
.
Armand terbangun dengan suasana hati yang cukup baik, dia merasa percaya diri dengan hari ini. Armand menatap Abela yang masih terlelap di sampingnya. Wajah cantiknya memenuhi pandangan Armand. Armand tersenyum tipis sebelum mengecup sisi kepalanya. Dan bangkit dari tempat tidur.
Armand membersihkan diri di bilik mandi yang baknya sudah di penuhi air oleh para pelayan di kediaman Calix, berganti pakaian prajurit dan langsung menuju ke tempat latihan. Dia memakai baju zirahnya di sana.
"Yang mulia, silahkan duduk disini." Calix menunjuk satu kursi kosong yang berderet dengan meja makan yang panjang, semua prajurit sarapan di sana.
Armand mulai memakan sup dan rotinya. Aneh, rasanya tidak ada ketegangan sama sekali. Dia merasa sangat santai dan tenang. Mungkin hari ini benar-benar akan berjalan lancar seperti yang mereka harapkan.
.
.
Armand sudah duduk di atas pelana kudanya. Dia menatap Calix dan prajurit yang berjejer satu persatu. Hari ini akhirnya mereka akan memburu monster yang sudah menjadi keresahan selama beberapa minggu ini.
Armand memberi instruksi pada kapten untuk memimpin prajuritnya. Sebelum dia benar-benar berangkat meninggalkan kastil, dia mengerling jendela kamar yang dia tempati. Dengan jelas dia melihat Abela menatapnya dari sana. Wanita itu masih mengenakan pakaian tidurnya, menampakan raut wajah yang terlihat sangat puas. Dia tersenyum dan mengangguk pada Armand. Setelah itu, Armand berbalik dan mengemudikan kudanya.
.
.
"Saya harap mereka semua membawa kabar baik," ucap Alfred -butler Calix- saat dia menuang segelas air untuk Abela.
Abela tidak menjawab, dia masih menikmati sarapannya dengan tenang.
"Maaf, kami tidak bermaksud untuk tidak membangunkan anda." Alfred berkata lagi, dia sangat sibuk menyiapkan semua hal. Sampai lupa mengirim seorang pelayan wanita untuk membangunkan Abela.
"Tidak apa-apa Alfred, lagi pula aku sudah berpamitan dengan Armand semalam. Dan pagi ini lewat jendela." Abela tersenyum, dia tidak ingin membuat Alfred berpikir jika dia merasa kesal hanya karena itu.
__ADS_1
"Bagaimana jika anda berkeliling di kota kami nyonya. Memang tidak semegah ibukota, tapi disini kami memiliki banyak restoran yang bagus. Makanan mereka sangat lezat." Alfred memberi saran yang menarik. Abela mengangguk dan tersenyum lagi padanya.
"Saya akan menyiapkan kereta kudanya," ucap Alfred sebelum menghilang dari pandangan Abela.
.
.
Armand menghentikan laju kudanya saat dia merasa kalau dia sudah harus waspada di area itu. Hutan ini anehnya memiliki pohon yang terlihat jarang dan berjarak cukup jauh. Sesuatu pasti sudah merusak beberapa pohon.
"Kalian dengar !" perintah Armand sedikit berteriak. "Duke Calix tetaplah tinggal bersama ku sesuai rencana, kalian semua menyebar lah dan buat monster itu terperangkap dengan senar tajam yang kalian bawa. Saat kau sudah siap Duke, lempar aku ke mulut monster itu." Armand menatap Calix dengan serius, dia bahkan sudah tidak bersikap formal lagi. Dan Calix hanya mengangguk sebagai respon.
Semua prajurit menyebar ke seluruh sisi hutan, derap kaki kuda mereka terdengar jelas saat menginjak ranting dan daun kering. Sedang suara lolongan panjang terdengar di jarak yang sangat dekat.
Armand bersiap diatas kudanya, pedang istimewanya sudah dia genggam di tangan kanan. Bersinar berwarna biru, auranya juga bersinar di baju zirah besi yang dia kenakan.
Para prajurit juga menambahkan aura mereka pada senar yang mereka bawa, mereka terus berada dalam formasi. Beberapa kali tubuh monster itu terpotong senar, tapi bisa dengan mudah beregenerasi. Armand fokus pada bagian mulut monster mengerikan itu, taringnya menjulur keluar.
