
.
Abela bersiap di samping kudanya. Sebelum berangkat, Armand melatihnya untuk menyalurkan aura pada fisiknya agar lebih kuat. Tentu saja tubuh ini mengingatnya lebih baik dari Abela sendiri.
Abela sekang merasa mudah bergerak dengan armor yang dia kenakan di pundak dan lututnya. Armand memberinya sepasang pedang kembar untuk melindungi diri. Dan sekali lagi, Abela kagum dengan ingatan tubuhnya yang mudah melakukan beberapa gerakan penyerangan dan pertahanan.
Abela bisa merasakan pandangan mata yang menusuk di punggungnya. Mereka mungkin merasa dia adalah beban yang akan menganggu Armand. Karena jendral itu pasti fokus untuk melindunginya.
Tapi sejak kapan Abela perduli. Dia akhirnya bisa menjalankan tugasnya sekali lagi.
"Kau siap?" bisik Armand di samping wajahnya.
"Ya." Abela menjawab tegas. Dia tidak mau terlihat gentar.
Armand memeriksa armor yang dikenakan Abela tanpa bicara. Dia dengan hati-hati mengencangkan armor yang Abela pakai di pundak sebelah kiri. Lalu tersenyum tipis pada Abela dan memakaikan sebuah amulet (jimat) yang terbuat dari batu permata berwarna biru.
"Aku harap ini bisa melindungi mu saat aku berada jauh darimu." Armand sepertinya masih merasa khawatir.
"Jangan khawatir. Jika aku mati carilah wanita yang lebih cantik." Abela hanya bercanda, tentu saja Armand tidak menganggap itu lucu. Wajahnya sangat kaku dan terlihat datar.
"Kalau kau mati ...." Armand diam dan menatap mata Abela. "Aku akan menyusul mu setelah Bastian dan Orlando bisa mandiri. Tapi kau tidak akan membiarkan anakmu jadi yatim piatu kan, Abela?"
Perkataan Armand entah kenapa membuat hati Abela sedikit sakit. Wajah tersenyum Orlando memenuhi matanya.
"Kata-kata itu tidak bisa membuatku mundur. Biarkan aku melakukannya kali ini saja." Abela tersenyum percaya diri. Dia merapikan bagian depan pakaian Armand.
"Sejak pertama kali aku membuka mata, aku merasa tenang karena ada kau di dekatku, Armand. Aku sungguh-sungguh."
"Perkataan mu tidak sesuai dengan kenyataan yang aku lihat saat itu." balasan Armand membuat Abela tertawa. Tentu saja Abela ingat bagaimana dia dengan sekuat tenaga menghindari Armand dan mendorongnya menjauh.
__ADS_1
"Semua berubah setelah kita bercinta kan?" bisik Armand di teruskan dengan senyum miring yang membuat wajah Abela memanas.
"Sampai kapan kau akan menggodaku dengan itu?" hanya Abela dengan ekspresi wajah yang kesal.
Armand tertawa saat membantu Abela naik ke atas kudanya.
"Jangan kehilangan keberadaan ku. Kau mengerti Madam," ucap Armand.
"Baiklah. Aku paham." Abela menjawab.
Armand sudah naik ke atas kudanya juga. Abela mendapati Putra Mahkota di sebelah kirinya. Kalau dipikir lagi siapa dia yang bisa dapat kehormatan diapit oleh jendral dan putra mahkota. Belum lagi saat Abela menoleh ke belakang, Calix ada di sana menyapanya dengan sedikit anggukan. Dan tepat di depannya kapten pasukan Armand, memimpin mereka.
Sang kapten akhirnya memberi isyarat untuk mulai bergerak, tatapan Abela fokus ke depan. Samar-samar dia mendengar seseorang berteriak.
"Madam , aku akan melindungi mu!"
Abela tidak punya waktu untuk mencari siapa yang mengatakan itu karena dia sudah fokus mengendarai kudanya masuk ke dalam portal sihir.
Semakin jauh mereka melaju semakin gelap dan lembab udara di sekitar mereka. Abela menyipitkan mata memfokuskan pandangannya. Sampai kapten memberi isyarat untuk menghentikan kuda mereka.
Dengan perlahan Abela menarik tali pelananya, membuat kudanya berhenti teratur. Bau busuk mulai tercium, semakin lama semakin jelas.
"Abela ...." Armand memanggil Abela pelan. Abela mengerti dan semakin mendekat padanya. Suara raungan tiba-tiba terdengar dari arah depan. Abela mengeluarkan pedang kembarnya dan bersiap di memasang kuda-kuda.
