
.
Abela terdiam saat Armand bertanya alasannya menyelamatkan dia. Kalau diingat lagi yang terjadi saat itu. Abela bahkan tidak tergerak untuk menyelamatkan Cesar. Tapi dia dengan spontan berlari saat melihat sihir itu diarahkan pada Armand.
Abela tidak sempat berpikir tentang itu karena dia langsung tidak sadarkan diri. Jawaban apa yang ingin Armand dengar darinya?
"Aku ...." Abela berhenti. Masih tidak bisa memberi jawaban yang tepat. "Aku tidak tahu." Akhirnya hanya kata itu itu bisa dia ucapkan. Matanya belum memandang Armand lagi.
"Haruskah aku menjawab pertanyaan itu sekarang?" tanya Abela seraya menghela napas.
Armand memperhatikannya dengan bibir yang dia rapatkan. Bertanya pada diri sendiri apa dia memang membutuhkan jawaban itu atau tidak.
"Istirahatlah." Armand beranjak dari duduknya. Saat tangan Abela entah kenapa menahannya.
Abela tidak yakin apa arti gestur tubuhnya sendiri. Apa dia tidak ingin Armand meninggalkannya sendirian? Kenapa? Abela dengan segera menarik tangannya lagi. Dia memalingkan wajahnya mencoba menghindar dari tatapan bertanya Armand. Tidak ada sepatah katapun yang terucap setelah kecanggungan itu.
Armand yang sedikit terpaku saat Abela menahannya untuk tidak berdiri, akhirnya hanya mampu menyunggingkan senyuman dan kembali duduk di kursinya.
"Baiklah kalau kau tidak ingin aku pergi," ucap Armand dengan nada jahilnya yang sudah lama hilang.
Abela tidak menjawab, entah kenapa wajahnya terasa panas mendengar nada suara itu. Entah apa yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Abela menelan ludah, takut untuk memberi jawaban pada apa yang dia rasakan. Dia tidak boleh memiliki perasaan itu.
"Apa kau tahu? Kemana selubung itu terhubung?" Armand memulai percakapan lagi. Dia tidak terlalu memperdulikan wajah Abela yang masih berpaling darinya.
"Ke istana?" Abela tidak ragu untuk menjawab. Semua orang yang dia temui sebelum Armand jelas-jelas dari istana.
"Ya ... Ke kamar putri dari Wilhemn," jawab Armand tenang.
"Lyra?" Abela menyebut nama putri itu dengan nada bertanya.
Abela tersenyum miris, dia bahkan sedikit akrab dengan wanita itu sebelumnya.
"Jadi yang masuk ke dalam tubuhku yang asli juga ...." Abela tidak meneruskan kalimatnya. Jujur dia agak sedikit kecewa, kenapa harus Lyra dari semua orang.
"Ya ... Tebakan mu benar," jawab Armand masih dengan nada setenang tadi.
"Aku berharap itu salah," ucap Abela sambil meringis.
"Apa yang membuat ekspektasi mu tinggi pada wanita itu?" Armand menyilangkan tangan di depan dadanya.
__ADS_1
"Dia cukup manis," jawab Abela tanpa pikir panjang.
Armand tidak tahu ekspresi apa yang Abela tampilkan sekarang, tapi dia bisa melihat melihat senyum tipis tersungging di wajah itu.
"Manis?" ulang Armand pelan.
"Cukup menyenangkan melakukan banyak hal dengannya dan Rewelin," ucap Abela jujur.
"Mungkin ...itu karena sudah lama kau tidak memiliki orang untuk kau ajak bicara," kata Armand. Dia mengatakannya bukan hanya pada Ghotel, tapi pada Abela juga. Kekasihnya tidak memliki banyak orang yang bisa dia sebut teman.
Abela terdiam lagi, dia menerima pernyataan Armand. Yang dikatakan Armand benar. Dia tidak bisa menyangkalnya.
Saat mereka berdua terdiam dan menyelami pikiran masing-masing. Tiba-tiba pintu kamar di buka cukup keras. Abela sedikit terkejut dan spontan menatap ke arah pintu.
Dia melihat Orlando yang seperti sudah menangis bahkan sebelum sampai ke dalam kamar. Diikuti Bastian dibelakangnya.
Orlando masuk dan mendekat ke tempat tidur. Anak itu menggigit bibir bawahnya agak sedikit terlalu keras. Abela bisa melihat darah di sana.
"Hentikan menggigit bibirmu seperti itu, itu membuat mu terluka." Abela mengatakan itu sambil berbaring, masih tidak memiliki cukup tenaga untuk bangun.
"Kau terluka lagi? Diculik dan terluka lalu terluka parah?" Orlando bergumam tanpa mengangkat kepalanya.
"Aku dan ayahmu tidak menyangka jika itu akan terjadi," jawab Abela pelan. Dia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan siapapun.
"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat mendengarnya?" entah kenapa Orlando meninggikan suaranya.