"Sekarang !" Armand berseru bersiap melompat dari kudanya, sedang Calix menempelkan formula sihirnya tepat di punggung Armand. Dengan tekanan dari kekuatan Calix , Armand terlempar ke udara. Dia merentangkan pedang besarnya dan menebas dua taring monster.
Lolongan panjang monster itu bergema memekakkan telinga. Calix memutar arah sihirnya agar Armand bisa dengan mudah mencapai kepala monster itu. Dengan sekali lompatan Armand menusuk rahang atas monster yang sedang bergerak dan mengerang kesakitan. Taringnya tidak beregenerasi. Armand masih di atas moncongnya saat monster besar itu tiba-tiba terdiam. Pupil mata monster yang merah perlahan berubah menjadi putih. Yang terakhir monster itu lihat adalah punggung Armand yang sangat dekat dengan matanya.
Armand berhasil mendarat di atas tanah sebelum monster itu terjerembab.
"Saya tidak percaya kita berhasil dalam satu percobaan," ucap Calix, dia menghampiri Armand, berdiri di hadapannya. Mereka saling pandang seperti sedang berdiskusi dalam diam.
Bukan hanya mereka berdua yang terpana di tempat, para prajurit pun masih terpaku di tempat mereka berdiri. Masih menyalurkan aura mereka pada senar tajam yang mereka genggam.
"Monster itu ... Sudah ma-mati?" ucap salah satu prajurit sedikit tergagap. Sungguh mengejutkan mereka melakukannya dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Monsternya, sudah kita kalahkan !" seru kapten prajurit dari kediaman Duke Estonia.
Di tengah sorak sorai prajurit yang dengan bangga dan bahagia karena telah mengalahkan monster yang membuat pergerakan orang-orang menjadi sempit. Armand masih berdiri di tempatnya, menatap tanah di bawah kakinya. Baju zirahnya bahkan tidak terkena darah sama sekali. Tapi sejak kapan? Abela tahu hal-hal tentang monster?
Pandangan Armand berpindah dari kaki Calix ke wajahnya yang datar.
"Ini hanya kebetulan saja," gumam Calix seakan membaca isi kepala Armand.
Armand menghela napas dan tersenyum tipis, tentu saja tidak mungkin ini bukan kebetulan. Tidak mungkin Abela tahu tentang monster-monster ini. Pikir Armand.
Walau begitu, entah kenapa dia mengeratkan genggaman pada pedangnya. Wajahnya mengeras seiring langkahnya menuju kuda yang akan dia tumpangi untuk kembali ke kastil Duke Estonia. Ingin segera bertemu dengan Abela.
...----------------...
Abela menikmati suasana kota, sudah banyak yang berubah dari kota ini. Tentu saja, ratusan tahun dia baru kembali lagi. Abela tersenyum pada gadis penjual bunga liar.
Abela sedang menatap fokus perhiasan yang di jual di jajakan di pinggiran jalan saat ada keributan yang dia dengar.
Pintu gerbang besar teritori Duke Estonia terbuka lebar. Dan semua prajurit di pimpin oleh Calix dan Armand masuk ke dalam. Mereka mengumumkan jika mereka telah berhasil menumbangkan monster yang membuat semua orang resah.
"Itu berarti kita harus berterima kasih pada pangeran Armand?" Abela mendengar seseorang berbisik di sampingnya.
Abela tahu, banyak orang disini yang membenci Armand, tapi sekarang mereka tidak bisa memungkinkan jika Armand memang sehebat itu. Orang-orang ini pasti sangat kesal sekali. Di satu sisi mereka tidak ingin menganggap Armand di sisi lain mereka berhutang budi padanya.
Sedang Armand tidak bisa berhenti berpikir tentang Abela. Bagaimana mungkin ide Abela sangat jitu sehingga mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat tanpa kerugian. Strategi penyerangan memang Armand yang memikirkannya tapi tetap saja tidak akan semudah ini jika Abela tidak memberi ide untuk menebas taring atau menusuk rahang atas monster itu.
Disaat pikirannya sedang terpaku pada itu, sudut matanya menangkal warna emas bertebaran terbawa angin. Sekali lagi Armand terperangkap ke dalam tatapan Abela yang sewarna langit.
Abela. Armand menggumamkan nama itu dalam hati. Seketika semua yang dia pikirkan tadi hilang saat dia melihat Abela mengulas senyumnya. Wanita itu melambaikan tangannya.
__ADS_1
Cukup untuk membuat Armand turun dari kudanya.
...----------------...