Tiga monster mulai menampakkan diri. Bentuknya menyerupai kadal. Dari sekitar mulutnya menetes cairan hijau. Monster itu berjalan dengan empat kaki. Sisik di sekitar lehernya terlihat tajam dan runcing. Monster itu tidak terlalu besar tapi semua orang tahu mereka berbahaya.
"Monster itu bisa di bunuh dengan cara apa saja. Tapi sebisa mungkin hindari cairan hijau yang ada di mulutnya," kata Abela cukup keras hingga terdengar oleh Cesar dan Calix.
"Baiklah," Armand menjawab cukup jelas.
__ADS_1
"Dan ... Mereka ada banyak Armand." Abela berkata lagi sebelum akhirnya semua barisan mereka kacau.
Pasukan menyebar dipimpin empat orang, Armand, Cesar, Calix dan kapten. Abela tidak tahu siapa nama kapten itu. Yang jelas dia jelas terlihat kuat. Abela mengikuti Armand untuk melewati monster yang menampakkan diri. Membiarkan pasukan yang lain menghadapinya.
Kini di depan Abela, puluhan monster menatap mereka. Abela merasa heran melihat Monster itu seperti membangun sebuah sekutu. Sungguh hal yang tidak biasa di lakukan oleh spesies itu.
Tapi Abela tidak akan segan-segan menghancurkan mereka. Abela menyalurkan auranya pada perang yang dia pegang.
Pertarungan dimulai bahkan tanpa aba-aba. Semua orang hanya mengandalkan insting masing-masing. Armand mulai membunuh monster satu persatu. Abela juga sama, entah kenapa dia merasa sangat bersemangat. Berteriak dan bertarung sekuat tenaga membunuh monster yang mendekat padanya.
Perlahan tapi pasti semua monster berhasil ditumbangkan. Tapi semakin banyak yang mendekat. Monster ini tidak berhasil melukai siapapun. Mereka sangat lemah untuk ukuran spesies mereka yang dianggap sukit di taklukkan. Membuat Abela sadar bahwa monster itu mungkin saja sengaja dibuat oleh manusia.
Abela merasa ada sesuatu yang aneh. Jadi dia menghentikan kudanya dan diam di tengah. Armand melakukan hal yang sama dan akhirnya semua ksatria yang bersama mereka juga berdiam diri saja. Anehnya. Monster-monster itu berhenti bergerak dan hanya memandang mereka saja. Bahkan sampai semua ksatria bergabung dengan mereka lagi.
"Paman?" Cesar memanggil Armand dengan nada tanya.
"Stttt ...." Abela mengeluarkan bunyi agar mereka diam. Mereka menurut dan berdiam di tempat. Hal yang membuat Abela heran sekaligus terpana.
Mereka mungkin tidak bergerak, tapi mereka fokus yang entah bagaimana merasa sesuatu akan datang pada mereka.
Angin berhembus dengan cara yang aneh. Mengantarkan bau yang lebih busuk dari yang mereka cium tadi. Abela fokus ke arah depan. Seseorang terlihat mendekati mereka. Orang itu memakai jubah berwarna hitam. Dia berjalan seperti melayang.
Semua orang waspada melihat pergerakan orang itu. Helaian rambut berwarna merah terlihat di sisi wajah orang itu. Abela merasa familiar dengan gerakan yang dia buat.
"Mundur !" Abela berteriak sekuat tenaga. Dia berharap semua orang percaya padanya dan mengikuti instruksinya. Tapi semua itu terlambat. Sebuah ledakan keras menggetarkan tanah di bawah mereka.
Beruntungnya semua orang dapat menghindari ledakan itu. Sedang getaran tanah semakin kencang. Abela mengeratkan pegangannya pada pelana kuda. Abela menelan ludah saat dengan perlahan monster berukuran besar menjulang dihadapan mereka.
Di sela kaki monster itu, Abela menatap orang berjubah itu dengan seksama. Jubahnya seakan menunggu saat yang tiba untuk terbuka. Orang itu menerbitkan seringainya yang congkak. Wajahnya sebagian terlihat sangat muda dan sebelah lagi terlihat tua.
__ADS_1
Abela membelalakkan mata tidak percaya. Rambut merah dan kulit pucat. Serta tahi lalat yang ada di sebelah kiri bibirnya. Bagaimana bisa ada disini? Batin Ghotel. Tubuh dan wajah asliku kah?
...----------------...