa yang akan terjadi. Pasti dia akan dengan mudah melenyapkan apa yang harus dia lenyapkan dan menyesal setelah itu.
Mana yang lebih menyakitkan? Dia yang tahu kebenaran itu sekarang jika dia telah kehilangan Abela selamanya atau saat itu juga. Apa rasanya akan lebih menyakitkan jika dia mengubur tubuh Abela di dalam peti dibandingkan melihat tubuhnya bisa bergerak dan terlihat hidup tapi dengan jiwa orang lain. Mana yang lebih baik?
Armand belum tahu, apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Soal penyihir itu. Sekarang ini dia hanya ingin melindungi apa yang penting baginya. Dia tidak tahu apa wanita itu berbahaya atau tidak bagi Bastian atau Orlando.
Dia hanya akan melihat dan memperhatikan wanita itu terlebih dahulu. Jika tujuannya benar-benar hanya untuk menghancurkan tubuhnya saja. Atau ada yang lain.
...----------------...
"Aku tidak tahu, aku akan bertemu denganmu lagi secepat ini," komentar Abela saat Armand masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan bebas mulai sekarang." Armand menegaskan yang tadi disampaikan asistennya.
”Ya ... Aku mendengar dengan jelas dari asisten mu tadi. Dan ... Apa kita akan makan siang bersama?" tanya Abela melihat pelayan menyajikan makan siang untuk mereka berdua.
"Kenapa? Kau tidak ingin makan?" Armand mengatakan itu dengan nada menyebalkan.
"Kenapa aku harus tidak ingin makan," jawab Abela, menaikan satu alisnya kesal. "Kau tidak membuatku kehilangan nafsu makan."
"Haa!" Armand tersenyum sinis, matanya menatap Abela tajam. Seakan ingin membuat lubang di kepala Abela.
"Apa aku harus bertanya padamu? tentang nafsu makan mu?" Abela tersenyum saat mengatakan itu.
"Aku tidak perlu punya nafsu untuk makan. Aku makan karena harus. Bukan begitu?" Armand menjawab sarkasme.
"Oh ... Itu sama dengan nafsu yang lainnya?" tanya Abela menyuap makan makanannya.
Armand tersenyum lagi tapi bukan senyum yang biasa terlihat dulu , tatapan lembutnya juga sudah hilang. Abela menelan makanannya yang tidak terasa apa-apa itu. Kejujurannya merubah banyak hal. Lagi pula apa yang Abela harapkan? Armand yang menerimanya karena tubuh ini? Pikiran gila itu tidak pernah terpikirkan sama sekali.
"Ya ... Benar apa yang kau katakan. Aku bisa membunuh tanpa memiliki nafsu membunuh." Armand mengatakan itu dengan tenang seraya memotong daging panggang. Membuat pelayan yang ada bersama mereka menelan ludah gugup.
"Aku percaya itu. Tentu saja,” jawab Abela masih makan dengan tenang.
"Tentang keinginanmu untuk menghancurkan tubuh orang itu atau lainnya berkaitan dengan apa yang harus kau selesaikan. Aku akan mengizinkanmu."
"Itu terdengar mudah, tapi aku tidak punya kekuatan untuk itu," jawab Abela. "Tubuh ini tidak punya kekuatan." Abela menekankan.
"Kau ingin meminjam kekuatan ku?" Armand tersenyum miring, senyum arogan bukan menggoda seperti biasanya.
"Itu kenapa aku menempel padamu."
Jawaban Abela entah kenapa membuat kemarahan Armand muncul. Kenapa dia harus marah dengan fakta itu.
"Kau .... " Armand tidak meneruskan kata-katanya dan menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya saat ini.
Membuat Abela bertanya-tanya, bagaimana wajah Armand saat ini.
"Aku ... Hanya bertaruh dengan apa yang aku bisa. Sekali lagi aku akan mengatakan ini, Armand. Semua ini diluar jangkauan ku. Aku juga tidak menginginkan ini terjadi. Aku mungkin terdengar tidak tahu malu. Tapi aku butuh bantuanmu."
"Apa yang aku dapat dari pertaruhan mu? Aku sudah kehilangan yang ingin aku pertahankan." Armand masih menunduk.
Abela tersenyum miris mendengar itu. Andai saja dia memanipulasi Armand dan bilang jika jiwa Abela yang asli akan kembali dia pasti bisa mencapai tujuannya dengan mulus. Dan Armand tidak akan ragu untuk melakukannya. Jadi kenapa dia tidak melakukannya? Kenapa dia tidak berbohong tentang kematian Abela. Lagipula dia juga akan pergi juga.
"Aku akan melakukannya ...." ucap Armand membuat mata Abela melebar. "Sudah aku putuskan untuk melakukannya."
...----------------...
__ADS_1