"Aku ...." Abela tidak bisa menemui kata selanjutnya saat melihat airmata Orlando mengalir.
"Aku tahu kau bukan ibuku!" teriak Orlando.
"Tapi aku tetap berlari kemari secepat yang aku bisa," ucap Orlando lagi. Nada suaranya sudah sedikit diturunkan.
"Menurut mu, apa alasannya?" Orlando bertanya tentang apa yang tidak dia pahami juga.
Beberapa hari ini dia merasa marah. Pada apa saja yang dia lihat. Pada pot bunga yang disimpan tidak rapi, pada meja belajarnya yang berantakan. Hal-hal kecil mempengaruhi perasaan Orlando berkali-kali lipat dari biasanya.
Dia ingin membenci wanita ini yang merasuki tubuh ibunya. Tapi dia tidak bisa menekan rasa khawatirnya saat dia mendengar bahwa wanita ini terluka. Orlando tiba-tiba tertawa cukup keras. Membuat semua orang memandangnya.
"Aku rasa ini hanya karena tubuh ibuku," gumam Orlando pelan. Dia mengepalkan tangannya. Giginya dia rapatkan agar tidak berteriak lagi.
__ADS_1
"Kau benar Orlando," jawab Abela dengan sangat pelan.
"Yang kau rasakan, itu semua karena tubuh ini tubuh ibumu," ucap Abela sambil tersenyum, berusaha memberi jawaban yang membuat Orlando tenang.
"Aku tidak suka dengan kenyataan itu," ucap Orlando lagi.
"Aku juga ... Tapi aku tidak akan berusaha menyukainya juga ...." ucap Abela lirih.
"Jawabanmu tidak membantu sama sekali," gumam Orlando.
"Aku menyelamatkan ayahmu," ucap Abela akhirnya.
"Dengan menyelamatkan ayahmu aku bisa menyelamatkan putra mahkota juga. Itu kenapa aku terluka." Abela mencoba bersikap tenang di sisa tenaga yang dia punya.
Orlando masih terdiam dengan tangannya yang masih mengepal. Tidak ada yang menyela obrolannya dengan Abela. Armand dan Bastian memang memperhatikan di tempat mereka masing-masing.
"Jangan melakukan hal yang membahayakan ibuku," kata Orlando masih terdengar marah.
"Baiklah aku akan berhati-hati," jawab Abela. Dia sebenarnya ingin beristirahat. Badannya sangat lelah.
Apa salahnya sehingga dia menjadi orang jahat untuk orang-orang ini karena merasuki tubuh orang yang mereka cintai. Bukan keinginannya begini. Dia juga tidak mau dihidupkan kembali. Rasa kesal perlahan merambat ke hatinya. Adakah satu saja orang yang simpati dengan perasaannya saat ini. Atau hari-hari sebelumnya?
Abela rasa tidak ada. Bahkan Rewelin pu. Akan berhenti berteman dengannya. Mereka semua egois. Tidak ada satupun yang mendengar apa yang Abela ucapkan berulang kali. Menyebalkan. Gumam Abela dalam hati.
"Jika kalian sudah selesai bicara dan menumpahkan kekesalan kalian padaku ..." Abela berucap dengan nada yang dingin. "Kalian sudah boleh pergi," katanya lagi.
"Tidak. Aku belum selesai." Orlando menaikan suaranya lagi.
"Apa yang kau mau kalau begitu?" Abela bertanya dengan cukup keras juga.
Abela merasa marah, kenapa harus dia yang disalahkan? Airmata sudah menggantung dinsidut matanya. Dia lelah. Dia benar-benar ingin semuanya selesai lebih cepat lagi.
Bastian menyentuh bahu Orlando dan meminta perhatiannya. Dia ingin Orlando berhenti. Entah kenapa firasatnya mengatakan semua akan menjadi lebih buruk. Dia menggeleng pada Orlando untuk mencegahnya mengatakan apa-apa lagi.
Armand akhirnya berdiri dari kursinya. "Mulai hari ini, kalian tidak diizinkan masuk ke dalam kamar ini sampai batas waktu tertentu."
Nada perintah Armand yanh tidak bisa dibantah semua orang. Bastian berusaha membawa Orlando keluar kamar itu. Anak itu cukup bebal. Dia dengan sekuat tenaga bertahan di posisinya.
"Kenapa? Kenapa kau masih ada di dalam sana," gumam Orlando pelan tapi masih terdengar oleh semua orang.
__ADS_1
"Kenapa? kau ingin segera memakamkan tubuh ibumu?" Abela sebenarnya tidak berniat mengatakan itu. Tapi dia benar-benar sangat marah sekarang. Dan lawannya hanya anak kecil saja. Tapi tetap saja Abela menganggap semua orang ini egois. Abela berbaring dan memunggungi mereka. Dia tidak melihat airmata Orlando yang mengalir deras. Atau Bastian yang menahan emosinya. Atau tatapan gelap Armand padanya.
...----------------...